
Refan dan teman - temannya kini sedang berbincang - bincang di teras belakang. Sedangkan para wanita sibuk membereskan dapur dan juga meja makan.
"Guys ada yang tau detektif yang bagus gak?" tanya Refan.
"Detektif? Kamu mau cari detektif, untuk apa?" tanya Bagus curiga.
"Ada sesuatu yang terjadi dan mengancam rumah tanggaku" jawab Refan.
"Siapa yang sedang mengancam rumah tangga kamu Fan?" tanya Riko penasaran.
"Iya benar. Kamu dan mantan mertua kamu kan sudah berbaikan. Tidak ada masalah lagi kan?" tanya Romi.
"Tidak ada masalah" jawab Refan.
"Apa Arga yang mengganggu kamu?" tanya Riko geram.
"Bukan Ko, ini tidak berhubungan dengan aku, keluarga Renita ataupun Arga. Ini mengangkut Bima. Almarhum suami Kinan" jawab Refan cemas.
"Lho kemarin tentang almarhumah istri kamu, sekarang tentang almarhum suami Kinan. Gak selesai - selesai masalah rumah tangga kamu Fan" ujar Aril.
"Iya, aku juga heran. Selesai satu masalah datang masalah yang lain" balas Refan.
"Hidup ya begitu Fan, selalu saja ada masalah silih berganti. Masalah itu sendiri yang akan menempah kita untuk lebih kuat dan dewasa. Apalagi dalam rumah tangga. Jika kalian sama - sama bisa melewatinya tentu itu akan semakin mempererat hubungan suami istri. Kalian harus saling percaya Fan dan saling mengingatkan. Ingat Allah tidak akan memberikan cobaan jika kita tidak sanggup untuk untuk menjalaninya" nasehat Bagus.
"Iya Gus aku juga mikirnya begitu tapi aku tidak bisa diam saja. Aku harus mencari jalan keluarnya" sambut Refan.
"Emangnya ada masalah apa Fan sampai kamu mau cari detektif?" tanya Romi penasaran.
"Saat aku dan Kinan pulang honeymoon dari Bali, saat di Bandara Kinan pingsan setelah melihat wajah seorang pria yang mirip sama wajah almarhum suaminya. Saat itu Kinan tidak begitu memikirkannya karena Dokter mengatakan kalau saat itu Kinan hamil. Bisa saja apa yang dia lihat hanya halusinasi. Kemudian besoknya saat kami pulang dari Dokter, kami singgah di Restoran untuk makan. Saat di parkir dia kembali melihat seorang pria yang mirip dengan Bima. Hanya saja saat itu malam dan letaknya di parkiran yang kurang cahaya penerangan. Kinan tidak yakin dengan apa yang dia lihat. Tapi beberapa hari kemudian Kinan mendapat pesan yang berisikan kata - kata bahwa Bima tidak meninggal karena kecelakaan melainkan dibunuh" ungkap Refan.
"Astaghfirullah... serius Fan?" tanya teman - temannya tak percaya.
__ADS_1
"Seriuslah, ngapain juga aku main - main dengan masalah beginian" jawab Refan.
"Lanjut Fan" sambut Riko.
"Pesan pertama Kinan langsung menghapusnya karena Kinan menganggap itu pesan yang nyasar. Tapi seminggu yang lalu Kinan kembali mendapat pesan yang sama. Bahkan dia mengancam Kinan agar tidak mengabaikan pesan tersebut. Kinan langsung pingsan saat itu. Besoknya aku ingin memeriksakan keadaan Kinan dan membawa Salman. Sepulang dari pemeriksaan ke Dokter kami singgah ke supermarket. Nah saat di supermarket gantian Salman yang melihat seorang pria yang wajahnya mirip dengan Bima" lanjut Refan.
"Ih Fan, aku kok merinding ya dengar cerita kamu" sambut Aril.
"Apa Bima masih hidup Fan?" tanya Romi.
"Kamu sudah tanya Kinan gimana kejadian saat suaminya kecelakaan? Apakah memang jelas mayatnya itu adalah mayat suaminya?" selidik Riko.
"Lanjut lagi Fan" perintah Bagus.
"Keesokan harinya kami membawa Salman Ziarah ke makan Almarhum Bima. Mungkin Salman kangen Papanya makanya dia berhalusinasi. Tapi ternyata saat kami ke makam Bima ada taburan bunga di atas makamnya dan bunga - bunga itu terlihat masih segar. Itu artinya baru saja ada orang yang ziarah ke makam Bima" ungkap Refan.
"Mungkin salah satu keluarganya Fan?" tanya Romi.
"Ya ampun Fan, ini masalah yang sangat serius Fan. Apalagi Kinan sedang hamil anak kamu. Kalau dia sering pingsan apa gak berbahaya dengan kandungannya" ujar Bagus.
"Itu dia makanya aku sedang mencari detektif yang bagus. Orang suruhanku belum mendapatkan informasi apapun. Nomor ponsel yang mengirim pesan ke handphone Kinan terdaftar dengan nama palsu dan hanya satu kali pakai. Aku sedang menyelidiki keluarga Bima tapi mereka terlalu lama mencari informasinya" ungkap Refan.
"Kamu sudah tanya Kinan belum, apakah Bima punya musuh di tempat kerjanya?" tanya Bagus.
"Sudah, tapi kata Kinan tidak ada dan Bima juga tidak pernah bercerita kepadanya" jawab Refan.
Aril tiba - tiba meraih ponselnya.
"Fan aku punya kenalan di Surabaya. Kamu punya foto Bima dan alamat rumah orang tuanya. Aku bisa minta tolong kenalan aku itu untuk menyelidiki keluarga Bima" sambut Aril.
"Aku punya foto Bima nanti aku kirim ke kamu. Kalau soal alamat rumah orang tua Bima nanti akan aku tanyakan ke Kinan" jawab Refan.
__ADS_1
"Oke aku tunggu ya" ujar Aril.
"Makasih Ril. Aku lega udah cerita ke kalian. Siapa tau kalian bisa membantu seperti tadi. Gak salah aku curhat ke kalian. Kepalaku rasanya mau pecah memikirkan kemungkinan - kemungkinan yang terjadi. Seandainya Bima masih hidup, bagaimana coba nasib rumah tanggaku?" tanya Refan.
"Ya Kinan resmi sudah menjadi istri kamu sekarang. Surat kematian Bima kan jelas. Kinan tidak menyembunyikan atau memalsukannya. Pada saat menikah dengan kamu, Kinan itu wanita bebas jadi pernikahan kalian tidak bisa di batalkan. Kalau Bima masih hidup dan surat kematiannya di batalkan ya secara terpaksa Kinan harus mengurus surat cerai dengan Bima. Apalagi saat ini Kinan sedang hamil Fan. Itu sangat menguntungkan kamu. Tidak mungkin Kinan bercerai dengan kamu saat dia masih mengandung. Itu menurut aku sih, tapi kamu bisa juga tanya - tanya pengacara untuk hal ini. Mereka pasti lebih tau" ungkap Bagus.
"Kinan sudah pastikan kalau mayat yang dia lihat adalah mayat suaminya bahkan mertua aku juga membenarkannya karena pada saat itu dia juga menyaksikannya secara langsung kalau Bima sudah meninggal" tegas Refan.
"Fiuuuuh... syukurlah Fan, kalau Bima masih hidup akan menambah beratnya cobaan rumah tangga kamu Fan" sambut Riko.
"Tapi kalau Bima beneran sudah meninggal apa motif seseorang yang mengirim pesan kepada Kinan. Apakah dia ingin menyampaikan alasan Bima meninggal? Apakah dia tau siapa pembunuhnya? Ataaaau.. orang tersebut lah yang sudah membunuh Bima" ungkap Bagus.
"Aku rasa bukan dia pembunuhnya. Masak dia mengorek lubang sendiri untuk dirinya dengan membuka kembali kejadian meninggalnya Bima dengan harapan Kinan kembali untuk menyelidiki kematian Bima. Menurut aku dia tau siapa pembunuhnya dan motif pembunuhan Bima" ungkap Riko.
"Kamu benar Ko, aku juga tadi mikirnya begitu" sambut Aril.
"Kamu harus lebih hati - hati menjaga Kinan dan Salman Fan" ujar Romi.
"Benar, sepertinya hidup kalian di awasi oleh seseorang. Kamu jangan bertindak gegabah Fan. Ini sudah menyangkut keselamatan keluarga kamu" ucap Riko.
"Iya Ko. Sekarang setiap hari aku yang antar jemput Kinan kemanapun dia pergi. Aku tidak bisa membiarkan dia sendiri atau mempercayakan Kinan kepada orang lain" jawab Refan.
"Bagus kalau begitu Fan. segera kirim foto yang aku minta pada kamu ya dan jangan lupa tanya alamat rumah orang tua Bima kepada Kinan" pesan Aril.
"Iya Ril" jawab Refan.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1