
Kinan dan Salman sudah pergi diantar oleh Papanya. Sedangkan Bela dan Ela pagi - pagi sudah dijemput Aril ke rumah Refan dan diantar ke kantornya.
Refan bersama - sama dengan Bimo dan Bapak Akarsana pergi ke kantor polisi dan bertemu dengan pengacara Refan di sana.
"Selamat pagi Pak Refan, Pak Bimo dan Pak Akarsana" sambut pengacara begitu mereka sampai di kantor polisi.
"Pagi Pak" jawab Refan, Bimo dan Pak Akarsana.
"Bagaimana Pak apakah Anda sudah siap bertemu dengan pelakunya?" tanya sang Pengacara.
"InsyaAllah siap" jawab Bimo.
"Kalau begitu mari kita masuk" ajak Pengacara.
Refan, Bimo dan Bapak Akarsana bersama Pengacara masuk ke dalam kantor polisi dan langsung ke tempat pertemuan mereka dengan pelaku penabrak Bima.
Saat pintu terbuka dan mereka masuk ke dalam ruangan Bimo terlihat sangat terkejut.
"Napo" ucap Bimo.
"Ri.. Ricardo Yacob... Kamu masih hidup?" tanya pria itu tak kalah terkejutnya seperti Bimo.
"Jadi kamu orangnya? Kamu yang ingin membunuhku?" tanya Bimo.
"Bagaimana kamu masih hidup?" tanya pria itu bingung.
"Kamu salah orang. Yang kamu bunuh adalah saudara kembarku" jawab Bimo kesal.
"Ka.. kamu kembar?" tanya Pria itu tak percaya.
"Mengapa kamu melakukannya Napo? Kamu kan saudara Elliah? Mengapa kamu ingin membunuhku?" tanya Bimo.
"Kamu sudah membunuh saudara sepupuku. Wanita yang selama ini aku cintai" jawab pria itu tanpa rasa bersalah.
"Kamu mencintai Elliah?" tanya Bimo terkejut.
"Ya.. sejak kecil aku dan Elliah sudah di jodohkan dan aku sudah mencintainya sejak kecil. Tapi dia bertemu dan menikah dengan kamu. Saat itu walau berat aku tetap menerimanya karena Elliah mencintai kamu. Aku mengalah asal Elliah bahagia tapi kamu tidak bisa menjaganya. Malah kamu sengaja meminjamkan mobil kamu agar Elliah kecelakaan" jawab Pria itu.
"Itu tidak benar, aku tidak membunuh Elliah. Semua murni kecelakaan. Polisi sudah memeriksa semuanya dan tidak ada bukti bahwa aku membunuhnya" bela Bimo.
__ADS_1
"Semua orang tau kamu menikahinya karena mengingkan harta keluarga kami kan?" tantang Napo.
"Salah, kamu salah. Aku benar - benar mencintai Elliah" protes Bimo.
"Hahaha itu hanya alasan agar keluarga kami percaya" jawab Napo.
"Harta keluarga kalian yang mana yang aku ambil hah? Sedikitpun aku tidak pernah menyentuh harta kalian. Walau disaat tersulit sekalipun, walau Elliah menangis memintaku untuk memakai harta keluarganya tapi aku tidak pernah goyah. Sedikitpun aku tidak pernah memakainya. Kamu dan keluarga kamu bisa memeriksanya. Semua harta Elliah yang diberikan oleh orang tuanya masih tetap atas nama Elliah tidak ada yang berubah. Aku tidak pernah menyentuhnya bahkan niat sekali pun tidak pernah aku pikirkan" tegas Bimo.
"Hahaha.... kamu bodoh Ricardo. Bodoh sekali... " ejek Napo.
"Terserah kamu mau bilang apa tapi memang itulah kenyataannya. Aku tulus mencintai Elliah. Bukan hanya kalian saja yang kehilangan Elliah tapi aku.. aku lebih terluka. Demi menikahinya aku meninggalkan semuanya. Bahkan keluarga dan jati diriku yang dulu aku tinggalkan" ujar Bimo dengan mata berkaca - kaca dan penuh emosi membara.
"Hahaha... " tawa pria itu sedikitpun tidak merasa takut padahal dia sedang berada di kantor polisi.
"Siapa yang menyuruh kamu membunuhku? Papi?" tanya Bimo.
"Hahaha... bukan hanya Papi, tapi aku sendiri juga memang ingin membunuh kamu" jawab Napo.
"Sayang kamu tidak benar - benar mati. Kalau tidak aku pasti akan sangat puas, mati di penjara pun aku rela" sambung Napo.
"Pria gila" umpat Refan geram.
"Dengar Pak Polisi, kalian sudah catat semua pengakuannya kan? Ini sudah cukup untuk menjebloskannya ke penjara" ucap Pengacara.
Bimo masih mengenal kedua tangannya karena menahan emosi. Matanya terlihat memerah. Pak Akarsana sangat tau apa yang dialami putranya saat ini.
Beliau langsung menyentuh bahu Bimo.
"Sudah.. sudah.. kita sudah tau apa motifnya dan alasannya membunuh kamu. Kita sudah tau siapa pelaku dan dalang pembunuhan Bima. Selanjutnya kita serahkan saja semua kepada pihak berwajib. Mereka pasti akan melakukan yang terbaik" ucap Pak Akarsana dengan bijak.
Nafas Bimo memburu kencang, sangat sulit menenangkan hatinya yang sedang kacau saat ini. Walau kematian Elliah sudah berlalu dua tahun yang lalu tapi masih sangat menyisakan sakit di hatinya.
Apalagi setelah itu dia harus kehilangan saudara kembarnya karena dirinya sendiri. Air mata Bimo hampir saja jatuh saat itu.
"Aku permisi kebelakang sebentar " ucap Bimo.
Bimo segera balik arah dan keluar dari ruangan itu. Dia berjalan sambil menunduk dan menyeka air mata yang terus mengalir dari sudut matanya.
Bimo berjalan ke arah kamar mandi dan di dalam kamar mandi dia mencurahkan semua kesedihannya. Ternyata dua tahun berlalu tidak bisa menghapus rasa sakit dan rasa bersalahnya atas kematian istri dan saudara kembarnya.
__ADS_1
Saat Bimo sudah mulai tenang, dia mencuci mukanya dan keluar dari kamar mandi. Begitu dia membuka pintu kamar mandi Bimo langsung melihat Bapaknya sedang menunggunya di depan kamar mandi.
"Kamu sudah lebih tenang?" tanya Pak Akarsana lembut.
Seketika pertahanan Bimo kembali runtuh, dia segera memeluk Bapaknya erat.
"Aku sudah menyebabkan Elliah dan Bima meninggal Pak" ucapnya sedih.
Pak Akarsana membalas pelukan Bimo dan menepuk punggung Bimo untuk memberi ketenangan.
"Semua sudah ketentuan Allah Bim. Walau sakit tapi pasti ada hikmah dibalik semuanya. Kematian istri kamu membuat kamu meninggalkan Papua dan kematian saudara kamu membuat kamu menemukan jalan untuk kembali pulang. Bapak ikhlas Nak, atas apa yang terjadi dengan saudara kamu. Kamu yang harus mengikhlaskan mereka. Hidup terus berlanjut, jalan kamu masih panjang. Bima juga pasti senang melihat kamu kembali pulang" sambut Pak Akarsana.
Bimo masih terisak memeluk Pak Akarsana.
"Kalau kamu malu untuk bertemu dengan pria tadi, sudah tak usah temui dia lagi. Yang penting kita sudah tau jalan ceritanya, apa alasan dia mengincar nyawa kamu dan siapa juga dalangnya" ucap Pak Akarsana.
"Aku akan menemuinya lain kali Pak. Saat ini aku belum siap. Aku tidak mau dia melihat aku dengan keadaan seperti ini. Dia pasti akan sangat senang melihat aku menderita seperti ini" ungkap Bimo.
"Iya Nak, apapun yang kamu inginkan akan Bapak dukung. Karena hanya tinggal kamu putra Bapak satu - satunya" sambut Pak Akarsana.
"Terimakasih Pak" balas Bimo.
Bimo dan Pak Akarsana keluar dari kantor polisi dan menunggu Refan dan pengacaranya di luar kantor polisi.
Satu jam kemudian Refan dan Pengacara keluar dan menghampiri Bimo dan Pak Akarsana.
"Masalah ini akan segera di proses apalagi pria itu sudah mengakui perbuatannya. Kita akan bertemu dengannya lagi nanti di pengadilan" ucap Refan.
"Terimakasih Fan, terimakasih" jawab Bimo.
Refan bisa melihat dari tatapan mata Bimo kalau Bimo masih terluka ketika bertemu dengan pria tadi. Mungkin dia tidak menyangka ternyata orang yang ingin membunuh dirinya adalah keluarga dekat dari almarhumah istrinya.
Satu lagi pelajaran hidup yang bisa dipetik dalam masalah ini. Cinta bisa membuat manusia buta dan gila. Sehingga melupakan semua aturan hidup ini. Bahkan sampai melampaui batas dan aturan yang Allah tetapkan.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1