Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 44


__ADS_3

Keesokan harinya Refan bangun pagi karena suara ketukan pintu dari kamar Salman. Ternyata Mamanya yang berusaha untuk memebangunkannya.


"Fan... kamu sudah bangun?" tanya Suci.


"Iya Ma, sudaaaah" jawab Refan.


Refan melirik jam di atas nakas dekat tempat tidur. Sudah jam lima pagi.


Biasanya Kinan yang membangunkannya untuk menyuruhnya shalat subuh. Tapi pagi ini dia dibangunkan oleh Mamanya sendiri.


Refan turun dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi untuk mandi dan shalat subuh. Lagi - lagi Refan kecarian baju yang akan di pakainya.


Lupa.. dia ternyata gak ada. Batin Refan kecarian.


Setelah selesai shalat subuh Refan sempat duduk sebentar di sofa untuk mengecek email di ponselnya. Setelah itu dia bersiap untuk pergi ke kantor.


Refan membuka lemari bajunya dan memilih sendiri pakaian yang akan dia pakai. Saat kepergian Renita tidak banyak yang berubah. Refan hanya merasa kesepian dan sendirian di rumah.


Tapi satu hari Kinan pergi banyak sekali yang hilang menurut Refan. Dia sudah terbiasa dimanja dan di urus Kinan. Mulai dari pakaian, sepatu, makanan dan hal - hal kecil lainnya.


Kinan sudah menyiapkan jam tangan, tas kerja di atas meja dekat sofa di kamar mereka. Kini semua harus dia lakukan sendiri.


Setelah selesai berpakaian Refan keluar dari kamar untuk mengecek keadaan Salman dan Naila pagi ini.


Salman sudah terlihat segar. Dia sudah sibuk bermain di ruang TV bersama Mertuanya, Mamanya dan Naila gadis kecilnya. Saat sarapan sudah selesai baru Bik Mar mengajak mereka semua sarapan.


Mereka berkumpul di meja makan untuk sarapan sebelum Refan berangkat kerja. Refan memegang kepala Salman.


"Sudah dingin" benar kata Kinan ternyata Salman anak yang kuat. Batin Refan.


"Kepalanya gak pusing lagi?" tanya Refan.


Salman menggelengkan kepalanya.


"Sudah nggak Pa" jawab Salman.


"Tapi Salman mandinya nanti aja ya agak siangan. Oma takut Salman sakit lagi" sambut Dhisti.


"Iya Oma" Jawab Salman.


"Anak kuat ya.. " puji Suci.


"Iya Oma, kan aku kakaknya Naila. Kata Mama kalau mau jaga adek aku harus kuat dan cepat sembuh" ucap Salman.


"Pintar kamu" Suci mengacak rambut Salman dengan lembut.


Ternyata seperti ini cara didik Kinan, Salman menjadi anak yang kuat, sehat dan mandiri tidak cengeng. Puji Refan dalam hati.


Setelah selesai makan Refan pamit kepada kedua orang tuanya. Mencium kening Salman dan Naila lalu berangkat pergi ke kantor.

__ADS_1


Seharian dia menunggu kabar dari Kinan yang sedang berada di luar Kota. Bulak balik Refan melirik ponselnya tapi tidak ada panggilan dari Kinan ataupun pesan yang menanyakan keadaan anaknya Salman atau Naila.


Katanya mau telepon pagi atau siang hari saat istirahat tapi sampai sore dia gak ada telepon? tanya Refan dalam hati.


Dengan perasaan yang kesal Refan akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Dia takut Salman sakit lagi dan membuat Mama dan mertuanya panik.


Sesampainya di rumah Refan sudah disambut dengan sapaan Salman yang ceria.


"Hore.. Papa sudah pulang" teriak Salman.


Salman langsung mencium tangan Refan begitu Salman masuk ke dalam rumah. Refan langsung memeriksa tubuh Salman.


"Sudah gak demam lagi" ujar Refan.


"iya donk Pa, aku makan yang banyak hari ini dan minum obat biar bisa jagain adek Naila" jawab Salman.


"Anak pintar" puji Refan.


Refan menghampiri Mamanya yang sedang menggendong Naila yang sudah mulai ribut mengoceh dan menjerit. Kemudian mencium pipi gembul anak kecilnya.


"Sayang Papa sudah mandi? Hemmm.... wanginya" puji Refan.


Refan menatap wajah Mamanya.


"Kinan tadi ada telepon Ma?" tanya Refan.


"Ada telepon Dhisti pagi dan siang mengecek keadaan anak - anak. Sempat video call, kangen katanya" jawab Suci.


"Aku mandi dan ganti baju dulu ya Ma" ujar Refan.


Sesampainya di kamar Refan duduk sebentar di sofa sambil melepas dasinya dan meletakkan tas kerjanya di atas meja.


Nelepon Mama bisa tapi nelepon aku tidak sama sekali. Awas kamu ya. Ujar Refan geram.


Refan bangkit dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tak lama adzan maghrib terdengar, Refan langsung melaksanakan tugasnya.


Setelah selesai shalat maghrib baru Refan keluar kamar untuk bermain dengan Salman dan Naila di depan ruang TV ditemani Mama dan Mertuanya.


Tak lama terdengar suara bunyi lagu rupanya panggilan telepon dari ponselnya Dhisti mertua Refan.


"Salman Mama telepon lagi" panggil Dhisti.


Spontan Refan melirik ke arah mertuanya.


"Assalamu'alaikum Ma... anak - anak lagi ngapain?" tanya Kinan.


"Wa'alaikumsalam lagi main sama Refan" jawab Dhisti.


"Lho Mas Refan sudah pulang rupanya?" tanya Kinan terkejut.

__ADS_1


"Sudah tadi sore hari sebelum maghrib" balas Dhisti.


"Mana Salman Ma, aku mau bicara" pinta Kinan.


"Nih, Salman ini Mama mau bicara sama kamu" Dhisti memberikan ponselnya kepada Salman.


"Halo sayaaaang kamu lagi ngapain?" tanya Kinan lembut.


"Aku lagi main sama Papa dan dedek Ma" jawab Salman.


"Kepalanya masih pusing sayang?" tanya Kinan penuh perhatian.


"Sudah sembuh Ma. Aku sekarang sudah kuat jagain adek Naila" jawab Salman bangga.


"Wah hebat kamu sayang" Puji Kinan.


"Adeknya mana?" tanya Kinan.


"Nih di gendong Oma lagi minum susu" Salman mengarahkan ponsel Dhisti ke arah Suci.


"Uh Naila sayaaang yang kenyang minum susunya ya sayang biar cepat besar dan bisa main sama Kak Salman" ujar Kinan gembira.


"Kamu lagi ngapain Nan?" tanya Suci.


"Lagi break sebentar Ma habis shalat Isya dan makan di sini, sebentar lagi kembali lagi pelatihannya" jawab Kinan.


"Jaga tubuh kamu jangan telat makan nanti masuk angin" ujar Suci mengingatkan.


"Iya Ma, eh Ma udah dulu ya. Acaranya sudah di mulai. Nanti aku telepon lagi ya. Assalamu'alaikum" Kinan menutup teleponnya.


"Wa'alaikumsalam" jawab Suci. Suci menyerahkan ponselnya kepada Dhisti.


Dia hanya bicara pada Mamanya, Mamaku, Salman dan Naila. Aku diabaikan padahal dia tau aku sudah pulang sejak sore. Lagian ngapain sih dia menghubungi ke handphone Mama Dhisti. Kenapa coba gak ke handphoneku? tanya Refan dalam hati.


"Nyah makan malam sudah siap" panggil Bik Mar.


"Yuk Fan kita makan" ajak Dhisti.


Mereka berkumpul di meja makan. Refan dengan cepat menghabiskan makan malamnya dan segera kembali masuk ke kamarnya.


"Ma aku duluan ke kamar ya, ada yang mau aku kerjain" pamit Refan kepada Suci dan Dhisti.


"Iya" jawab Suci dan Dhisti bersamaan.


Refan kembali ke kamar dan membaringkan tubuhnya. Dia sangat gelisah dan kesal karena seharian ini Kinan tidak ada menghubunginya.


Sempat muncul ide untuk mengirim pesan kepada Kinan ataupun menghubunginya. Tapi ego Refan terlalu besar. Dia tidak mau merendahkan dirinya dengan duluan menghubungi atau mengirim pesan kepada Kinan kalau tidak ada berita yang penting seperti kemarin. Setelah satu jam menunggu akhirnya Refan tertidur setelah dia melaksanakan Shalat Isya sebelum tidur.


.

__ADS_1


.


BERASAMBUNG


__ADS_2