
Keesokan harinya setelah sarapan pagi Kinan, Refan dan Suci bersiap - siap hendak menunggu kedatangan Papa dan Mamanya Renita.
"Mama adek mau dibawa kemana? Kok barang - barang adek semuanya di keluarkan?" tanya Salman bingung.
"Mulai hari ini adek tidak tinggal bersama kita lagi sayang" jawab Kinan.
"Lho kenapa Ma?" tanya Salman ingin tahu.
"Iya karena dia akan dibawa sama Opa dan Omanya. Mulai hari ini adek Naila akan tinggal bersama Opa dan Omanya" jawab Kinan bijak.
"Kenapa adek tinggal sama Opa dan Omanya? Aku saja bisa tinggal dengan Papa dan Mama bukan sama Opa dan Oma?" tanya Salman dengan pintarnya.
Kinan terdiam bingung mencari kata - kata yang tepat untuk pertanyaan anaknya. Refan yang mendengar pembicaraan Salman dengan istrinya langsung menghampiri Salman.
"Karena adek Naila spesial sayang. Opa dan Omanya hanya tinggal berdua. Gak ada teman lagi makanya Opa dan Omanya meminta adek Naila untuk tinggal bersama mereka. Nanti kalau Kakak Salman kangen adek, Kak Salman boleh kok ketemu sama adek Naila lagi" jawab Refan berusaha untuk menjawab dengan benar dan Salman bisa menerima penjelasannya.
"Benar ya Pa. Kalau aku kangen adek Naila kita harus ketemu sama dia" jawab Salman.
"Oke sayang" balas Refan dengan hati lega.
Tak lama mobil Papa Renita tiba di halaman rumah Refan. Mereka turun dan masuk ke rumah Refan.
"Assalamu'alaikum" mereka mengucap salam.
"Wa'alaikumsalam" jawab Refan dan keluarganya.
"Apakah Naila sudah siap Fan?" tanya Reno.
"Sudah Pa, semua barang - barang Naila juga sudah kami siapkan" jawab Refan.
Reno melihat semua barang - barang Naila termasuk Box bayi dan semua mainan Naila juga ikut dibawa.
"Mengapa kamu keluarkan semua Fan. Kami bisa membelinya kamu tidak perlu melakukan semua ini" ucap Reno.
"Maaf Pa, bukannya punya niat yang lain. Tapi sayang kalau semua barang - barang Naila gak kepake disini. Mubazir kan? Lebih baik di bawa ke rumah Papa lebih bermanfaat. Papa juga tidak perlu membelinya lagi" jawab Refan sopan.
Reno menarik nafas panjang.
"Ya sudah kalau begitu" sambut Reno.
"Oh ya Pa, kenalkan ini istriku sekarang, namanya Kinan" ucap Refan memperkenalkan Kinan kepada mantan mertuanya.
Kinan berjalan menghampiri Reno dan Talita dia menjabat tangan kedua orang tua Renita dengan santun dan hormat.
"Kinan Pak" ucap Kinan.
__ADS_1
"Reno" sambut Reno.
Reno melihat dan menilai, selera Refan memilih istrinya yang sekarang sungguh sangat berbeda dengan putrinya dulu. Tapi Reno bisa melihat kalau Kinan adalah perempuan yang baik dan sederhana. Tidak seperti putrinya yang manja dan gelamor.
"Kinan terimakasih kalau selama ini kamu sudah merawat dan mengasuh Naila dengan baik. Kami sangat bersyukur Naila sempat diasuh oleh kamu" ucap Reno.
"Saya juga sangat bersyukur pernah mengurus Naila Pak. Naila anak yang cantik dan baik budi, tidak rewel sama sekali" puji Kinan.
Reno tersenyum mendengar jawaban Kinan.
Sungguh wanita yang baik. Puji Reno dalam hati.
"Maaf Suci, Refan dan Kinan. Kami tidak bisa lama - lama. Banyak yang harus kami siapkan dalam menyambut Naila di rumah kami. Jadi kami lansung saja ya bawa Naila pulang" ucap Reno.
Refan dan Kinan terlihat sedih karena akan berpisah dengan Naila.
"Ma.. ambil Naila nya" perintah Reno.
Talita langsung berjalan mendekati Kinan dan mengambil Naila dari pelukan Kinan.
Naila yang sudah mengenal wajah orang sontak menangis karena merasa asing dengan wajah Talita.
"Oma.. Oma.. jangan bawa adek Naila" Salman mulai merengek dan menarik baju Talita.
Talita hanya diam dan tidak bisa berkata - kata.
"Dia anakku Pa, anak dari Kinan" jawab Refan.
"Oh Kinan ternyata sudaaaah... " sambut Reno.
"Iya Pa, Kinan janda anak satu. Suaminya meninggal karena kecelakaan" potong Refan segera.
Pantas dia terlihat sudah terbiasa mengurus anak. Ucap Reno dalam hati.
"Siapa nama kamu nak?" tanya Reno pada Salman.
"Salman Opa. Opa.. Opa.. jangan bawa adek Naila" cegah Salman.
"Maaf ya sayang.. Adeknya harus Opa bawa sekarang ya. Nanti kalau Salman kangen sama adek, Salman boleh kok ketemu sama adek lagi" bujuk Reno.
"Benar ya Opa" tanya Salman.
"Benar, Opa janji" Reno memberikan jari kelingkingnya kepada Salman dan Salman menyambutnya. Dia menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Reno.
Talita tampak kewalahan menenangkan Naila.
__ADS_1
"Cup.. cup.. sayang. Diam ya.. sekarang kamu akan tinggal sama Oma" ucap Talita.
Kinan tampak sedih dan mulai meneteskan air mata karena akan berpisah dengan Naila.
"Untuk pertama - tama mungkin akan seperti ini, tapi mudah - mudahan gak lama. Naila akan betah tinggal bersama kami" ucap Reno.
"Iya Pa.. Naila Baik budi ya Nak" Refan mencium wajah Naila sebelum berpisah untuk yang terakhir kalinya.
Dia juga tak kuasa menahan rasa sedihnya berpisah dengan Naila.
Suci, Bik Mar dan Bik Nah juga meneteskan air mata melihat adegan perpisahan antara Naila dengan Refan, Kinan dan Salman.
Mereka benar - benar menyayangi Naila dengan tulus dan sangat berat berpisah dengan Naila.
Kinan juga mencium wajah Naila untuk terakhir kalinya.
"Kamu baik - baik ya sama Oma, kuat dah sehat" ucap Kinan sambil menangis.
"Mama aku juga mau cium adek" punta Salman.
Kinan menggendong Salman agar dia bisa mencium Naila.
"Dah adek... jangan nangis di sana ya. Nanti kita ketemu lagi" ucap Salman sambil mencium pipi Naila.
Berat memang memisahkan mereka tapi semua ini harus dilakukan Reno. Karena dia tidak bisa membiarkan Refan mengasuh cucunya. Mengingat dosa - dosa anaknya saja sudah membuat Reno malu menatap Refan, apalagi kalau dia harus membiarkan cucunya yang bukan siapa - siapa Refan diasuh oleh Refan.
"Kami harus pergi ya Fan, Suci dan Kinan. Opa pergi ya Salman bawa adek Nailanya. Maaf ya Opa harus bawa adek kamu" ucap Reno sekali lagi.
Mereka saling berjabat tangan dengan perasaan haru. Suci, Bik Mar dan Bik Nah juga ikut mencium pipi Naila untuk salam perpisahan.
Mereka terus meneteskan air mata karena sedih melihat perpisahan ini.
"Baik - baik ya Naila" ucap Bik Nah dan Bik Mar.
Selama di dalam rumah Refan, Talita tidak bicara sedikit pun. Entah apa yang menyebabkannya seperti itu. Apakah dia masih angkuh atau malah karena malu makanya dia tidak bisa berkata - kata lagi. Refan tidak mau ambil pusing dengan tingkah laku mantan mertuanya itu.
Reno dan Talita keluar dari rumah sambil membawa Naila, mereka masuk ke mobil dan dibelakang mobil Reno sudah bersiap mobil pickup yang akan membawa semua barang - barang Naila.
Mobil mulai bergerak keluar rumah Refan. Air mata Refan semakin deras mengalir. Sungguh sangat berat perpisahan ini baginya.
Papa sangat menyayangimu Nak. Semoga ini jalan terbaik untuk kita dan kamu bahagia di sana. Batin Refan.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG