Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 92


__ADS_3

Talita terkejut mendengar penjelasan Refan tentang dua orang pria yang sering datang ke makam Renita Dia sama sekali tidak mengetahui hal itu karena dia memang jarang datang ke makamnya Renita karena kesibukannya.


"Mama mau mengatakan kalau aku menuduh sembarang dan fitnah gitu? Aku punya saksi Ma yang beberapa kali melihat kedua pria itu datang mengunjungi makam Renita. Aku bahkan menemukan buket bunga mawar kesukaan Renita di dekat nisannya. Itu bukan sebuah kebetulan Ma. Pria itu pasti punya hubungan yang sangat dekat dengan Renita sehingga dia mengetahui bunga kesukaan Renita" sambung Refan.


Talita masih terkejut dan hanya bisa diam mendengarkan penjelasan dari Refan. Selama ini dia mengira pernikahan Renita dengan Refan baik - baik saja karena dia melihat Refan berhitung menyayangi putrinya begitu juga dengan putrinya.


Kalau seandainya apa yang Refan katakan itu benar, mau di simpan kemana wajahnya. Dia dan keluarganya pasti sangat malu dengan perbuatan putri tunggalnya itu. Selama ini dia selalu bangga dengan putrinya.


Tiba - tiba Naila terbangun dan nangis.


"Sayaaang cucu Omaaaa" Talita langsung mengambil dan mengangkat Naila dari atas tempat tidur dan menggendongnya.


Kinan dengan sigap membuat susu Naila di dalam botol dodot. Setelah selesai Kinan memberikannya kepada Mamanya Almarhumah Renita.


"Ini Bu, Naila pasti haus" ujar Kinan.


Talita mengambil bot susu dari tangan Kinan dengan wajah ketus. Kinan hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan Mamanya Almarhumah Renita.


Kinan langsung menjauh dari Talita agar Talita lebih leluasa menggendong Naila sehingga Naila merasa nyaman dalam pelukan Omanya. Tapi ternyata hanya sebentar saja. Setelah susunya habis Naila kembali menangis.


Talita berusaha menenangkan Naila tapi tangis Naila belum juga berhenti. Kinan mendekati Talita.


"Sini bu biar saya saja yang gendong" pinta Kinan


"Kamu meragukan keahlianku. Aku juga pernah punya anak jauh sebelum kamu. Aku lebih berpengalaman dari pada kamu" jawab Talita.


Kinan diam dan tidak berani lagi meminta Naila tapi dia sangat kasihan melihat Naila terus menangis. Refan juga ingin memintanya tapi dia tidak ingin bertengkar dengan mertuanya di depan Naila. Nanti Naila jadi ketakutan dan tidak berhenti menangis.


Talita menggendong Naila dengan berbagai gaya dan goyangan tapi Naila tetap saja menangis dan tidak mau diam.


"Cup.. cup.. sayang.. sini sama Oma ya.. " bujuk Renita.

__ADS_1


Lima menit berlalu Talita semakin panik karena Naila tidak juga berhenti menangis. Sementara Kinan sudah gelisah dan ingin sekali mengambil Naila dari gendongan Talita.


Sepuluh menit berlalu...


"Ma.. tolong Naila berikan pada Kinan. Kasihan Ma dia sudah menangis dari tadi" bujuk Refan.


Talita tampak tak suka, dia merasa di remehkan karena tidak bisa menenangkan Naila. Talita terus menggendong Naila tapi Naila malah semakin kencang nangisnya.


"Ma.. tolong jangan egois. Naila yang di korbankan karena sikap keras kepala Mama. Kalau nangis terus dia bisa sakit lagi Ma" ucap Refan dengan suara yang lebih tinggi.


Akhirnya Talita menyerah dan memberikan Naila ke dalam gendongan Kinan. Begitu Kinan memeluk Naila, sontak Naila langsung terdiam sambil sesegukan.


"Sayang Mama... jangan nangis ya.. ada Mama di sini sayaaang" bujuk Kinan.


Perlahan - lahan karena letih Naila mulai memejamkan matanya dan kembali tertidur. Talita melihat kejadian itu dengan matanya sendiri. Dengan mudahnya Kinan bisa menenangkan bahkan menidurkan Naila dalam pelukan dan gendongannya.


Refan sebenarnya sangat kesal sekali melihat tingkah mantan mertuanya itu tapi kalau dia mengusir itu sangat mustahil mengingat Naila adalah cucunya Talita tambah lagi dengan kejadian yang sebentar lagi akan terkuat kebenarannya. Kalau memang Naila bukan anaknya dia semakin tidak bisa melarang Talita untuk mengambil Naila dalam hidupnya.


"Kapan Naila bisa pulang?" tanya Talita


"Besok Ma" jawab Refan.


"Besok jam berapa kalian pulang?" tanya Talita lagi.


"Belum tau Ma, tunggu kabar dari Dokter. Besok pagi baru dokter berkunjung lagi" jawab Refan masih mencoba untuk santun kepada Talita.


"Kalau nanti Naila sudah pulang jangan larang Mama untuk bertemu dengannya" ujar Talita.


Refan langsung menatap mantan mertuanya.


"Iya Ma, tapi maaf untuk sementara Naila tidak biasa Mama bawa keluar rumah karena dia baru keluar dari rumah sakit dan baru sembuh. Setelah keadaannya lebih membaik, baru kita bisa membicarakannya lagi" tegas Refan.

__ADS_1


Talita diam dan tampaknya dia setuju dengan syarat yang diberikan Refan padanya. Asalkan dia masih bisa bertemu dengan Naila walau tidak bisa membawanya lagi tak mengapa.


Hari ini dari pagi sampai menjelang sore Mamanya Refan tidak ada datang ke rumah sakit. Mungkin sedang sibuk atau lagi ada kegiatan lain. Tapi Refan setidaknya bisa merasa lega. Mamanya tidak bertemu dengan mantan mertuanya. Kalau tidak mereka bisa bertengkar lagi seperti kemarin.


Dengan pikiran yang lagi penat seperti sekarang ini Refan tidak ingin lagi ada keributan yang dia dengar. Kepalanya rasanya sudah hampir pecah memikirkan tentang Naila, tak sanggup kalau harus ditambah dengan masalah lain.


Kinan meletakkan Naila secara perlahan di atas tempat tidur. Setelah itu dia pergi ke kamar mandi untuk berwudhu, lalu mengambil mukenanya.


"Mas aku shalat ashar di mushola mesjid aja ya" ujar Kinan.


Dia ingin meninggalkan Refan dan Mantan mertuanya berdua saja di ruangan Naila. Mungkin ada yang harus mereka bicarakan tanpa harus diketahui Kinan. Kalau Kinan tidak ada mereka pasti akan lebih leluasa untuk membahasnya.


"Kenapa gak shalat di ruangan ini saja?" tanya Refan.


"Gak apa - apa Mas, Naila juga kan baru saja tidur mudah - mudahan masih lama lagi dia bangun aku bisa tenang meninggalkannya sebentar" Jawab Kinan.


"Baiklah, hati - hati kamu" balas Refan.


"Sebentar ya Bu, saya ke musholla dulu" ujar Kinan kepada Talita, mantan mertua Refan.


Talita hanya diam dan tidak menyahut perkataan Kinan. Kinan segera melangkah keluar ruangan rawat inap Naila dan berjalan menuju mushola Rumah Sakit untuk melaksanakan shalat Ashar.


Sepeninggal Kinan ke mushola kini tinggal Naila dijaga oleh Papa dan Omanya di ruangannya. Refan duduk di sofa sedangkan Talita duduk di dekat tempat tidur memperhatikan keadaan Naila. Setelah itu dia ikut duduk di sofa tepat di hadapan Refan.


"Fan, kamu serius akan meneruskan tes DNA Naila?" tanya Talita. Kali ini wajah Talita tampak benar - benar serius.


"Iya Ma, ini semua harus jelas. Naila itu anak perempuan, kalau aku memang bukan orang tua kandungnya itu sangat berdampak pada masa depannya. Nanti saat dia besar aku tidak akan bisa menjadi walinya saat nikah. Aku harus memikirkan masa depan Naila Ma. Dia juga berhak tau siapa orangtua kandungnya. Aku bertekad akan mencari tau dan menemukan siapa Papa kandung Naila. Aku akan segera melakukan penyelidikan terhadap dua pria yang yang selalu datang ke makam Renita. Aku harus bisa memastikan salah satu dari pria itu adalah Papa kandungnya Naila. Masalah hak asuh, kalau pria itu tidak mau mengasuh dan mengurus Naila aku bersedia membesarkan Naila Ma" tegas Refan.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2