
"Kalau kamu bukan Papanya Naila, aku juga akan melakukan tes DNA pada Renita. Aku akan menyuruh pihak rumah sakit untuk membongkar makam Renita" ujar Talita.
"Terserah Mama, aku tidak perduli. Kalau Naila bukan anakku aku tegaskan kepada Mama aku tidak akan punya hubungan apapun lagi dengan Mama ataupun dengan seluruh keluarga Renita.
Karena ikatan diantara kami sudah putus akibat pengkhianatannya. Seandainya dia masih hidup, aku akan segera menceraikannya" jawab Refan.
Talita tidak pernah menduga kalau Refan akan berkata seperti itu. Dia sangat kecewa dan kesal kepada Refan.
"Jangan asal tuduh sebelum hasilnya keluar" ujar Talita.
"Mama saja yang membuktikannya. Kalau aku sudah sangat yakin, selama ini aku sudah di khianati Renita" jawab Refan.
Talita masih tampak tak senang Refan menuduh putrinya berbuat seperti itu.
"Kamu akan merasa sangat menyesal Refan pernah berkata seperti itu. Lihatlah nanti kalau hasilnya sudah keluar dan perkataan kamu itu salah, kamu akan menyesal dan bersimpuh menangis di depan malam Renita" ujar Talita penuh emosi.
"Aku yakin itu tidak akan pernah terjadi Ma. Malah yang aku sangsikan, Mama yang akan menangis di depan makam Renita karena telah di bohongi" sindir Refan.
"Kamu memang sudah berubah Refan, setelah menikah dengan wanita itu kamu jauh berubah. Mama tidak mengenal Refan yang dulu, Refan yang sangat mencintai Renita sepenuh hati" ujar Talita.
__ADS_1
"Refan yang dulu sudah mati karena kebodohannya mencintai wanita yang telah menusuknya dari belakang, mengkhianati cinta tulusnya, membalas kepercayaan dengan sebuah kecurangan. Dan aku bukan berubah karena Kinan Ma, sekali lagi aku tegaskan kepada Mama. Aku berubah bukan karena Kinan tapi aku berubah karena Renita. Karena perbuatannya yang dengan secepatnya menghapus rasa cinta yang cukup besar di hatiku. Semua habis tak bersisa, karena pengkhianatannya" Mata Refan tampak merah karena menahan amarah dan kekecewaan.
Talita jadi takut melihat dan menghadapi sikap Refan yang seperti ini. Refan benar - benar sudah seperti orang asing baginya. Dia seperti tidak mengenal menantunya itu lagi.
Refan yang dulu sangat sopan, lemah lembut dan penyayang keluarga terlebih kepada Renita kini berubah menjadi pria yang keras kepala dan tak punya hati, tega menuduh anak kesayangannya berselingkuh bahkan hamil dari pria lain.
Talita tidak bisa menerima semua ini. Dia segera meraih tasnya dan berdiri di hadapan Refan.
"Mama sangat kecewa dengan kamu, lebih baik Mama tinggalkan rumah sakit ini dari pada tetap di sini tekanan darah Mama bisa naik karena mendengar tuduhan kamu yang tak beralasan" Talita langsung berjalan meninggalkan ruangan rawat inap Naila.
Kini tinggal Refan yang duduk sendiri di sofa. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Air matanya kembali menetes. Ini benar - benar ujian berat dalam hidupnya.
Tiba - tiba ada tangan yang menyentuh bahunya. Refan terdiam dan segera menghapus air matanya. Dia takut Kinan melihat dia menangis tapi sepertinya dia sudah terlambat. Kinan sudah melihat semuanya.
"Naaan maafkan aku.. maafkan aku" ujar Refan.
"Mengapa kamu minta maaf lagi padaku Mas. Kamu kan tidak punya salah apapun?" tanya Kinan tidak mengerti.
"Dulu saat aku menikah dengan Renita dan lama tidak mempunyai anak, keluargaku mengatakan semua itu salahku. Karena aku tidak menjalankan amanah Papaku sebelum dia meninggal yaitu menikah dengan kamu. Karena itu aku membenci kamu. Apalagi saat aku mendengar satu tahun kemudian kamu menikah dan langsung hamil. Keluarga semakin memojokkan aku. Aku sangat bersalah pada kamu Kinan, aku juga sudah banyak berdosa. Aku tidak menjalankan amanah Papa, tidak mengikuti perintah Mama untuk menikah dengan kamu. Aku melawan semua keluarga bahkan aku mengancam akan bunuh diri kalau mereka tidak menikahkanku dengan Renita" ungkap Refan kembali menangis.
__ADS_1
"Dosaku banyak sekali Nan, saat menikah dengan Renita aku tidak bisa mendidik istriku untuk menjaga dirinya sebagai istri dan mengurus rumah tangga dengan baik. Aku tidak bisa seperti Bima yang sudah berhasil mendidik kamu jadi istri salehah. Tanggung jawabku kepada Allah Nan.. sebagai seorang anak yang melawan kepada orang tua sebagai suami yang tidak bisa memimpin rumah tangganya untuk mendekat kepada Allah.. Makanya aku mendapat hukuman seberat ini Nan.. Allah marah padaku dan menghukumku jadi seperti ini" Refan kembali terisak.
"Mas kita tidak boleh berburuk sangka kepada Allah.. Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang Mas. Yakinlah, selama Mas memohon ampun atas semua dosa dan tidak mengulanginya lagi, Allah akan memaafkan semua kesalahan Mas. Allah tidak akan memberikan cobaan kepada umatnya jika umatnya tidak sanggup untuk menghadapinya. Yakinlah... Mas pasti bisa menghadapi semua ini dan ingat dibalik kesulitan pasti Allah beri kemudahan. Dan pasti ada hikmah dari setiap peristiwa yang kita jalani. Allah tidak akan memberikan sesuatu kepada kita tanpa ada maksudnya Mas" nasehat Kinan.
Kata - kata Kinan memang sangat menghibur Refan di saat - saat seperti ini. Betapa beruntungnya dia memiliki Kinan di saat terendah dalam hidupnya. Saat dia kehilangan kepercayaan diri dalam hidupnya. Mendapati kenyataan istrinya selingkuh dan mengandung anak yang bukan benih Refan. Refan harus mengurus bayi yang bukan anak kandungnya.
"Apa yang harus aku lakukan saat ini Nan?" tanya Refan bingung.
"Berserah diri kepada Allah Mas, minta petunjukNYA. Yakinlah Allah akan memberikan jalan keluar yang terbaik. Apapun nanti hasil tes DNA NYA yakin kan diri Mas bahwa itulah yang terbaik. Jangan pernah salahkan diri Mas atas semua yang terjadi. Memang mungkin Renita salah Mas, tapi dia sudah meninggal. Berat memang untuk memaafkannya. Karena aku tau perasaan Mas. Mas pasti sangat sedih dan kecewa juga sakit hati karena di khianati tapi kalau aku boleh kasih saran cobalah berdamai dengan masalah ini. Mas mengumpat dan marah pada Renita kasihan dia di sana Mas. Kita sama - sama tau kan besarnya dosa berzina, ikhlaskan dan maafkan dia Mas agar hukumannya tidak bertambah berat. Untuk Naila mari sama - sama kita perjuangkan masa depannya. Aku akan mendukung Mas mencari siapa Bapak kandung Naila. Yang penting harus jelas siapa Papanya, setelah itu mengenai hak asuh kan bisa kita bicarakan selanjutnya" jawab Kinan.
Refan terdiam dan menatap wajah Kinan sangat lama.
Ya Allah apakah Kinan bidadari surga yang KAU kirimkan untuk menemaniku di dunia ini? Pantas kah aku yang penuh dosa ini bersanding dan hidup bersamanya? tanya Refan dalam hati
Refan menggenggam tangan Kinan dan menciumnya.
"Terimakasih Nan.. terimakasih, kamu selalu ada di sisiku di saat - saat tersulit dalam hidupku. Kamu memberikan semangat bahkan nasehat untuk diriku. Sungguh Nan.. sungguh aku sangat merasa beruntung memiliki kamu saat ini" ujar Refan.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG