
"Bidadari surgaku sayang" goda Bimo.
Reni tersenyum tertunduk, wajahnya semakin merah merona karena malu dengan godaan Bimo yang baru saja dia ucapkan.
"Mas mohon maaf ya, kalau tadi sikap Mas dan Jelita mungkin sudah kelewatan. Mas akui kalau Mas lalai, tidak menjaga perasaan kamu. Terlebih Mas sudah salah karena memeluk wanita yang bukan mahrom Mas, apalagi itu istri orang lain dan ternyata adalah kakaknya calon istri Mas" ungkap Bimo tulus.
Reni menatap lurus kedepan, pemandangan taman di Hotel milik Bimo.
"Mas ingin meyakinkan kamu kalau antara Mas dan Jelita tidak ada hubungan apapun kecuali hanya sebatas sahabat. Kami memang sempat pacaran tapi tidak tau kapan dimulai. Semua berjalan begitu saja, teman - teman menjodohkan kami dan entah bagaimana tiba - tiba kami sudah menjadi pasangan. Tapi kami tidak pernah melakukan apapun layaknya sepasang kekasih. Kami hanya saling jaga dan menyayangi kayaknya teman. Hingga akhirnya kami sama - sama menyukai seseorang. Jelita menyukai Tagor dan aku menyukai Elliah. Kami akhirnya memutuskan untuk putus walau hubungan itu sebenarnya tidak pernah kami mulai" sambung Bimo.
Reni menarik nafas panjang.
"Aku percaya Mas, kalian berdua.. Mas dan Mbak Jelita adalah orang - orang yang sangat penting dalam hatiku. Orang - orang yang aku sayangi dan aku percaya. Aku percaya apa yang Mas katakan dan Mbak Jelita katakan adalah benar. Apalagi Bang Tagor juga sudah menjelaskan semuanya" jawab Reni.
"Terimakasih ya Ren, kepercayaan di awal hubungan kita ini sangat penting. Kita harus saling menguatkan jangan sampai kerikil kecil berubah menjadi batu yang sangat besar dan merusak hubungan dan rumah tangga kita kelak" sambut Bimo lega.
"Iya Mas. Aku akan berusaha melihat masalah itu dengan kedewasaan tidak langsung marah atau ngambek. Tapi tolong Mas bersabar ya kalau terkadang sikapku nanti masih kekanak-kanakan" pinta Reni.
Bimo tersenyum simpul dan menatap mata Reni dengan penuh bahagia.
"InsyaAllah Mas akan sabar. Mas tau menjadi istri Mas bukanlah mudah karena masa lalu Mas dulu. Mas juga pinta kepada kamu, kamu yang kuat ya dan jangan cepat menyerah. Mas sangat butuh kamu disamping Mas dan sebagai penguat iman Mas dalam hidup ini" ungkap Bimo.
Reni tersenyum lembut ke arah Bimo. Keduanya merasa lega karena tidak ada yang disembunyikan atau dipendam di hati saat mereka ingin memulai hubungan rumah tangga mereka.
"Yuk balik ke kamar, sebentar lagi maghrib dan kita juga akan siap - siap untuk makan malam bersama seluruh keluarga" ajak Bimo.
"Iya Mas" balas Reni.
Mereka berjalan kembali menuju kamar mereka berada.
******
Semua rombongan sudah sampai di Labuhan Bajo. Para sahabat dan keluarga kecil mereka sudah sampai di Hotel milik Bimo dan berkumpul di taman hotel dalam acara makan malam yang romantis khusus dirancang oleh Bimo untuk seluruh keluarga dan para sahabat.
"Eh ada Mbak Jelita... " sapa Aril.
"Airin... senang bertemu kamu.. Rombeng.. Kapur Bagus... daaan Kori.... " sambut Jelita dengan gembira.
"Mbak Lita jangan gitu ah.. kita semua kan sudah besar gak enak kalau dengar nama panggilan kecil" balas Aril.
__ADS_1
Semua yang mendengar pembicaraan mereka penasaran dengan perkataan Jelita.
"Iya ya, Setan Kecil aja udah mau nikah Besok sama Bimbim" ujar Jelita.
"Bimbim?" tanya Riko.
"Iya Bimbim, aku sih panggil dia begitu" jawab Jelita.
"Mbak kenal Bemo eh Bimo?" tanya Romi.
"Kenal... Kenal bangeet. Bimbim itu sahabat Mbak waktu kuliah di Bali" jawab Jelita.
"Oh my god dunia sempit amat, dan mengapa ketemunya mereka waktu segede ini coba kalau dulu pulang liburan kuliah Mbak ajak Bimo ikutan liburan ke Jakarta. Bimo kan bisa lihat setan kecil kita waktu dia masih cilik" ungkap Bagus.
"Hahaha... kalau dia ketemu dengan Reni waktu itu bisa ilfeel dia lihat keisengan si Setan Kecil" canda Jelita.
"Hei kalian sedang membicarakan bidadari surgaku" protes Bimo.
"Cie.... bidadari surga" Goda Tagor.
"Sejak kapan taubatnya Om?" sindir Jelita.
"Sejak ketemu adik kamu yang cantik itu" balas Bimo.
"Makanya Mbak, lain kali jangan main pelak - peluk... kita semua di sini udah pada tobat. Udah ikut pengajian jadi harus jaga sikap. Bukan mahrom" sindir Refan.
"Kamu juga?" tanya Jelita tak percaya.
"Bukan hanya aku, tapi Aril, Romi, Bagus dan Riko termasuk calok adik ipar kita Bimo" jawab Refan.
"Pantas Reni kesal banget ya padaku" ujar Jelita.
"Habis Mbak main peluk - peluk aja, Reni aja belum pernah di peluk. Eh tapi di depan kita ya, kalau di belakang aku gak tau" balas Refan.
"Mas Refaaaan" protes Reni.
"Hahahaha.. sepertinya belum Mbak. Tuh kan makin kasihan. Calon istri aja belum pernah di peluk, Mbak datang udah main peluk aja tadi" ungkap Refan.
"Sorry.. sorry...aku kelepasan.. Aku udah lama banget gak ketemu Bimbim. Jadi reflek langsung peluk. Percayalah adikku cantik Bimbim hanya sahabat kok" Jelita merangkul bahu adik bungsunya.
__ADS_1
"Hei Bimbim kamu belum bisa menaklukkan hatinya? Masak dia masih cemberut gara - gara kejadian tadi sore?" Jelita memukul perut Bimo sambil bercanda.
"Kalau denganku sudah tidak ada masalah, tinggal sama kamu kali" jawab Bimo.
"Gawat nih Bang.. Aku jadi perusak pernikahan adikku" ucap Jelita sambil melirik suaminya.
"Kamu sih main peluk aja tadi, mana lama lagi jelasinnya buat semua orang penasaran" jawab Tagor.
"Sudah reuniannya... sekarang kita makan yuk. Mama udah lapeeer" ujar Bu Suci.
"Ah iya yuk silahkan makan" sambut Bimo.
Seluruh keluarga mulai menikmati hidangan makan malam di taman.
"Oh jadi Jelita ini sahabatnya Bimo waktu kuliah?" tanya Pak Akarsana ketika makan malam berlangsung.
"Iya Pak.. Jelita ini sahabat aku waktu kuliah. Dan aku adalah satpamnya di kos ketika Tagor datang apel setiap malam minggu. Kalau tidak Ibu kos pasti marah ada cowok yang datang bertemu sampai larut malam" jawab Bimbim.
"Benar begitu Nak Tagor?" tanya Bu Akarsana.
Karena Bu Akarsana merasa tidak enak kalau ada sesuatu diantara putranya dan Jelita yang tak lain adalah Kakak kandungnya Reni. Bisa membahayakan pernikahan dan rumah tangga Bimo nantinya.
"Benar Bu, Bimbim selalu jagain Jelita dulu waktu kami kuliah. Bimbim adalah sahabat Jelita dan saya sudah mengetahuinya sejak zaman kuliah dulu" jawab Tagor.
Bu Akarsana tampak menarik nafas dengan lega.
"Syukurlah, Ibu takut kalau ada hubungan masa lalu antara Bimo dan Jelita. Takut Reni tidak bisa menerima hubungan mereka dulu walaupun sudah berakhir" sambut Bu Akarsana.
"Aku suaminya menegaskan kepada Ibu kalau hubungan Jelita dan Bimbim hanyalah hubungan sahabat tidak ada yang lain" tegas Tagor.
"Ibu tenang saja, Reni sudah tau kok semuanya. Aku sudah jelaskan pada Reni tadi sore saat kami keliling hotel ini" ungkap Bimo.
Bimo melirik ke arah calon istrinya dan Reni menganggukkan kepala sambil tersenyum.
"Alhamdulillah... pesan Ibu untuk pernikahan kalian. Kalian harus saling terbuka, saling menguatkan dan saling percaya ya. InsyaAllah semua pasti akan bisa dilalui" pesan Bu Akarsana.
"Iya Bu, InsyaAllah... " sambut Bimo dan Reni berbarengan.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG