Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 121


__ADS_3

"Mas lupa ya kalau Mas udah janji mau ngajak Salman berenang?" tanya Kinan.


"Astaga..... " Refan segera menjauhkan tubuh Kinan dan dia langsung duduk.


"Hahaha... " tawa Kinan. Dia lucu melihat wajah suaminya.


"Senang banget kamu ya.. Awas nanti ya, aku pemanasan dulu di kolam renang. Setelah itu kamu harus siap - siap aku ajak bertempur di tempat tidur" ujar Refan.


Refan segera membuka pakaiannya di hadapan Kinan dan memakai pakaian renangnya membuat Kinan menelan salivanya.


Kinan segera menyusul suaminya dan menemani Refan dan Salman bermain di kolam renang. Kinan menyiapkan cemilan dan minuman untuk suami dan anak tercinta.


"Mama ikutan yuk berenang" ajak Salman.


"Nggak sayang, Mama lagi malas berenang" tolak Kinan.


Kinan duduk di teras belakang sambil meletakkan makanan dan minuman di atas meja.


"Sal Papa punya ide biar Mama ikutan berenang" bisik Refan.


"Gimana Pa?" tanya Salman.


Refan membisikkan sesuatu ke telinga Salman. Salman tersenyum mengerti.


"Oke Pa" jawab Salman.


"Sekarang kamu berenang ya di tepian" perintah Salman.


Salman mulai berenang ketepian dekat Kinan.


"Ma aku haus minta minum donk" pinta Salman sedikit berteriak.


"Tunggu sebentar ya sayang" jawab Kinan.


Kinan mengambil segelas minuman dan membawanya ke arah Salman. Saat Kinan memberikan gelas itu ke arah Salman tiba - tiba Salman menarik Kinan hingga dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke dalam kolam renang.


Refan dengan reflek meraih Kinan yang terjatuh dan memeluknya.


"Yeeeee... Mama basah, horee... berenaaaang" teriak Salman senang.


"Salmaaaan" panggil Kinan.


"Udah yank gak apa - apa sekalian berenang bersama. Kasihan Salman udah pengen banget main bertiga" ujar Refan.

__ADS_1


Duh.. akhir - akhir ini pendengaranku suka keseleo kali ya.. sepertinya akhir - akhir ini aku sering mendengar Mas Refan panggil sayang. Apa telingaku salah dengar ya.. Batin Kinan.


"Tapi kan aku gak pakai baju renang Mas" jawab Kinan.


"Gak apa - apa, kan berenang di rumah sendiri" sambut Refan.


"Ya udah Mas lepas, malu di lihat Salman" pinta Kinan, wajah Kinan memerah karena malu.


Refan semakin senang menggoda Kinan.


"Kan aku udah bilang berenangnya untuk pemanasan" goda Refan.


"Maaaaas" Kinan mencubit pinggan Refan, otomatis pelukan Refan terlepas di tubuh Kinan.


Kinan mulai berenang ketengah kolam, sedangkan Refan kembali menemani Salman berenang. Pelan - pelan Refan membawa Salman ke tengah. Mereka berenang bersama tertawa sambil bercanda.


"Lihat sepertinya hubungan mereka sudah semakin membaik" ujar Dhisti Mamanya Kinan.


"Iya syukurlah, seiring berjalannya waktu cinta pasti sudah tumbuh di hati mereka. Refan itu kalau tipe setia dan bucin. Kalau sudah jatuh cinta dia pasti akan fokus pada orang yang dia cintai. Dia akan menyayanginya dengan tulus dan setia" ungkap Suci.


Dhisti tersenyum menanggapi ucapan Suci.


"Itu yang membuat Renita salah mengartikannya. Cinta Refan yang begitu besar kepada Renita memberikan Renita kebebasan yang disalah artikan oleh Renita. Renita tidak tau mana batasan yang tidak boleh dia langgar. Aku sangat sedih ketika mengetahui ternyata putraku begitu bodoh mencintai Renita. Dulu dia pernah mengancam akan bunuh diri jika kami melarangnya menikahi Renita tapi kini apa yang dia dapatkan. Dia dikhianati bahkan sampai Renita melahirkan seorang anak yang bukan anak Refan" ungkap Suci sedih.


"Aamiin.. Semoga Kinan secepatnya hamil" jawab Suci.


"Minggu depan kan mereka mau pergi honeymoon, mudah - mudah setelah kepergian mereka menambah keintiman dan rasa cinta di hati mereka dan pulangnya mereka membawa kabar gembira untuk kita" ujar Dhisti


"Iya. Apalagi Naila sudah tidak bersama mereka lagi. Aku sangat tau Naila adalah korban tapi entah mengapa rasanya aku gak ikhlas kalau Refan dan Kinan mengasuh Niala. Menurutku keberadaan Naila akan terus mengingatkan Refan tentang masa lalunya bersama Renita. Pengkhianatan Renita dan juga luka hatinya" ungkap Suci


"Sekarang semua kan sudah teratasi Ci. Akhirnya antara Refan dan Naila akan menjalani hidup sendiri - sendiri. Selain kasihan melihat Naila aku juga kasihan kepada orang tuanya Renita. Kita sama - sama mempunyai anak perempuan kan Ci. Rasanya pasti sangat hancur ketika kita melihat anak perempuan kita salah jalan berbuat zina dan meninggal dalam dosa. Setiap membayangkannya rasanya aku merinding, bulu kudukku berdiri. Semoga anak perempuan kita dijauhkan dari perbuatan buruk seperti itu" doa Dhisti.


"Aamiin.... " sambut Suci.


"Biiik.. " panggil Kinan.


"Ya Non" jawab Bik Mar.


"Tolong ambilkan handuk di kamar aku ya" pinta Kinan.


"Baik Non" sambut Baik Mar.


"Udahan Ma?" tanya Salman.

__ADS_1


"Iya udah, Mama udah kedinginan" jawab Kinan.


Tak lama Bik Mar datang membawa bathrobe Kinan, Kinan memakainya dan kembali ke kamarnya.


"Kita juga udahan yuk Sal" ajak Refan.


"Oke deh Pa" jawab Salman.


"Kamu mandi sama Bibik ya" perintah Refan.


"Iya Pa" balas Salman.


"Biiiik tolong mandiin Salman ya" pinta Refan


"Baik Den" jawab Bik Nah.


Refan segera menyusul Kinan ke dalam kamar karena dia punya misi rahasia dengan Kinan setelah berenang. Refan masuk ke dalam kamar.


"Lho Mas udahan berenangnya?" tanya Kinan yang sedang membuka bajunya. Dia mengira Refan masih di kolam renang sehingga dengan santainya Kinan membuka bajunya di kamar, biasanya Kinan masih malu dan berganti pakaian di kamar mandi.


"Udah, udah panas. Sekarang mau masuk intinya" jawab Refan sambil mendekati Kinan.


O.. ooo.. aku kalah cepat. Dasar Mas Refan ada aja alasannya. Kinan tersenyum dalam hati melihat tingkah suaminya itu.


"Lho kalau sudah panas bukannya pendinginan?" tanya Kinan pura - pura gak mengerti.


"Kalau olah raga yang baik itu harus pemanasan dulu baru masuk ke intinya setelah selesai baru pendinginan. Naah tadi kan aku udah pemanasan sekarang masuk ke intinya. Yuk kita tes kekuatan tempat tidur baru kita" ajak Refan.


Refan segera membuka pakaiannya kemudian menggendong Kinan dan membawanya kemudian meletakkannya di atas tempat tidur.


"Aaaw... Maaas" teriak Kinan yang terkejut karena Refan dengan cepatnya sudah mengangkat tubuhnya.


"Teriaklah sayaaang... untung kamar kita ini kedap suara. Kamu bisa berteriak dengan keras dan kita gak perlu takut lagi Naila terbangun karena suara teriakan kamu" ujar Refan.


Kali ini Kinan benar - benar mendengar dengan jelas Refan memanggilnya dengan kata - kata sayang. Alangkah cerahnya hari ini, secerah hati Kinan dan Refan.


Mereka mulai menguji ketahanan ranjang baru dengan berbagai goyangan. Memang tempat tidur baru itu sangat bagus sehingga sedikitpun tidak terdengar suara decitan karena gempa bumi yang dibuat oleh Kinan dan Refan saat itu.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2