
Refan dan Kinan saling berjabat tangan dengan Bapak dan Ibu Suwiryo dan mereka saling berpamitan.
"Terimakasih atas undangan makan malamnya Pak, Bu" ucap Refan.
"Sama - sama Refan, kami senang bertemu dan berbincang-bincang dengan kalian malam ini. Istri saya juga tampakannya senang sekali" ujar Pak Suwiryo.
"Iya Mama senang sekali bertemu Kinan malam ini Pa" sambut Bu Suwiryo.
Kinan tersenyum ramah kepada istri rekan bisnis suaminya.
"Lain kali kita ketemuan lagi ya Nan, sekalian tanya Refan dimana dia beli gaun kamu ini. Jadi kita bisa belanja ke Butik itu" ujar Bu Suwiryo ramah.
"Iya Bu" jawab Kinan.
"Kalau begitu sampai ketemu lagi ya Fan, kami pamit dulu" ucap Pak Suwiryo pamit.
"Iya Pak, hati - hati di jalan" sambut Refan.
Pak Suwiryo dan istrinya masuk ke dalam mobil mereka dan bergerak meninggalkan Restoran sedangkan Kinan dan Refan berjalan beringinan menuju mobil Refan.
Kini mereka berdua sudah masuk ke dalam mobil. Refan menyalakan mobil dan mereka bergerak pulang ke rumah.
"Terimakasih ya Nan, kamu sudah bersedia menemaniku malam ini" ujar Refan.
"Gak masalah Mas, Bu Suwiryo juga orangnya asik kok. Baik dan ramah, aku senang bertemu dengannya" sambut Kinan.
"Pak Suwiryo memang seperti itu, setiap pertemuan pasti membawa istrinya ikut serta. Dia suka menjalin kekeluargaan bersama para relasinya, termasuk denganku. Beberapa bulan yang lalu aku hanya pergi sendiri, sekarang setelah mereka tau aku sudah menikah lagi dia mengajak kami ikut serta" ungkap Refan.
"Pak Suwiryo suami yang baik ya, kemana - mana mengajak istrinya pergi. Itu lebih baik dan banyak manfaatnya. Selain menjalin hubungan kekeluargaan dengan client bisa juga menjauhkan prasangka buruk dalam rumah tangga. Mereka saling terbuka dan juga menjauhkan gangguan dari pihak luar. Tidak memberi celah untuk orang lain untuk menyusup ke dalam rumah tangga mereka. Dunia bisnis kan kejam Mas, bisa saja orang sengaja menjebak untuk melancatkan niat dan tujuan mereka" ujar Kinan.
Refan mendengarkan semua perkataan Kinan, benar juga apa yang Kinan katakan. Selama ini aku selalu menjalankan bisnis sendiri sedangkan Renita malah lebih sering menemani Bosnya meeting di luar bahkan sampai Renita hamil muda dia masih sering keluar menemani Bosnya. Apakah aku harus merubah strategi bisnisku seperti Pak Suwiryo. Boleh juga ku coba, aku akan sering mengajak Kinan tapi hanya dengan client - client tertentu. Karena putra - putri kami tidak mungkin selalu di tinggal. Bagaimanapun mereka masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari kami. Batin Refan.
"Mas masih sempat gak kita singgah ke supermarket?" tanya Kinan.
Refan melirik jam tangannya.
__ADS_1
"Kamu mau beli apa?" tanya Refan.
"Mau beli pampers Naila persediaannya sudah hampir habis" jawab Kinan.
"Ya sudah kita cari supermarket yang buka dua puluh empat jam" balas Refan.
Refan melajukan mobilnya menuju supermarket dua puluh empat jam dan singgah di sana beberapa saat. Refan ikut menemani Kinan berbelanja beberapa kebutuhan untuk anak mereka.
Kinan membeli susu untuk Naila dan Salman, pampers untuk Naila dan beberapa cemilan untuk Salman. Dengan sabar Refan menemaninya sambil mendorong troli belanjaan yang mulai terisi penuh.
Sudah seperti suami istri beneran ya. Eh kami kan memang beneran nikahnya. Batin Refan.
"Selesai" gumam Kinan.
"Sudah cukup semuanya? Mumpung kita masih di sini. Coba di ingat - ingat" sambut Refan.
Tumben Mas Refan malam ini perhatian banget, ada apa dengannya? Apakah dia terpengaruh dengan nasehat - nasehat Pak Suwiryo tadi ya dalam menjalankan rumah tangga? tanya Kinan dalam hati.
"Sudah Mas, udah ah sudah malam. Kasihan anak - anak kalau terlalu lama di tingal" ujar Kinan.
Refan segera mendorong troli belanjaan mereka ke arah kasir kemudian membayar semua belanjaan mereka.
"Nih Mas" Kinan mengeluarkan ATM yang diberikan Refan dulu.
"Apa itu?" tanya Refan lupa.
"Kartu yang Mas kasih dulu untuk belanja keperluan anak - anak" jawab Kinan.
"Jadi kamu beneran hanya memakai kartu itu untuk keperluan anak - anak?" tanya Refan tak percaya.
"Iya, amanah Mas kan seperti itu" jawab Kinan.
"Terus untuk beli keperluan kamu?" tanya Refan.
"Pakai uangku sendiri, aku kan kerja. Aku punya uang hasil kerja kerasku sendiri" jawab Kinan.
__ADS_1
"Tapi kamu kan istriku, sudah menjadi tanggung jawabku memenuhi semua kebutuhan kamu" tegas Refan.
Apa? Aku gak salah dengar nih? Mas Refan bilang kalau aku ini adalah istrinya? Apakah kamu sudah sadar Mas? gumam Kinan dalam hati.
"Aku gak punya banyak kebutuhan kok Mas. Nanti kalau aku lagi butuh saja aku pakai" balas Kinan.
Setelah belanja mereka kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Ternyata sesampainya di rumah anak - anak sudah pada tidur.
"Yaaah kemalaman pulangnya, gak sempat temani anak - anak tidur" ujar Kinan ketika melihat Naila sudah tidur dengan nyenyak di boxnya.
"Besok masih banyak waktu. Sekali - sekali kan gak apa di tinggal sebentar" sambut Refan.
Kok perasaan malam ini Mas Refan lebih banyak bicara ya, aku tadi kan hanya ngomong sendiri tapi dia langsung nyambar. Kesambet apa kamu Mas. Batin Kinan.
Kinan menyiapkan pakaian santai untuk Refan pakai tidur juga mengganti bajunya sendiri dengan daster rumah yang sering dia pakai.
Refan keluar kamar mandi hanya dengan lilitan handuk segera meraih baju yang telah di sediakan Kinan. Dia memakai pakaiannya langsung di hadapan Kinan, biasanya dia akan membawa pakaiannya ke kamar mandi dan memakainya di sana tapi kali ini berbeda.
Kinan menelan salivanya melihat tubuh kekar Refan yang sixpack. Refan tau kalau Kinan terkejut dengan aksinya. Dia tersenyum tipis dan tertawa dalam hati.
Apakah kamu juga merasa panas Nan melihat aku seperti ini? Sudah hampir sepuluh hari kita tidak melakukannya. Kali ini aku tidak akan memaksa kamu untuk melakukannya. Aku tidak ingin kamu salah menilai. Biarlah kita sama - sama merasa kalau kita memang sama - sama saling membutuhkan.
Kinan segera mengambil pakaiannya dan membawanya ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi Kinan bersandar di balik pintu.
Mengapa malam ini aku merasa Mas Refan seperti sengaja memancing kesabaranku ya. Untung saja aku masih puasa kalau tidak aku pasti di ajak bertarung malam ini. Semoga saja beberapa waktu ini dia tidak memaksaku. Karena aku tidak akan mungkin menolaknya sedangkan aku harus memastikan terlebih dahulu apakah kata - katanya kemarin memang benar dan dia sudah berubah dan menganggapku sebagai istrinya bukan teman tidurnya yang kapan saja bisa dia ajak bertarung di malam hari. Batin Kinan.
Kinan segera bersih - bersih dan mengganti pakaiannya dengan baju tidurnya. Setelah itu dia langsung keluar kamar dan naik ke atas tempat tidur. Tanpa basa basi Kinan langsung memejamkan matanya dan tertidur.
Refan yang masih terjaga kini kembali menatap lekat - lekat wajah Kinan.
Bodoh sekali aku selama ini. Pak Suwiryo benar, aku sangat beruntung bisa mendapatkan wanita seperti ini. Mencari wanita yang hanya mau bersenang - senang sangat banyak dan gampang mencarinya di luar sana tapi mencari wanita penyabar dan penyayang anak - anak seperti dia sangat langka sekarang. Maaf Nan, aku baru menyadarinya.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG