
Bimo kembali mengantarkan Reni ke kantor Refan. Sesampainya di depan loby kantor.
"Sampai jumpa lagi bidadari surgaku. Secepatnya Mas akan panggil Bapak dan Ibu datang ke Jakarta untuk bertemu Ibu kamu dan Refan. Kami akan datang untuk melamar kamu secara resmi" ujar Bimo.
"Iya Mas, nanti pelan - pelan aku akan cerita sama Mas Refan dan Ibu" sambut Reni.
"Mas juga nanti akan bicara berdua dengan Refan untuk meminta izinnya menikahi kamu" balas Bimo.
Reni tersenyum manis.
"Terimakasih ya Mas" ucap Reni.
"Mas yang harusnya mengatakan itu, terimakasih karena kamu sudah mau menerima lamaran Mas" ulang Bimo.
"Ya sudah Mas aku turun ya" ujar Reni.
"Hati - hati ya pulangnya dan jangan lupa nanti malam handphonenya di ganti. Biar kita kompakan pakainya" ucap Bimo mengingatkan.
Reni kembali tersenyum bahagia sehingga menular kepada Bimo.
"Mas juga hati - hati ya. Assalamu'alaikum... " Reni turun dari mobil.
"Wa'alaikumsalam" balas Bimo.
Bimo melajukan mobilnya keluar dari area gedung kantor Reni. Reni masuk ke dalam kantor dengan sangat ceria.
"Ehm... sepertinya ada yang sedang bahagia" sindir sebuah suara.
"Mas Refaaaan... " pekik Reni terkejut.
"Segitunya terkejutnya" sindir Refan.
Refan berjalan mendekati Reni dan melihat semua barang - barang bawaan Reni.
"Kamu baru belanja sama Bimo?" tanya Refan penasaran.
"Nggak, Mas Bimo yang belikan aku semua ini" jawab Reni.
"Banyak banget, kamu pinta sama dia?" tanya Refan.
"Nggak Mas, dia sendiri yang beliin aku semua ini. Aku gak pernah minta dibelikan sama Mas Bimo" elak Reni.
"Baik banget Bimo sama kamu" ujar Bimo penasaran.
"Baik donk dia kan.... " balas Reni.
"Hei.. kamu juga pakai cincin baru. Siapa yang kasih cincin ini ke kamu, Bimo? Jangan.. jangan.. Bimo sudah melamar kamu?" tanya Bimo terkejut dan tak percaya.
Wajah Reni bersemu merah karena malu.
"Benarkah Ren?" tanya Refan untuk meyakinkan.
__ADS_1
Reni hanya menganggukkan kepalanya sambil tertunduk.
"Aaah kamu harus bicara sama Mas, yuk keruangan Mas" Refan menarik lembut adiknya itu menuju lift dan langsung ke ruangan kerjanya.
Akhirnya mereka sampai di ruangan Refan.
"Sekarang cerita sama Mas apa yang terjadi dengan kalian?" tanya Refan.
Wajah Reni seketika merasa khawatir karena wajah Refan berubah jadi serius.
"Mas bilang Mas tidak akan melarang hubungan aku dan Mas Bimo" ucap Reni.
"Iya benar, tapi apakah kamu yakin Bimo sudah bisa seutuhnya melupakan istrinya? Mas gak mau kamu hanya dijadikan pelariannya dari rasa sepi dan rasa bersalahnya" sambut Refan.
"A.. aku melihat keseriusan dari sikap Mas Bimo Mas. Mbak Kinan memberi pesan kepadaku untuk mencintainya tulus tanpa terlalu berharap dia akan membalas cintaku. Tapi ternyata cintaku berbalas Mas. Mas Bimo janji akan segera datang melamar ke rumah. Bapak dan Ibu akan datang ke Jakarta untuk bertemu Mama. Mas Bimo juga katakan akan menemui Mas dan akan bicara berdua dengan Mas tentang hubungan kami" ungkap Reni.
"Apakah kamu bahagia dek?" tanya Refan serius.
"Apakah Mas tidak melihatnya?" tanya Reni.
"Ya.. Mas melihat semuanya tapi Mas takut setelah ini kamu akan kecewa dek" jawab Refan.
"Doakan aku tidak salah memilih Mas. Dan jika aku salah, doakan agar aku bisa melewati semua kekecewaan dan kesedihanku. Aku yakin bukan hanya aku saja yang pernah terluka dan kecewa. Mas juga pernah dan Mas bisa melewatinya. Kalau Mas bisa mengapa aku tidak? Mungkin benar seperti yang Mas katakan dulu. Pasti sangat sakit dan berat tapi hidup akan terus berjalan kan Mas. Seiring berjalannya waktu aku akan belajar dan kuat dengan sendirinya" ungkap Reni.
Refan mengelus lembut kepala adiknya.
"Adik Mas sudah dewasa ternyata" ujar Refan.
"Makasih ya Mas... Mas sudah mau mendukung semua keputusanku" ungkap Reni.
"Sebagai seorang Kakak tugas Mas akan selalu ada disamping kamu dan mendukung kamu. Namun kalau kamu tersakiti Mas akan segera pindah di depan kamu menjadi tameng dan pembela kamu" ujar Refan.
"Tunggu kabar dari Mas Bimo ya Mas. Katanya dia akan segera bicara dengan Mas tentang hubungan kami. Sekali lagi terimakasih banyak. Aku balik ke ruangku ya.. " ucap Reni.
"Kembalilah bekerja. Mas akan mengurus semua demi masa depan kamu" sambut Refan.
Reni bediri dan berjalan keluar dari ruangan kerja Refan. Refan menatap kepergian adiknya itu dengan hati bahagia.
Dia tau Bimo adalah pria yang baik, mapan dan bertanggung jawab. Bimo juga sudah berubah menjadi pria soleh. Refan hanya tinggal memastikan apakah Bimo sudah bisa move on dan melupakan masa lalunya atau tidak. Dia tidak ingin adiknya terluka karena hal itu.
Tiba - tiba handphone Refan berdering. Refan melirik ke layar handphonenya.
Panjang umur, baru saja di ceritain udah muncul namanya di layar ponselku. Batin Refan.
Refan segera mengangkat telepon dari Bimo.
"Assalamu'alaikum Bim" ucap Refan memulai pembicaraan mereka.
"Wa'alaikumsalam. Sedang sibuk Fan? apakah aku mengganggu waktu kamu?" tanya Bimo.
"Tidak, aku baru saja selesa istirahat dan baru balik ke kantor" jawab Refan.
__ADS_1
"Fan nanti sore bisa tidak kita ketemuan, aku mau membicarakan sesuatu yang penting dengan kamu" pinta Bimo.
"Bisa, jam betapa?" tanya Refan.
"Sepulang kamu kerja saja ya. Kita langsung ketemuan di lokasi ya Fan. Nanti aku share lokasinya" jawab Bimo.
"Baiklah, kalau begitu jam lima sore ya. Aku sudah keluar kantor sekitar jam empatan" sambut Refan.
"Baiklah kalau begitu. Dah ya Fan, Assalamualaikum.. " Ucap Bimo mengakhiri teleponnya.
"Wa'alaikumsalam" jawab Refan menutup teleponnya.
Bimo langsung mengirim pesan kepada Reni.
Bimo
Assalamu'alaikum bidadari surgaku.. Mas nanti sore akan bertemu dengan Kakak kamu Refan. Bisa gak Mas minta tolong sama kamu untuk jemput Bela?
Reni
Wa'alaikumsalam calon imamku.. InsyaAllah bisa. Nanti aku kabari Bela ya Mas. Aku akan jemput dia sepulang kerja.
Bimo
Oke, makasih ya Ren... Doakan semoga Mas bisa meyakinkan Kakak kamu ya.
Reni
Mas pasti bisa. Semangat 💪💪💪
Bimo
😀😁😍
Bimo tersenyum bahagia melihat layar handphonenya. Dia tidak menyangka kalau dia akan seperti ini lagi. Ternyata cinta bisa membuat dirinya merasa kembali muda.
Bimo lupa mengabari adiknya, pasti Bela sudah menunggu - nunggu kabar darinya. Bimo langsung menghubungi Bela.
"Assalamu'alaikum Bel" ucap Bimo memulai pembicaraan
"Wa'alaikumsalam. Gimana Mas, berhasil? Reni terima perasaan Mas kan? Reni akan segera menjadi kakak iparku kan?" tanya Bela tak sabar.
"Tenang.. tenang... satu - satu ya Mas jawab. Rencana kita berhasil, Reni membalas perasaan Mas dan tadi Mas sudah melamarnya. InsyaAllah sebentar lagi Reni akan menjadi kakak ipar kamu" jawab Bimo bahagia.
"Alhamdulillah... selamat ya Mas.. aku sangat senang sekali mendapat kabar ini. Dari tadi aku sudah menunggu - nunggunya. Mau telepon Mas tapi takut mengganggu Mas. Siapa tau Mas dan calon Kakak iparku lagi mesra - mesraan. Kan gak enak kalau aku mengganggu" sambut Bela ikut bahagia.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1