
"Nan... Kinaaaan..... " Panggil Refan.
Refan segera menangkap Kinan dan mengangkatnya ke atas tempat tidur. Refan segera memanggil kedua mertuanya dan juga Mamanya.
"Ma.. Pa.. tolong Kinan Ma.. " teriak Refan.
Pak Ardianto, Bu Dhisti dan Bu Suci segera berlari ke kamar Refan mereka melihat Kinan sudah terbaring di atas tempat tidur.
"Kinan kenapa Fan?" tanya Suci.
"Kinan pingsan Ma" jawab Refan.
Suci dan Dhisti segera mencoba menyadarkan Kinan dengan mengoleskan minyak kayu putih, tak lama kemudian Kinan mulai sadar.
"Yaaaank.... " panggil Refan pelan.
"Maaaas... Mas Bimaaaaa... " Kinan langsung menangis.
Refan terkejut ketika Kinan menyebut nama Bima bukan memanggil namanya.
"Naaan ini aku Refan" jawab Refan.
"Maaas.... Mas Bima.. Mas Bima di bunuh" ucap Kinan sambil terus menangis.
"Apa? Bima dibunuh?" Kini bukan hanya Refan yang terkejut. Tapi Pak Ardianto dan Dhisti juga ikut terkejut.
"Bima di bunuh? Dari mana kamu tau?" tanya Refan.
Kinan menganggukkan kepalanya.
"Li.. lihat handphoneku" jawab Kinan.
Refan segera mencari handphone Kinan yang ternyata sudah tergeletak di lantai saat Kinan pingsan tadi.
Refan membuka ponsel Kinan dan membaca pesan yang tadi diterima Kinan.
081xxxxx
Suami kamu bukan mati karena kecelakaan tapi dia dibunuh? Kamu masih tidak percaya? Jangan coba - coba kamu mengabaikan pesan ini!
"Sudah berapa kali kamu menerima pesan seperti ini?" tanya Refan.
"Dua kali Mas" jawab Kinan.
"Kapan?" tanya Refan.
"Beberapa bulan yang lalu tapi waktu itu aku langsung menghapusnya dan mengabaikannya. Karena aku fikir itu pesan nyasar" jawab Kinan masih menangis.
__ADS_1
"Kamu kenapa gak bilang sama aku Naan.. Biar kita selidiki siapa pengirim pesan ini dan apa maunya" ujar Refan.
"Aa.. aku.. aku.. gak mau hidup kita terganggu Mas" Kinan semakin kencang menangisnya karena merasa bersalah sudah berbohong pada suaminya.
"Sudah.. sudah.. jangan menangis. Faaaan.. jangan gitu donk ngomongnya. Gak lihat Kinan lagi nangis begini" potong Suci.
"Bukan begitu Ma.. Kinan kan lagi hamil, aku gak mau Kinan kepikiran seperti saat ini dan kamu pingsan sayaang" ungkap Refan.
"Ma.. maafkan aku Maaas" ucap Kinan.
"Mas gak marah sama kamu. Mas hanya gak mau kamu kenapa - kenapa" balas Refan khawatir.
"Jadi apa yang harus kita lakukan saat ini Fan?" tanya Pak Ardianto.
"Aku akan selidiki nomor telepon ini Pa, aku akan cari tau siapa pemilik nomor ini dan apa tujuannya mengirimkan pesan ini kepada Kinan? Semua harus jelas. Apakah isi pesannya ini memang benar atau dia punya tujuan lain untuk balas dendam yang bisa membuat lebih berbahaya lagi. Keselamatan Kinan dan Salman yang jadi ancaman saat ini" ungkap Refan.
"Astaghfirullah... " ucap Adhisti.
Refan segera menyimpan nomor pengirim pesan tersebut di handphonenya kemudian mengirimkan bukti pesan itu.
"Iya benar kamu bilang. Coba kirim juga ke Papa, biar Papa juga bisa bantu cari tau informasinya" perintah Pak Ardianto.
"Baik Pa, aku akan kirim ke handphone Papa" jawab Refan.
"Gimana keadaan kamu sekarang?" tanya Suci.
"Udah mendingan Ma, aku hanya lemas" jawab Kinan.
"Ya sudah istirahat aja dulu. Sebentar Mama buatkan minuman hangat untuk kamu ya" ujar Bu Dhisti.
"Iya Ma, terimakasih" balas Kinan.
Pak Ardianto, Bu Dhisti dan Bu Suci perlahan mulai meninggalkan kamar Refan dan Kinan agar Kinan bisa istirahat.
Refan mendekati Kinan yang masih berbaring di tempat tidur dan mengelus lembut perut Kinan. Kemudian Refan menarik tangan Kinan dan menggenggamnya.
"Mulai saat ini jangan pernah ada lagi yang kamu sembunyikan padaku ya.. yakinlah aku akan menjaga kamu dan Salman dengan sekuat tenagaku. Kemananan kalian adalah yang utama untukku apalagi kamu sedang hamil anak - anakku. Aku tidak mau lagi kehilangan orang penting dalam hidupku. Kamu dan Salman adalah orang yang sangat penting Nan.. dalam hidupku " tegas Refan.
"Iya Mas.. Aku tidak akan merahasiakan apapun lagi kepada kamu" jawab Kinan.
"Ya sudah kamu istirahat ya" ujar Refan.
Tak lama lama Suci datang membawa secangkir teh hangat untuk Kinan. Refan membantu Kinan meminum teh yang baru saja dibawa Suci dari dapur.
"Terimakasih ya Ma, maaf jadi ngerepotin Mama" ucap Kinan.
"Gak apa - apa Nan. Yang penting kamu dan anak - anak kamu sehat" jawab Suci.
__ADS_1
"Mama keluar ya, mau siap - siap shalat maghrib" sambung Suci kemudian.
"Iya Ma" jawab Refan.
Kinan duduk bersandar di dinding tempat tidurnya. Masih sedikit lemas tapi keadaannya sudah mulai pulih.
"Mas gak ke mesjid shalat maghribnya?" tanya Kinan.
"Kamu masih belum pulih" jawab Refan.
"Gak apa - apa Mas, aku sudah baikan. Aku juga mau siap - siap shalat maghrib" balas Kinan.
"Ya sudah kalau begitu Mas bantu kamu wudhu ke kamar mandi ya. Setelah itu baru Mas pergi ke mesjid sama Papa" ajak Refan.
"Iya Mas" jawab Kinan.
Refan segera menuntun Kinan ke kamar mandi dan membantunya untuk berwudhu. Setelah itu Kinan kembali ke kamarnya.
"Kamu shalatnya duduk aja ya di tempat tidur. Tubuh kamu masih lemah, mas takut kamu jatuh" pesan Refan.
"Iya Mas" sambut Kinan.
Refan membantu Kinan untuk memakai mukena dan mengambil posisi yang nyaman untuk shalat di atas tempat tidur.
Setelah itu baru Refan kembali ke kamar mandi dan berwudhu baru setelah itu dia bersiap mau pergi shalat maghrib ke mesjid.
"Pa yuk kita ke mesjid" Refan mengajak mertuanya.
"Kinan gak apa - apa di tinggal Fan?" tanya Pak Ardianto.
"Gak apa - apa Pa dia sudah bersiap shalat di atas tempat tidur aja. Ma titip Kinan ya, sese(kali tolong lihatin dia di kamar. Aku takut dia butuh sesuatu tapi tubuhnya masih lemas. Jangan sampai dia jatuh dan pingsan lagi" pesan Refan.
"Iya Fan, nanti Mama dan Mama kamu akan gantian lihat Kinan di kamar" sambut Dhisti.
Refan berangkat ke Mesjid bersama Salman dan Ardianto. Karena letak mesjid tak jauh dari rumah, mereka hanya berjalan kaki saja menuju ke mesjid.
Setelah selesai shalat dalam perjalanan menuju rumah Refan dan Pak Ardianto saling berbincang-bincang.
"Maaf Pak, kalau saya bertanya pada Kinan saya takut Kinan akan kembali sedih mengingat kejadian meninggalnya almarhum suaminya. Sebenarnya bagaimana terjadinya kecelakaan yang Bima alami sehingga di sampai meninggal dunia?" tanya Refan.
Pak Ardianto menarik nafas panjang kemudian mengingat kejadian kurang lebih satu tahun silam.
"Saat itu Bima sedang tugas ke Bandung. Biasanya Bima selalu melalui jalan tol tapi karena ada beberapa pekerjaannya yang harus dia pantau ke daerah-daerah sehingga Bima memilih jalur jalan lintas. Mobil Bima masuk ke dalam jurang. Bima mengalami kecelakaan yang sangat parah sehingga polisi memastikan saat itu Bima meninggal di tempat kejadian kecelakaan. Tubuh Bima mengalami benturan yang sangat kuat dan dia mengalami pendarahan yang sangat berat" ungkap Pak Ardianto.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG