
Refan mengambil buket bunga itu dan menciumnya.
Bunganya wangi dan masih segar, itu artinya orang yang meletakkan bunga ini baru saja datang ke makam ini. Batin Refan.
Refan melihat sekeliling pemakaman. Tapi dia tidak melihat siapa - siapa di sekitar pemakaman ini.
Refan meletakkan kembali buket bunga itu di tepian makam. Kini pandangannya tertuju pada nama di batu nisan Renita. Refan kembali teringat tujuan dia datang ke makam ini. Dia ingin meluapkan isi hatinya.
Refan berjongkok di pinggir makam. Wajahnya kembali sendu. Suasana hening dan angin dingin yang terasa menyucuk. Membuat bulu kuduk Refan berdiri.
Sore itu hari memang sedang mendung, mungkin sebentar lagi akan turun hujan.
"Ren apa yang terjadi dengan rumah tangga kita selama ini? Mengapa kamu mengkhianatiku? Tidak cukupkah besarnya rasa cintaku yang aku berikan kepada kamu? Mengapa kamu melakukan semua ini padaku? Aku mencintai kamu tanpa syarat Ren, aku menerima semua kekurangan kamu, mengikuti semua keinginan kamu dan membebaskan kamu memilih jalan masa depan kamu. Kamu ingin terus bekerja, silahkan. Kamu tunda punya momongan aku tidak masalah. Kamu tidak pinter memasak dan mengurus rumah tidak masalah bagiku. Ternyata aku salah Ren.. aku salah terlalu mempercayai kamu, terlalu menyayangi kamu dan terlalu lemah di hadapan kamu" Refan kembali menangis.
Kini dia benar - benar menumpahkan semua isi hati yang mengganjal di dalam hatinya.
"Kamu hapus rasa cintaku seketika dengan cara menyakiti hatiku Ren. Kamu kejam... sangat kejam.. Mengapa kamu lakukan semua ini padaku?" Refan kembali terisak.
"Tidak cukup aku saja dalam hidup kamu Ren? Tidak cukupkah kasih sayang dan cinta yang aku berikan hingga kamu bermain di belakangku seperti ini? Sakit Ren.. sakit. Kamu. menyakiti aku sangat dalam" Refan semakin menunduk dan menangis.
Saat ini dia benar - benar hancur. Harga dirinya sebagai laki - laki telah tersakiti. Di kecewakan dan di khianati oleh wanita yang paling dia cintai selain Mamanya di muka bumi ini.
Refan lama menangis di depan pusara Renita. Hatinya masih belum lega dan tenang. Sebenarnya dia sangat marah tapi tidak tau harus marah pada siapa. Tidak mungkin dia marah pada pusara Renita.
Rasa marah itu dia lampiaskan Refan dengan tangisan. Mungkin jika ada yang melihat keadaan Refan saat ini mereka pasti mengira Refan baru saja di tinggal mati istrinya.
Karena hari sudah semakin sore akhirnya Refan bergerak pulang. Dia membawa buket bunga itu dan membuangnya ke tong sampah. Tepat di dekat tong sampah Refan melihat ada seorang pria sedang membersihkan dan membakar sampah. Mungkin dia adalah penjaga makam ini.
"Kok di buang Nak bunganya? Sayang, bunganya masih cantik dan segar?" tanya Pria itu ketika Refan melemparkan buket bunga itu ke dalam tong sampah.
Refan memandang lama buket bunga itu. Kemudian beralih menatap pria tua itu.
"Bapak penjaga makam ini?" tangan Refan.
"Iya Nak" jawab Pria tua itu.
"Boleh saya tanya sesuatu?" tanya Refan.
"Silahkan" jawab pria tua itu lagi.
"Bapak lihat gak tadi ada orang yang bawa bunga itu dan membawanya ke makam itu" Refan menunjuk ke arah pusaranya Renita.
"Makam atas nama Renita Santoso?" tanya pria tua itu.
"Iya Renita Santoso" jawab Refan.
"Maaf ya, anak ini siapanya?" tanya pria itu sopan.
__ADS_1
"Saya suaminya" jawab Refan.
Pria itu tampak terkejut dan tatapannya sedikit aneh dan curiga.
"Kenapa Pak? Bapak gak percaya kalau saya suaminya?" tanya Refan balik.
"Bu.. bukan begitu nak. Saya selama ini memang heran dengan makan itu karena sering di datangi oleh beberapa orang laki - laki" ungkap pria tua itu.
