Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 169


__ADS_3

Aril


Ada informasi baru dari teman aku. Bima mempunyai saudara kembar bernama Bimo Akarsana.


Tubuh Refan bergetar menerima pesan tersebut.


Jangan - jangan pria bernama Bimo itu adalah Ricardo Yacob. Dia adalah kakak kembarnya Bima yang Kinan ceritakan kalau namanya tidak boleh di sebut di dalam keluarga Bima karena Kakaknya sudah lari dengan wanita yang berbeda agama. Setelah dia menikah dengan wanita beda agama namanya diganti, makanya orang suruhanku tidak bisa menemukan informasi tentang data dia sebelum sepuluh tahun yang lalu.


Lantas apa tujuannya untuk menemui Kinan dan Salman? Apakah dia tau sesuatu tentang kematian Bima? Ada rahasia apa dibalik ini? tanya Refan dalam hati.


Refan menarik rambutnya karena sedang galau dan gelisah. Rasanya kepalanya sangat panas dan mau pecah untuk memecahkan teka - teki yang sedang menerpa rumah tangganya.


Refan kembali menghubungi Aril.


"Halo Ril, kamu saat ini dimana?" tanya Refan.


"Aku sedang menuju daerah rumah Bima Aku dan temanku janjian bertemu dengannya di sana. Dia baru mengorek informasi dari seseorang yang rumahnya tak jauh dari rumah keluarga orang tua Bima" jawab Aril.


"Aku baru dapat kabar dari orang suruhanku. Pria yang mirip dengan Bima bernama Ricardo Yacob. Tapi dia hanya menemukan informasi pria itu sepuluh tahun belakangan ini. Data pria itu sebelumnya tidak di temukan. Aku rasa ini ada hubungannya dengan Bimo Akarsana, kakak kembarnya Bima. Kinan pernah bercerita kalau Bima mempunyai Kakak tetapi mereka tidak boleh menyebutkan atau membicarakan tentangnya karena Kakaknya Bima lari dengan wanita yang berbeda agama. Sehingga Papanya Bima sangat marah" ungkap Refan.


"Bisa jadi Fan, sepertinya informasi yang kamu dapatkan dengan yang aku terima saling berhubungan. Aku akan mencoba mencari tau informasi selanjutnya mengenai Bimo Akarsana" ujar Aril.


"Terimakasih Ril, maaf jadi merepotkan kamu" sambut Refan.


"Gak masalah bro. Itulah guna sahabat, siap membantu kapan saja" jawab Aril.


Telepon terputus. Refan mulai bisa bernafas sedikit demi sedikit walau belum bisa dengan lega karena teka - teki ini belum terpecahkan dengan jelas. Dia hanya mendapatkan sedikit celah dan belum bisa dipastikan secara nyata.


Lebih baik kabar ini disembunyikan dulu kepada Kinan karena dia takut istrinya akan stress memikirkannya dan berpengaruh terhadap kandungannya.


Refan tidak berani mengambil resiko terhadap kesehatan Kinan dan kandungannya. Refan tidak sanggup kalau terjadi sesuatu yang buruk kepada Kinan apalagi dia harus kehilangan Kinan.


Sampai semuanya jelas baru Refan akan membicarakan dan menceritakannya kepada Kinan. Mudah - mudahan tak lama lagi semuanya menjadi jelas. Doa Refan.


******


Malam harinya saat Kinan dan Refan sedang bersantai di ruang TV bersama Refan, Salman dan kedua orang tua Refan dan Kinan. Tiba - tiba ponsel Kinan berbunyi dan Kinan meraihnya.


Saat melihat siapa yang menghubunginya wajah Kinan tampak tegang. Refan melihat perubahan wajah Kinan tersebut.

__ADS_1


Refan lansung mendekati Kinan dan bertanya.


"Siapa yank?" tanya Refan.


"Ibu Mas, Ibunya Mas Bima" jawab Kinan.


Pak Ardianto dan Bu Dhisti juga ikut terkejut mendengar jawaban Kinan.


"Angkat yank siapa tau ada informasi yang kita dapatkan" perintah Refan.


Kinan sebenarnya merasa ucapan Refan itu aneh. Mengapa mereka akan mendapatkan informasi dari Ibunya Mas Bima? Tapi karena Kinan masih terkejut akhirnya dia mengikuti perintah suaminya.


"Assalamu'alaikum Bu" ucap Kinan di awal telepon.


"Wa'alaikumsalam Nan" jawab Ibunya Bima.


"Ada apa ya Bu malam - malam begini telepon?" tanya Kinan.


"Gini Nan ada yang ingin Ibu tanyakan pada kamu" jawab Ibunya Bima.


"Ibu mau tanya apa?" tanya Kinan penasaran.


"Ini ada Nak Aril datang dari Jakarta. Katanya dia adalah sahabat dari suaminya Kinan yang sekarang. Apa betul?" tanya Ibunya Bima.


Kinan menatap Refan dan Refan menganggukkan kepalanya.


"Be.. benar Bu" jawab Kinan terbata - bata.


"Nak Aril juga cerita kalau beberapa bulan ini Kinan mendapat teror dari sesorang yang mirip dengan Bima?" tanya Ibunya Bima lagi.


"I.. iya Bu benar" jawab Kinan lagi.


"Kamu kenapa gak cerita sama ibu nduuuuk... Ibu ini kan Ibunya Bima, masih Ibunya kamu. Sampai kapan pun kami tetap menganggap kamu sebagai anak kami walau Bima sudah meninggal dan kamu sudah menikah lagi. Tapi hubungan darah kita masih terjalin. Salman adalah cucu kami, darah daging kami. Kalau ada apa - apa dengan kamu dan Salman kami pasti akan ikut sedih Nduuk" ungkap Ibunya Bima.


"Maaf Bu, aku tidak mau Bapak dan Ibu terbebani dan kepikiran dengan apa yang aku alami di sini" jawab Kinan.


"Tapi ini sangat penting Nduk, menyangkut keselamatan kamu dan Salman. Kalau Ibu boleh tau apa teror yang dia berikan kepada kalian?" tanya Ibunya Bima.


"Dia mengirimkan pesan ke nomor handphoneku isinya mengatakan kalau Mas Bima bukan meninggal karena kecelakaan Bu, tetapi karena di bunuh" ungkap Kinan.

__ADS_1


"Astaghfirullah.. benarkah seperti itu Nduk?" tanya Ibunya Bima.


"Aku tidak tau Bu, apa yang terjadi dengan kecelakaan Mas Bima. Aku juga tidak tau mengapa dia mengirim pesan seperti itu. Apakah dia mengenal Mas Bima dan mengetahui kejadian kecelakaan Mas Bima. Mas Refan masih menyuruh seseorang untuk menyelidikinya?" jawab Kinan.


"Terus apa lagi teror yang kamu dapatkan?" tanya Ibu Bima lagi.


"Aku sempat beberapa kali melihat pria yang mirip dengan Mas Bima begitu juga dengan Salman Bu. Bahkan tadi saat aku ke rumah lama untuk mengambil beberapa barang - barang Salman yang lama. Aku, Salman dan Mas Refan sempat melihat pria itu sedang berdiri di depan rumah Bu. Saat Mas Refan berusaha mengejarnya dia masuk ke dalam mobil dan pergi. Bik Ijah yang kerja di rumah juga bercerita kalau dia sering melihat pria itu di depan rumah. Mas Refan sudah memasang CCTV dan melaporkan kejadian ini ke pihak keamanan komplek Bu. Dan saat ini sedang di usut. Semoga pria itu bisa segera di temukan agar kita bisa mengetahui apa tujuan dia untuk melakukan semua ini kepada aku dan Salman" ungkap Kinan.


"Begini Nan, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kami sampaikan tapi biar Bapak saya yang cerita ke kamu ya" ujar Ibu Bima.


"Tentang apa Bu?" tanya Kinan penasaran.


"Tentang Bima dan keluarga kami. Ini teleponnya Ibu berikan kepada Bapak ya" jawab Ibunya Bima.


"Iya Bu" balas Kinan.


Tak lama kemudian terdengar suara laki - laki dari seberang. Refan, Pak Ardianto, Bu Dhisti dan Bu Suci mencoba menyimak dengan baik telepon Kinan yang sudah di loudspeaker sehingga mereka bisa mendengar dengan jelas apa yang tadi di bicarakan Kinan dan Ibunya Bima.


"Assalamu'alaikum Nduk" sapa Bapaknya Bima.


"Wa'alaikumsalam Pak" jawab Kinan.


"Apa kabar Nduk?" tanya Pria itu.


"Alhamdulillah aku dan Salman baik Pak. Bapak gimana kabarnya?" tanya Kinan balik.


"Alhamdulillah Bapak, Ibu dan semuanya di sini juga baik Nduk" jawab Pak Akarsana.


"Syukurlah" balas Kinan.


"Begini Nduk.. Menyambung cerita Ibu kamu tadi Bapak ingin menyampaikan sesuatu kepada kamu. Sebenernya Bima punya saudara kembar Nak, namanya Bimo Akarsana" ungkap Pak Akarsana.


Sontak perkataan Pak Akarsana membuat Kinan, Pak Ardianto, Bu Suci dan Bu Adhisti terkejut.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2