
Dikantor Kinan sedang sibuk mengerjakan tugas kantornya tiba - tiba dia teringat janjinya nanti sore bersama Anita dan Ayu untuk mulai ikut pengajian.
Kinan segera menghubungi Ayu melalui pesan.
Kinan
Yu, nanti sore sepulang kerja jangan lupa ya ketemu di jalan XXX
Ayu
Iya Nan, aku sudah bawa semua perlengkapan aku
Kinan
Oke
Kinan tersenyum memandang layar ponselnya. Akhirnya dia bisa mengajak Ayu untuk ikut pengajian hari ini. Dia sangat senang mendapatkan sahabat baru yang sama - sama ingin menambah ilmu agama.
Tiba - tiba ponsel Kinan kembali bergetar tanda pesan masuk.
081xxxx
Suami kamu bukan mati karena kecelakaan tetapi dia mati karena dibunuh.
Kinan sangat terkejut membaca pesan tersebut, tanpa sadar dia melepaskan ponselnya dan ponselnya jatuh di meja.
Tubuh Kinan bergetar mengingat isi pesan tersebut.
Siapa yang mengirim pesan ini? Apakah ini pesan salah alamat? Tapi bagaimana dia tau suamiku meninggal karena kecelakaan. Tapi kan Mas Bima benar - benar meninggal karena kecelakaan? Batin Kinan.
Ini pasti SMS nyasar.. pasti salah alamat. Lebih baik aku hapus saja. Ucap Kinan dalam hati.
Kinan kembali meraih ponselnya dan membuka aplikasi pesan dan menghapus pesan dari nomor yang tidak dia kenal. Kinan menarik nafas dalam dan mencoba menenangkan dirinya.
Tapi tetap saja otaknya tak berhenti berpikir. Siapa yang mengirim pesan itu dan apakah memang dialah tujuannya.
Tubuh Kinan masih bergetar, dia tidak bisa berpikir secara jernih. Akhirnya Kinan segera ke musholla di kantornya dan melaksanakan shalat dzuhur. Ketepatan adzan dzuhur juga baru saja berkumandang, Kinan bisa sekalian menenangkan dirinya di musholla dan berpasrah kepada Allah.
Setelah selesai shalat Kinan mencurahkannya kegundahan hatinya dalam doa yang penuh air mata.
Ya Allah apa arti semua ini? Aku sudah mengikhlaskan kepergian Mas Bima. Mengapa datang lagi masalah seperti ini? Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus percaya pada isi pesan itu atau mengabaikannya saja? Tapi kalau seandainya isi pesan itu benar, siapa yang membunuh Mas Bima dan mengapa dia dibunuh? Selama ini Mas Bima tidak punya musuh. Mas Bima selalu baik kepada siapapun juga. Dia tipe pria yang suka bergaul, punya banyak teman dan lebih memilih mengalah dari pada harus bertengkar. Jadi bisa aku pastikan Mas Bima memang tidak pernah punya musuh. Kinan menangis dalam doanya.
Ya Allah.. kuatkan aku untuk menghadapi semua ini. Semoga isi pesan itu tidak benar dan jauhkanlah kehidupanku dari orang - orang yang ingin merusak hidupku. Kabulkan doaku ini ya Allah. Amin ya Rabbal 'Alaimin...
Kinan segera menghapus air matanya di pipi. Kinan memutuskan untuk melupakan isi pesan itu dan tidak memikirkannya lagi. Itu lebih baik dari pada merusak hidup dan rumah tangga Kinan.
Kinan kembali ke ruang kerjanya dan segera menyelesaikan pekerjaannya karena sore hari nanti Anita akan menjemputnya dan mereka akan mengikuti pengajian mingguan.
__ADS_1
Sore harinya sebelum pulang Kinan terlabih dahulu shalat Ashar di kantor tak lama kemudian dia segera bersiap - siap dan menunggu Anita di depan kantornya. Sesuai janji mereka Anita menjemput Kinan dengan mobil pribadinya dan melaju menuju tempat pengajian mereka.
Tak lama kemudian Anita dan Kinan sudah sampai di tempat mereka akan mengadakan pengajian. Ternyata Ayu juga sudah sampai di lokasi.
"Assalamu'alaikum.. " sapa Ayu.
"Wa'alaikumsalam. Eh Ayu.. kenalkan ini sahabat aku namanya Anita" sambut Kinan.
Ayu dan Anita saling berjabat tangan, berpelukan dan saling berkenalan.
"Masuk yuk" ajak Anita.
"A.. aku belum memakai kerudung. Aku gak pinter memakainya" ucap Ayu jujur.
Anita dan Kinan tersenyum lembut.
"Masuk dulu Yu, nanti di dalam kamu ajari cara pakainya" sambut Anita.
Kinan, Ayu dan Anita masuk ke dalam rumah salah satu anggota pengajian mereka. Ternyata di sana sudah hadir beberapa teman kelompok Kinan yang juga ikut pengajian dan juga seorang ustadzah yang akan membimbing mereka dalam pengajian sore ini.
Kinan dan Anita memperkenalkan Ayu kepada semua orang yang ada di dalam. Ayu awalnya terlihat canggung tapi karena semua menyambutnya dengan ramah dan hangat akhirnya Ayu bisa bernafas lega dan betah berada di lingkungan baru itu.
"Silahkan wudhu dulu" perintah ustadzah.
Ayu segera masuk ke kamar mandi dan setelah itu dengan bantuan Kinan, Ayu memakai jilbab yang sebelumnya sudah dia bawa dari rumah.
"Minta tolong apa Yu?" Kinan balik bertanya.
"Tolong temani aku membeli beberapa pakaian dan jilbab, InsyaAllah mulai besok aku akan mulai memakai jilbab kemana saja" ungkap Ayu.
"MasyaAllah Ayu.. " Kinan langsung menyambut hangat niat baik Ayu dengan pelukan.
"InsyaAllah aku bisa tapi aku izin Mas Refan dulu ya. Karena sebelumnya dia janji mau jemput aku ke sini sebelum pulang ke rumah" jawab Kinan.
"Iya, makasih ya Nan" balas Ayu.
"Mas Bagus tau dengan niat kamu ini. Dan dia kasih izin?" tanya Kinan hati - hati.
Ayu menganggukkan wajahnya dan menatap Kinan.
"Mas Bagus tau kok, dan dia mendukung niat aku ini" jawab Ayu.
"Alhamdulillah.. semoga istiqomah ya Yu. Dukungan suami itu sangat penting. Karena dia adalah orang terdekat kita yang selalu ada di samping memberikan semangat dan dukungan kalau suatu saat iman kamu turun. Terkadang kalau belum terbiasa memakai jilbab banyak godaannya. Jadi kalau Mas Bagus juga mendukung niat kamu, InsyaAllah kamu akan lebih kuat menjalaninya" nasehat Kinan.
"Iya Nan, Alhamdulillah.. Mas Bagus juga mendukung aku ikut pengajian seperti ini. Dia juga ingin mengajak teman - temannya yang lain untuk membuat pengajian seperti kita ini dan memanggil seorang ustadz untuk membimbing mereka" ungkap Ayu.
"Bagus itu, nanti aku sampaikan juga ke Mas Refan biar dia ikutan dengan Mas Bagus. InsyaAllah pelan - pelan kita akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi ya Yu" sambut Kinan.
__ADS_1
"Iya Nan" jawab Ayu.
"Yuk kita keluar, yang lain udah nungguin kita. Kamu sudah shalat ashar kan?" tanya Kinan.
"Sudah Nan tadi di kantor sebelum berangkat ke sini" jawab Ayu.
"Ya sudah.. Nah udah cantik nih begini" Kinan selesai memakaikan jilbab di wajah Ayu.
"Sekali lagi makasih Nan" ucap Ayu.
Kinan dan Ayu keluar dari kamar mandi dan bergabung dengan teman - teman mereka lainnya yang sudah menunggu dari tadi.
Pengajian dimulai dengan materi ringan yang membahas tentang masalah rumah tangga dan tugas - tugas, tanggung jawab dan hak seorang istri.
Ayu sangat senang mengikuti pengajian itu karena dia mendapatkan banyak ilmu agama dari pengajian ini.
Satu jam kemudian pengajian selesai. Kinan segera meraih ponselnya untuk menghubungi suaminya.
"Assalamu'alaikum Mas" ucap Kinan.
"Wa'alaikumsalam yank. Udah selesai pengajiannya?" tanya Refan.
"Udah Mas baru aja. Mas sudah di jalan mau ke sini?" tanya Kinan.
"Belum ini masih di kantor, baru mau keluar menuju ke sana" jawab Refan.
"Syukurlah kalau belum jalan. Mas aku boleh temani Ayu dulu gak? Dia mau beli pakaian dan jilbab. Katanya dia mau pakai jilbab mulai besok. Jadi butuh beberapa pakaian untuk dia pakai kerja" ungkap Kinan.
"Kemana rencananya mau pergi?" tanya Refan.
"Ke Mall XX" jawab Kinan.
"Ya sudah kalau bagitu kita ketemu di sana aja ya. Kamu bareng Ayu kesana. Aku akan hubungi Bagus ketemuan di situ. Nanti kami nongkrong dulu sambil nungguin kalian belanja baru setelah itu kita pulang, gimana?" tanya Refan.
"Boleh Mas, kalau begitu aku dan Ayu langsung ke sana ya" jawab Kinan.
"Hati - hati ya" balas Refan.
Kinan menutup ponselnya dengan senyuman.
"Yuk Yu kita pergi" ajak Kinan.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1