
Tiga puluh menit kemudian Refan sampai di depan rumahnya. Kinan keluar rumah sambil menggendong Naila dan langsung menghampirinya. Salman ditinggal bersama Bik Nah dan Bik Mar.
Setelah Kinan masuk dan Bik Nah meletakkan tas perlengkapan Naila di kursi bagian belakang, mobil bergerak meninggalkan rumah.
"Kita langsung ke rumah sakit aja Mas" ujar Kinan
"Iya Nan" jawab Refan.
Refan melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata - rata karena dia ingin segera sampai di rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit Refan dan Kinan langsung membawa Naila ke UGD. Naila diperiksa, karena memang suhu badannya sangat tinggi dan dokter takut Naila mengalami kejang Naila langsung di infus.
"Pak lebih baik putrinya di rawat di rumah sakit ya" ujar Dokter.
"Iya Dokter, tolong lakukan yang terbaik untuk putri saya" balas Refan.
Dokter menyuntikkan jarum infus ke tangan Naila. Refan dan Kinan merasa sedih dan tidak tega melihat Naila harus kembali di rawat di rumah sakit tapi semua demi kesehatan Naila. Mereka harus ikhlas dan menguatkan diri untuk melihat semua itu.
Naila terus menangis dan dia tidak lepas dari gendongan Kinan. Naila segera di pindahkan di ruang rawat inap. Dan dilakukan pengambilan darah untuk mengecek penyakit Naila.
"Mas coba hubungi Bik Mar biar dia siapkan pakaian untuk aku selama di rumah sakit" ujar Kinan.
"Iya Nan, sekalian aku juga ya tapi Salman bagaimana?" tanya Refan.
"Gak apa, Salman di tinggal aja sama Bik Nah dan Bik Mar" jawab Kinan.
Refan segera meraih ponselnya dari sakunya.
"Assalamu'alaikum Bik" ucap Refan memulai pembicaraan.
"Wa'alaikumsalam Den, gimana keadaan Naila Den?" tanya Bik Mar khawatir.
"Naila harus di opname Bik, tolong bibik bantu Bik Nah untuk menyiapkan baju saya dan baju Kinan selama berada di rumah sakit. Dan juga tanya Bik Nah apalagi tadi yang dibutuhkan untuk Naila selama dia di rawat. Nanti saya akan pulang sebentar untuk mengambil barang - barang" perintah Refan.
"Baik Den" jawab Bik Mar.
"Titip Salman ya Bik, tolong perhatikan juga makan dan tidurnya. Tolong temani dia di kamar saat tidur selama kami tidak ada di rumah" sambung Refan.
__ADS_1
"Iya Den, baik" alas Bik Mar.
"Ya sudah Bik kalau begitu" Refan memutuskan teleponnya.
Naila sudah tertidur di atas tempat tidur. Mungkin dia sudah lelah menangis atau mungkin karena obat yang sudah masuk ke dalam botol infusnya. Kinan membelai lembut kapala Naila dan Refan menyaksikan itu semua.
Seandainya Ibu mertuanya bisa melihat kalau Kinan tulus menyayangi Naila. Mereka tidak akan berkata yang seperti itu kemarin. Eh tunggu dulu aku lupa, ini harus segera aku selesaikan. Batin Refan.
Refan segera meraih ponselnya dan mencari nomor ponsel mantan mertuanya.
"Assalamu'alaikum Ma" ucap Refan.
"Wa'alaikumsalam, ada apa Fan?" tanya Mamanya almh. Renita.
"Gini Ma aku mau nanya, kemarin waktu Naila di rumah Mama susu dan waktu tidurnya cukup gak Ma?" selidik Refan.
"Ya cukuplah. Mama ini Omanya dan Mama juga lebih berpengalaman punya anak dari pada kamu Refan. Mama sudah membesarkan Renita sampai besar sedangkan kamu baru juga lima bulan punya anak. Kamu curiga Mama gak menjaga Naila dengan baik?" tanya Mamanya Renita dengan emosi.
"Maaf Ma bukan maksud aku seperti itu karena tiba - tiba saja subuh ini tubuh Naila panas Ma dan saat ini Naila sedang di rawat di rumah sakit" ungkap Refan.
"Oh jadi kamu menuduh Mama tidak menjaga anak kamu dengan baik?" tanya Mama Renita kembali.
"Kemarin seluruh keluarga sangat rindu dengan Almh. Renita jadi mereka melampiaskan rasa rindu mereka kepada Naila. Mereka semua pada rebutan gendong Naila sampai sore" ungkap mantan mertua Refan.
Pantas saja Naila sakit, pasti dia kurang istirahat. Batin Refan.
"Iya Ma aku tau banyak yang menyayangi Naila tapi Naila itu masih bayi Ma. Dia butuh istirahat yang cukup dan tidak bisa gonta ganti tangan untuk menggendongnya itu bisa membuat tubuhnya tidak nyaman bahkan bisa terkilir Ma karena salah pegang" ujar Refan.
"Kamu tidak usah menggurui Mama, Mama lebih tau mengurus anak dari pada kamu. Ya sudah kalau kamu keberatan menjaga Naila di rumah sakit biar Mama yang jaga dia di sana. Cepat katakan Naila di rawat di Rumah Sakit mana?" tanya Mamanya Renita.
"Gak usah Ma. Mama gak perlu repot. Aku dan Kinan bisa menjaganya kok" jawab Regan.
"Oh jadi kamu berat memberitahu Mama nama Rumah Sakitnya?" tanya wanita itu curiga.
"Bukan begitu maksud aku Ma.. Baiklah Naila di rawat di Rumah Sakit Ibu dan Anak" jawab Refan.
"Ya sudah sekarang juga Mama akan datang ke sana" tegas wanita itu.
__ADS_1
Telepon langsung di tutup oleh mantan mertuanya Refan. Refan hanya bisa menggelengkan kepalanya berasa heran mengapa Mamanya Renita bisa berubah begini setelah Renita meninggal dan Refan menikah lagi.
Dulu wanita itu selalu ramah dan sayang kepadanya karena dia adalah suami dari Renita. Kini wanita itu selalu berpikiran buruk pada Refan.
Wajah Refan terlihat sedih campur emosi. Kinan jadi penasaran dengannya.
"Ada apa Mas? Barusan kamu telepon Mama mana?" tanya Kinan penasaran.
"Mamanya Renita" jawab Refan.
"Kenapa Mas telepon Ibu?" Kinan balik bertanya.
"Aku tadi mau tau apa yang mereka lakukan pada Naila selama Naila di sana? Ternyata dia malah marah - marah" jawab Refan sambil mengurut dadanya.
"Sepertinya Naila kurang istirahat Nan, seharian Naila di gendong para saudara Renita kemarin" sambung Refan
"Kasihannya Naila. Pantas tadi malam aku udah ngerasa badan Naila kurang sehat Mas tapi karena dia tidur dengan nyenyak dan juga masih kuat minum susu aku rasa gak masalah. Nanti setelah dia bangung pasti fit lagi badannya. Ternyata malah semakin panas" sambut Kinan.
"Mama Renita mau ke sini Nan" ujar Refan.
"Duh jadi gimana Mas?" tanya Kinan merasa serba salah. Pasti semua gerak gerik Kinan salah semua di mata Mamanya Renita. Kalau sudah tidak suka apapun yang dia buat tidak akan terlihat oleh Mamanya Renita.
Refan kembali meraih ponselnya.
"Assalamu'alaikum Ma" ujar Refan lagi. Kinan melirik suaminya.
"Ma, Naila masuk Rumah Sakit lagi karena demam tinggi. Aku mau minta tolong sama Mama. Mama bisa gak datang ke sini untuk temani Kinan jagain Naila di Rumah Sakit. Aku mau balik ke rumah, mau ambil pakaianku dan pakaian Kinan juga beberapa perlengkapan Naila yang lain Ma" punya Refan.
Rupanya Refan menghubungi Mamanya.
"Oke Ma, minta tolong diantar Reni ya Ma. Aku tunggu ya Ma.. makasih" ujar Refan sambil menutup teleponnya.
Kinan bernafas lega karena tim pembela akan segera datang.
"Alhamdulillah"...
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG