
"Ka.. kamu....?" ucap Refan.
Kinan langsung menggenggam tangan suaminya untuk menenangkannya karena Kinan tau Refan pasti sangat geram sekali melihat orang yang ada di depan mereka.
"Pak Refan" sambut pria itu dengan santai.
"Siapa Mas?" tanya wanita yang ada disamping pria itu.
"Oh Pak Refan ini suami almarhumah Renita" jawab Pria itu.
Pria itu tak lain dan tak bukan adalah Arga Laksamana. Dia sedang bersama istrinya yang sedang hamil besar datang ke dokter kandungan.
Arga mengulurkan tangannya ke arah Refan. Dia hendak mengajak Refan untuk berjabat tangan tapi Refan mengabaikannya.
"Aku jijik menyentuh tangan kamu yang kotor itu" ucap Refan geram.
"Maaas" Kinan mempererat genggaman tangannya.
"Yuk yank, sebaiknya kita pergi dari sini. Aku gak ingin melihat iblis berwajah malaikat disini" ucap Refan dengan lantang.
Refan dan Kinan segera meninggalkan ruang praktek dokter. Arga tampak berusaha bersikap biasa saja seperti tidak pernah terjadi sesuatu.
"Kenapa dia semarah itu pada Mas?" tanya istri Arga.
"Dia mungkin masih kesal padaku. Saat Renita meninggal dia menyalahkanku karena kematian istrinya. Menurutnya Renita meninggal karena keletihan bekerja selama hamil" ucap Arga.
"Enak saja dia menuduh kamu seperti itu Mas" sambut istrinya.
"Dia hanya bersikap pura - pura mencintai istrinya. Kamu tidak lihat tadi dia dan wanita itu saling bergandengan tangan dengan mesra. Aku rasa wanita itu istri barunya. Padahal Renita baru meninggal tapi dia sudah menikah lagi" ujar Arga.
"Sudah ah.. yuk Mas sebentar lagi nomor antrian kita" jawab istri Arga.
Mereka lalu berjalan masuk ke dalam ruang praktek dokter kandungan.
***
Sementara di parkiran mobil. Refan memukul stir mobil nya dengan kesal.
"Sialan... kamu lihat tadi yank wajah pria itu pura - pura tidak terjadi apapun. Dasar pria bejat tega mengacuhkan darah dagingnya. Aku kesal melihatnya bukan karena hubungannya dengan Renita. Kalau soal itu aku sudah tak perduli lagi. Karena hatiku sudah mati mengingat hal itu. Aku hanya kasihan mengingat Naila. Papa kandungnya tak ada keinginan sedikitpun untuk mencari atau ingin bertemu dengannya" umpat Refan kesal.
Kinan menyentuh lembut bahu Refan. Mencoba untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Istighfar Mas... tenangkan hati kamu" pesan Kinan.
"Dia pasti akan mendapatkan karmanya. Naila anak yang tidak berdosa pasti akan hidup bahagia sementara dia akan mendapatkan hukuman atas apa yang telah dia lakukan di dunia ini. Dosanya sangat besar, Allah tidak tidur Suatu saat dia pasti akan menyesal" ancam Refan dengan nada penuh emosi.
Kinan membelai lembut punggung suaminya.
"Maaaas... sudaaaah.. kamu yang tenang ya" hibur Kinan.
Setelah beberapa menit Refan mencoba menenangkan diri akhirnya mereka kembali pulang ke rumah. Sesampainya dirumah Refan memanggil Riko untuk datang ke rumahnya.
Malam hatinya mereka berbincang - bincang di ruang kerja Refan agar pembicaraan lebih tertutup dan tidak ada yang mendengar. Walau apa yang mereka bahas sebenarnya bukan rahasia lagi karena semua orang sudah mengetahuinya.
"Ko.. tadi sore aku dan Kinan ke praktek dokter kandung" lapor Refan.
"Kinan hamil lagi Fan? Cepat banget prosesnya, baru juga beberapa hari pulang dari Labuhan Bajo?" tanya Riko tak percaya.
"Bukan.. Kami hanya konsultasi tentang KB. Tapi aku bukan mau cerita tentang itu sama kamu" jawab Refan.
"Ya tentu saja mana aku ngerti. Nikah aja aku belum apalagi tentang KB" balas Riko.
"Makanya cepetan kawin" ujar Refan.
"Kawin sih udah sering dulu.. tapi nikah yang belum" lawan Riko.
"Jadi kalau begitu apa yang ingin kamu ceritakan padaku? Saat kamu menghubungiku tadi aku sudah feeling pasti ada sesuatu yang akan kamu ceritakan padaku?" tanya Riko penuh selidik dan rasa penasaran.
Refan kembali geram mengingat kejadian tadi sore di Rumah Sakit tepatnya di ruang praktek dokter kandungan.
"Kamu tau disana aku bertemu siapa?" tanya Refan.
"Bagus? atau Mas Galuh?" Riko balik bertanya.
"Kenapa kamu berpikiran mereka sih?" tanya Refan.
"Karena aku yakin mereka juga ikut honeymoon saat kita berada di kapal pesiar" jawab Riko.
Refan jadi lupa sesaat akan kekesalannya dan jadi tersenyum tipis.
"Dasar kamu, pikirannya gak jauh - jauh dari honeymoon di kapal pesiar" umpat Refan.
"Lah jadi siapa donk yang kamu temui di sana? Mana aku tau, aku kan bukan dukun atau orang pintar yang bisa membaca pikiran orang?" tanya Riko.
__ADS_1
Refan kembali geram dan emosi. Dia menarik nafas kasar.
"Aku bertemu Arga Laksamana" jawab Refan.
Riko terdiam sesaat.
"Kamu berbicara dengannya?" tanya Riko.
"Dia mengulurkan tangan padaku tapi aku tak mau menyentuh tangannya. Kamu tau Ko? Wajah palsunya itu berpura - pura tidak ada sesuatu yang terjadi. Aku begitu geram melihatnya. Ingin sekali aku meninju wajahnya" jawab Refan.
"Dia datang bersama istrinya?" tanya Riko.
"Ya, istrinya sedang hamil besar. Istrinya bertanya siapa aku? Dia menjawab kalau aku adalah suami almarhumah Renita" jawab Refan.
"Dia takut Fan, takut ketahuan istrinya. Makanya dia bertingkah seperti itu" ujar Riko.
"Dasar laki - laki bangsat. Untung saja Kinan menggenggam erat tanganku. Mungkin dia tau kalau aku ingin sekali meninju wajahnya. Aku bilang, aku jijik menyentuh tangannya yang kotor setelah itu kami langsung pergi meninggalkan rumah sakit" ungkap Refan.
Riko menepuk bahu sahabatnya.
"Sudahlah Fan serahkan semua pada Allah. Aku yakin dia tidak akan selamanya menang dan lepas dari dosa - dosanya. Suatu saat dia pasti akan mendapatkan hukumannya" ujar Riko.
"Aku geram mengingatnya, hewan saja masih sayang sama anaknya. Masak dia nggak? Sedikitpun dia tidak mencari tau dimana keberadaan darah dagingnya sendiri?" ucap Refan geram.
"Dia lebih dari binatang Fan. Dia iblis yang terlalu cinta dunia. Dia takut istrinya tau dan menceraikannya. Karena semua harta kekayaan yang dia punya berasal dari istrinya. Makanya dia bersikap seperti itu" ungkap Riko.
Refan masih menggepalkan tangannya karena geram.
"Tapi bukanlah itu lebih baik Fan dia tidak bertanya dimana Naila. Kalau seandainya dia bertanya, apa yang akan kamu katakan?" tanya Riko.
"Aku katakan kalau Naila sudah dibawa orang tua Renita dan aku juga tidak tau dimana keberadaannya. Biar dia mencari keujung dunia dan tidak menemukannya. Aku ingin sekali melihat dia menyesali hidupnya. Aku ingin melihat dia hancur dan putus asa, demi Naila.. Anakku itu anak yang tidak berdosa. Itu semua karena salah dia.. salah dia.. Karena kelakuannya Naila akan menanggung masa depan yang rumit " Refan memukul meja karena emosi.
"Sabar fan.. sabar... percayalah dia akan mendapatkan ganjarannya.. Akan tiba hukuman untuknya. Allah pasti melihatnya. Kalau tidak ada penyesalan dihatinya dia pasti akan mendapatkan kehancurannya. Kita lihat saja nanti kedepannya Fan. Yakinlah" ucap Riko menenangkan Refan.
"Aku ingin melihat dia bersujud dan memohon untuk dipertemukan dengan Naila kelak. Disaat itu menangispun tidak ada artinya lagi" ujar Refan.
"Ya... yakinlah dia pasti akan menyesal" sahut Riko.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG