
Dikamar Refan dan Kinan.
Refan memeluk istrinya dari belakang begitu mereka masuk ke dalam kamar. Si Kembar sudah tidur nyenyak di dalam box mereka.
"Yank.. sudah bisa kita nikmati honeymoon kita yang kedua?" tanya Refan.
"Aku takut Mas" jawab Kinan.
"Takut apa?" tanya Refan penasaran.
"Saat kita honeymoon pertama di Bali pulangnya aku langsung hamil, nanti pulang dari Labuhan Bajo aku takut hamil lagi, si Kembar masih terlalu kecil Mas" jawab Kinan.
"Hahaha... kamu hamil itu bukan saat kita di Bali. Saat kita di Bali kamu sudah hamil sayang... Si Kembar itu hasil bercocok tanam di rumah" tawa Refan pecah.
"Iya tapi aku tetap takut Mas" protes Kinan.
"Aku janji akan main aman sayang" bujuk Refan.
Kinan menarik nafas panjang. Mau bagaimana lagi gelora suaminya itu memang luar biasa sejak mereka menikah. Kalau Kinan menolak, Kinan tidak mau berdosa dan dilaknat malam ini.
"Janji ya.. ingat anak - anak Mas" ucap Kinan.
"Iya sayaaang... " Refan langsung menggendong tubuh Kinan yang ramping padahal dia baru saja melahirkan.
Mungkin karena menyusui dan mengurus dua anak sekaligus membuat berat badannya dengan cepatnya kembali seperti semula. Itu yang membuat Refan tidak tahan menahan hasratnya setiap melihat istrinya.
"Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman". Al-Baqarah ayat 223.
Refan meletakkan Kinan dengan penuh kelembutan diatas tempat tidur mereka. Tangan Refan mulai bergerak aktif memberikan sentuhan - sentuhan yang membuat Kinan semakin pasrah tak kuasa untuk menolaknya.
Malam ini bukan hanya Reni dan Bimo saja yang berbulan madu, tapi Refan - Kinan, Jelita - Tagor, Bagus - Ayu dan Galuh - Anita juga menikmati indahnya kapal pesiar malam ini.
Kesempatan langka yang jarang sekali bisa mereka dapatkan. Apalagi judulnya ini gratis semakin membuat mereka lebih tenang karena tidak akan memikirkan isi dompet.
Walau mungkin Refan, Tagor dan Bagus bisa melakukannya sendiri tapi tetap saja gratis itu satu hal yang menyenangkan. (Hahaha bagi author).
Malam ini ada empat kamar yang tak kalah panasnya dengan kamar Bimo dan Reni. Dan mereka sangat bahagia menjalaninya.
*****
Pagi harinya Reni terbangun dalam pelukan hangat suaminya. Reni melirik jam yang ada di kamarnya ternyata sudah jam empat waktu setempat. Reni mengintip dari jendela kamarnya, langit masih gelap.
Reni menarik tangan Bimo yang terletak di atas perutnya. Pantas saja dia merasa agak kesulitan bernafas tadi ternyata ada beban diatas perutnya.
"Maaas.. Mas Bimooo... " panggil Reni.
Bimo tidak bergeming masih tidur dengan nyenyak.
__ADS_1
"Mas Bimooo.. Mas Bimo sayaaaang" ucap Reni dengan lembut.
"Hemm.. ucapkan lagi sayang" pinta Bimo.
"Apanya?" tanya Reni bingung.
"Mas Bimo sayaaang" ulang Bimo menirukan suara Reni barusan.
Tentu saja terdengar berbeda di telinga Reni, suara khas lelaki baru bangun tidur. Terdengar begitu rendah dan pecah sehingga terdengar sangat sexy di telinga Reni.
Seketika bulu kuduk Reni berdiri.
"Yank.. apakah ini artinya tubuh kamu minta untuk aku sentuh lagi?" goda Bimo.
"Ma.. Maaas" protes Reni.
Bimo tersenyum lembut dan mencium puncak kepala istrinya.
"Mas sebentar lagi akan terdengar adzan subuh kita harus mandi" ucap Reni malu.
Bimo menatap wajah istrinya yang memerah
"Setelah apa yang sudah kita lalui tadi malam kamu masih malu sayang? Kita sudah sama - sama melihat dan menikmati apa yang kita lihat dan kita sentuh" goda Bimo.
"Maaas aku masih malu" Reni menutup wajahnya dengan selimut.
"Mandi yuk, malu nanti kalau diledek trio jomblo kalau kita telat untuk sarapan pagi" ajak Reni lagi.
"Mereka itu cuma iri yank pada kebahagian kita" sambut Bimo.
"Tapi kan ada Mama, Bapak, Ibu, Om dan Tante Mas" ujar Reni.
"Mereka juga dulu pernah muda" potong Bimo.
Reni berusaha bangkit tapi tiba - tiba Bimo mengangkat tubuh polosnya yang tersembunyi dibawah selimut dan membawanya ke kamar mandi.
"Aku rasa mandi berdua sangat ampuh untuk mengusir rasa dinginnya pagi ini" ungkap Bimo.
Reni langsung mengalungkan kedua tanggannya di leher Bimo dan menyembunyikan wajahnya di bahu Bimo. Mereka berjalan menuju kamar mandi.
Setelah selesai lagi - lagi Bimo mengangkat Reni dan meletakkannya di atas tempat tidur.
"Mas aku bisa jalan sendiri" ucap Reni.
"Tapi pasti kamu tidak akan nyaman sayang. Karena tadi malam kita... " Jawab Bimo.
Reni langsung menutup mulut Bimo dengan tangannya. Bimo tersenyum simpul dan mengerti kalau istrinya ini sangat malu saat ini.
__ADS_1
Reni mencoba turun dari tempat tidur dan hendak menyiapkan pakaiannya dan Bimo tapi Bimo menahan tubuh istrinya.
"Biar aku saja sayang" pinta Bimo.
"Tapi Mas aku ini istri kamu" jawab Reni.
"Dalam rumah tangga tidak hanya istri yang berkewajiban mengurus suaminya. Suami juga sayang, dalam rumah tangga kita bisa meringkas suatu ketentuan dengan sangat sederhana dan sefleksibel mungkin. Biar kan kali ini aku yang melayani kamu dengan penuh kehangatan" pinta Bimo.
Bimo mengambil pakaiannya kemudian memakainya setelah itu baru Bimo menghampiri istrinya dan membantu Reni untuk memakai pakaiannya tanpa harus turun dari tempat tidur.
Reni merasa sangat tersanjung sekali diperlakukan selembut itu oleh Bimo. Wajah Reni terasa begitu hangat dan memerah.
Setelah selesai berpakaian Bimo dan Reni melaksanakan shalat subuh. Setelah itu mereka kembali rebahan di atas tempat tidur. Bimo menarik tubuh Reni dalam pelukannya.
"Apakah kamu kedinginan?" tanya Bimo.
Reni menggelengkan kepalanya.
"Rasanya hangat Mas dalam pelukan Mas" jawab Reni.
Bimo tersenyum bahagia kemudian mengelus lembut perut Reni.
"Semoga benih yang aku titipkan di rahim kamu dapat berkembang dengan baik dan menjadikan mereka menjadi anak - anak yang soleh dan solehah" ujar Bimo.
"Aamiin... " sambut Reni.
Bimo membelai rambut istrinya lembut dan perlahan Reni kembali tertidur dalam pelukan hangat Bimo. Dua jam kemudian pintu kamar mereka kembali di ketuk.
Tok.. Tok..
Siapa lagi kali ini? Kalau memang Jeta anaknya Jely awas saja anak itu aku akan mengibarkan bendera perang padanya karena sudah mengganggu aku tadi malam. Bahkan pagi ini dia juga yang pertama membangunkan kami. Batin Bimo geram.
Bimo pelan - pelan meletakkan kepala istrinya yang masih tidur dengan nyenyaknya dan berjalan menuju pintu kamarnya. Bimo membuka pintu kamarnya dan langsung nyemprot orang yang mengetuk pintu kamarnya.
Dengan penuh percaya diri Bimo berfikir kalau itu adalah perbuatan Jeta.
"Apalagi sih Jetaaaa, nanti Uncle aduin kamu sama Mama kamu ya, dari tadi malam kerjanya gangguin Uncle dan Tante melulu" ucap Bimo dengan kesal.
"Sudah pagi, kalian di tunggu di meja makan oleh semuanya. Buruan panggil istri kamu dan ajak dia makan" perintah Bu Suci.
"Ma... Mamaaaa.... " panggil Bimo terkejut. Rasanya jantung Bimo mau copot ketika melihat mertuanya yang ada di depan pintu kamarnya.
Mati aku...Nih gara - gara anak si Jely jih buat rusuh aja. Umpat Bimo dalam hati.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG