
Malam harinya setelah mereka selesai makan malam dan Naila juga sudah tidur dengan tenang di atas tempat tidur tiba - tiba pintu kamar rawat inap Naila di ketuk.
"Masuuuk" ujar Refan.
Tak lama muncul para sahabat Reda, Romi, Riko, Ariel dan Bagus beserta istrinya Bagus.
"Eh kalian rupanya yang datang" ucap Refan terkejut.
Para sahabat Refan masuk dan segera menghampiri Refan dan Naila.
"Kami di kabari Riko katanya anak kamu sakit? Jadi kami janjian datang ke sini" ujar Bagus.
"Iya kemarin gak sengaja ketemu Riko di Restoran saat aku beli makan malam untuk kami berdua" jawab Refan.
Refan memperhatikan gerak - gerik Riko. Kemarin tanpa sengaja Refan melihat sikap Riko sedikit aneh ketika Riko mendengar kabar bahwa Naila sakit. Saat ini Riko juga sedang melihat putrinya dengan tatapan aneh.
Apakah? Oh ya Allah aku tak tau apa yang akan aku lakukan pada Riko jika tau dialah Papa kandung Naila. Batin Refan.
"Silahkan duduk" ucap Refan pada teman - temannya.
Ayu istrinya Bagus menghampiri Kinan yang sedang menemani Naila tidur.
"Apa diagnosis Dokter Nan?" tanya Ayu.
"Kelelahan Yu" jawab Kinan.
"Kok bisa kelelahan? Kan Naila di rumah aja kan? Kemarin waktu kami datang dia malah sudah tidur?" tanya Ayu penasaran.
"Paginya Naila di bawa Mas Refan ke rumah Omanya, Mamanya almarhumah Renita. Di sana lagi ada acara keluarga dan Mamanya Almarhumah Renita meminta Naila menginap hari sebelumnya tapi Mas Refan gak kasih izin. Jadi pagi Naila di antar ke rumah mereka seharian di sana, udah sore baru diantar pulang. Kata Bik Nah di saja Naila memang kurang tidur, mungkin mereka lagi kangen sama Naila" jawab Kinan.
"Ih sekangen apapun tapi namanya anak - anak kan memang harus lebih banyak tidur. Kasihan jadinya kan" sambut Ayu.
Kinan hanya bisa tersenyum membalas ucapan Ayu.
"Kalau menurut aku Fan, mengingat keadaan Naila yang seperti ini. Kami lebih membatasi keluarga Renita untuk membawa Naila. Kasihan kan korbannya jadi Naila. Kita mah orang besar gak kerasa kalau kurang istirahat hanya sehari tapi anak - anak kasihan banget. Lihat masih bayi udah di infus, di cucuk jarum tangannya. Pasti sakit banget itu" ujar Bagus.
"Tapi aku tidak mencegahnya Gus, mereka kan punya hubungan darah. Gak mungkin aku melarang mereka ingin bertemu Naila" jawab Refan.
"Kamu harus tegas, kalau tidak Naila akan sering mengalami hal seperti ini. Kamu mau setiap Naila dibawa sama Omanya Naila berakhir di rumah sakit?" tanya Romi.
"Ya gak mau Rom" jawab Refan.
"Kamu harus tegas" sambung Bagus.
"Ya memang kemarin aku sudah bilang juga sama Mamanya Almarhumah Renita. Kalau kangen sama Naila cukup datang ke rumah aja. Naila gak bisa di bawa - bawa lagi" tegas Refan.
__ADS_1
"Trus mereka bisa terima?" tanya Riko.
"Kamu kyak gak kenal aja Mamanya Renita Ko" balas Refan.
"Iya, mana mau dia menerima semua itu dengan mudah. Mamanya Almarhumah Renita kan cerewet. Dulu aja waktu kita kuliah pertama kali ajak Renita keluar malam Mamanya ngomel panjang banget. Iiih aku sempat trauma ketemu Mamanya" sambut Romi.
"Hahaha.... sampai - sampai kalau kita mau jemput Renita ke rumahnya kamu selalu nunggu di mobil aja kan?" sindir Riko.
"Iya" Romi menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Riko mendekat ke tempat tidur dan memperhatikan wajah Naila yang sedang tidur.
"Wajahnya mirip banget sama Renita ya Fan?" tanya Riko.
Lagi - lagi Refan memperhatikan sikap Riko. Walau dia berusaha untuk tidak suudzon tapi Refan tidak bisa membuang rasa curiganya kepada Riko.
"Kok kamu ngeliatin Naila sampai segitunya Ko, udah pengen punya anak? Makanya cepetan nikah biar cepat juga punya momongan" sindir Bagus.
Riko hanya tersenyum membalas ucapan Bagus.
"Cepat sembuh ya Naila biar bisa main lagi sama Kak Salman di rumah" ujar Ayu.
"Makasih tante" jawab Kinan.
"Kinan kelihatan banget ya Fan sayang sama Naila" ucap Aril.
"Kamu harus banyak bersyukur Fan, aku lihat sejak menikah dengan Kinan hidup kamu semakin berubah lebih baik. Kamu terlihat lebih terawat" sambut Bagus.
"Nan.. kamu punya teman atau sodara lagi gak yang seperti kamu?" tanya Aril.
"Maksud kamu?" tanya Kinan.
Kinan tau teman - teman Refan sebaya dengannya karena Kinan dan Refan juga seumuran. Sekarang Kinan sudah lebih nyaman bertemu dan berkumpul dengan teman - teman Refan.
"Kalau ada saudara dan teman kamu yang seperti kamu aku mau lho Nan, mau nikah maksudnya" ujar Aril bercanda.
"Kamu bercanda aja bisanya" sindir Bagus.
"Ih aku gak bercanda, aku serius lho Gus. Aku rela tinggalkan wanita - wanita itu demi wanita seperti Kinan" balas Aril.
"Enak aja... cari sana sendiri" ujar Refan.
Mereka ngobrol dan bercanda hingga malam semakin larut. Karena ini adalah rumah sakit mereka tidak bisa berlama - lama. Sekitar jam sembilan malam mereka pamit untuk pulang.
Sebelum pulang mereka berpamitan dengan Refan, Kinan dan Naila yang sedang tidur. Refan sangat terkejut ketika Riko berpamitan dengan Naila dia sempat mengelus lembut kepala Naila. Membuat hati Refan panas melihatnya. Tapi dia masih menyembunyikannya sebelum semua jelas dan Refan mempunyai bukti - bukti.
__ADS_1
Para sahabat Refan akhirnya pamit pulang. Kini Kinan dan Refan bisa istirahat dengan tenang.
Pagi harinya Dokter datang untuk memeriksa keadaan Naila. Demam Naila sudah turun, Naila juga terlihat sudah kembali bersemangat. Dokter memberikan izin untuk pulang kepada mereka.
"Bagaimana Dok, apakah hari ini kami sudah boleh pulang?" tanya Refan.
"Sudah, hari ini anak Bapak sudah bisa di bawa pulang. Ingat ya Pak, tolong perhatikan waktu istirahat dan juga jadwal susunya" jawab Dokter.
"Baik Dok.." balas Refan.
"Saya pamit dulu Pak" ujar Dokter.
"Terimakasih Dok" jawab Refan.
Dokter berjalan keluar dari ruang rawat inap Naila.
"Silahkan di urus administrasinya ya Pak" perintah Perawat.
"Baik Sus" jawab Refan.
Perawat juga pergi meninggalkan ruangan Naila menyusul sang Dokter.
"Waaah anak Mama sudah sembuh.. Kita sudah boleh pulang" ujar Kinan senang.
"Aku ke ruangan administrasi ya Nan, ngurus administrasi Naila" ujar Refan.
"Iya Mas, aku sekalian beres - beres barang - barang kita ya" Jawab Kinan.
"Ya sudah, tapi hati - hati Nailanya ya Nan" balas Refan.
Refan segera keluar dari kamar Naila dan berjalan menuju ruangan administrasi untuk mengurus berkas - berkas kesehatan Naila. Setelah selesai membayar semua tagihan Rumah Sakit, Refan kembali menuju kamar Naila.
Di dalam kamar Refan mendapati Kinan sedang memasukkan barang - barang mereka ke dalam tas. Sedangkan Naila bermain di atas tempat tidur. Refan segera membantu istrinya.
"Udah selesai Mas?" tanya Kinan.
"Ya sudah kalau begitu kita pulang yuk.. " Refan mengangkat koper yang berisi pakaian mereka. Sedangkan Kinan menggendong Naila, mereka keluar dari kamar menuju pintu keluar rumah sakit.
Saat mereka berjalan melewati loby Rumah Sakit tanpa sengaja Refan melihat Talita sedang berjalan menuju ruang administrasi.
"Mama... ngapain Mama berjalan ke arah sana?"...
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG