
Kinan terbangun saat di pagi hari. Dipandanginya wajah suaminya yang kini tertidur pulas. Setelah honeymoon mereka di hotel hampir setiap malam suaminya itu mengajaknya bertarung di atas tempat tidur.
Entah karena memang seperti itulah hasrat*nya atau entah karena dia sudah berpuasa selama tiga bulan. Yang jelas Kinan hampir saja kewalahan meladeninya karena tak jarang di tengah pertarungan Naila rewel dah minta susu.
Selain kegiatan di ranjang sebenarnya perubahan Refan tidak begitu kentara. Dia kembali dingin dan ketus bicara kepada Kinan. Sebenarnya Kinan tidak berharap terlalu banyak mungkin memang seperti itulah sifat suaminya.
Kinan terus belajar untuk mengetahui sedikit demi sedikit sifat Refan.
Kinan sudah jarang sekarang, membandingkan antara Refan dan Bima. Perlahan - lahan kenangan Bima sudah tersimpan semakin rapat di hatinya. Kini Kinan fokus pada masa depan dan rumah tangganya.
Refan bergerak dan memeluk erat tubuhnya. Ada perasaan hangat yang mengalir dalam hati Kinan.
Andai saja saat mata kamu terbuka kamu tetap hangat seperti ini Mas. Batin Kinan.
Kinan melepas tangan Refan secara perlahan dari tubuhnya. Dia turun dari tempat tidur dan kemudian mandi. Baru setelah mandi Kinan membangunkan Refan.
"Maaaas, bangun Mas. Mandi gih biar shalat subuh" ucap Kinan.
"Sudah jam berapa ini?" tanya Refan sambil menyipitkan matanya.
"Sudah jam setengah lima. Cepetan bangunnya biar kira shalat jamaah" ajak Kinan lagi.
"Kamu shalat saja duluan. Aku sebentar lagi" jawab Refan.
Kinan menggelengkan kepalanya. Dia mengambil mukena dan shalat subuh sendirian. Setelah shalat Kinan menyiapkan susu untuk Naila.
Setelah seselesai memberikan susu Kinan kembali membangunkan Refan.
"Mas sudah jam lima. Hari sudah semakin terang" ucap Kinan lagi.
"Iya.. iya... aku bangun" jawab Refan.
Dengan enggan Refan bangun dan turun dari tempat tidur. Kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi.
Kinan segera bergegas keluar kamar dan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi mereka. Setelah selesai masak Kinan membangunkan Salman dan memandikannya.
Kinan memang terbiasa mengajak Salman bangun pagi dan mandi sebelum dia berangkat kerja. Walau di rumah ada baby sitter tapi sebisa mungkin dia yang mengurus anaknya selama dia ada di rumah.
Mereka sekarang sudah duduk di meja makan untuk sarapan pagi. Sedangkan Naila masih nyenyak tidur di boxnya.
"Mas nanti sore jadwal Naila imunisasi" lapor Kinan.
"Hem... " sambut Refan.
"Jam berapa kita perginya?" tanya Kinan.
"Jam setengah lima sore. Nanti aku usahakan pulang cepat" jawab Refan.
__ADS_1
Kinan melanjutkan sarapan paginya. Tak banyak yang berubah, mereka hanya ngobrol yang penting - penting saja saat di rumah.
Setelah Refan pergi ke kantor baru Kinan berangkat juga ke kantornya.
Kinan dan Refan janjian akan ke dokter anak sore ini. Kinan sengaja pulang lebih cepat dari kantor agar saat Refan sampai rumah, anak - anaknya sudah siap untuk di bawa pergi.
Saat Kinan pulang Salman dan Naila sudah selesai mandi dan siap untuk pergi ke Dokter.
"Mama kita mau pergi kemana? Kok aku dan Adek tadi cepat mandinya? Kata Bibik mau pergi?" tanya Salman bijak.
"Kita mau bawa adek ke dokter sayang, adeknya mau imunisasi biar sehat" jawab Kina lembut.
"Adek di suntik?" tanya Salman lagi.
"Iya" Kinan tersenyum melihat rasa ingin tahu anaknya yang cukup besar.
"Pasti sakit, nanti kalau adek nangis kakak peluk ya. Adek jangan nangis, kalau dokternya jahat, kakak gigit nanti dokternya" jawab Salman dengan lucunya.
Kinan tersenyum lebar.
"Dokternya gak jahat sayang, justru dokternya mau bantuin adek Naila supaya sehat" jawab Kinan.
Tin.. tin..
Suara klakson mobil Refan terdengar dari arah depan.
Salman berlari keluar rumah.
"Salman panggil Mama kamu. Papa tunggu di depan ya" perintah Refan.
"Iya Pa" jawab Salman.
Salman berlari lagi ke dalam rumah.
"Mama ayok kita pergi, kata Papa dia menunggu di depan" ucap Salman.
"Ayok sayang kita pergi" balas Kinan.
Mereka bertiga keluar rumah dan langsung naik ke dalam mobil Refan.
Salman duduk di kursi belakang sedangkan Kinan yang sedang menggendong Naila duduk di depan di samping Refan.
"Imunisasinya ke praktek dokter atau ke Rumah Sakit Mas?" tanya Kinan.
"Ke Rumah Sakit saja, kalau hari ini praktek dokternya tutup" jawab Refan.
"Ooo" balas Kinan.
__ADS_1
Refan melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit Ibu dan Anak termpat Naila akan di imunisasi sore ini. Tak lama mobil sudah sampai di parkiran Rumah Sakit.
Refan segera mendaftarkan Naila di bagian administrasi sedangkan Kinan, Salman dan Naila menunggu di rumah tunggu.
Hari itu pengunjung Rumah Sakit cukup banyak, terlebih untuk anak - anak yang menunggu antrian untuk imunisasi. Salman dengan baik budinya menemani Kinan sambil bermain dengan Naila.
"Duh Kakaknya baik banget ya main sama adeknya" ucap salah seorang pengunjung Rumah Sakit yang juga sedang menunggu antrian.
"Iya Mbak, Alhamdulillah Kakaknya pengertian dan sayang sama adeknya" jawab Kinan sambil tersenyum.
"Mudah - mudahan nanti kalau anak keduaku lahir, Kakaknya juga sayang sama adiknya seperti anak Mbak ini" jawab wanita itu sambil menggendong anaknya.
Kinan membalasnya dengan senyuman. Tak lama kemudian Refan datang menghampiri mereka.
"Lho Refan kamu ngapain ke sini?" tanya wanita yang duduk di samping Kinan.
"Bawa anak aku imunisasi" jawab Refan.
"Anak kamu? yang mana?" tanya wanita itu.
"Yang ini" jawab Refan sambil menunjuk ke arah Kinan yang sedang menggendong Naila.
"Lho ini anak kamu toh, trus Mbak ini siapa? Bukannya istri kamu... ?" tanya wanita itu penasaran.
"Renita sudah meninggal saat dia melahirkan putri kami. Dan ini istri ke duaku" jawab Refan memperkenalkan Kinan.
"Eh maaf Mbak, saya gak tau kalau Mbak ini istri Refan sekarang" jawab wanita itu ke arah Kinan.
"Gak apa - apa Mbak" balas Kinan.
"Fan aku turut berduka cita ya atas meninggalnya Renita. Tapi kamu kok bisa sih secepat itu menikah lagi dan melupakan Renita. Bukannya kamu sangat mencintai Renita? Dulu waktu di kampus kalian selalu lengket kayak prangko kemana - mana selalu bersama" ungkap wanita itu.
Nyeees... ada yang seperti sedang menusuk hati Kinan.
Terkadang begitulah sifat manusia tanpa pernah memikirkan perasaan orang lain seenaknya saja berbicara seperti itu langsung di hadapan orangnya.
Kinan hanya bisa mengurut dada mendengar perkataan wanita itu.
"Aku di jodohkan Sus dengan dia, Naila gak ada yang merawatnya. Kata Mama dia butuh sosok seorang Ibu. Makanya aku menikah lagi" jawab Refan yang sengaja duduk di samping wanita itu bukan di samping Kinan.
Nyeees... hati Kinan tertusuk lagi, rasanya lebih sakit dari yang tadi karena mendengar jawaban dari suaminya. Walaupun yang dikatakan Refan memang benar adanya tapi mengapa terasa sangat menyakitkan ya.
Benarkah aku hanya sebagai perawat Naila? tanya Kinan dalam hati.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG