Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 252


__ADS_3

"Apa benar Bimo sudah melamar kamu tadi siang?" tanya Bu Suci.


Tuh kan akhirnya tiba juga saat - saat seperti ini. Aku harus jawab apa? Batin Reni.


Reni melirik kakaknya. Refan memberikan kebebasan penuh kepada Reni untuk menjawab sesuai dengan isi hatinya. Reni menundukkan wajahnya sambil menganggukkan kepalanya.


"Mengapa kamu tidak berani menatap Mama?" tanya Bu Suci.


Reni tidak bisa menahan air matanya yang tiba - tiba mengalir deras.


"Mengapa kamu menangis Ren?" tanya Kinan lembut.


"Mengapa kamu menangis? Mama tidak ingin melihat tangisan kamu? Mama hanya ingin mendengar jawaban dari kamu?" desak Bu Suci.


"Maaf Ma, aku dan Mas Bimo tidak pacaran. Tadi siang Mas Bimo mengutarakan perasaannya kepadaku dan dia juga tidak mengajak aku untuk menjalani hubungan atas nama pacaran. Dia langsung melamarku" jawab Reni.


"Terus, kamu menerimanya?" tanya Bu Suci.


Reni terus menangis sambil menganggukkan kepala.


"Iya Ma.. Maaf aku tidak belum cerita sama Mama karena kejadiannya tiba - tiba dan aku baru pulang malam ini" jawab Reni takut.


"Sekarang jawab Mama, mengapa kamu menangis? Angkat wajah kamu dan tatap mata Mama" perintah Bu Suci.


Reni menuruti perintah Bu Suci. Reni mengangkat wajahnya dan menatap mata Mamanya.


"A.. aku takut Mama tidak setuju" jawab Reni jujur.


"Kenapa kamu takut?" tanya Bu Suci lagi.


"Ka.. karena status Mas Bimo duda dan dulu dia pernah menjadi murtad" jawab Reni.


Bu Suci menatap wajah putri bungsunya penuh kasaih sayang. Perlahan sikapnya melunak dan membelai lembut kepala putrinya.


"Mama tidak pernah memandang seseorang dari status dan masa lalunya Nak. Mama hanya melihat bekal agama dan masa depannya. Kenapa dengan status Bimo duda? Toh dia duda karena ditinggal mati sama almarhumah istrinya. Bukan karena perceraian, KDRT atau apapun juga. Mengenai dulu dia pernah menjadi muallaf. Kita semua sebagai manusia pernah melakukan kesalahan. Apapun kesalahan itu kalau kita bersungguh-sungguh meminta ampun kepada Allah, DIA akan memaafkannya. Allah saja Yang Maha Penguasa bisa memaafkan, masak kita yang hanya manusia biasa tidak. Mama sudah sering memperhatikan Bimo. Mama lihat dia sudah bersungguh - sungguh berubah membenahi ilmu agamanya. Mama tidak mempermasalahkannya. Mama hanya mau tanya, apakah kamu mencintainya?" tanya Bu Suci lagi.


Reni menganggukkan kepalanya lagi.


"Iya Ma, aku mencintainya" jawab Reni.


"Apakah kamu yakin Bimo juga mencintai kamu?" tanya Bu Suci.

__ADS_1


"InsyaAllah Reni yakin Ma" jawab Reni.


"Secepat dan semudah itu kamu yakin dengan perasaan Bimo?" tanya Suci.


"Sebelumnya aku sudah pernah bercerita dengan Mas Refan dan Mbak Kinan tentang sikap Mas Bimo padaku dan bagaimana perasaanku pada Mas Bimo. Mbak Kinan menyuruhku untuk mempersiapkan diri dan menata hati. Sejak saat itu aku sering meminta petunjuk kepada Allah kalau memang Mas Bimo adalah jodohku maka segerakan dan perlancarlah jalannya. Tapi kalau bukan jauhkan dia dari hati dan hidupku. Ternyata Mas Bimo datang dan melamarku langsung Ma. Dia tidak berjanji apapun dia hanya meminta agar aku segera halal bersamanya. Bukankah itu tanda - tanda bahwa Allah sudah ridho Ma. Lantas apalagi yang harus aku pertimbangkan tentang perasaan Mas Bimo. Kalau dia sudah bertekad untuk melamarku aku yakin berarti dia sudah sangat yakin dengan keputusan hatinya. Tidak mungkin dia mempermainkan aku, adik dari sahabatnya, Mas Refan dan adik iparnya Mbak Kinan. Logikaku berkata seperti itu Ma. Makanya aku menerima lamaran Mas Bimo, bukan karena semata - mata aku juga mencintainya " jawab Reni yakin.


Bu Suci menggenggam tangan putrinya dengan erat.


"Kamu yakin dengan keputusan kamu Nak?" tanya Bu Suci sekali lagi.


"InsyaAllah yakin Ma" jawab Reni tegas.


"Siap dengan segala konsekuensinya? Bimo seorang duda yang ditinggal mati istri yang sangat dia cintai. Sangkin cintanya dia pada istrinya dia rela meninggalkan agama dan keluarganya. Apakah kamu yakin bisa menggeser kedudukan istrinya di hati Bimo?" tanya Bu Suci lembut.


"InsyaAllah dengan izin Allah Ma. Aku akan menyempurnakan separuh agamaku dan begitu juga dengan Mas Bimo. Itu niat kami menikah, InsyaAllah dengan begitu aku bisa menggeser semua kenangan istrinya di hati Mas Bimo" jawab Reni.


Bu Suci menarik nafas panjang dan menarik tubuh Reni untuk lebih mendekatkan kemudian memeluk erat tubuh Reni.


"Alhamdulillah.. ternyata anak Mama sudah dewasa ya. Sepertinya juga sudah siap untuk menikah" ujar Bu Suci.


"Ma... Mama merestui aku menikah dengan Mas Bimo?" tanya Reni tak percaya.


"Tentu saja Mama merestuinya. Sebenernya Mama juga sudah lama memperhatikan gerak gerik kalian dan Mama sudah mempersiapkan diri Mama jika hal ini terjadi. Makanya Mama terus memperhatikan gerak - gerik Bimo. Apakah dia pantas menjadi suami yang baik untuk anak Mama ini. Dan Mas dan Mbak kamu juga tadi sudah meyakinkan Mama tentang perasaan Bimo kepada kamu. Hanya itu yang membuat Mama khawatir. Mama takut Bimo belum bisa melupakan cintanya pada istrinya sehingga itu bisa menyakiti kamu. Tapi kata Refan dia bisa melihat kesungguhan di mata Bimo. Mama ikut apa kata Kakak kamu saja, bagaimanapun dialah kini menjadi pengganti Papa kamu. Mama merestui hubungan kalian. Sejak saat ini sampai tiba hari pernikahan kalian, kamu dan Bimo harus bisa jaga diri ya. Ingat cobaan pernikahan itu banyak. Bukan hanya dari kalian berdua saja, bisa dari keluarga atau orang lain. Seperti orang atau kenangan lama yang kembali hadir atau malah ada orang baru yang muncul untuk menguji cinta kalian" nasehat Bu Suci.


"Iya Ma aku mengerti, tadi Mas Bimo juga berkata seperti itu. Dia menyuruh aku untuk segera pulang setelah mengantarkan Bela dan Ela. Dia takut kalau aku berlama - lama di rumahnya akan terjadi fitnah atau malah terjadi hal - hal yang tidak diinginkan" sambut Reni.


"Benar itu Ren apa yang dikatakan Bimo. Berarti dia menghormati kamu sebagai seorang wanita. Dia menjaga marwah dan harga diri kamu sebagai wanita" puji Refan.


"Iya Mas alhamdulillah.. Kalau begitu aku ke kamar dulu ya Ma, Mas, Mbak. Udah gerah dari pagi belum mandi dan ganti baju" pinta Reni.


"Ya sudah ke kamar sana mandi dan cepetan istirahat" sambut Bu Suci.


Reni segera ke kamarnya dan Mamanya selama menginap di rumah Refan. Mereka berdua memang sengaja di tahan Kinan untuk tetap tinggal di rumahnya. Karena Kinan masih repot ngurusin si kembar jadi butuh bantuan mertuanya.


Bu Suci juga sangat senang atas kelahiran cucu - cucunya dari Refan karena sudah lama dia mengharapkan cucu dari Refan. Dulu dia sudah sangat senang ketika Naila lahir tapi kenyataannya ternyata Naila bukanlah anak kandung Refan.


Sesampainya Reni di kamar dia langsung mengirimkan pesan kepada Bimo melalui ponsel couple baru mereka.


Bidadari Surga


Mas aku sudah sampai rumah

__ADS_1


Imamku


Baru sampai? Kok lama banget?


Bidadari Surga


Maaf baru bisa kabar Mas. Tadi aku disidang sama Mama, Mas Refan dan Mbak Kinan


Imamku


Disidang? Kenapa?


Bidadari Surga


Tentang hubungan kita


Bimo tidak sabar hanya mengirim pesan seperti ini dia langsung menghubungi Reni.


"Assalamu'alaikum" ucap Bimo memulai pembicaraan.


"Wa'alaikumsalam ya Mas, kok telepon? Udah malam lho?" tanya Reni.


"Iya sebentar saja, Mas butuh penjelasan dari kamu. Kenapa kamu disidang Ibu, Refan dan Kinan?" tanya Bimo.


"Mama bertanya tentang lamaran kamu. Mas Refan sudah cerita duluan pada Mama" jawab Reni.


"Terus apa kata Mama kamu?" tanya Bimo penasaran.


"Alhamdulillah Mas, Mama setuju dan merestui hubungan kita" ungkap Reni.


"Alhamdulillah... terimakasih ya Allah. Ya sudah Mas sudah lega sekarang. Kamu cepetan istirahat ya, besok kita kan bisa sambung lagi cerita" perintah Bimo.


"Iya Mas, aku mau mandi dulu baru tidur" sambut Reni.


"Oke, selamat istirahat bidadari surgaku, semoga mimpi indah. Assalamu'alaikum" Bimo menutup teleponnya.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2