
"Apa tujuan dia ya? Apa dia ingin meminta Naila pada kamu?" tanya Bagus.
Sontak semua menatap Bagus dengan pikiran mereka masing - masing.
"Kamu akan menyerahkan Naila padanya Fan?" tanya Riko.
"Lho Om Reno kan berpesan jangan kasih tau siapapun tentang keberadaan mereka di Labuhan Bajo?" timpa Romi.
"Iya benar Fan" sambut Aril.
"Kalian pikir aku akan memberikan Naila padanya? Nggak akan, secara negara Naila adalah anakku secara agama Naila nasab Mamanya. Jadi Naila gak butuh dia, untuk apa juga kasih Naila ke dia. Lagian belum tentu dia sayang Naila, belum tentu juga istrinya terima" jawab Refan semakin kesal karena teman - temannya seperti menyalahkannya.
"Sabar Fan.. sabar.. kamu tenang dulu" sambut Bagus mencoba menenangkan Refan.
"Mending kita selidiki dulu Fan apa yang terjadi dengannya? Dulu aku pernah cari informasi tentang Arga, dia sudah lama menikah tapi lama baru dapat momongan itu pun dengan cara bayi tabung. Apa dia sadar ya sulit untuk punya anak makanya tiba - tiba dia ingat dengan Naila?" tanya Riko.
"Buktinya dengan Renita dia berhasil Ko" timpa Romi.
"Ya tapi kan istri sahnya siapa? Arga itu dibawah tekanan keluarga istrinya. Karena tanpa istrinya Arga itu hanya pria miskin. Makanya dia sangat takut kalau bercerai" lanjut Riko.
"Nah justru itu aneh kan kalau dia mau ambil Naila. Apa dia gak takut ketahuan keluarga istrinya kalau dia pernah selingkuh dan menghasilkan seorang anak?" tanya Bagus.
"Makanya aku bilang lebih baik kita selidiki dulu apa yang terjadi dengan rumah tangganya. Jangan main percaya gitu aja sama ucapannya. Terakhir aku bertemu dengannya sama seperti Refan katakana tadi. Dia bersikap sombong dan bersikap seperti tidak punya kesalahan" jawab Riko.
Para sahabat menatap wajah Refan.
"Kita bukannya mau su'udzon dengan niat baiknya tapi kudu waspada. Siapa tau ada maksud lain" sambung Riko.
"Aku rasa Riko benar Fan, hati - hati dengan dia" sambut Aril.
"Apakah kamu akan kabari Papa Renita Fan?" tanya Bagus.
"Tidak.. aku tidak akan kabari mereka. Aku takut mereka jadi khawatir dan merasa keberadaan Naila sedang terancam saat ini. Arga memang bertanya dimana anaknya? Mungkin karena dia tidak melihat ada anak seumur Naila yang ada bersama kami. Aku bawa Salman dan si Kembar tadi" jawab Refan.
"Tapi Fan... kamu jangan terlalu larut dengan Arga. Melihat kamu marah seperti ini aku takut Kinan jadi berkecil hati. Semakin besar amarah kamu menunjukkan kalau kamu masih sangat mencintai Renita" pesan Riko.
"Ini bukan soal Renita Ko tapi tentang Naila" balas Refan.
"Yah hati wanita siapa yang tau Fan. Perasaan mereka sangat sensitif dan mereka selalu memakai perasaan mereka dalam menyelesaikan suatu masalah bukan memakai logika. Logika kita sebagai laki - laki ya seperti kamu hanya memikirkan tentang Naila. Tapi pemikiran wanita berbeda Fan. Renita kan Mamanya Naila. Takutnya Kinan berpikir kamu masih mencintai Renita yang sudah jelas - jelas mengkhianati kamu" ujar Riko.
__ADS_1
Refan terdiam mendengar pesan Riko.
"Intinya jangan panik dulu dan berpikiran berlebihan. Kita lihat saja dulu apa maunya si Arga. Ya kalau kamu mau menyelidiki tentang keluarga Arga gak ada salahnya, silahkan saja. Tapi jangan sampai kamu melupakan yang lain termasuk istri dan anak - anak kamu. Nanti takutnya seperti yang Riko katakan. Kinan jadi cemburu karena kamu masih mencintai Renita " ucap Bagus mengingatkan.
Refan menarik nafas panjang.. Gak salah dia pergi dan bertemu teman - temannya. Refan mendapatkan banyak masukan dari mereka termasuk tentang perasaan Kinan.
Yah Refan jadi merasa bersalah pada Kinan, sejak bertemu dengan Arga. Refan larut dengan pikirannya sendiri. Di mobil dia lebih banyak diam dan mengabaikan Kinan dan anak - anaknya. Bahkan begitu mereka sampai di rumah Refan langsung pamit pergi lagi.
"Sudahlah cerita yang lain saja dari pada mikirin Arga terus bisa pusing kepala. Aku ke sini tadi untuk ngilangin stress.. " ujar Refan.
Mereka kemudian membicarakan tentang perusahaan dan bisnis. Sekitar dua jam kemudian mereka bubar dan pulang ke rumah masing - masing.
Refan masuk ke dalam kamarnya. Lampu kamarnya sudah redup, sepertinya istrinya sudah tidur. Refan melirik jam dinding ternyata sudah jam sebelas malam.
Pantas saja Kinan sudah tidur, sejak si Kembar lahir Kinan tidak pernah tidur larut malam. Begitu anak - anak mereka tidur Kinan menyusul tidur agar saat si Kembar bangun karena haus Kinan sudah cukup waktu tidurnya.
Refan mengganti bajunya dengan baju tidur. Kemudian dia mulai naik ketempat tidur dan memeluk Kinan dari belakang. Kinan tersentak dari tidurnya karena terkejut.
"Maaf yank aku jadi membangunkan kamu" ujar Refan dengan lembut.
Kinan membalik badannya kini tubuh mereka saling berhadapan.
"Iya, tadi aku ngobrol panjang sama teman - teman" jawab Refan.
"Sudah makan?" tanya Kinan penuh perhatian.
"Sudah di apartemen Aril. Tadi dia pesan makan secara online" jawab Refan masih tetap menatap lembut wajah istrinya
"Ada apa Mas? Mengapa Mas menatapku seperti itu?" tanya Kinan penasaran.
Refan mengecup lembut kening istrinya.
"Maafkan Mas ya" ujar Refan.
"Maaf kenapa?" tanya Kinan semakin bingung.
"Mas tadi cuekin kamu dan anak - anak setelah pulang dari rumah sakit. Jujur, Mas memang sedang memikirkan nasib Naila tapi hanya Naila kok. Mas gak ada mikirin Mamanya. Cinta Mas sudah habis terhapus sejak Mas mengetahui pengkhianatannya" ungkap Refan.
Kinan menatap suaminya sambil tersenyum penuh arti.
__ADS_1
"Mas berpikir kalau aku cemburu?" tanya Kinan
"Kelihatan ya kalau aku ngarep? Ngarep di cemburui kamu. Selama ini aku terus yang cemburu kalau ada laki - laki yang suka deketin kamu" jawab Refan.
"Hahaha.. Mas sayaaaang.. aku sudah memutuskan untuk menikah dengan kamu dan memberikan cintaku utuh hanya untuk kamu. Itu artinya aku juga sudah memberikan kepercayaanku kepada kamu Mas" Kinan membelai lembut kepala Refan.
Refan menatap wajah istrinya dengan sangat intens.
"Apalagi cemburu pada orang yang sudah menikah dan mengkhianati kamu. Apa wajar aku cemburu? Tidak kan?" tanya Kinan sambil tersenyum.
Refan menarik nafas panjang dan memasang wajah cemberut.
"Yaaah aku sudah berharap kalau kamu cemburu beneran seperti yang Bagus katakan" ujar Refan.
"Hahaha.. Mas Bagus bilang begitu?" tanya Kinan tak percaya.
Refan menganggukkan kepalanya.
"Masak Mas lebih percaya Mas Bagus ketimbang istri sendiri? Mas gak kenal siapa itu Kinan?" tanya Kinan.
Refan kembali mengecup lembut kening istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Aku sangat beruntung memiliki istri seperti kamu. Istri yang penuh pengertian, kasih sayang dan lemah lembut. Kamu juga istri solehah, aku sangat bahagia sekali bisa menjadi suami kamu sayang. Terimakasih ya kamu bisa mengerti suami kamu ini dan tidak berpikir buruk tentang aku" ungkap Refan.
"Ya sudah sekarang kita tidur ya akun sudah ngantuk banget" pinta Kinan.
"Satu ronde?" goda Refan.
"Maaas.... " protes Kinan yang memang sangat ngantuk saat itu.
"Iya.. iya.. aku becanda sayang. Kamu pasti sangat capek hari ini kan. Si Kembar baru imunisasi pasti rada rewel. Malam ini aku puasa aja tapi besok berbuka ya. Yayayaaaa...?" pinta Refan.
Kinan tersenyum melihat tingkah suaminya yang seperti anak - anak. Mereka saling berpelukan dan tertidur bersama.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1