Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 195


__ADS_3

Esok harinya pagi - pagi sekali Bimo sudah sampai di rumah Refan, tak lama kemudian Aril sahabat Refan juga datang.


"Udah pada ngumpul pagi - pagi begini, mau kemana?" tanya Aril.


"Kantor polisi" jawab Refan.


"Kantor polisi? mau buat laporan? Aku ikut ya" pinta Aril.


"Ayo Nak Aril ikut aja. Kamu kan sejak awal udah ikutan dalam kasus ini" ajak Pak Akarsana.


"Terimakasih Pak" sambut Aril senang.


Aril langsung duduk di dekat Bela. Refan sudah tau apa yang ada di dalam pikiran Aril. Pasti dia cari - cari kesempatan dekatin Bela.


"Ngapain kamu di situ?" tanya Refan.


"Mau ikutan makan" jawab Aril tanpa rasa bersalah.


"Dasar pengusaha gak bermodal. Sarapan pagi aja numpang di rumah orang" sindir Refan.


"Ya kan tadi aku datang pagi - pagi Fan ke sini jadi belum sempat sarapan" Aril menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Gak ada juga yang nyuruh kamu datang ke sini" balas Refan.


"Yah kan kamu yang bilang kemarin, aku harus antarin Pak Akarsana" jawab Aril.


"Maaaas udah ah. Pagi - pagi udah ribut. Gak baik lho" Kinan mengingatkan.


"Nanti kamu, Aril dan Bapak duluan ke kantor polisi ya Bim, aku antar Kinan ke kantornya dulu" ujar Refan kepada Bimo.


"Oke Fan" sambut Bimo.


Sarapan berlangsung dengan cepat, karena mereka masing - masing punya rencana yang harus dilaksanakan setelah sarapan pagi.


Sesuai kesepakatan Bimo, Aril dan Pak Akarsana akan lebih dulu ke kantor polisi. Disana sudah menunggu pengacaranya Refan. Sedangkan Refan akan mengantarkan Kinan terlebih dahulu ke kantornya baru setelah itu menyusul yang lain ke kantor polisi.


"Pa, Ma kami pergi dulu ya" Kinan pamit kepada Papa dan Mamanya juga dua mertuanya. Bu Suci dan Bu Akarsana.


"Hati - hati Nan" jawab mereka.


"Sayang kamu sekolahnya sama Opa ya. Nanti di sekolah jangan lasak dan jangan jauh - jauh dari Opa" ucap Kinan kepada putranya Salman.


"Iya Mama" jawab Salman.


Salman juga sudah siap lengkap dengan pakaian sekolahnya menunggu diantar oleh Opanya.

__ADS_1


"Papa pergi ya sayang" Refan mengacak rambut Salman.


"Oke Papa. Hati - hati Papa... Mama.. " Salman membalasnya dengan lambaian tangan mengiringi kepergian Refan dan Kinan kr kantor.


Setelah mereka pergi baru Aril, Bimo dan Pak Akarsana ikutan berpamitan.


"Salman Uncle pergi dulu ya. Yang rajin belajarnya biar jadi anak pintar" pesan Bimo.


"Siap Uncle Bimo.. Uncle juga hati - hati ya sama eyang. Om Aril juga jangan nakal - nakal. Kata Tanye Reni di kantor polisi gak ada cewek sexy" pesan Salman pada Aril.


Aril terkejut mendengar pesan Salman.


Dasar si Reni, ngerusak pasaran aku aja di depan mereka semua. Apa dia belum tau kalau Kang Mas Aril udah alih profesi. Gak jadi playboy lagi tapi udah otw jadi ustadz hihihi... Batin Aril.


"Siapa yang cari cewek sexy Sal, Om kan mau temani Eyang kamu. Lagian Om udah gak doyan sama cewek sexy. Om mah mau cari surga aja" jawab Aril.


"Kalau Om. mau cari surga, Om harus meninggal dulu seperti Papa Bima. Kan Papa Bima sekarang udah di surga" balas Salman


Mati aku salah ngomong sama anak kecil. Umpat Aril dalam hati.


"Rasain kamu Ril" sambut Bu Suci tersenyum.


"Maksud Om bukan surga yang itu Sal. Om belum kuat, Om masih punya banyak dosa, takutnya bukan dapat surga tapi sebaliknya" Aril menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Lebih baik Papa satu mobil dengan Aril saja ya, biar aku sendirian di mobil. Harus waspada jaga - jaga jangan sampai ada yang ngikutin aku dan membahayakan Papa" pesan Bimo.


"Iya gak apa - apa. Papa berangkat sama Aril aja. Yuk dek Ardi" ucap Pak Akarsana.


"Hati - hati Mas dan semoga semuanya lancar" sambut Pak Ardianto.


"Aamiin.. yuk semuanya, kami pergi ya" balas Pak Akarsana pamitan kepada semuanya.


Aril dan Pak Akarsana masuk ke dalam mobil Aril sedangkan Bimo masuk ke dalam mobilnya. Salman dan Pak Ardianto juga sudah masuk ke mobil.


Mereka satu persatu berangkat meninggalkan rumah Refan dan Kinan. Pergi bergerak ke tempat tujuan mereka masing - masing.


****


Di mobil Refan.


"Yank, kamu kuat kan menjalani semua ini? Kamu yang paling aku khawatirkan di sini?" tanya Refan serius.


"InsyaAllah aku kuat Mas? Kalau soal hati seperti yang aku katakan pada Mas. Semua tentang Mas Bima sudah aku ikhlaskan. Kalau soal kekuatan tubuhku, namanya aku lagi hamil Mas pasti mudah letih dan kecapekan" jawab Kinan.


"Kamu jangan banyak pikiran dan banyak melakukan aktivitas berat. Kalau di kantor ya di ruangan kamu saja gak usah kemana - mana. Kalau kesepian panggil aja Anita untuk temani kamu saat istirahat. Bukannya kantor kalian berdekatan?" tanya Refan.

__ADS_1


"Iya Mas, nanti aku ajak Anita aja deh ke kantor aku jam makan siang. Biar aku juga punya teman makan siang" jawab Kinan.


"Ya sudah aku jadi lega sekarang. Aku paling takut kamu kenapa - kenapa. Nanti pulang kerja tunggu aku ya" pinta Refan.


"Iya Mas" balas Kinan.


Tak lama kemudian mobil Refan sudah sampai di halaman kantor Kinan. Sebelum turun Kinan mencium tangan suaminya dan Refan membalasnya dengan mencium kening Kinan.


"Hati - hati ya Mas" ujar Kinan.


"Kamu juga sayang" balas Refan lembut.


Kinan langsung turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam kantor. Saat hendak keluar dari area kantor Kinan, Refan berpapasan dengan Fadlan.


Refan menghentikan mobilnya saat tepat berada di samping mobil Fadlan.


"Fad, titip Kinan ya. Tolong kamu jagain dia selama di kantor. Pagi ini aku akan ke kantor polisi untuk membuat laporan mengenai kecelakaan Almarhum Bima" pesan Refan kepada Fadlan.


Fadlan yang sejak kedatangan Bimo ke kantor mereka jadi mengetahui permasalahan yang sedang dilalui dalam rumah tangga Refan dan Kinan. Dia langsung tanggap ketika Refan berpesan seperti itu kepadanya.


Sebagai saudara jauh Refan, Fadlan merasa mempunyai tanggung jawab penuh ketika Refan sudah memberikan amanah kepadanya untuk menjaga Kinan di kantor.


"Siap Mas, tugas akan saya laksanakan dengan sebaik mungkin" jawab Fadlan.


"Terimakasih Fad, kalau begitu aku pamit ya" ujar Refan.


"Iya Mas, hati - hati" balas Fadlan.


Refan kemudian melakukan mobilnya menuju kantor polisi. Sekitar satu jam perjalanan akhirnya Refan sampai di kantor polisi.


Disana sudah menunggu pengacaranya bersama dengan Bimo, Aril dan Pak Akarsana.


"Semua bukti - bukti dan berkas sudah dibawa Pak?" tanya Refan kepada sang pengacara.


"Sudah Pak Refan, saya sudah susun dan buat laporan tuntutan kita. Yuk kita masuk ke dalam" ajak sang pengacara.


"Yuk Pak, Bimo, Riiiill... " ujar Refan.


Mereka berlima masuk bersama - sama ke kantor polisi untuk membuat laporan tentang kejadian kecelakaan yang mengakibatkan Bima meninggal dunia sekitar lebih satu tahun yang lalu.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2