
Setelah selesai makan malam Bimo akhirnya pamit pulang dengan orang tuanya dan semua yang ada di rumah Refan dan Kinan.
"Fan, Pak, Om.. saya pamit pulang ya" ucap Bimo kepada Refan, Pak Akarsana dan Pak Ardianto.
"Iya Mo, kamu hati - hati ya" jawab Pak Akarsana.
"Iya Pak. Bu.. aku balik ke hotel ya" Bimo juga pamitan dengan Bu Akarsana dan yang lainnya.
Terlihat Reni juga baru keluar dari kamar Mamanya yang ada di rumah Refan.
"Lho Ren kamu mau kemana?" tanya Bela.
"Mau pulang, aku lupa bawa baju untuk besok soalnya tadi dari kantor langsung ke sini" jawab Reni.
"Kamu pulang naik apa?" tanya Bela.
"Taxi online, mobil aku masih di bengkel" jawab Reni.
"Ngapain naik Taxi Ren, bareng Bimo aja. Bisa kan Mo antarin Reni pulang?" tanya Bu Akarsana.
"Boleh" jawab Bimo.
"Lho Ren kamu gak tidur sini?" tanya Refan.
"Nggak Mas, aku lupa bawa baju besok gimana mau ngantor" jawab Reni.
"Ya sudah kalau begitu diantar supir aja. gak enak ngerepotin Bimo" perintah Refan.
"Gak repot kok Fan, santai aja. Lagian aku kan gak terburu - buru" sambut Bimo.
"Ya sudah kalau begitu ikut Bimo aja. Hati - hati ya" balas Refan.
Bimo dan Reni berpamitan dan mereka berjalan menuju mobil Bimo. Bimo membuka pintu mobil dan Reni langsung masuk ke dalam. Dia duduk di samping Bimo.
Mobil meluncur meninggalkan rumah Refan.
"Mas Bimo usaha apa sih? Katanya pengusaha ya?" tanya Reni penasaran.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Bimo balik bertanya.
"Mobilnya bagus pasti Mas Bimo orang sukses" puji Reni.
"Mas punya usaha hotel dan penginapan yang Mas buka sendiri mulai dari kecil - kecilan" jawab Bimo.
"Ooo pantesan seleranya juga bagus" sambut Reni.
Bimo tersenyum sambil melirik Reni.
__ADS_1
"Kamu kerja dimana?" tanya Bimo.
"Aku kerja di perusahaan Mas Refan Mas. Belum kerja sih masih magang. Mas Refan nyuruh aku kerja mulai dari bawah. Kalau prestasi aku bagus baru dianggap jadi pegawai, begitu katanya" jawab Reni.
"Hahaha ada - ada aja Refan ya. Sama adik sendiri aja begitu" ujar Bimo.
"Ya gak apa - apa deh Mas. Justru aku bersyukur dan senang. Aku bisa tau apa yang teman - teman aku rasakan di kantor. Mereka bekerja keras di kota ini demi mencari nafkah buat keluarga. Malu ah kalau tiba - tiba aku yang tidak tau apa - apa langsung duduk di kantor dan mendapatkan jabatan tinggi karena nepotisme" sambut Reni.
"Bagus banget pemikiran kamu. Jarang lho anak muda sekarang berpikiran seperti itu. Biasanya mereka pasti mau enaknya saja dan tidak mau berjuang kalau punya kenalan seperti kamu ini" puji Bimo.
"Ah Mas Bimo bisa aja. Eh tapi wajah Mas Bimo beneran mirip banget ya sama almarhum Papanya Salman. Aku pernah ke rumah mereka dulu temani Mama dan lihat foto Mbak Kinan, Salman dan Mas Bima. Benar - benar mirip banget wajahnya" ucap Reni.
"Kami kembar identik. Paling orang - orang bisa bedakan dari penampilan. Kalau Bima itu orangnya serius dan lebih rapi. Kalau aku suka kebebasan" jawab Bimo.
"Gak apa - apa Mas kebebasan asal jangan kebablasan" sambut Reni.
"Justru itu Mas udah kebablasan. Apa kamu gak tau kalau Mas kemarin sempat murtad?" tanya Bimo.
"Tau dikit - dikit ceritanya dari Mama. Tapi katanya Mas udah balik lagi ya jadi muallaf?" tanya Reni.
"Udah, masak kamu lupa. Kan tadi kita shalat jamaah di rumah Refan" jawab Bimo.
"Eh iya aku lupa" Reni memukul kepalanya.
Mereka dengan nyaman berbincang-bincang di dalm mobil.
"Hehehe iya ya Mas aku juga lupa. Gara - gara mobil Mas ini nih aku jadi lupa. Rumahku di jalan XXX" jawab Reni.
"Untung arahnya benar ya" sambut Bimo.
Reni tersenyum mendengar ucapan Bimo yang terakhir. Bimo melajukan mobilnya menuju rumah orang tua Refan.
"Kamu tinggal sendirian di rumah?" tanya Bimo.
"Nggak Mas, di rumah ada sepasang suami istri yang bekerja sebagai asisten rumah tangga dan tukang kebun Mas. Mereka sudah seperti keluarga. Sudah lama bekerja di rumah" jawab Reni.
"Oh jadi kamu gak perlu takut ya sendirian di rumah" balas Bimo.
"Ya ngapain takut kan gak sendirian juga ada mereka" ucap Reni.
"Iya maksud Mas selain mereka kan kamu sendirian" sambung Bimo.
"Ya gak sendiri namanya Mas" canda Reni.
"Yah apalah namanya Ren" balas Bimo bingung.
"Hahaha Mas Bimo bingung. Tapi tadi Mama udah suruh aku bawa pakaian buat besok dan beberapa hari ke depan. Kata Mama besok Mas sama Mas Refan mau ke kantor polisi ya untuk melaporkan kasus kecelakaannya Almarhum Mas Bima?" tanya Reni.
__ADS_1
"Iya" jawab Bimo.
"Mama takut kalau aku sendirian aja di rumah jadi Mama nyuruh aku tinggal di rumah Mas Refan untuk sementara waktu sampai semuanya aman" sambung Reni
"Iya Ren lebih baik begitu. Maaf ya Ren kamu jadi gak nyaman. Semua orang jadi gak nyaman karena masalahku. Akulah biang kerok dari semua permasalahan ini. Aku sudah merepotkan keluarga dan orang - orang terdekat. Aku juga sudah membahayakan hidup kalian sekaligus membuat kalian takut" ujar Bimo.
"Itulah hidup berkeluarga Mas. Saling bantu kalau ada masalah. Yang penting semua bisa kita lalui" ujar Reni.
Tak lama kemudian mobil Bimo sudah sampai tepat di depan pintu pagar rumah orang tua Refan. Reni segera meraih ponselnya dan menghubungi tukang kebun di rumahnya untuk membuka pintu pagar.
"Assalamu'alaikum pak, tolong buka pintunya. Saya sudah di depan" ucap Reni ramah.
Bimo memperhatikan tampilan Reni dan sopan santunnya berkata - kata.
Wanita baik, walau dengan asisten rumah tangganya tapi dia bicara dengan sangat sopan dan menggunakan kata - kata tolong. Puji Bimo dalam hati.
Tak lama kemudian pintu pagar terbuka. Bimo melajukan mobilnya masuk ke dalam perkarangan rumah Reni.
Kini mereka sudah tiba di depan pintu rumah.
"Sudah sampai" ucap Bimo.
"Makasih ya Mas Bimo udah antarin aku sampai di rumah dengan selamat. Semoga Mas Bimo juga sampai dengan selamat di rumah" ujar Reni.
"Aku masih menginap di Hotel Ren, besok rencananya mau numpang sementara di rumah Kinan dan Bima" jawab Bimo.
"Kalau begitu di ralat ya. Semoga sampai dengan selamat sampai Hotel" ulang Reni dengan ceria.
Bimo tertawa mendengar ucapan Reni.
"Terimakasih Nona" balas Bimo.
Reni tersenyum membalas ucapan Bimo.
"Aku turun ya Mas. Daah Mas Bimo" ujar Reni.
Reni segera keluar dari mobil Bimo dan melambaikan tangannya ke arah Bimo. Bimo melanjutkan perjalanannya menuju Hotel.
Mengapa berasa baru pulang kencan ya. Seperti baru mengantar kekasih pulang ke rumahnya. Dan mengapa aku jadi seperti anak remaja kembali setelah berbincang - bicang dengan Reni? Tanya Bimo dalam hati.
Bimo tersenyum tipis dan menggeleng - gelengkan kepalanya karena merasa lucu dengan tingkahnya barusan.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1