"Beberapa laki - laki? Bisa Bapak hitung berapa orang?" tanya Refan terkejut.
"Anak ini yang ketiga. Ada dua orang pria yang beberapa kali datang ke makan Renita Santoso" jawab pria itu.
"Dua orang pria? Semuanya pria? Apakah pernah datang seorang wanita ke sini?" Refan menceritakan ciri - ciri mertuanya.
"Kalau wanita yang Anak ceritakan itu saya baru melihatnya satu kali" jawab pria itu jujur.
"Terus bagaimana ciri - ciri dua pria lagi Pak?" selidik Refan.
"Dua - duanya pria yang tampan dan bertubuh tegap. Gak jauh beda seperti tubuh Naaaak maaf siapa nama kamu?" ungkap Pria itu..
"Refan Pak, nama saya Refan" jawab Refan.
"Hanya saja yang satu kulitnya lebih gelap sedangkan yang satu lagi warna kulitnya mirip dengan Nak Refan" sambung pria itu.
Refan tampak sedang berpikir siapa pria dengan ciri - ciri seperti yang pria ini katakan. Tiba - tiba ponsel Refan berdering. Refan segera mengangkatnya karena itu panggilan dari Kinan. Siapa tau berita penting.
"Wa'alaikumsalam. Mas dimana?" tanya Refan.
"Aku lagi keluar sebentar" Refan masih enggan bercerita kepada Kinan kalau saat ini dia berada di makamnya Renita.
"Ada apa Nan?" tanya Refan.
"A.. anu Mas, udah mau maghrib. Naila sedang terbangun, aku gak punya teman gantian jagain Naila. Kalau Mas bisa sampai sebelum adzan maghrib kita bisa gantian shalatnya" jawab Kinan.
"Ya sudah aku kembali ke rumah sakit sekarang" balas Refan.
"Oke Mas, kamu hati - hati ya. Assalamu'alaikum" ujar Kinan.
"Wa'alaikumsalam.. " jawab Refan.
Refan menutup teleponnya dan menghampiri pria penjaga makam.
"Pak tolong perhatikan makam istri saya ya, saya titip" Refan menjabat tangan pria itu dan menyelipkan beberapa lembar uang berwarna merah.
"Nak apa ini? itu sudah tugas Bapak menjaga dan membersihkan semua makam di sini" tolak pria tua itu.
"Gak apa - apa, terimalah. Ini pemberian dari saya Pak" Refan tetap menyelipkan uang tersebut ke tangan pria tua itu.
__ADS_1
"Terimakasih Nak" jawab pria itu.
Refan segera meninggalkan tempat penguburan umum dimana Renita di makamkan. Dia masuk ke dalam mobilnya dan melaju menuju rumah sakit.
Di perjalanan menuju rumah sakit Refan singgah merasa perutnya lapar. Dia segera menghubungi Kinan.
"Halo Nan" sapa Refan.
"Ya Mas" sambut Kinan.
"Aku lagi dalam perjalanan menuju rumah sakit tapi sekarang perutku lagi lapar aku mau singgah membeli makanan. Kamu mau makan apa?" tanya Refan.
"Mmmm... aku pengen nasi goreng Mas" jawab Kinan.
"Nasi goreng kambing mau?" tanya Refan.
"Boleh.. boleh..." balas Kinan.
"Ya sudah, tunggu sebentar ya" ujar Refan.
Refan menutup teleponnya kemudian berhenti di tempat penjual nasi goreng kambing langganannya. Refan turun dari mobil dan berjalan menuju Restoran penjual nasi goreng tersebut.
Refan segera memesan nasi goreng kambing untuk dia bawa ke Rumah Sakit dan makan bersama Kinan sambil menjaga Naila.
"Fan" sapa seorang pria.
"Riko, ngapain kamu di sini?" tanya Refan.
"Biasa Fan" jawab Riko.
Refan sadar kalau sahabatnya Riko memang suka gonta ganti pacar. Pasti dia sedang kencan dengan para wanitanya.
"Kamu ngapain? Sendirian?" Riko balik bertanya.
"Iya aku mau beli nasi goreng pesanan Kinan. Mau aku bawa ke rumah sakit" jawab Refan.
"Rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Riko lagi.
"Naila Ko, Naila sakit dari tadi pagi" jawab Refan, wajahnya kembali sedih.
"Apa Naila sakit?"....
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1