
Beberapa hari kemudian di Perusahaan Pak Reno.
Tok.. tok.. tok..
"Masuk.. " Perintah Refan.
Sekretaris sementara Refan di Perusahaan ini masuk.
"Maaf Pak ada tamu yang ingin bertemu dengan Bapak" lapor wanita itu.
"Siapa?" tanya Refan.
"CEO Perusahaan CGF Pak" jawab sang sekretaris.
"Apa? Maksud kamu Arga Laksamana?" tanya Refan terkejut.
Refan langsung berdiri dibelakang meja kerjanya.
"I.. Iya Pak" jawab sekretaris Refan.
"Ngapain dia ke sini?" tanya Refan mulai emosi.
"Katanya dia ingin sekali bertemu dengan Bapak untuk membicarakan hal yang sangat penting. Dia ingin membuat sebuah kesepakatan Pak" jawab sekretaris.
"Kesepakatan? Tidak ada kesepakatan yang baik bila bersama dengannya" ujar Refan geram.
"Jadi bagaimana Pak? Apakah tamunya bisa bertemu dengan Bapak?" tanya wanita itu.
Refan segera menarik nafas panjang.
"Ya sudah suruh dia masuk" perintah Refan.
"Baik Pak" jawab wanita itu.
Tak lama kemudian Arga masuk ke dalam ruangan kerja Refan setelah dipersilahkan oleh sekretaris Refan.
"Untuk apa kamu datang ke sini lagi?" tanya Refan langsung begitu Arga masuk ke ruangannya.
"Santai bro.. biarkan aku duduk dulu baru aku utarakan apa maksud dan tujuanku datang ke kantor ini" jawab Arga santai.
Arga dengan penuh percaya diri duduk di sofa yang ada di ruangan kerja Refan. Sedangkan Refan berdiri dan berjalan menuju sofa. Sekarang mereka duduk secara berhadapan.
"Aku punya kesepakatan untuk kamu" ungkap Arga.
__ADS_1
"Kesepakatan? Cih aku tak butuh itu. Aku tak butuh apapun dari kamu" tolak Refan.
"Ayolah Refan. Aku tau saat ini kamu sedang kesulitan untuk menyelamatkan Perusahaan ini" ujar Arga sombong.
"Kamu tidak perlu tau apa yang aku lakukan untuk perusahaan ini. Aku tidak butuh bantuan kamu" balas Refan dengan penuh emosi.
"Aku akan membantu perusahaan ini. Aku akan investasi dengan dana yang cukup besar ke Perusahaan ini. Tapi tentu saja semua tidak gratis. Aku ingin meminta hal asuh Naila. Aku tau Fan Naila adalah pemilik semua harta kekayaan Pak Reno Subrata. Aku tidak memandang itu, harta yang aku punya lebih banyak dari pada harta Pak Reno. Aku hanya ingin Naila, seluruh harta Naila silahkan kamu miliki semuanya. Aku tidak perduli dengan semua itu" ungkap Arga penuh percaya diri.
"Aku tidak butuh bantuan kamu. Perusahaan bisa membantu Perusahaan ini. Bila masih kurang aku lebih baik meminta bantuan para sahabatku dari pada kamu" tolak Refan.
"Jangan munafik Fan, mana ada buaya yang menolak bangkai, begitu juga manusia, tidak ada yang menolak harta. Aku tau dulu kamu mau menikahi Renita karena harta orang tuanya kan?" ucap Arga.
Regan refleks memukul meja yang ada di hadapannya.
"Kurang ajar kamu Ga, jaga mulut kamu. Aku bukan seperti kamu yang mengharapkan harta kekayaan istri ataupun keluarganya. Kamu pikir aku tidak tau kisah hidup kamu. Apa yang kamu miliki saat ini tak lain adalah karena andil istri dan keluarganya. Kalau tidak kamu mungkin hanya gembel jalanan" umpat Refan.
Arga tampak terkejut sesaat tetapi dengan cepat dia bisa menguasai sikapnya.
"Satu - satunya keinginanku untuk menyelamatkan perusahaan ini adalah demi Naila dan amanat Papa Reno. Kalaupun seandainya seluruh harta Papa Reno tidak ada, aku masih mampu untuk mengasuh Naila dengan harta yang aku punya. Dan aku jamin Naila tidak akan kekurangan suatu apapun. Jadi aku tegaskan aku tidak butuh bantuan kamu. Silahkan kamu pergi dari ruangan ini, sebelum aku bertindak kasar. Apa perlu aku panggil petugas keamanan untuk mengusir kamu dari sini" usir Refan.
Refan mengepal tangannya untuk menahan emosi. Dia ingat pesan teman - temannya untuk tidak gegabah dalam menghadapi Arga.
"Santai Fan.. aku hanya ingin mencari kesepakatan bersama kamu" bujuk Arga.
"Sejak awal sudah aku katakan, aku tidak ingin buat kesepakatan apapun dengan kamu. Aku bisa menyelamatkan perusahaan ini dan aku juga bisa mengasuh Naila" tegas Refan geram.
"Baiklah.. kalau kamu belum bisa memberikan jawaban Fan, aku akan menunggu kamu sampai kamu berubah pikiran" sambut Arga sambil berdiri.
"Aku tidak akan pernah berubah pikiran, sekali A akan tetap menjadi A. Tidak akan pernah berubah menjadi B, C atau yang lainnya" tegas Refan.
"Aku masih menunggu jawaban kamu Fan" Arga segera melangkah keluar dari ruangan kerja Refan.
Refan memukul mejanya untuk meluapkan emosinya.
"Kurang ajar, dia benar - benar menguji kesabaranku. Lihat saja Ga, aku tidak akan pernah menyerahkan Naila kepada kamu. Kamu berhati busuk, bagaimana nanti nasib Naila dibawah asuhan kamu. Astaghfirullah... ya Allah izinkan hamba dan Kinan untuk menjaga dan mendidik anak itu dengan baik tanpa ada gangguan dari siapapun. Agar dia bisa tumbuh menjadi anak solehah. Aamiin... " ucap Refan.
Tak lama pintu ruangan Refan kembali terbuka. Refan kembali tegang dia kira Arga kembali lagi. Tetapi begitu Refan melihat wajah Bimo, Refan langsung duduk dan bernafas lega.
"Aku dengar tadi Arga datang untuk menemui kamu?" tanya Bimo.
"Iya, apakah kamu tadi sempat bertemu dengannya di luar?" tanya Refan balik.
"Tidak, tadi aku dengar laporan sekretaris kamu" jawab Bimo.
__ADS_1
Refan duduk di kursi kerjanya sedangkan Bimo duduk tepat di depannya.
"Apa yang dia lakukan disini?" tanya Bimo penasaran.
"Dia ingin mengambil Naila" jawab Refan dan dia kembali kesal.
"Lalu?" tanya Bimo lagi.
"Tentu saja aku tolak. Dia ingin buat kesepakatan, aku ambil harta Papa Reno dan dia asuh Naila. Dia menuduhku menikahi Renita dulu karena hal itu" ungkap Refan.
"Gila dia. Kalian tidak bertengkar kan?Kamu tidak berbuat sesuatu padanya kan?" tanya Bimo khawatir.
"Tenang saja Bim, aku ingat kata - kata kalian kemarin. Aku akan berusaha tenang dalam menghadapinya" jawab Refan.
"Syukurlah Fan, lebih baik menjauh saja dari dia. Aku takut dia mencari celah kelemahan kamu agar bisa mengambil Naila dari kamu. Lebih baik menjauh dan jangan sampai ada konflik" sambut Bimo.
"Iya Bim. Aku juga berpikiran sama. Gimana sudah ada belum kabar dari Labuhan Bajo?" tanya Refan.
"Belum Fan, mudah - mudahan bisa secepatnya kita dapat informasi" jawab Bimo.
Tiba - tiba ponsel Bimo berdering.
"Panjang umur Fan, baru saja kita bicara tentang masalah Labuhan Bajo. Ni Pak Polisi hubungi aku" ujar Bimo semangat.
"Tolong speaker Bim, aku juga mau dengar" pinta Refan.
"Oke" Bimo langsung menerima panggilan dari polisi Labuhan Bajo dan menekan tombol speaker di layar ponselnya.
"Selamat siang Pak Bimo" sapa Pak Polisi dari seberang.
"Pagi Pak. Gimana Pak, apakah ada perkembangan terbaru?" tanya Bimo tak sabar.
"Alhamdulillah kami sudah mendapatkan informasi terbaru mengenai dalang dari semua peristiwa ini Pak" jawab Pak Polisi.
"Alhamdulillah syukurlah. Bisa kami tau siapa dalang dari peristiwa kecelakaan Pak Reno?" tanya Bimo.
Refan segera mendekat dengan Bimo. Mereka terlihat sangat tegang menunggu jawaban dari pihak kepolisian Labuhan Bajo.
"Pelaku menyebutkan satu nama, yaitu... Rendy Subrata" ujar Pak Polisi.
"Apa?.... "
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG