
Pekerja Rahma dan Aisyah jadi bertambah karena pernikahan yang akan terjadi sebulan lagi bukan hanya satu melainkan dua.
Tapi Aisyah ternyata membuat kejutan sendiri. Dia mengeluarkan gaun indah yang dia bawa dari Butiknya. Gaun yang baru saja dua bulan ini dia selesaikan sendiri.
"MasyaAllah Aisyah cantik banget gaun ini. Punya siapa?" tanya Rahma terkejut.
Dengan malu - malu Aisyah menjawab.
"Gaun pernikahan aku" ucap Aisyah.
"Kamu serius?" tanya Rahma tak percaya.
"Serius donk Maaa... " jawab Aisyah.
"Kamu sudah merencanakan pernikahan ini sebelumnya?" tanya Rahma.
Sambil tersenyum Aisyah menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Kamu kan tau aku ketemu Salman lagi baru beberapa minggu yang lalu. Enam bulan yang lalu entah mengapa tiba - tiba aku ingin merancang baju pengantin sesuai dengan impianku. Saat itu aku belum berpikir menikah karena aku belum punya calonnya. Aku hanya ingin membuat gaun saja, jika ada yang suka silahkan di beli. Tapi setelah gaun ini jadi dua bulan yang lalu aku tidak tega menjualnya. Aku sangat menyukai gaun ini karena dari gambar, membuat pola, menjahit bahkan memasan mutiaranya semuanya aku lakukan sendiri dengan penuh kesabaran dan akhirnya gaun ini menjadi gaun pernikahanku sendiri. Aku tidak tau, sepertinya Allah sudah merencanakan dan menggerakkan hatiku jauh - jauh hari" ungkap Aisyah.
"Kamu lihat Sal, kekuatan jodoh Maha Dahsyat. Kalau Allah sudah berkehendak semua bisa saja terjadi" sambut Rahma masih merasa takjub.
"Alhamdulillah... berarti tinggal menyesuaikan pakaian aku kan?" ujar Salman.
"Ya dan pakaian laki - laki tidak terlalu ribet dan tidak memakai banyak aksesoris. Aisyah sudah meringankan pekerjaanku" jawab Rahma.
Salman dan Aisyah tersenyum bahagia.
"Kamu pasti cantik sekali memakai gaun ini Ai" puji Salman
Aisyah tersenyum malu, wajahnya merah merona.
"Aku yakin Ma.. kekuatan jodoh Allah akan terjadi juga pada kamu" ujar Aisyah pada sahabatnya.
Salman jadi teringat perkataan Omnya kemarin tentang keinginan Tagor menjodohkan Rahma dengan sepupunya Putra.
"Kamu keberatan tidak kalau berkenalan dengan pria yang lebih muda dari kamu?" tanya Rahma.
"Maksud kamu brondong?" tanya Rahma.
__ADS_1
"Yup. Sepupu aku yang bernama Putra baru berumur dua puluh tiga tahun. Umurnya tidak jauh dari adik - adikku Khansa dan Khalid. Tapi dia sangat pintar sehingga bisa wisuda lebih cepat dari adik kembarku. Dia juga pria bertanggung jawab dan pekerja keras. Seusia itu dia sudah memegang kepemimpinan hotel - hotel milik orang tuanya. Mungkin karena dia anak paling besar sehingga Om ku mendidiknya menjadi pria tangguh" ungkap Salman.
"Berarti beda empat atau lima tahun dari kita?" tanya Rahma.
"Hei.. kamu itu lebih muda setahun dariku Rahma" tegur Aisyah.
"Ups.. aku lupa kalau kamu adalah Kakak seniorku dulu di kampus" ujar Rahma.
"Mungkin beda tiga atau empat tahun Rahma. Tapi kamu jangan lihat dari umur, ketemu aja dan lihat sendiri bagaimana sifat Putra. Dia orangnya asik kok hanya saja memang sedikit lebih serius dari aku dan lebih pendiam" jawab Salman.
Aisyah menyenggol lengan sahabatnya.
"Apalagi Ma.. Terima aja tawara Om Tagor untuk mengenalkan kamu pada Putra" ujar Aisyah.
Rahma menarik nafas panjang.
"Aku gak bisa jawab sekarang. Lihat nanti aja ya" jawab Rahma tidak begitu serius.
Salman memaklumi reaksi Rahma, mungkin Rahma berat menerimanya karena ternyata Putra usianya lebih muda dari mereka.
"Baiklah para gadis, apakah semua sudah selesai? Aku ada meeting satu jam lagi?" tanya Salman.
"Sudah selesai Sal, kamu sudah bisa balik ke kantor" jawab Aisyah.
"Aku akan pulang naik taxi aja. Masih banyak yang harus aku lakukan bersama Rahma. Kami harus segera merancang gaun pernikahan Naila dan gaun yang lainnya" jawab Aisyah.
"Baiklah kalau begitu hati - hati ya nanti pulangnya. Aku balik ke kantor lebih dulu. Assalamu'alaikum" ujar Salman pamit.
"Wa'alaikumsalam" jawab Aisyah dan Rahma.
Salman pergi meninggalkan Butik Rahma dan kembali ke kantornya.
"Gimana Ai perasaan kamu menjelang pernikahan?" tanya Rahma.
"Aku masih merasa ini bagaikan mimpi" jawab Aisyah.
Rahma langsung mencubit lengan Aisyah.
"Aaawww... sakit Maaa.. " teriak Aisyah.
__ADS_1
"Itu artinya kamu sedang tidak bermimpi Ai. Ini nyata, sebentar lagi kamu akan menjadi Nyonya Salman Akarsana. Eh.. ada yang aneh gak Ai. Bukannya nama Papanya Salman itu Refan Adinata dan perusahaannya juga Perusahaan Adinata. Tapi mengapa nama Salman tidak ada Adinatanya?" tanya Rahma.
Aisyah teringat pembicaraan mereka tadi malam di teras rumahnya Aisyah.
Flash Back On
Saat dua keluarga sedang asik berbincang - bincang Aisyah dan Salman duduk di teras samping rumahnya.
"Sal boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Aisyah.
"Boleh, silahkan saja. Kamu berhak bertanya apa aja Ai, karena memang hal itu sangat perlu dalam hubungan kita ini. Pasti masih banyak yang tidak kamu ketahui pada diriku begitu juga aku yang juga belum mengenal kamu lebih dalam" jawab Salman.
"Maaf ya kamu jangan marah, aku bertanya tentang keluarga kamu" ujar Aisyah.
"Aku tidak akan marah. Sebentar lagi kita akan menikah dan akan menjadi keluarga. Kamu boleh bertanya tentang apa saja, karena itu adalah bagian dari proses ta'aruf kita" sambut Salman dengan sabar.
"Mmm.. mengapa nama belakang kamu Akarsana bukan Adinata? Sedangkan Naila memakai nama Adinata?" tanya Aisyah hati - hati.
Salman tersenyum mendengar pertanyaan Aisyah.
"Karena aku bukan berasal dari keluarga Adinata melainkan keluarga Akarsana" jawab Salman.
"Ma.. maksud kamu? Aku tidak mengerti?" tanya Aisyah bingung.
"Papa Refan bukan Papa kandungku. Dia adalah Papa tiriku Ai. Kalau Naila memang anaknya Papa Refan makanya Naila memakai nama Adinata. Papa kandungku bernama Bima Akarsana" jawab Salman tegas.
Flashback Off
"Om Refan Papa tirinya Ma" jawab Aisyah.
"Oh ya? Tapi Om Refan itu sepertinya sangat menyayangi Salman lho. Buktinya dia memberikan kursi kepemimpinan Perusahaan Adinata di tangan Salman" ucap Rahma masih tidak percaya.
"Kata Salman Mamanya dengan Om Refan menikah saat Salman berumur tiga tahun. Papa Salman meninggal karena kecelakaan dan istrinya Om Refan yang tak lain adalah Mamanya Naila meninggal setelah melahirkan Naila" ungkap Aisyah.
"Berarti Naila dan Salman saudara tiri. Hebat ya Om Refan dan Tante Kinan. Mereka bisa mendidik anak - anak mereka dengan penuh kasih sayang. Karena aku lihat mereka sangat kompak. Tidak terlihat seperti dua keluarga yang berubah menjadi satu. Aku rasanya masih tidak percaya dengan apa yang kamu katakan" ujar Rahma.
"Aku juga awalnya tidak percaya. Setelah keluarga Salman pulang dari rumahku kemarin baru Salman cerita padaku. Karena saat perkenalan aku merasa heran dengan nama belakang Salman. Mengapa beda dengan nama keluarga Om Refan. Begitulah ceritanya Ma" jawab Aisyah.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG