Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 290


__ADS_3

Setelah selesai makan Bimo dan Refan berbincang - bincang tentang masalah kecelakaan Pak Reno dan pengejaran kemarin yang hampir mencelakakan mereka.


"Pagi ini aku mau ke kantor pengacara Papa Reno" ungkap Refan.


"Sebaiknya aku temani kamu Fans, kita tidak tau apakah kamu juga diincar sama mereka. Dari pada kamu pergi sendiri lebih baik kalau aku ikut" sambut Bimo.


"Tapi Reni.. " elak Refan.


"Reni biar saja di sini dulu, lagian kalau dia dekat - dekat aku bawaannya mual terus. Siapa tau kalau aku gak ada dia jadi mau makan. Nanti sore baru aku bawa dia dokter kandungan" ujar Bimo.


Refan menarik nafas panjang.


"Apa gak ngerepotin kamu?" tanya Refan.


"Aku lagi gak ada kerja. Proyek pembangunan hotel di sini masih bisa aku pantau dari jauh" jawab Bimo.


"Kalau begitu, aku senang sekali kamu mau temani aku ke kantor pengacara Papa Reno hari ini" balas Bimo.


Tiba - tiba terdengar suara tangisan Naila.


"Naila bangun" ujar Refan.


Tak lama Kinan sudah keluar dari kamar sambil menggendong Naila.


"Mam.. mam.. maaaa... " ucap Naila.


"Ya sayang... cup.. cup.. jangan nangis ya. Ada Mama di sini" hibur Kinan.


"Op.. pa.. Om.. ma... " panggil Naila sedih.


Kinan dan Refan saling pandang.


"Dia pasti kecarian Mama dan Papa" ujar Refan ikutan sedih.


Bu Suci langsung datang menghampiri.


"Ini Oma sayaaang.. sini sama Oma" ajak Bu Suci.


Untung saja Naila mau dipegang oleh siapa saja sehingga tidak sulit untuk menghiburnya.


"Kasihan sekali nasib kamu nak" ucap Reni sambil membelai lembut kepala Naila.


"Kamu jangan gendong - gendong Naila dulu ya.. Kamu kan lagi hamil muda gak boleh angkat yang berat - berat. Takut ada apa - apa sama kandungan kamu" pesan Bu Suci.


"Iya Ma" jawab Reni.

__ADS_1


Bimo mendengarkan pesan mertuanya kepada istrinya. Bagaimanapun walau ini adalah pernikahan kedua bagi Bimo tapi kehamilan Reni adalah pengalaman pertama baginya.


Dia harus banyak belajar mengatasi istri yang sedang hamil. Harus banyak perhatian dan harus ikut menjaga kesehatan istrinya.


Refan bersiap - siap akan pergi bersama Bimo ke kantor pengacara Papa Reno. Sedangkan Kinan, Reni dan Bu Suci bermain dengan anak - anak di ruang keluarga.


Hari ini adalah hari Sabtu sehingga Salman tidak sekolah. Refan juga sebenarnya tidak kerja tapi karena urusan tentang warisan Naila dan kecelakaan Pak Reno dan istrinya mengharuskan Refan untuk pergi dari rumah dan meninggalkan anak - anaknya.


"Papa pergi dulu ya sayang" ucap Refan pada anak - anaknya dan mencium mereka satu persatu.


"Iya Pa, Papa yang cepat ya pulangnya dan harus tidur di rumah" jawab Salman yang masih merasa rindu karena sudah di tinggal Refan dua hari kemarin ke Labuhan Bajo.


Refan mencium kening istrinya dan setelah itu mencium tangan Mamanya untuk berpamitan sebelum pergi. Bimo juga melakukan hal yang sama tapi saat di ingin memeluk istrinya Reni langsung menjauh.


"Mas jangan lupa jaga jarak, aku gak kuat" tolak Reni.


Refan tersenyum menatap wajah Bimo.


"Sabar Bim, nanti ada masanya dia pengen dekat kamu terus" ucap Bu Suci memberi semangat.


Dengan berat hati Bimo masuk ke dalam mobil disusul Refan. Bimo mulai menyalakan mobilnya dan mereka berjalan keluar dari rumah Refan.


"Fan dulu waktu Kinan hamil kamu digituin juga gak sih?" tanya Bimo penasaran.


"Parah gimana Fan?" tanya Bimo bingung.


"Aku yang mual - mual, Kinannya malah anteng aja. Makan yang banyak dan tidur nyenyak" jawab Refan.


"Benarkah?" tanya Bimo tak percaya.


"Tanya aja sama Reni, gimana dulu keadaanku saat Kinan hamil. Tiga bulan Bim, aku sampai lemas karena isi perutku terkuras habis. Berat tubuhku jauh berkurang karena aku terus muntah - muntah setiap mencium bau - bauan. Tapi aku ikhlas dari pada Kinan yang merasaka semua itu sedangkan Kinan sedang hamil anak kembar. Bisa - bisa anak - anakku kurang gizi" ungkap Refan.


"Bagaimana kalau Reni juga mengalami hal yang sama?" tanya Bimo bingung.


"Berarti kamu harus tahan selera selama tiga bulan, jangankan bobok mesra peluk Reni aja gak bisa hahahaha" ejek Refan.


"Tega banget kamu Fan.. " Bimo menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Nanti setelah dokter kasih obat anti mual, mudah - mudahan mual Reni berkurang" ujar Refan memberi semangat.


Tak lama mereka sampai di kantor pengacara Pak Reno.


"Selamat pagi Pak Refan" sambut pria itu penuh wibawa.


"Selamat pagi Pak Sitompul" jawab Refan.

__ADS_1


"Silahkan duduk" ujar Sang pengacara berdarah Batak.


Kini Refan dan Bimo sudah duduk tepat berhadapan dengan pengacara tersebut.


"Ini berkas - berkas tentang surat kematian Pak Reno Subrata dan Ibu Thalita" ujar Pak Sitompul.


Pengacara menyerahkan berkas - berkas penting kepada Refan.


"Dan ini copyan surat wasiat Pak Reno. Berkas aslinya saya simpan di tempat yang aman" sambut Pak Sitompul.


"Boleh saya bertanya?" ucap Refan.


"Silahkan" jawab Pengacara.


"Sebelum kematian Papa Reno, siapa saja yang mengetahui tentang isi wasiat ini?" tanya Refan.


"Surat wasiat ini dibuat secara tersembunyi. Hanya ada saya, Pak Reno, Bu Thalita dan dua orang saksi yaitu sekretaris saya dan asisten pribadi saya. Saya juga punya rekaman saat - saat penandatanganan surat wasiat ini sebagai bukti bahwa memang tidak ada unsur paksaan dalam pembuatan surat ini" ungkap Sang Pengacara.


Refan tampak diam dan sedang berpikir keras.


"Apa anda mencurigai seseorang?" tanya Pengacara.


"Maaf kalau saya berprasangka terlalu berlebihan. Beberapa hari sebelum Papa Reno kecelakaan dia sempat menghubungi saya kalau dia merasa sedang dipantau dan diikuti seseorang. Bahkan sebelum dia kecelakaan Papa Reno menghubungi saya kalau mereka dikejar oleh seseorang. Saat itu saya menyuruh mereka mencari tempat yang aman yaitu ke Hotel milik Bima tapi sayang belum sempat mereka sampai, mereka mengalami kecelakaan " jawab Refan.


"Jadi seperti itu kejadian sebenarnya?" tanya Sang Pengacara.


"Kami sudah membuat laporan di kantor polisi Labuhan Bajo, semua bukti - bukti sudah kami lampirkan" ujar Refan.


"Jadi anda sedang mencari tau apa motif pengejaran yang mereka lakukan pada keluarga Pak Reno Subrata sehingga mereka bisa sampai kecelakaan yang mengakibatkan mereka meninggal dunia?" tanya Pengacara.


"Sebenarnya banyak yang menjadi pertimbangan saya atas kejadian ini. Mungkin Papa Reno sudah cerita pada Anda kalau Naila bukan anak kandung saya. Naila lahir memang dalam pernikahan saya dengan almarhumah istri saya tapi Naila bukan istri kandung saya. Satu bulan yang lalu, orang tua kandung Naila mendatangi saya dan dia ingin bertemu dengan Naila. Tentu dia juga bisa saya curigai dengan alasan ingin merebut Naila" ungkap Refan.


"Benar.. anda tidak salah, bisa saja itu motifnya. Maaf sebelumnya saya tidak tau kalau Naila ternyata bukan putri Anda. Memang pada saat Pak Reno membuat surat wasiat saya sempat bertanya - tanya mengapa ada kata - kata bahwa anda adalah orang tua kandung Naila secara negara. Kini saya mengerti arti kata - kata itu" sambut Pengacara.


"Selain orang tua kandung Naila saya curiga dengan keluarga dekat Papa Reno yang menginginkan hartanya atau lawan bisnis Papa Reno. Kalau musuh mereka di Labuhan Bajo saya sudah cari informasi, Papa Reno disana hidup sangat baik jadi dia tidak mempunyai musuh selama tinggal disana" ujar Refan.


"Baik Pak Refan, sekarang saya mengerti permasalahan ini. Saya akan siap membantu Anda untuk mencari tau siapa dalang semua ini. Terlebih dari pihak keluarga Pak Reno. Karena saya juga pengacara pribadi dan juga pengacara di Perusahaan Pak Reno Subrata. Saya akan membantu mencari tau apa yang terjadi di dalam perushaan itu" sambut Pengacara.


"Terimakasih banyak Pak atas bantuan anda" balas Refan.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2