
Reni, Bela dan Ela sudah sampai di rumah Bimo. Saat mereka tiba ternyata mobil Bimo sudah lebih dulu terparkir di depan rumahnya.
"Lho Mas Bimo sudah pulang? Kamu bilang Mas Bimo ketemuan sama Mas Refan kan Ren?" tanya Bela.
"Iya, mungkin sudah selesai kali" jawab Reni.
Reni dan Bela membantu Ela membawa semua belanjaannya masuk ke dalam rumah. Ternyata Bimo sedang duduk santai di depan ruang TV sambil menonton TV.
"Kalian baru pulang? Sepertinya baru belanja besar ya" sindir Bimo.
"Ini Mas tadi aku berhasil minta mentahnya saja janji Mas Romi. Ya udah sekalian aja di habisin untuk bawahannya. Mas Romi suruh kami bawa Ela makan, jalan - jalan untuk hilangin stress Ela karena sibuk bekerja. Cara paling ampuh hilangin stress wanita ya berbelanja" jawab Reni.
Bimo menggelengkan kepalanya.
"Gak kebayang kalau kalian bertiga tinggal di rumah ini. Bisa - bisa Mas dicuekin ya" sindir Bimo.
"Ya ngak donk Mas. Mas kan suami aku" jawab Reni dengan cepat.
"Cieeee.... udah cerita tentang suami istri" goda Bela.
"Cie.. cieee.... " sambut Ela.
Wajah Reni langsung bersemu merah.
"Tuh kan Mas Bimo jadi diledekin mereka" ujar Reni.
"Biarin aja, toh sebentar lagi emang akan jadi kenyataan.
"Jadi gimana tadi hasil pembicaraan dengan Mas Refan. Kata Reni, Mas bertemu dengan Mas Refan untuk meminta restu?" tanya Bela.
Bimo melirik Reni yang masih bersemu merah.
"Alhamdulillah sudah mendapat restu. Minggu inj Bapak dan Ibu datang dan kita akan berkunjung ke rumah Refan melamar Reni secara Resmi" jawab Bimo.
Reni langsung menatap Bimo tak percaya.
"Alhamdulillah.... " sambut Bela dan Ela kompakan.
"Udah gak sabar pengen pesta" sambung Bela.
Reni semakin tertunduk malu dan Bimo tersenyum tipis melihat tingkah calon istrinya itu.
"Udah sana kalian mandi bersih - bersih sudah malam juga. Bawa semua belanjaan kalian ke kamar" perintah Bimo.
"Oh kita di usir" sambut Ela.
"Iya bilang aja Mas mau berduaan saja dengan Reni" ujar Bela.
__ADS_1
Mereka tetap mengikuti perintah Bimo. Bela dan Ela membawa semua barang belanjaan mereka ke lantai dua tempat kamar mereka berada.
Di bawah hanya tinggal Bimo dan Reni berdua. Sedangkan asisten rumah tangga Bimo sudah masuk ke kamar mereka lebih dulu.
"Sudah makan?" tanya Bimo lembut.
"Sudah Mas tadi bareng Bela dan Ela setelah selesai berbelanja" jawab Reni masih malu - malu.
"Mana handphone baru kamu?" tanya Bimo.
Reni mengeluarkan ponsel barunya yang dibeli Bimo tadi siang.
"Ini Mas" jawab Reni sambil menyerahkan ponselnya kepada Bimo.
Bimo membuka menu kontak di ponsel baru Reni yang masih kosong. Dia menyimpan nomornya di ponsel Reni tersebut dengan nama Imamku.
Begitu juga dengan nomor Reni di ponsel Bimo disimpan dengan nama Bidadari Surgaku. Reni yang melihat itu semakin bersemu merah wajahnya karena malu.
"Ayo coba lebih mendekat" perintah Bimo.
Reni mengikuti intruksi dari Bimo dan mendekat ke arah Bimo sambil melirik ke arah ponsel Bimo.
Cekreeek...
Bimo mengambil foto mereka berdua dan memasang foto itu sebagai wallpaper di ponselnya dan ponsel Reni. Setelah itu Bimo menyerahkan ponsel Reni kembali.
Dan Reni sepertinya harus lebih mempersiapkan dirinya karena akan banyak kejutan - kejutan yang akan Bimo berikan yang selama ini tidak pernah dia perlihatkan.
"Mas bukan ingin mengusir kamu, Mas malah lebih suka kalau kamu terus berada di sini. Tapi kamu seorang gadis, walau Bela dan Ela adalah teman - teman kamu tapi apa kata Mama dan Kakak kamu nanti kalau kamu berlama - lama di rumah Mas. Takutnya mereka jadi berburuk sangka pada kita Di tambah lagi godaan setan sangat berat saat kita berduaan begini. Kalau diikutkan bisikan setan rasanya saat ini aku pengen banget memeluk kamu" ungkap Bimo.
"Ma... Maaas" ucap Reni terkejut.
Bimo tersenyum lembut kepada Reni.
"Makanya benar kata - kata jika dua orang yang bukan muhrim sedang berdua - duaan yang ketiga adalah setan. Kamu tau kan status Mas apa? Mas ini duda, pernah merasakan semuanya. Mas harus menahan semua itu hingga kelak kita nanti halal dimata agama" ujar Bimo dengan penuh kelembutan.
Jantung Reni rasanya udah mau lompat sangkin kencangnya jantungnya berdetak.
"I.. Iya Mas. Kalau begitu aku pulang ya Mas" ucap Reni secepatnya.
Bimo jadi tertawa kecil melihat Reni yang salah tingkah.
"Hati - hati ya.. kita harus saling jaga diri sebelum resmi menikah" jawab Bimo.
"InsyaAllah Mas. Aku pamit" Reni segera meraih tasnya dan berjalan menuju pintu keluar.
Bimo mengantar Reni sampai ke mobilnya.
__ADS_1
"Pelan - pelan aja bawa mobilnya" pesan Bimo.
Entah mengapa Bimo jadi teringat dan takut akan kenangan buruk masa lalu terjadi lagi pada orang yang dia cintai.
"Iya Mas. Dah Maaas... Assalamu'alaikum" ucap Reni sambil mulai menyalakan mobilnya.
"Wa'alaikumsalam" jawab Bimo sambil melambaikan tangannya ke arah Reni.
Reni melajukan mobilnya menuju rumah Refan. Sepanjang perjalanan kata - kata Bimo terus terngiang-ngiang di telinga Reni dan sukses membuat wajah Reni kembali merona.
Akhirnya Reni sampai di rumah Refan dan ternyata seluruh keluarga sedang berkumpul di ruang keluarga menunggu kedatangannya.
"Assalamu'alaikum... " ucap Reni ketika masuk.
"Wa'alaikumsalam... " jawab semua anggota keluarga.
Ada Mamanya, Refan dan keluarga kecilnya. Sedangkan Papa dan Mamanya Kinan sudah kembali ke rumah mereka karena Kinan sudah mrlahiy dan masalah hukum keluarga almarhum Bima sudah hampir selesai.
"Ren sini duduk dulu" perintah Bu Suci.
Reni melirik ke arah Refan dengan wajah galau. Entah mengapa tiba - tiga Reni takut kalau Mamanya tidak menyetujui hubungan dia dengan Bimo karena status Bimo seorang duda dan pernah murtad.
Refan memberi kode untuk menyuruh Reni duduk. Reni duduk tepat disamping Mamanya.
"Kamu dari mana? Dari rumah Bimo?" tanya Bu Suci langsung.
Wajah Reni semakin tegang. Benar kata Bimo. Saat ini Reni sangat takut kalau keluarganya berpikir macam - macam padanya dan Bimo.
Reni menganggukkan kepalanya dan menunduk.
"Iya Ma, aku habis antar Bela dan Ela. Tadi kami pulang kerja bareng dan makan di luar" jawab Reni takut.
"Trus Bimonya?" tanya Bu Suci lagi.
"Mas Bimo di rumahnya Ma. Tadi sore Mas Bimo janjian ketemuan sama Mas Refan jadi dia gak bisa jemput Bela. Ketepatan aku, Bela dan Ela memang sudah janjian mau ketemuan" jawab Reni panjang.
Bu Suci menarik nafas panjang.
"Mas Refan sudah cerita ke Mama semuanya isi pembicaraan dia dengan Bimo tadi sore" ungkap Bu Suci.
Jantung Reni semakin kencang berdetak. Saat ini rasanya dia seperti sedang diadili atas sebuah kesalahan yang telah dia perbuat.
"Apa benar Bimo sudah melamar kamu tadi siang?" tanya Bu Suci.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG