Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 185


__ADS_3

Tidak Nak, Uncle sudah tidak jahat lagi. Uncle capek jadi anak jahat. Uncle akan berubah menjadi anak baik kembali. Uncle akan menjadi anak yang baik agar Uncle bisa tetap bertemu dengan kamu. Kamu kini alasan Uncle untuk berbuat baik" ucap Bimo.


Bimo kembali memeluk Salman dengan erat. Kinan menatap kearah wajah Bimo, ada keseriusan dan kejujuran di sana. Hal ini membuat Kinan semakin lega dan semakin positif thinking kepada Bimo.


Kinan sangat berharap kehadiran Bimo karena dia ingin kembali kepada keluarganya dan keinginan Bimo untuk bertemu Salman karena dia memang tulus menyayangi Salman dan sudah menganggap Salman sebagai anak kandungnya sendiri.


"Salman kamu mau lihat foto terakhir Uncle bersama Papa Bima?" tanya Bimo.


"Mau.. mau uncle. Aku ingin melihatnya" sambut Salman dengan antusias.


Bimo segera meraih ponselnya dan membuka galeri foto di ponselnya.


"Nih coba tebak yang mana Papa kamu dan mana Uncle?" tanya Bimo sambil memberikan ponselnya kepada Salman.


Salman menerima ponsel tersebut, memegangnya dan melihat foto tersebut.


Dia terlihat sangat terkejut melihat foto Papa Bima dan Uncle Bimo.


Setelah itu Salman memperhatikan wajah Bimo lalu kembali menatap foto di ponsel Bimo.


"Aku gak tau yang mana Papa dan Uncle, keduanya tampak begitu mirip" jawab Salman bingung.


Kinan merasa sangat penasaran sekali.


"Sayang boleh Mama lihat fotonya? Mama juga pengen melihat foto Papa Bima" pinta Kinan.


Salman memberikan ponsel Bimo kepada Kinan. Dan Kinan melihat foto itu bersama dengan Refan. Mereka juga sangat terkejut melihat foto keduanya Bima dan Bimo. Mereka sangat mirip sekali.


"Kamu juga pasti bingung kan menebak yang mana Bima?" tanya Bimo.


Kinan menatap wajah Bimo.


"Aku bisa menebaknya Mas? Bukan dari wajah kalian tapi dari baju yang di pakai Mas Bima. Baju itu adalah baju yang dia pakai saat kecelakaan" jawab Kinan sedih.


"Iya kamu benar, foto itu diambil saat kami bertemu. Aku meminta berfoto dengannya sebagai kenang - kenangan. Karena kami sudah lama bertemu dan mungkin bagiku akan sulit bertemu dengan Bima setelahnya. Ternyata memang benar firasatku. Aku memang tidak akan bisa melihat Bima lagi untuk selamanya" ungkap Bimo ikutan sedih.


Kinan memberikan ponsel Bimo kepada Salman.


"Sayang kamu lupa sama pakaian Papa?" tanya Kinan.


"Aku ingat sekarang Ma. Papa Bima yang ini. Papa Bima memakai baju berwarna biru yang sama dengan bajuku" jawab Salman.

__ADS_1


"Anak pintar" puji Bimo sambil mengelus kepala Salman.


Bimo menatap kearah Kinan dan Refan.


"Kinan, Refan maafkan aku. Mungkin kehadiran aku membuat kalian khawatir dan waspada. Apalagi kehamilan Kinan sudah semakin besar. Maaf kalau membuat kamu jadi semakin sulit menjalani kehamilan kamu sejak aku kembali" ucap Bimo tulus.


"Tidak apa Mas, asalkan semua sudah jelas. Jujur banyak praduga kami sebelumnya mengenai kehadiran Mas dan kami sangat khawatir. Aku hanya bisa pasrahkan kepada Allah. Semoga kehadiran Mas Bimo di hadapan kami memang benar akan membawa kebenaran dan keadilan tentang kematian Mas Bima" ujar Kinan.


"Mudah - mudahan Nan, aku sudah mengumpulkan beberapa bukti - bukti. Mungkin aku nanti bisa meminta sedikit bantuan Refan. Siapa tau dia punya kenalan di Bandung. Karena aku sudah lama sekali tidak ke daerah ini. Mengingat sepuluh tahun belakangan ini aku lebih banyak berada di papua" pinta Bimo.


"Tidak masalah, aku akan berusaha membantu sebisaku" sambut Refan.


"Foto ini juga bisa menjadi salah satu bukti termasuk rekaman CCTV di Restoran tempat aku bertemu terakhir dengan Bima sebelum Bima pulang dan sebelum terjadinya kecelakaan di jalan menuju ke kota ini" ujar Bimo.


"Maaaas... apa memang benar Mas Bima di bunuh?" tanya Kinan sambil menatap wajah Bimo mencari kebenaran.


Wajah Bimo berubah sangat serius.


"Benar Nan, ini bukti - bukti kalau mereka mau mengancam ingin membunuhku" Bimo kembali memberikan ponselnya kepada Kinan dan menunjukkan bukti - bukti SMS dari keluarga Almarhum istri Bimo.


Dada Kinan bergemuruh. Dia mengangkat kedua tangannya dan menutup wajahnya.


Kemudian kembali menatap wajah Bimo.


"Saat aku bertemu Bima aku sudah ceritakan semuanya padanya termasuk masalah ancaman pembunuhan. Dia menyuruh aku melepaskan semua yang aku punya di papua dan memulai hidup baru di sini. Bima berjanji akan membantu aku membangun usaha di sini" ungkap Bimo.


"Kami berpisah dan dia yang pertama kali keluar dari Restoran. Aku juga tidak tau kalau saat itu aku sedang di buntuti. Karena sudah lama mereka tidak menemukan keberadaanku" sambung Bimo.


"Maaf, apakah kamu sengaja mengumpankan Bima? Wajar saja kan aku berfikiran seperti ini. Kamu masih ingin hidup, harta kamu masih banyak. Atau kalau pun kamu hidup memakai identitas Bima mungkin kamu bisa mendapatkan keuntungan, seluruh harta kekayaan Bima, anak dan juga.. " ucap Refan tak sabar.


Pertanyaan ini sudah lama dia simpan di dalam hati, baru kali ini ada kesempatan untuknya berkata seperti ini.


"Maaas... " potong Kinan mengingatkan Refan.


"Gak apa - apa Nan, Refan bebas mengatakan apa yang dia curigai. Karena pemikiran seperti itu sangat wajar. Tapi percayalah aku sangat menyayangi saudaraku dan keluargaku. Hanya satu kesalahanku pada mereka. Aku lebih memilih istriku dulu dan tega meninggalkan mereka juga agama kita" ucap Bimo sedih.


"Saat berpisah di Restoran kami memilih jalur yang berbeda. Dia kembali ke kota ini sedangkan aku balik ke Bandung. Tapi karena Bima yang lebih dulu meninggalkan Restoran jadi mereka mengikuti Bima bukan mengikuti aku" sambung Bimo.


Suasana hening sesaat, mereka bermain dengan pikirannya masing-masing.


"Eh sudah lama kita ngobrol tapi belum pesan makanan. Pelayanan" panggil Refan.

__ADS_1


Pelayanan datang dengan membawa menu makanan dan alat tulisnya untuk mencatat pesanan.


"Yank kamu aja yang bantu pesan makanannya" perintah Refan.


"Baik Mas. Mas Bimo mau pesan apa?" tanya Kinan.


Bimo meraih satu buku daftar menu kemudian mulai mencari daftar makanan yang ingin dia pesan.


Sementara Refan di bawah meja mengetik pesan kepada Aril.


Refan


Ril.. Bapak dan Ibu sudah bisa keluar dari mobil. Kami dan Bela tetap waspada di mobil ya dan jangan sampai Bimo tau letak mobil kalian bersebelahan dengan mobilnya.


Aril


Oke Fan, aku akan bilang pada Bapak dan Ibu Akarsana.


Refan


Thanks


Refan menutup ponselnya dan menyimpannya kembali ke dalam saku celananya.


"Udah dipesan yank?" tanya Refan.


"Udah Mas. Punya Mas aku pesan yang biasa ya" ujar Kinan.


"Oke yank tapi tolong tambah dua porsi lagi karena akan ada orang yang ikut bergabung bersama kita" sambut Refan.


"Siapa?" tanya Bimo curiga.


"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan kamu Mas" jawab Kinan.


Tak lama kemudian muncullah Bapak dan Ibu Akarsana di hadapan mereka.


"Bimo..."


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2