
Hari ini sepulang kerja kepala Kinan terasa sangat berat.
Ini pasti karena tadi siang aku telat makan gara - gara mengerjakan proyek pembangunan jalan. Alhasil masuk angin dan penyakit lambungku kumat. Ucap Kinan dalam hati.
Kinan berusaha pulang dengan tetap membawa mobil, walau pusing kepalanya semakin menjadi. Alhasil sampai rumah dia langsung berlari ke kamar dan menuju kamar mandi untuk mengeluarkan seluruh isi perutnya.
"Ueeeek... ueeeek... " Kinan muntah di kamar mandi.
Bik Mar yang merasa heran ketika melihat Kinan pulang dengan wajah pucat merasa khawatir dan mengikuti Kinan sampai ke kamar mandi.
Kenapa Non Kinan ya sampai muntah - muntah begitu? Apakah dia hamil? Apa mungkin Non Kinan hamil? Bukannya Non Kinan dan Den Refan tidurnya terpisah? Tanya Bik Mar dalam hati.
"Non Kinan kenapa? Pulang - pulang kok muntah?" tanya Bik Mar khawatir.
"Aku masuk angin Bik, tadi siang telat makan. Maagku kumat" jawab Kinan.
"Tunggu sebentar ya Non, Bibik buatkan teh panas" sambut Bik Mar.
Bik Mar segera berlari ke dapur untuk membuatkan kau minuman hangat. Setelah aku puas mengeluarkan semua isi perutku akhirnya aku terbaring tak berdaya di atas tempat tidur.
"Mama.. Mama.. sakit?" tanya Salman.
"Sayaaang... boleh Mama tidur sebentaaar saja. Kepala Mama pusing sekali" pinta Kinan kepada putranya.
"Iya Mama.. aku akan jadi anak baik. Aku jaga adek ya Ma" jawab Salman.
"Terimakasih sayang" balas Kinan
Salman keluar kamar dan bergabung bersama Bik Nah dan Naila. Tak lama Bik Mar kembali dengan membawa teh hangat.
"Non diminum dulu tehnya biar Non Kinan ada tenaga. Gak lemas seperti ini" ucap Bik Mar.
"Iya Bik" dengan bantuan Bik Mar, Kinan duduk kembali dan meminum teh hangat yang dibuatkan Bik Mar.
"Bik malam ini terserah Bibik mau masak apa, gak apa - apa ya Bik aku gak bisa bantuin Bibik" ucap Kinan.
"Non soal masakan sih gak usah di fikirin yang penting Non Kinan sembuh" jawab Bik Mar.
"Nanti kalau Mas Refan pulang langsung suruh makan ya, bilang aja aku lagi gak enak badan. Dia makan sendiri aja malam ini" ujar Kinan.
"Iya Non. Non Kinan istirahat saja ya, nanti Bibik bawain makan malam untuk Non" jawab Bik Mar.
"Makasih Bik" jawab Kinan.
Kinan kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan memejamkan matanya. Tak lama dia tertidur.
Sebelum maghrib Refan sudah pulang. Kali ini dia lebih cepat pulang, mungkin karena hari ini lalu lintas tidak begitu ramai.
__ADS_1
Refan segera masuk ke dalam rumah dan melihat hanya ada Bik Mar dan Bik Nah bersama Naila dan Salman. Diluar ada mobil Kinan tapi orangnya gak ada.
"Kinan mana Bik?" tanya Refan pada Bik Mar yang paling tua.
"Non Kinan di kamar Den" jawab Bik Mar.
Refan segera masuk ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian kemudian bersiap untuk shalat maghrib.
Setelah shalat maghrib pintu kamar Refan di ketuk dari luar.
"Den.. makan malamnya sudah siaaap" panggil Bik Mar.
"Iya Bik, sebentar lagi saya keluar" sahut Refan dari dalam kamar.
Tak lama Refan keluar dan berjalan ke ruang makan. Dia melihat makanan sudah tersaji di meja makan dengan lengkap tapi... ada yang kurang.
"Kinan gak makan?" tanya Refan.
"Non Kinan lagi sakit Den, tadi pulang kerja dia muntah - muntah. Sampai sekarang belum keluar kamar" jawab Bik Mar.
"Coba panggil Bik dia di kamar dan ajak makan" perintah Refan.
"Sudah Den, tapi kata Non Kinan nanti aja dia makannya. Den Refan di suruh duluan saja" balas Bik Mar.
Refan memulai makannya, dia mengambil nasi dan lauk pauk sendiri ke dalam piringnya. Sudah dua minggu pernikahan mereka. Sudah terbiasa makan di sajikan langsung oleh Kinan, rasanya seperti ada yang kurang.
"Salman mana?" tanya Refan.
"Tuh Den masih nonton nemani Bik Nah dan Naila" jawab Bik Mar.
"Panggilin Bik, ajak makan di sini" ujar Refan.
"Sudah Den tapi dia bilang mau makan sama Mama" jawab Bik Mar.
Refan berdiri dan berjalan menghampiri Salman.
"Salman yuk makan sama Papa" ajak Refan lembut.
"Nanti aja Pa, aku makannya sama Mama" jawab Refan.
"Mamanya lagi sakit, kasihan gak bisa temani Salman. Makan sama Papa aja yuk. Temani Papa makan, gak enak makan sendiri, sepi" bujuk Refan.
Salman memandang wajah Refan.
"Oke deh Pa, Salman temani Papa makan" jawab Salman.
Kini mereka kembali ke ruang makan, Refan mengambilkan makanan untuk Salman setelah itu baru mereka makan bersama - sama.
__ADS_1
Bik Mar memperhatikan semua gerak - gerik Refan.
Untung sama Salman Den Refan baik dan lembut. Mungkin karena lama menikah tapi gak juga mendapatkan momongan sehingga Den Refan sayang sama anak kecil. Batin Bik Mar.
Setelah selesai makan Refan memberi pesan kepada Bik Mar.
"Bik antarkan makanan ke kamar untuk Kinan. Suruh dia makan setelah itu minum obat" perintah Refan.
"Baik Den" jawab Bik Mar.
Kemudian Refan kembali ke ruang TV untuk bermain sebentar bersama Naila dan Refan. Tak lama Naila sudah tidur dalam gendongan Bik Nah.
"Bik, tolong letakin aja Naila di dalam boxnya di kamar" perintah Refan.
Refan masih bermain dengan Salman. Sambil mengelus lembut rambut Salman Refan berkata..
"Papa temani adek Naila bobok di kamar ya.. Kakak Salman juga bobok gih di kamar sama Mama. Temani Mamanya yang lagi sakit" perintah Refan.
"Kok Papa gak temani Mama di kamar? Biasanya kalau Mama sakit Papa Bima yang temani Mama di kamar sampai sembuh" oceh Salman.
Refan terdiam sesaat.
"Papa harus jagain adek Naila, dia tidur sendiri di kamar. Mama kan sudah besar bisa bobok sendiri tapi kalau adek Nailanya masih kecil, dia takut bobok sendirian di kamar" jawab Refan.
"Ooh ya sudah Pa, aku yang temani Mama di kamar ya.. Papa temani saja adek Nailanya. Kalau aku sudah lebih besar lagi, biar aku nanti yang jagain dan gendong adek Naila. Aku pasti kuat" ucap Salman.
Refan tertawa melihat anak pintar ini. Anak kecil, belum tau permasalahan orang tua. Dia hanya berfikiran sederhana dan bisa diterima akal dan fikiran mereka.
"Aku ke kamar dulu ya Pa" Salman segera berlari menuju kamar dia dan Mamanya. Tak lama Refan masuk ke kamarnya dan melihat putri kecilnya sedang tidur dengan lelapnya.
Refan langsung mengerjakan shalat isya sebelum tidur setelah itu berbaring di atas tempat tidur. Tapi sudah beberapa menit matanya tidak mau terpejam.
Akhirnya Refan berdiri dan berjalan menuju pintu penghubung kamar dia dan kamar Kinan. Refan mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban.
Akhirnya Refan memutuskan untuk masuk ke kamar Kinan. Refan melihat Kinan sedang tertidur dengan nyenyak. Kinan tidak memakai jilbabnya. Baru kali ini Refan melihatnya.
Ternyata dia cantik... tak sadar dia memuji Kinan dalam hati.
Refan melihat kening Kinan berkeringat, perlahan Refan mendekat ke tempat tidur dan mengambil handuk kecil kemudian mengelap keringat di wajah Kinan.
"Mm... maaaas.. Bima"
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1