
"Nai la a.. nakku.. " ucapnya lemah, air matanya mengalir dari kedua sudut matanya.
"Papaaaa... " Wajah Naila tampak mulai ketakutan dan dia mulai merengek di dalam gendongan Refan.
Tangan Naila memeluk erat leher Refan dan tidak mau melepaskannya.
"Tidak apa - apa sayang. Ini Ayah kamu" ucap Refan berusaha menenangkan Naila.
"Nai... laaaaa... i ni a yaaaah" panggil Arga lemah.
Naila tidak mau melihat ke arah Arga.
"Papa, aku takuuuut" ucap Naila.
Kinan berjalan ke arah Refan dan menyentuh lembut tangan Naila.
"Sayaaang ini ayah kamu. Ayo salim dulu Nak... Ingat apa pesan Mama.. Anak solehah harus hormat kepada siapa?" tanya Kinan lembut.
"Orang tua Maaaa.... " jawab Naila.
"Pinter.. kalau begitu ayo donk salim sama ayah kamu Nak" bujuk Kinan.
"Tapi aku takut Maaaa... " ungkap Naila.
"Takut apa sayang.. Gak ada yang jahat kok. Ayah kamu lagi sakit, jadi butuh ciuman dan pelukan dari kamu sayang agar Ayah kamu lekas sembuh" bujuk Kinan lagi.
"Kata Mama dan Papa kalau sakit harus minum obat biar cepat sembuh" ujar Naila bijak.
Arga menatap tak percaya kepada Refan dan Naila. Refan membalas tatapan Arga dengan senyuman.
"Dia anak yang pintar Ga, dan baik hati. Tidak sulit untuk membesarkannya, dia anak yang penurut" ungkap Refan.
Air mata Arga semakin deras menetes, tangannya mencoba meraih tubuh Naila. Refan mulai mendekatkan tubuh Naila yang ada dalam pelukannya.
"Papa sakit rindu namanya sayang... kalau sakit rindu obatnya harus peluk cium dari Naila" ucap Refan lembut.
Naila membalikkan pandangannya. Kini mata Arga dan Naila bertemu.
"Om sakit rindu?" tanya Naila.
Arga hanya sanggup menganggukkan kepalanya dengan air mata yang semakin deras.
"Panggil ayah sayaaang" bujuk Refan.
__ADS_1
"A.. yaaaah?" tanya Naila.
"Iya" jawab Kinan sambil mengelus lembut kepala Naila.
"Ayaaaaah" panggil Naila kepada Arga.
"Ya sa.. yaaaang" jawab Arga.
"Ayaaah... ayah dari mana? kenapa kita baru bertemu sekarang?" tanya Naila.
Suara hati keibuan Kinan tak dapat menahan haru. Dia ikut meneteskan air mata menyaksikan pertemuan Naila dengan ayah kandungnya.
"A yah ba ru da tang" jawab Arga.
"Dari mana? Rumah ayah jauh?" Naila mulai banyak bertanya karena sudah merasa nyaman walau masih erat memeluk Refan.
"I ya.. ru mah a yah ja uh. Ma af kan a yah ba ru bi sa ber te mu ka mu se ka rang" jawab Arga.
"Kalau begitu besok - besok ayah harus datang ke rumah Naila" ucap Naila.
"Ti dak bi sa sa yang" jawab Arga.
"Kenapa tidak bisa?" tanya Naila ingin tahu.
"Kemana?" tanya Naila lagi.
"Ja uh, a yah a kan per gi ke tem pat i bu ka mu" ujar Arga.
"Ibu?" tanya Naila.
"Iya" jawab Arga dengan senyuman lemah.
"Siapa Ibu?" tanya Naila.
"Nan ti ka lau ka mu su dah be sar. Ka mu a kan me nger ti. Ma af kan a yah Nak... Ma af kan sa lah ku dan Re ni ta Fan... Ka mi sa ngat ber do sa" pinta Arga.
"Sudah lah Ga, semua sudah berlalu. Kamu juga sudah menjalani hukuman kamu. Aku memaafkan semua kesalahan kamu. Aku harap kamu akan segera sembuh agar kelak kita bisa sama - sama membesarkan Naila" jawab Refan.
"Ti dak Fan.. A ku ti dak bi sa. Wak tu ku ting gal se di kit la gi. Ak hir - ak hir i ni, a ku se la lu ber mim pi ber te mu Re ni ta. Dia se dang me nung gu ku. Ka mi a kan me ne ri ma hu ku man ka mi ber sa ma - sa ma. Ma af kan ka mi Fan. Mung kin ma af ka mu bi sa le bih me ri ngan kan se mua do sa ka mi" ucap Arga semakin kesusahan. Karena dadanya sesak akibat menangis.
"Sudah Ga.. sudah.. kamu harus tenang. Aku sudah memaafkan semua kesalahan kalian. Semoga Allah juga mendengar dan menerima maaf kamu" balas Refan.
"Nai la.. mau kah ka mu me me luk a yaaah?" pinta Naila.
__ADS_1
"Ayo sayang peluk ayah Arga" bujuk Refan.
"Biar penyakit rindu ayah sembuh ya Pa?" tanya Naila tak mengerti.
"I ya sa yang" jawab Arga.
Refan meletakkan Naila di pinggi tempat tidur Arga. Naila mulai memeluk Arga dan mencium pipi Arga.
Arga memeluk erat Naila. Air matanya semakin pecah. Rasa rindu bercampur dengan rasa bersalah yang sangat besar kepada darah dagingnya itu tak bisa dia luapkan dengan kata - kata. Dia menyesal telah melakukan dosa besar tapi dia tidak menyesali adanya Naila. Baginya Naila adalah anugerah terbaik yang pernah Allah berikan sepanjang hidupnya.
Karena dengan keberadaan Naila menunjukkan bahwa dia tidak lemah sebagai laki - laki.
"A yah sa yang Nai la... Ma af kan A yah Nak. Ke lak ja ngan ben ci a yah ya.. ka lau ka mu tau se mua ke be na ran ten tang hi dup ka mu. Ka mu la hir de ngan pe nuh cin ta ka sih" ucap Arga.
Kalau mungkin dulu Arga mengatakan kata - kata itu, sudah tentu Refan pasti akan sangat marah. Tapi saat ini sedikitpun tidak ada rasa marah di hati Refan.
Walau kata - kata Arga itu sangat jelas artinya bahwa kehadiran Naila karena hubungan cinta terlarang Arga dengan istrinya yang mengakibatkan lahirnya Naila ke dunia ini.
"Fan.. to long di dik Nai la de ngan ba ik. Ja ngan bu at dia mem ben ci ku a tau pun Re ni ta. Bi ar kan ka mi men ja di ke na ngan yang in dah un tuk di ingat Nai la" pesan Arga.
"Iya Ga. Aku akan mendidik Naila dengan baik. Dan aku akan bercerita tentang kebaikan dan kehebatan kalian orang tuanya" jawab Refan.
Arga melirik Kinan.
"Mm.. bak.. to long ja ga dan a suh Nai la se per ti a nak mbak sen di ri. Sa ya ngi dia ya ja ngan di a sing kan ya... a ku ti dak i ngin hi dup nya men de ri ta" pinta Arga kepada Kinan.
Kinan membalas ucapan Arga dengan senyuman.
"InsyaAllah Mas.. saya akan membesarkan Naila dengan penuh kasih sayang dan saya sudah menganggap Naila seperti anak kandung saya sendiri" jawab Kinan.
"Te ri ma ka sih. Se mo ga Al lah mem ba las ke baik kan ka li an. Dan se mo ga ka lian ba ha gia" doa Arga.
"Aamiin.. doa yang sama buat kamu Ga. Aku masih berharap kamu kembali pulih dan kita akan membesarkan Naila bersama - sama" ujar Refan.
Arga hanya membalas ucapan Refan dengan senyuman yang sangat lemah. Perlahan - lahan Arga menutup matanya dan terdengar syahadat dari bibirnya.
Tiiiiiiiiiiiiit...... suara mesin yang ada di dekat tempat tidur Arga.
"Innalillahi.. Wa innalillahi rojiun.... "
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG