
"Papa Ma.. Papa.. Papa Bimaaaaaa" teriak Salman kencang.
Salman menunjuk ke arah mobil yang terparkir tepat di seberang rumah Kinan. Refan dan Kinan melihat ke arah objek yang Salman tunjuk. Pria itu langsung masuk ke dalam mobilnya.
Refan segera berlari ingin mengejar ke arah mobil tersebut tapi sayang mobil itu langsung melaju kencang meninggalkan rumah Kinan.
Refan menghentikan langkahnya dan kembali ke arah Kinan dan Salman. Refan melihat wajah Kinan tampak pucat dan tubuhnya bergetar.
Refan segera memeluk Kinan.
"Yank kamu melihat wajahnya?" tanya Refan kepada Kinan.
Kinan menggelengkan kepalanya. Tapi Kinan sempat sekilas melihat postur tubuhnya persis seperti Bima, tinggi dan gagahnya.
Itu pasti pria yang Bik Ijah ceritakan tadi. Pasti dia pria yang sering datang ke rumah Kinan dan berdiri lama memandangi rumahnya.
Siapa dia? Kalau benar dia adalah Bima mengapa dia harus pergi. Tidakkah dia rindu dengan Kinan, rindu dengan Salman? Siapa pria itu? Tanya Kinan dalam hati.
Refan merasa semua semakin jelas dan nyata. Pria yang selama ini hanya seperti bayang - bayang, khayalan dan halusinasi ternyata benar ada. Dan dari teriakan Salman yang memanggil - manggil Papanya itu artinya pria yang sempat Refan kejar tadi mirip sekali dengan Bima atau pria itu memang benar - benar Bima.
Bima masih hidup? Tapi mengapa dia harus lari. Bukannya di sini ada anak dan istrinya? Istrinya? Tidak.. tidak.. dia istriku. Ya dia istriku saat ini. Kalaupun Bima masih hidup, dia akan menjadi mantan suami karena pernikahanku dan Kinan sah sesuai prosedur dan tidak melanggar ajaran agama ataupun negara. Tegas Refan untuk meyakinkan hati dan perasaannya.
"Ayo kita masuk dulu sampai kamu tenang" ajak Refan.
Dia khawatir dengan keadaan istrinya. Mereka kembali masuk ke dalam rumah dan Refan menuntun Kinan sampai mereka duduk di ruang tamu.
Tubuh Kinan masih bergetar dan Kinan tetap terdiam. Pasti Kinan sedang shock saat ini. Pikir Refan.
"Bik tolong ambilkan minum" perintah Refan.
"Baik Den" jawab Bik Ijah.
Bik Ijah segera berjalan ke dapur untuk mengambil minum.
"Mama.. mama lihat tadi kan Papa Bima? Aku tidak bohong" ucap Salman. Salman mendekati Kinan dan memeluknya
__ADS_1
"Sayaaaang... " Refan memanggil Salman.
"Itu Papa Bima Pa... Papa Bima aku lihat jelas itu Papa Bima. Mama juga melihatnya kan?" tanya Salman.
"Papa kamu sudah di surga sayang" ucap Refan.
Saat Refan berkata seperti itu air mata Kinan langsung menetes deras. Dia mulai terisak seolah - olah tersadarkan kalau Bima memang sudah mati.
Kinan yakin Bima sudah mati, dia melihat sendiri mayat Bima tapi siapa pria itu. Mengapa postur tubuhnya mirip Bima. Walau wajahnya di tutupi kaca mata dan topi Kinan bisa melihat sekilas wajahnya mirip Bima
"Mas Bimaaaaa... " isak Kinan.
Nyuuuuus... hati Refan sangat sakit mendengar tangisa Kinan sambil memeluk erat anaknya dan memanggil nama almarhum suaminya.
Tanpa sadar Refan mengepalkan tangannya. Tapi dia apakah dia pantas marah. Marah pada siapa? Pada Kinan, pada pria itu, pada keadaan atau pada Tuhan.
Apalagi ya ini ya Allah. Mengapa nasibku seperti ini. Apakah aku tidak layak bahagia karena aku sudah melawan perintah Papaku dulu. Maafkan aku ya Allah.. aku minta ampuun.. seluruh hidupku aku serahkan padaMU. Aku pasrah ya Allah sepasrah - pasrahnya. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan kalau Bima memang masih hidup.
Aku tidak sanggup melihat mereka terluka dan bersedih tapi aku juga tidak sanggup melepas mereka. Aku sudah sangat mencintai mereka ya Allah. Apalagi saat ini aku akan memiliki anak dari Kinan. Haruskah aku mengalah dan mengembalikan Kinan pada Bima. Lalu bagaimana anakku? Apalagi yang tersisa dari aku ya Allah.. Apa yang aku miliki lagi? Batin Refan.
Saat Refan sudah diambang pintu langkahnya terhenti karena mendengar ucapan Kinan.
"Papa Bima sudah meninggal sayang, Papa Bima sudah ke surga. Pria tadi hanya mirip dengan Papa Bima, dia bukan Papa Bima. Papa Bima sudah meninggal" ucap Kinan sambil terisak.
Refan kembali ke hadapan Kinan dan menatap Kinan.
"Kamu yakin?" tanya Refan.
"Aku yakin Mas, aku sangat yakin.. Pria yang aku lihat di rumah sakit adalah Mas Bima, dia sudah meninggal" jawab Kinan masih terisak sambil memeluk Salman.
Hati Refan sedikit terhibur, perlahan - lahan dia merasa sedikit lega. Ada secercah harapan bahwa dia akan tetap bisa memiliki Kinan dan Salman. Dia akan memperjuangkan mereka.
"Jadi siapa yang aku lihat tadi Ma? Aku sangat yakin itu Papa? Mama lihat juga kan? Aku tidak bohong Ma, itu Papa Bima" ujar Salman.
"Dia hanya mirip Papa sayang tapi bukan Papa Bima. Mama juga gak tau siapa dia. Kalau dia itu Papa tidak akan mungkin dia pergi meninggalkan kita. Papa Bima pasti akan datang dan memeluk kita" jawab Kinan.
__ADS_1
Walau perkataan Kinan itu perumpamaan kalau seandainya itu Bima bukan kenyataannya. Tapi hati Refan tetap sakit membayangkan kalau memang seandainya pria itu beneran Bima dan dia datang memeluk Kinan dan Salman. Apa yang harus dia lakukan saat itu jika saja itulah yang terjadi? Apakah dia akan membiarkan Bima memeluk Salman dan Kinan atau malah memukulnya karena cemburu?
Oh Tuhaaaaan... ucap Refan dalam hati.
Refan memejamkan matanya mencoba menghapus bayangan itu.
Tak lama Bik Ijah datang membawa tiga gelas air dah memberikannya kepada Kinan, Salman dan Refan.
"Itu Non pria yang Bibik katakan tadi. Dia yang Bibik lihat sering datang ke sini" ujar Bik Ijah setelah meletekkan gelas minuman.
Refan meraih gelas itu dan memberikannya kepada Kinan.
"Minum dulu yank biar kamu tenang, sini Salman sama aku saja. Kasihan perut kamu tertekan" Refan meraih Salman dengan lembut dan menariknya dalam pelukannya.
Refan juga memberikan Salman minum.
"Salman juga minum dulu ya" perintah Refan.
Salman dan Kinan meminum air yang dibawa Bik Ijah dari dapur.
"Jadi pria tadi sudah sering ke sini Bik?" selidik Refan.
"Beberapa kali Bibik melihatnya Den, berdiri di depan rumah sambil memandangi rumah ini" jawab Bik Ijah.
"Apa Bibik pernah melihat wajahnya secara jelas?" tanya Refan.
"Tidak pernah Den, dia selalu memakai kaca mata hitam dan memakai topi. Setiap Bibik datang dan melihatnya dia langsung masuk ke dalam mobil dan buru - buru pergi" ungkap Bik Ijah.
"Kalau begitu kita harus melaporkannya ke satpam komplek Yank. Ini sudah sangat mencurigakan. Apa tujuan pria itu datang ke rumah ini. Kalau memang dia punya niat baik, dia kan bisa datang baik - baik menemui kita dan menjelaskan apa maksud dan tujuannya" ujar Refan.
Benar.. apa yang Mas Refan katakan itu benar. Aku yakin dia bukan Mas Bima. Mas Bima tidak akan pergi ketika melihat kami. Tegas Kinan dalam hati.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG