
Hari ini adalah hari kepulangan Reni, Aril dan Bimo. Tapi Bela juga ikut karena akan langsung bekerja di perusahaan Aril sebagai sekretaris.
Ela sahabat Bela juga minta ikut ke Jakarta untuk mencari kerja. Alhasil mereka berlima berangkat ke Jakarta bersama - sama.
Mereka berpamitan kepada Bapak dan Ibu Akarsana.
"Pak, Bu Bela pergi ya" ucap Bela.
"Iya, kamu yang bagus ya kerjanya. Nak Aril kalau Bela salah jangan sungkan - sungkan untuk menegurnya. Bela kan masih baru tamat kuliah dan belum punya pengalaman kerja jadi pasti dia banyak tidak tahunya" ujar Pak Akarsana.
"Iya Pak, nanti kan Bela diajari dulu sama sekretaris saya yang lama Pak. Masih ada waktu buat Bela belajar" jawab Aril.
"Bapak kapan datang lagi ke Jakarta?" tanya Bimo.
"Kalau nanti ada kabar tentang kecelakaan Bima kabari Bapak ya. Nanti Bapak dan Ibu akan datang ke sana. Sebaiknya kamu dan Bela sudah bisa cari rumah disana dan tinggal bersama. Gak enak kalau kalian terlalu lama tinggal dirumah Refan. Jangan juga tinggal di rumah Bima, nanti tetangganya pada bingung. Lebih baik cari rumah lain" perintah Pak Akarsana.
"Iya Pak, nanti akan saya pikirkan" jawab Bimo.
"Pak, Bu.. Reni pamit dulu ya" ujar Reni kepada Bapak dan Ibunya Bimo.
"Iya Nak Reni, jangan kapok ya datang ke sini lagi. Nanti kalau ada waktu main ke Surabaya, jangan lupa mampir ke rumah ini" sambut Bu Akarsana.
"InsyaAllah Bu, sampai ketemu di Jakarta ya" balas Reni.
Reni mencium tangan Pak Akarsana dengan hormat kemudian memeluk Ibu Akarsana dengan sangat akrab. Membuat Bapak dan Ibu Akarsana semakin tertarik kepada Reni. Hanya saja mereka tidak bisa memaksa Bimo kembali.
Mereka takut akan terjadi hal yang sama saat mereka memaksa Bimo putus dengan pacarnya dan membuat pilihan kepada Bimo. Pada akhirnya Bimo lebih memilih meninggalkan mereka.
Bapak dan Ibu Akarsana belajar banyak dari kejadian masa lalu. Mereka sekarang lebih memikirkan kebahagiaan anak - anak mereka. Yang penting anak - anaknya sudah kembali lagi pada mereka.
"Ela baik - baik disana ya, semoga kamu cepat dapat kerja dan ketemu jodoh disana" ucap Bu Akarsana saat memeluk Ela sahabat Bela.
"Aamiin... makasih ya Bu doanya" sambut Ela.
Mereka naik ke dalam mobil yang kemarin menjemput mereka juga di Bandara. Sambil melambaikan tangan dari balik jendela, mobil melaju meninggalkan halaman rumah keluarga Akarsana.
Sampailah mereka di Bandara Internasional Juanda dan mereka langsung masuk ke ruang tunggu.
"Deeeeer.... " ucap seseorang mengejutkan mereka.
"Rizaaaaal" teriak Bela terkejut.
__ADS_1
"Lho kamu mau ke Jakarta juga hari ini?" tanya Ela.
"Iya donk, emangnya kalian saja yang bisa cari kerja di Jakarta" jawab Rizal.
"Kita satu pesawat Zal?" tanya Reni.
"Sepertinya begitu" jawab Rizal dengan senyum penuh arti.
Aril sangat kesal melihat wajah Rizal yang tersenyum ramah kepada Bela, Reni dan Ela. Aril menyikut lengan Bimo.
"Lihat cowok ingusan itu pengen deketin target kita" ujar Aril kepada Bimo.
"Siapa target kita?" tanya Bimo bingung.
"Ah kamu pura - pura deh Bim. Aku tau kamu naksir Reni dan kamu juga tau aku naksir sama adik kamu Bela" jawab Aril.
"Kalau begitu mungkin dia naksir Ela kali" balas Bimo.
"Emangnya Rizal tau kamu naksir Reni? Bisa saja dia mau deketin Reni. Kalau Bela sih aku yakin dia gak berani karena aku sudah tegaskan padanya kalau aku ini adalah calon suaminya Bela" ujar Aril dengan penuh percaya diri.
"Cih yakin sekali kamu? Kamu pikir gampang untuk mendapatkan restu kedua orang tuaku? Aku saja sampai lari dari rumah selama sepuluh tahun karena gak dapat restu" sambut Bimo.
Aril terdiam sesaat dan menelan salivanya.
"Aku kan seakidah Bim, ditambah lagi aku baik, tampan dan soleh ehem.... " jawab Aril sambil bercanda.
"Hahahaa... " tawa Bimo pecah membuat Reni, Bela, Ela dan Rizal terkejut melihat Bimo dan Aril.
Reni terpana melihat tawa Bimo yang jarang sekali terlihat. Biasanya Bimo hanya tersenyum itupun sangat tipis sekali. Kulit Bimo yang lebih hitam dari Refan dan Aril membuat sosok Bimo lebih menakutkan dan kejam. Ditambah dengan masa lalu Bimo sebagai anak yang nakal semakin sempurna membuat Bimo terlihat seram.
"Ketawanya pecah banget Mas, cerita apa sih? Bagi - bagi ke kami gitu?" tanya Bela.
"Hanya pembicaraan pria tua seperti kami, tidak cocok untuk anak remaja seperti kalian" jawab Bimo.
"Enak aja tua. Aku belum tua, menikah aja belum pernah. Kalau kamu yang terlihat tua ya terserah aja. Aku gak terima kalau dibilang tua" protes Aril.
"Mas Aril kan emang udah tua" sindir Rena.
"Awas kamu ya setan keciiiil" teriak Aril.
Aril mengejar Reni dan hendak mencubit hidung Reni. Spontan Reni mengelak dan berlari kemudian mendekati Bimo untuk mencari perlindungan tanpa sadar kakinya tersandung dengan kakinya yang lain dan hampir saja terjatuh.
__ADS_1
Untung Bimo langsung sigap menangkap Reni kalau tidak bisa dipastikan wajah Reni akan mencium lantai Bandara.
"O.. oooooo" teriak yang lain ketika melihat Bimo dan Reni berpelukan.
Reni dan Bimo langsung tersadar dan saling melepaskan diri.
"Maaf Dek Reni" ucap Bimo merasa bersalah karena memeluk Reni tanpa aba - aba.
"Nggak apa Ma.. Mas... Makasih udah nangkap aku kalau tidak aku pasti jatuh tadi" jawab Reni salah tingkah.
"Cieee... ada yang malu - malu" sindit Aril.
Aril langsung sigap mengambil ponselnya dan memotret Bimo dan Reni.
Jepreeeet...
"Mas Ariiiiil... bikin kesal aja deh" teriak Reni.
Wajah Reni merah merona karena malu kepada teman - temannya terlebih kepada Bimo. Sedangkan Bimo tersenyum manis sekali. Bela melihat ada yang berbeda dengan Kakaknya itu sekarang.
Akhir - akhir ini Bimo sering tertangkap Bela sedang tersenyum ketika menatap Reni. Apakah kakaknya itu menyukai Reni? Kalau memang benar alangkah senangnya Bela memiliki kakak ipar seperti Reni.
Selain cantik Reni juga baik dan solehah. Bela berharap Reni bisa membawa pencerahan dalam kehidupan Bimo yang dulu sempat salah arah.
Ting.. Tong...
Perhatian.. perhatian.. kepada para penumpang dengan nomor penerbangan xxx dari Surabaya menuju Jakarta dengan pesawat xxx yang akan terbang pukul. 10.00 Wib silahkan masuk ke dalam pesawat.
Terdengar intruksi dari suara yang menggema di dalam ruang tunggu. Bimo dan rombongan segera bersiap - siap karena sebentar lagi mereka akan masuk kedalam pesawat.
Reni mencoba menetralkan detak jantungnya yang tadi sempat tak karuan karena tanpa sengaja dipeluk Bimo. Rasanya dia masih belum sanggup untuk menatap wajah Bimo. Sepanjang lorong mau masuk ke dalam pesawat Reni terus berdoa semoga kali ini dia tidak duduk bersebelahan dengan Bimo.
Tapi sepertinya doa Reni tidak terkabul kali ini. Bimo duduk tepat di kursi samping Reni sedangkan Bela, Ela dan Aril duduk berdekatan. Rizal jarak tempat duduknya jauh dari mereka.
"Kamu keberatan kalau kita duduknya berdekatan lagi Dek Reni?" tanya Bimo.
"Ha.. aaah nn.. nggak Mas" jawab Reni terbata - bata.
Tanpa bisa dicegah jantung Reni kembali berdisko. Membuat Reni seperti tak bisa bernafas lega. Tapi tak mungkin dia menolak Bimo. Akhirnya dengan pasrah dia duduk disamping Bimo.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG