
"Gimana kabar Reni Mas? Udah ada hubungin kamu?" tanya Kinan.
"Udah, hari ini mereka, Bimo, Aril, Bela, Reni dan teman - teman Bela jalan - jalan ke Bromo" jawab Refan lemah lembut.
"Waah enak sekali. Aku saja belum pernah ke sana" ujar Kinan.
"Serius kamu belum pernah kesana? Kamu menikah dengan Almarhum Bima kan sudah lama?" tanya Refan terkejut.
"Iya serius, belum sempat Mas kesana. Saat honeymoon kami malah memilih Jogja, trus aku hamil dan tahun berikutnya Salman lahir. Setelah itu punya anak kecil dan kami juga gak pernah lama kalau ke Surabaya. Jadi belum sempat ke Bromo" jawab Kinan.
Refan merapikan rambut Kinan yang hampir menutupi matanya.
"Nanti setelah kamu melahirkan kita pergi ke sana ya" ajak Refan.
"Benar Mas?" tanya Kinan tak percaya.
"Iya sayang... Apapun yang kamu inginkan akan aku usahakan untuk penuhi" jawab Refan sambil tersenyum.
"Makasih Mas. Awwww... " pekik Kinan.
"Kenapa yank?" tanya Refan.
"Anak kita mungkin kesenangan Mas karena Mamanya juga senang" jawab Kinan tersenyum.
Mereka tersenyum bersama. Refan memeluk tubuh Kinan dari belakang. Kepalanya dia sandarkan di bahu Kinan.
"Aril tadi sempat kirim foto - foto mereka disana termasuk foto Reni dan Bimo. Kata Aril, Bimo sepertinya ada hati pada Reni" Refan mulai bercerita.
"Terus, Reninya bagaimana?" sambut Kinan.
__ADS_1
"Katanya Reni juga malu - malu gitu waktu mereka godain. Sepertinya Reni juga tidak menolak. Reni itu gadis yang tegas yank, seperti kamu. Kalau dia tidak suka dia akan langsung berontak dan menolak. Tapi kalau dia suka dia akan diam dan membiarkan semua berjalan apa adanya karena dia malu mengakui perasaannya. Hanya saja biasanya kami sudah tau dan mengerti arti diamnya Reni itu adalah iya, dia setuju atau mau" ungkap Refan.
Kinan diam mendengarkan cerita suaminya.
"Bagaimana menurut kamu kalau Reni sama Bimo?" Refan mencoba bertukar fikiran dengan istrinya.
"Mmm.. kalau menurut aku ya... Keluarganya bagus karena aku pernah menjadi menantu mereka selama empat tahun. Mereka sangat menyayangiku seperti anak mereka sendiri" jawab Kinan.
"Aku bisa milihatnya dari sikap merek selama beberapa hari di sini. Tidak ada rasa canggung antara mereka dengan kamu walau Bima sudah tiada. Bahkan kamu sudah menikah lagi denganku" sambut Refan.
"Jadi kalau dari segi keluarga aku rasa Reni tidak akan kecewa. Hanya saja sikap Mas Bimo kita kan belum jelas tau seperti apa Mas? Selama ini memang yang kita lihat dia pria yang baik. Pekerja keras dan bertanggung jawab. Kalau untuk hubungan suami istri kita berdua sama - sama tau dan lebih berpengalaman kan? Karena kita sama - sama sudah dua kali menikah. Kita tau terkadang tampilan luar seseorang belum tentu sama seperti yang di dalamnya. Contohnya kamu, aku kira kamu itu pria yang cerewet dan menyebalkan. Di awal - awal pernikahan kamu sering berkata - kata menyakitkan, cuek dan mau menang sendiri. Tapi itu kan sebelum hati kita terpaut. Ternyata setelah aku mengerti kamu dan kamu mengerti aku. Kamu itu sangat berbeda Mas. Kamu.. kamu benar - benar memanjakan aku dan mencintai aku dengan tulus. Kamu menjadikan aku wanita yang paling bahagia karena telah menjadi milik kamu. Yaaah siapa tau Mas Bimo juga sama. Kalau lihat dari tampilan dan cerita masa lalu, dia kan memang terlihat sangat keras kepala. Makanya dia sampai lari meninggalkan keluarganya. Siapa tau setelah dia mengenal Reni dan hati mereka saling terpaut semuanya jadi berubah. Tapi satu yang pasti dia tipe pria setia" ungkap Kinan.
"Sama seperti aku kan" Refan berbisik di telinga Kinan sambil mengelus perut Kinan.
"Ih geli Mas" elak Kinan.
Kinan memutar tubuhnya kini mereka saling berhadapan.
"Trus, Mas Bimo jawab apa Mas?" tanya Kinan pemasaran.
"Bimo belum menjatuhkan pilihan hatinya. Dia masih takut kalau seandainya hatinya sudah jatuh kepada Reni sementara permasalahan masa lalunya belum selesai. Dia tidak mau membuat Reni berada dalam bahaya" jawab Refan.
"Benar itu Mas. Aku setuju dengan pemikiran Mas Bimo. Itu artinya dia lebih waspada dan tidak mau gegabah dalam menjalani hidupnya. Mungkin dia sudah belajar dari pengalaman hidupnya yang lalu. Dulu dia terlalu cepat menjatuhkan hatinya kepada istrinya sehingga dia tidak lagi mau mendengarkan nasehat atau larangan dari orang tuanya. Tapi kali ini dia lebih berhati - hati dengan hatinya. Menurutku Mas Bimo terlihat semakin dewasa dan matang" puji Kinan.
Refan menarik nafas panjang.
"Kalau seandainya mereka saling mencintai, aku harus bersikap bagaimana yank?" tanya Refan bingung.
Rasanya dia masih belum yakin akan melepaskan adik bungsunya kepada pria lain. Walau itu Bimo yang memang selama kenal dengannya Refan merasa dia adalah pria yang baik.
__ADS_1
"Kalau aku jadi Mas aku akan beri izin kepada mereka. Pertama mereka saling menyukai, kedua tidak ada satu rintangan yang menghalangi mereka bersatu. Mereka sama - sama single, sudah cukup umur untuk menikah, seaqidah. Mas Bimo berasal dari keluarga baik, orangnya baik dan mapan. Apa yang membuat kamu khawatir?" tanya Kinan.
Benar... semua jawaban Kinan benar. Apalagi yang harus dia khawatirkan. Refan memandang wajah istrinya dengan tatapan teduh.
"Kamu benar sayang.. mungkin ini hanya kekhawatiran seorang Kakak yang akan melepas adik bungsunya menikah. Maklumlah aku kan anak laki - laki di keluargaku. Aku punya tanggung jawab untuk melindungi keluargaku, Mama dan adikku. Aku tidak ingin menyerahkannya pada pria yang salah" ungkap Refan.
"Kalau begitu kamu harus lebih legowo Mas, belajar jadi orang tua. Gimana nanti kalau anak kita yang akan menikah? Papa aja dulu yang tau pasti kita tidak saling mencintai mendukung dan membujukku untuk menikah dengan Mas" sambut Kinan.
"Oh ya, aku belum pernah dengar apa tanggapan Papa tentangku?" tanya Refan.
"Papa menilai kamu bisa menjadi Papa yang baik untuk Salman. Suami yang baik untukmu, walau diawal pernikahan kita sama - sama belum punya rasa. Papa yakin kamu adalah pria yang bertanggungjawab dan bisa menjaga keluarganya dengan baik. Melihat kamu begitu menyayangi naila dulu itu bisa mengartikan kalau kamu adalah pria berhati lemah lembut" jawab Kinan.
Refan tersenyum mendengar semua pujian Kinan pada dirinya.
"Aku tak menyangka Papa menilaiku setinggi itu. Sepertinya aku harus memberikan hadiah untuk Papa karena dia mempunyai andil yang sangat besar dalam pernikahan kita" sambut Refan.
"Bukan hanya Papa Mas tapi Mama Suci juga. Dia sampai datang ke kantorku khusus untuk membujukku agar mau menikah dengan kamu" ujar Kinan.
"Oh ya? Kok aku gak tau?" tanya Refan tak percaya.
"Itu karena saat itu dunia kamu hanya Naila dan Renita. Kamu jadi tidak sempat memikirkan atau memperhatikan sekeliling kamu. Aku gak tau apakah itu kelebihan atau kekurangan kamu Mas. Kalau sudah menjalani satu tujuan hidup kamu akan total fokus ke satu arah tak memperdulikan yang lainnya. Semuanya pasti ada baik dan buruknta tapi bagiku saat ini itu sangat menguntungkanku. Kamu hanya fokus pada aku seorang, tidak akan ada yang lain yang bisa mengalihkan perhatian kamu dariku dan anak - anak kita. Terimakasih Mas, kamu mempunyai cinta yang sangat besar untuk kami" ungkap Kinan sambil memegang wajah Refan dengan kedua tangannya.
Refan langsung mencium kening Kinan dengan penuh kasih sayang.
"Aku juga sangat berterimakasih kepada kamu karena rasa cinta kamu padaku tidak pernah padam. Kalau tidak aku tidak tau harus bagaimat. Pasti akan sangat sulit bagiku untuk menaklukkan hati kamu cintaku.. " ucap Refan.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG