
Esok harinya Bimo, Bela dan Ela pindah dari rumah Refan dan Kinan. Pagi - pagi sekali Bapak dan Ibu Akarsana sudah ikut dengan mereka untuk membawa barang - barang mereka ke rumah baru.
Sedangkan Refan beserta keluarganya akan menyusul siang harinya sekalian menghadiri syukuran kecil - kecilan yang diadakan Bimo dalam rangka memasuki rumah baru.
Reni sudah menghubungi Gery sesuai pesanan Bimo tadi malam. Dia berjanji akan menghadiri undangan Bimo.
Sekitar jam sebelas siang Refan dan keluarganya sudah sampai di rumah Bimo. Mereka langsung di sambut oleh keluarga Akarsana dan masuk ke dalam rumah.
"Dekat ya ternyata" ucap Bu Suci.
"Iya Bu, memang sengaja cari yang gak begitu jauh dari rumah Kinan. Agar kalau Bapak dan Ibu datang ke Jakarta ini mereka bisa dengan cepat ketemu sama Salman. Rumah ini juga berkat bantuan Reni kok dapatnya" jawab Bimo.
"Oh ya?" tanya Bu Suci sambil melirik ke arah putrinya.
"Iya Ma, si Gery. Mama ingat teman kuliahku yang dulu sering main ke rumah. Dia kerja di developer perumahan ini. Jadi dari dia aku dapatkan informasi dan ajak Mas Bimo ke sini. Eh ternyata Mas Bimonya suka" jawab Reni.
Bimo tersenyum melihat sikap Reni yang sudah ramah dan banyak bicara seperti semula. Mungkin PMSnya sudah selesai pikir Bimo.
Flashback On
Setelah selesai sarapan pagi Kinan mengajak Reni duduk di dekat kolam renang berdua saja.
Rumah terasa sepi karena keluarga Akarsana sudah keluar dari rumah Refan dan Reni. Kini hanya tinggal keluarga Refan dan keluarga Kinan yang tinggal bersama mereka.
"Ada apa Mbak Kinan ngajak aku ke sini?" tanya Reni penasaran.
"Duduk dulu Ren, Mbak cuma mau ngobrol sebentar sama kamu" jawab Kinan.
Reni mengambil tempat duduk persis disamping Kinan.
"Mas Refan sudah cerita semuanya pada Mbak tentang kamu dan Mas Bimo. Awalnya Mbak yang tanya padanya karena melihat perubahan sikap kamu ketika bertemu atau berdekatan dengan Mas Bimo. Memang apa yang Mas Refan khawatirkan itu tidak salah karena beliau adalah kakak kamu laki - laki satu - satunya. Dia saat ini mengambil alih tanggungjawab almarhum Papa untuk membimbing kamu. Tapi dia berbicara dengan kamu, menurut Mbak itu dari sudut pandang laki - laki. Boleh tidak Mbak kasih saran sebagai sesama wanita kepada kamu?" tanya Kinan kepada Reni.
Reni menundukkan wajahnya dan mengangguk.
"Kamu menyukai Mas Bimo kan?" tanya Kinan.
__ADS_1
Reni menganggukkan kepalanya dan tetap menunduk karena malu.
"Jangan malu, mencintai adalah hak azasi setiap manusia. Dulu Siti Khadijah juga lebih dulu melamar Rasulullah. Fatimah juga jatuh hati kepada Ali Bin Abi Thalib. Tidak ada larangan asalkan rasa cinta kita tidak boleh melebihi cinta kita kepada Allah dan Rasul" pesan Kinan.
Reni menatap wajah Kinan.
"Mbak juga lebih dulu jatuh cinta kepada Mas Refan. Saat dia membatalkan rencana pernikahan kami yang pertama Mbak sudah jatuh hati kepadanya. Mbak berdoa dan meminta kepada Allah agar di jodohkan dengan Mas Refan tapi ternyata Allah berkata lain. Mas Refan membatalkan pernikahan kami dan memilih menikah dengan Renita. Kamu pasti bisa bayangkan gimana perasaan Mbak saat itu. Sakit.. itu alamiah Ren, satu tahun Mbak berusaha bangkit sampai akhirnya Mbak bertemu dengan Mas Bima. Tapi Mbak gak pernah menyesali perasaan Mbak dulu. Mbak ikhlas kalau dia ternyata bukan jodoh Mbak" ungkap Kinan.
Reni terkejut mendengar pengakuan Kinan.
"Ternyata Allah mengabulkan doa Mbak diwaktu yang tepat. Setelah kami berstatus janda dan duda kami dipertemukan lagi dengan sebuah perjodohan dan kali ini kami tidak bisa mengelak. Akhirnya kami menikah. Apakah Mas Refan sudah mencintai Mbak? Belum.. Mas Refan belum mencintai Mbak Ren. Dia masih sangat mencintai Renita. Mbak yakin Allah mentakdirkan dia sebagai suami Mbak pasti karena ada alasan lain. Pasti ada hikmah dibaliknya. Alhamdulillah hanya beberapa bulan saja Mas Refan sudah mencintai Mbak bahkan sekarang dia sudah bisa melupakan almarhumah Renita" sambung Kinan.
Kinan menyentuh tangan Reni.
"Saran Mbak jadilah diri kamu sendiri, jangan kamu berubah dan menyakiti diri kamu. Bersikap saja seperti biasanya. Dari pandangan Mbak, Mas Bimo juga ada perhatian sama kamu tapi yang tau isi hatinya hanya dia dan Allah. Ketuk pintu Allah dan merayulah hanya padaNYA. Pinta kepada Allah agar Mas Bimo terketuk hatinya untuk melirik ke arah kamu. Mbak hanya bisa mendoakan semoga doa - doa kamu dikabulkan Allah dan semoga kalian memang berjodoh. Menjadi bagian dari keluarga Akarsana tidaklah sulit, keluarga mereka bersifat terbuka dan menerima menantunya dengan baik. Tapi dengan syarat harus seakidah. Mbak yakin Bapak dan Ibu pasti setuju kalau seandainya Mas Bimo memilih kamu" ucap Kinan memberi semangat.
"Terimakasih Mbak" jawab Reni dengan mata berkaca - kaca.
Flashback Off
"Panjang umur, tuh si Gery datang Ma" Reni menatap ke arah luar.
"Assalamu'alaikum... " ucap Gery sopan.
"Wa'alaikumsalam" jawab semua yang ada di dalam..
"Masuk Ger" ajak Bimo.
Gery langsung masuk ke dalam rumah dan menjabat tangan semua yang ada di dalam.
"Selamat memasuki rumah baru ya Mas" ucap Gery kepada Bimo sambil menjabat tangan Bimo.
"Terimakasih Ger" sambut Bimo.
"Eh Tante.. sudah lama gak ketemu. Makin cantik ada dan awet muda" sapa hangat Gery kepada Bu Suci.
__ADS_1
"Ah Gery.. kamu bisa aja" sambut Bu Suci.
Mereka tampak sangat akrab membuat Bimo merasa iri dengan Gery. Dia saja yang sempat beberapa bulan tinggal satu atap dengan Bu Suci belum pernah berbincang - bincang seakrab itu dengan Mamanya Reni.
"Silahkan duduk Ger" perintah Bimo.
"Iya Mas" jawab Gery.
Gery langsung duduk di dekat Reni dan Bu Suci dan mereka langsung terlibat dalam pembicaraan yang hangat. Tampak Gery dan Reni sesekali tertawa lepas saat bicara dengan Bu Suci.
Entah mengapa perhatian Bimo tak lepas dari mereka bertiga. Walau tamu - tamu sudah mulai banyak berdatangan tapi mata Bimo selalu mencari sosok Reni dan juga Gery.
Terlebih Gery, rasanya mata Bimo risih melihat Gery yang selalu nempel kepada Reni kemanapun Reni pergi. Mereka terlihat sedang berjalan berkeliling rumah Bimo.
Gery tampak sedang menerangkan kepada Reni tata letak rumah Bimo. Karena memang semua Gery yang menyusunnya. Bimo membebaskan Gery untuk mengatur perabotan di rumahnya yang baru.
Reni dan Gery tampak dekat sekali. Tebakan Bimo sejak semula rasanya tidak salah. feelingnya sebagai laki - laki mengatakan kalau Gery menyukai Reni.
"Ehm... ada saingan sepertinya" sindir Aril yang dari tadi memperhatikan kemana arah lirikan mata Bimo.
"Siapa?" tanya Bimo pura - pura tak mengerti.
"Kamu, punya saingan anak ingusan itu" Aril melirik ke arah Reni dan Gery.
"Ah kamu Ril, ada - ada saja" elak Bimo.
"Ayolah Bim ngaku pada diri kamu sendiri. Usia kita gak jauh beda, kita juga sudah punya banyak pengalaman. Jadi kamu gak usah bohong kepadaku. Mata kamu menunjukkan kalau kamu menyukai Reni. Sejak Reni datang tatapan kamu terus menatap kearahnya. Terlebih setelah pria ingusan itu datang. Kamu seolah - olah takut kalau Reni akan dibawa kabur oleh anak ingusan itu" tebak Aril.
Bimo melirik kearah Reni dan Gery dan mendesah panjang.
"Aku tidak tau apa yang sedang aku rasakan saat ini Ril. Aku masih bingung..."
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG