Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 268


__ADS_3

Bimo dan Reni sudah masuk ke kamar mereka. Karena dari tadi mereka belum shalat isya akhirnya mereka memutuskan untuk shalat lebih dulu.


Reni segera menyiapkan peralatan shalat mereka. Bimo baru saja keluar dari kamar mandi.


"Kamu sudah siap?" tanya Bimo.


"Sudah Mas" jawab Reni.


Mereka berdua shalat berjamaah. Ini adalah kali ke tiga mereka shalat berjamaah dengan status pasutri. Bimo memimpin shalat dengan khusyuk.


Diakhir shalat mereka berdoa meminta agar Allah menjadikan rumah tangga mereka menjadi rumah tangga yang sakinah mawaddah warrahmah.


Setelah selesai shalat Bimo membalikkan badannya ke hadapan istrinya. Reni meraih tangan Bimo dan mencium tangannya. Bimo membalasnya dengan ciuman di kening Reni.


Setelah itu mereka saling tatap, tiba - tiba Reni terhipnotis dengan tatapan Bimo. Reni hanya bisa diam menunggu tindakan dari Bimo selanjutnya.


Pandangan Bimo berpindah ke bawah, ke bibir basah Reni yang sangat menggoda. Reni sudah memejamkan matanya pasrah. Bimo memiringkan wajahnya hendak mencicipi indahnya hubungan halal mereka.


Saat mereka bisa merasakan hembusan nafas pasangan masing - masing tiba - tiba saja pintu kamar mereka di ketuk.


Bimo membuang nafasnya dengan kasar. Sedangkan Reni bisa menarik nafas lega karena tadi dia sangat tegang sekali.


"Siapa yang datang mengganggu?" tanya Bimo.


"Buka saja Mas mungkin penting" jawab Reni.


Bimo berjalan menuju pintu kamar sedangkan Reni membuka dan melipat mukenanya.


"Kamu?" ucap Bimo ketika melihat siapa yang datang.


Tampak tubuh anak kecil yang hanya sebatas pinggang Bimo.


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Bimo.


"Aku masih penasaran dengan apa yang dikatakan Om Aril. Uncle pasti sedang menyembunyikan durian kan di kamar?" tanya anak kecil itu yang tak lain adalah Jeta anaknya Jelita dan Tagor.


Bimo menarik nafas panjang. Ternyata ini adalah rintangannya malam ini untuk melakukan malam pertama pernikahannya dengan mulus.


"Uncle gak ada bawa durian Jetaaa.. " jawab Bimo.


"Aku gak percaya" Jeta langsung menerobos masuk.


"Jeta.. kamu ngapain ke kamar Tante malam - malam begini? Mama kamu mana?" tanya Reni.


"Mama dan Papa sudah masuk kamar" jawab Jeta.


"Trus kamu tidur di mana?" tanya Reni lagi.


"Aku mau tidur dikamar Tante Reni" jawab Jeta.


Jeta langsung naik ke atas tempat tidur pengantin.


Gak anak, gak emak emang paling bisa gangguin aku aja kerjanya. Dari dulu sampai sekarang aku gak bisa lepas dari mereka. Batin Bimo kesal.


"Gak bisa donk sayang, Jeta kan sekarang sudah besar. Gak bisa lagi tidur sama Tante" jawab Reni.


"Uncle Bimbim juga udah besar, besar banget malah tapi bisa kok tidur sama Tante?" tanya Jeta polos.


"Tante kan istrinya Uncle, sama seperti Mama dan Papa kamu" jawab Bimo dan mulai duduk di dekat Jeta.


"Jadi kalau sudah jadi istri boleh tidur bareng?" tanya Jeta.


"Iya bisa donk" jawab Bimo.


"Trus istri aku mana donk? biar ada yang temani aku tidur?" tanya Jeta.


Reni tersenyum melihat wajah Bimo yang bingung menjawab pertanyaan Jeta.


"Nanti kalau kamu sudah besar baru cari istri sayang, kalau sekarang kamu belajar dan makan yang banyak biar cepat besar" jawab Reni dengan lemah lembut kepada Jeta.


"Nah sekarang kamu bisa keluar kan? Uncle mau bobok sama Tante Reni. Uncle udah ngantuk" bujuk Bimo.

__ADS_1


"Gak mau, aku mau belah duren" protes Jeta.


Reni dan Bimo saling lirik, wajah Reni memerah karena malu.


"Gak ada durian di sini Jetaaaa" ujar Bimo.


"Kata Om Aril ada" jawab Jeta.


"Sayang kamu cium wangi durian gak di sini?" tanya Reni lembut.


"Nggak" Jawab Jeta.


"Itu artinya gak ada durian di sini. Kalau ada kamu pasti tau, kamu kan suka banget durian, Tante tau itu" ujar Reni.


"Benar ya Tante. Kalau boong gimana?" tanya Jeta.


"Kalau bohong kamu boleh tidur disini" jawab Reni.


"Benar ya, kalau ada wangi durian aku akan tidur bareng Tante, Uncle nya di sofa aja" ucap Jeta.


"Iya Uncle bobok di sofa" sambut Reni.


"Yank.." protes Bimo.


"Ssst... kan gak ada durian Mas" bisik Reni.


"Ya sudah kalau begitu aku keluar deh mau cari sesuatu" ujar Jeta.


Tatapan matanya tampak bersinar sehingga membuat Bimo curiga plus khawatir.


"Mau cari apa?" tanya Bimo.


"Mau cari wangi durian biar aku bisa tidur disini" jawab Jeta.


"Cari sono noh, dasar si Jeli anaknya nyusahin" gumam Bimo kesal.


Reni tersenyum melihat suaminya sudah tidak sabar untuk menghadapi anak kecil pintar ini.


"Ingat janjinya ya Tante, kalau ada wangi durian aku akan tidur disini" ucap Jeta sekali lagi.


"Iya.. " sambut Reni lemah lembut.


"Yank kalau ada parfum durian gimana? bahaya yank kalau dia tidur disini malam ini" protes Bimo.


"Mana ada Mas parfum wangi durian bisa mabok cium wanginya" jawab Reni.


Jeta membuka pintu kamar Bimo kemudian Bimo segera menutup pintu kamarnya dan menguncinya. Bimo bernafas lega karena bakteri pengganggu sudah musnah.


Reni sedang bersiap - siap hendak berbaring di atas ranjang, Bimo segera menahan kepala istrinya dan mengajaknya duduk di atas tempat tidur.


"Kamu mau langsung tiduran? Gak pengen pembukaan dulu?" goda Bimo.


"Maas aku malu" ucap Reni.


"Hahaha.. kita kan sudah sah dan halal yank. Kata Ustadz sudah boleh bercocok tanam dengan gaya apa saja asalkan sama - sama nyaman dan suka" ujar Bimo.


Bimo memegang wajah Reni dengan kedua tangannya dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Dengan lembut Bimo mengecup bibir istrinya.


Reni hanya bisa menutup matanya pasrah. Perlahan mulai menikmati permainan Bimo dan larut dalam aura panas yang di hadirkan suaminya.


Tiba - tiba pintu kamar mereka kembali diketuk dari luar.


Tok.. tok..


Dengan berat hati Bimo harus melepaskan tubuh mereka.


"Ya Tuhaaan siapa lagi sih yang datang?" tanya Bimo kesal.


Wajah Reni semakin malu mengingat kejadian barusan yang dia alami dengan suaminya. Dengan kesal Bimo berjalan kembali menuju pintu kamarnya dan membukanya.


"Lagi - lagi kamu" ucap Bimo dingin.

__ADS_1


Namanya anak - anak dia tidak mengerti kalau Bimo lagi kesal karena kesenangannya diganggu.


"Tanteeee.... aku boleh tidur di sini ya... " ucap Jeta sambil berlari ke arah tempat tidur.


"Stop.. stop... kamu lagi bawa apa itu? Mengapa ada wangi durian di kamar ini?" tanya Bimo bingung.


"Aku baru ingat, kemarin Mama bawa puncake durian dari Medan untuk oleh - oleh dan Mama baru ingat sekarang. Jadi kami semua sedang makan durian ini di luar. Tadi kata Tante kalau di kamarnya ada wangi durian aku boleh tidur di kamar ini" tuntut Jeta.


Reni tertawa lebar gak menyangka kalau ponakannya ini sangat pintar.


"Hahaha... gimana Mas?" tanya Reni.


Bimo langsung meraih ponselnya dan mengirim pesan kepada Jelita.


Bimbim


Jely... bawa anak kamu dari kamarku


Jely


Jeta? Ngapain dia ada di kamar kamu?


Bimbim


Dia mau mengganggu malam pertamaku. Cepat jemput anak kamu


Jely


Oke Bim


Tak lama kemudian Jelita masuk ke kamar Bimo dan Reni.


"Jetaaa... " panggil Jelita.


"Ya Ma" sahut Jeta.


"Kamu ngapain di sini gangguin Uncle sama Tante?" tanya Jelita


"Aku mau tidur sama Tante Reni" jawab Jeta.


"Trus ngapain bawa - bawa puncake durian ke sini?" tanya Jelita bingung.


"Kata Uncle Bimbim kalau ada wangi durian di kamar ini aku boleh tidur sama Tante Reni" jawab Jeta polos.


"Sayang mulai sekarang kamu gak boleh lagi tidur sama Tante Reni ya, karena Tante Reni sekarang sudah ada teman tidurnya" jelas Jelita.


"Uncle Bimo ya Ma, suaminya Tante Reni?" tanya Jeta.


"Iya, yuk kita balik ke kamar Oma" ajak Jelita.


Jelita menatap Reni dan Bimo dengan rasa bersalah.


"Sorry" ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Semoga ini yang terakhir ya" ujar Bimo.


"Hehehe.. aku janji gak akan terjadi hal ini lagi" balas Jelita.


Jelita dan Jeta akhirnya keluar dari kamar pengantin baru, Bimo langsung mengunci kamar mereka dan kembali ke atas ranjang.


"Kita lanjut ya yank yang tadi sempat tertunda" ujar Bimo.


Reni hanya menganggukkan kepalanya malu dan pasrah. Malam ini adalah malam pertama mereka tidur sebagai pasangan suami istri yang saling mencintai.


Malam panas dan penuh dengan goyangan karena saat ini mereka memang sedang berada di dalam kapal pesiar yang sedang mengarungi lautan.


Reni kini sudah menjadi milik Bimo seutuhnya dan tanpa ada halangan dan gangguan lagi seperti sebelumnya. Sepasang pengantin akhirnya bisa menikmati indahnya cinta yang halal dan bercocok tanam dengan sangat indah.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2