Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 90


__ADS_3

Keesokan harinya sesuai dengan janjian Refan tadi malam dia akan menjemput Salman ke rumah dan membawanya ke rumah sakit untuk menjenguk Naila.


Sebelum pulang ke rumah Refan terlebih dahulu sarapan pagi bersama Kinan di rumah sakit. Pagi - pagi Refan sudah mencari bubur ayam lewat aplikasi.


Dan tak lama kemudian makanan yang mereka pesan sudah datang. Untung saja Naila masih nyenyak tidur di atas tempat tidur jadi mereka bisa dengan santai sarapan pagi berdua di ruang rawat inap Naila.


Kinan sedang mempersiapkan peralatan makanan mereka berdua. Setelah itu baru mereka menyantap sarapan pagi bersama - sama.


"Nan, nanti kalau Salman minta nginap di rumah sakit gimana?" tanya Refan.


"Jangan Mas.. Kamu jelaskan saja baik - baik sama Salman, InsyaAllah dia akan mengerti. Dia anak yang penurut kok" jawab Kinan.


"Yah syukurlah dia seperti itu. Mungkin semua berkat didikan kamu. Jangan sampai seperti aku. Kalau saja dulu aku menurut pada perintah ke dua orang tuaku untuk menikahi kamu mungkin hidupku tidak seperti ini Nan. Mungkin kita sudah hidup bahagia" ujar Refan dengan wajah merasa bersalah.


"Maaaas semua sudah ada jalannya. Kita memang berjodoh tapi tertunda.. Kalau kita dulu jadi menikah, aku tidak akan memiliki Salman dan tidak bertemu Mas Bima. Sama dengan kamu, kamu tidak bertemu Renita dan tidak memiliki Naila" ungkap Kinan.


"Tapi aku tidak sampai di khianati Nan dan akhirnya mengurus anak yang bukan anakku" jawab Refan.


"Mas hasilnya belum keluar, belum pasti Naila itu... " ucap Kinan.


"Aku sangat yakin Nan. Dari golongan darah saja sudah berbeda. Tes DNA itu hanya untuk data tambahan agar lebih jelas" potong Refan.


Kinan menarik nafas panjang.

__ADS_1


"Terkadang kita harus mengalami sebuah perpisahan agar kita menghargai sebuah pertemuan Mas. Kita harus mengalami kegagalan agar kita menghargai sebuah perjuangan juga keberhasilan. Dan kita harus mengalami kesedihan agar kita tau cara menghargai sebuah kebahagiaan" balas Kinan.


Refan terdiam, kata - kata Kinan barusan sungguh sangat dalam maknanya.


"Kamu benar, kalau tidak menikah dengan Renita aku tidak akan tau rasa sakitnya di khianati dan di bohongi" jawab Refan sedih.


Kinan menatap wajah Refan. Masih pagi tapi Refan sudah kembali mendung dan tidak bersemangat.


"Kalau dulu aku memilih kamu pasti kita akan bahagia Nan. Karena kamu tau bagaimana cara menghargaiku sebagai seorang suami. Kamu sangat pintar mengurus suami dan rumah tangga" puji Refan.


"Kamu kan bertemu aku yang seperti ini baru sekarang Mas. Kalau kita nikahnya dulu, aku belum bisa seperti ini. Semua butuh proses Mas. Butuh sebuah perjuangan, kesabaran dan kerja keras. Aku jadi sekarang ini butuh waktu yang lama untuk belajar. Mas Bima selalu sabar mengajariku menjadi wanita yang kuat, wanita mandiri dan bisa memasak. Kamu pikir diawal pernikahan aku bisa masak? Tidak Mas.. aku banyak belajar dari Mas Bima karena kebetulan dia juga pintar memasak. Aku belajar masak dari youtub*, bahkan sempat les masak" ungkap Kinan.


Refan terdiam, selama ini dia kira Kinan memang sudah pintar semuanya dari sononya.


"Mas semua itu butuh waktu dan butuh proses. Termasuk pendewasaan diri. Saat menikah aku juga masih manja tapi sejak aku memiliki Salman aku bertekad ingin menjadi ibu yang baik, menjadi istri yang baik. Setiap hari aku belajar dan belajar. Kadang gagal, saat masak sering juga masakanku dulu gosong, aku pernah belajar nyetrika dan bajunya Mas Bima berlubang aku buat karena setrikanya kepanasan" Kinan tersenyum membayangkan saat - saat itu.


Refan bisa membayangkan kehidupan rumah tangga Kinan dulu sangat sederhana tapi dia menjalaninya dengan bahagia. Karena saat menceritakannya Kinan tersenyum.


Refan bisa mengambil hikmah dari semua kata - kata Kinan. Sebuah hubungan rumah tangga tidak dijalankan oleh satu orang saja tapi dua - duanya harus saling bekerja sama.


Mungkin dulu Bima tidak memaksa Kinan untuk bisa melakukan hal - hal yang sekarang sudah terbiasa Kinan lakukan. Tapi Kinan sendiri yang ingin melakukannya dan di dukung oleh suaminya dulu. Bima dengan sabar menunggu dan melatih Kinan jadi seorang istri yang lebih baik dari sebelumnya. Jadi seorang Ibu yang terbaik untuk Salman saat ini.


Dulu mungkin dia sudah mengalami jatuh bangun dalam belajar. Tapi semua pasti ada andil dan dukungan dari Bima sehingga Kinan bisa setegar sekarang ini.

__ADS_1


Bima mungkin tau kalau umurnya tak panjang sehingga dia mempersiapkan Kinan menjadi wanita mandiri dan tegar. Seandainya di putar dengan rumah tangga dia dan Renita. Refan yang meninggal lebih dahulu pasti Renita tidak bisa melakukan apapun tanpa dia. Eh tidak.. tidak... Renita mungkin akan dengan segera mencari penggantinya. Buktinya sebelum dia meninggal saja Renita sudah selingkuh duluan.


"Pasangan kita itu adalah cerminan dari kita Mas. Kalau kita ingin diperlakukan dengan baik, maka perlakukan lah dia dengan baik. Ingin dihargai terlebih dahulu hargailah dia" ujar Kinan.


"Aku sudah melakukan seperti yang kamu bilang tapi apa balasannya padaku?" tanya Refan.


Kinan terdiam, sepertinya kata - katanya barusan kurang tepat.


"Apapun yang dia inginkan selalu aku penuhi, aku hargai, aku beri kepercayaan" ungkap Refan.


"Benar semua perlakuan Mas itu benar, tapi hidup itu harus tarik ulur. Take and give... Kalau Mas merasa sudah memenuhi semua yang dia inginkan coba tuntut dia untuk memenuhi kebutuhan Mas. Kalau Mas sudah menghargai dia coba tuntut dia untuk menghargai Mas dan soal kepercayaan. Kita memang harus saling mempercayai tapi waspada, feeling harus main Mas. Kata hati dan perasaan juga harus ada bukan seratus persen diserahkan semua akhirnya dia kebablasan. Lagian dalam rumah tangga itu memang harus ada rasa cemburu. Kata orang itu bumbu - bumbunya rumah tangga. Cemburu artinya cinta, kalau gak cemburu berarti gak cinta" ujar Kinan.


Refan benar - benar seperti bertemu seorang guru dalam rumah tangga. Dia merasa masih punya ilmu yang dangkal dalam berumah tangga. Padahal antara dia dan Kinan lebih duluan dia yang menikah dengan Renita. Sedangkan Kinan menikah dengan suaminya dulu satu tahun setelah Refan menikah.


Usia mereka memang sama karena memang mereka seumuran begitu juga Renita. Tapi Kinan punya Bima, mungkin Bima yang lebih dewasa sehingga bisa merubah Kinan menjadi wanita seperti ini.


Entah mengapa Refan jadi ingin sekali mengucapkan terimakasih kepada Bima karena dia sudah bisa mendidik Kinan jadi istri solehah sehingga Refan banyak mendapatkan pelajaran hidup berumah tangga dari Kinan. Pengalaman hidup yang tak ternilai harganya bahkan sangat mahal. Refan harus menebusnya dengan sebuah pengkhianatan istrinya baru dia bisa melihat beribu kebaikan yang Kinan miliki.


Terimakasih Bim... berkat kamu, kini aku memiliki istri sebaik Kinan. Ujar Refan dalam hati


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2