
Ini adalah malam pertama mereka menginap di kapal pesiar. Biar gak bosan kru kapal membuat sebuah permainan untuk mereka semua.
Permainan yang santai tapi cukup membuat semua tegang.
"Agar perjalanan kita tidak membosankan bagaimana kalau kita membuat sebuah permaian" ujar salah satu kru kapal.
"Permainan apa?" tangan Aril penasaran.
"Tapi permainannya buat yang muda - muda aja ya Mas. Buat pada Opa dan Oma bisa duduk santai di sofa menonton permainan" jawab Kru Kapal.
"Iya apa dulu permainannya?" tanya Aril lagi.
"Sabar dikit napa sih Ril" ujar Bagus.
"Aku sih masih sabar tapi Bimo udah gak kuat" ujar Aril sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Huss.. ada orang tua" bisik Romi.
"Mereka kan juga pernah muda" bantah Aril.
"Serah lo deh" sambung Romi.
Kru kapal mengeluarkan sendok dan bola pingpong.
"Ini namanya bola estafet. 1 tim dua orang dan berpasangan. Ayo pilih pasangannya masing - masing" perintah kru.
Pasangan pertama Bimo dan Reni, Refan dan Kinan, Jelita dan Tagor kemudian Anita dan Galuh. Pasangan kedua Aril dan Bela, Riko dan Dini, Romi dan Ela, Rizal dan Gery.
Kita bagi dua permainan ya. Silahkan para pasangan suami istri untuk bersiap - siap duluan.
Para pria berada di ujung sebelah kanan ruang santai sedangkan para wanita sebelah kiri. Para pria sudah menggigit ujung sendok di mulut mereka kemudian kru kapal memberikan bola pimpong di sendok mereka.
"Kalau musik berhenti kalian harus berhenti" perintah kru.
"Seeep" ujar Togar.
"Permainan dimulai" ucap kru kapal.
Bimo, Refan, Galuh dan Tagor berjalan menuju pasangan mereka masing - masing dengan membawa bola di atas sendok yang mereka jepit di gigi.
Musik mulai berbunyi mereka berjalan dengan perlahan - lahan karena takut bola jatuh. Di tengah perjalanan musik berhenti tapi karena mereka berada di atas kapal dan lautan tubuh mereka bergoyang-goyang sendiri seperti orang yang sedang berjoget.
Semua tertawa melihat kejadian itu. Terlebih melihat Tagor dengan badan kekarnya bergoyang seperti bergoyang dangdut.
"Hahaha Papaaa lucu" teriak Jeta.
"Iya Papa Abang Jeta lucu" sambut Salman.
Musik kembali mengalun mereka kembali berjalan dengan pelan - pelan. Bimo memimpin di depan.
"Ayo Uncle... " teriak Jeta.
Bimo sampai di depan Reni dan mencoba mentransfer bola pimpong ke sendok Reni. Musik pun berhenti, mereka harus diam.
Karena goyangan kapal Reni bergoyang sedikit kencang, Bimo takut Reni dan bolanya juga jatuh akhirnya Bimo merangkul pinggang Reni.
"Cieee... yang udah halal... "'teriak Romi.
"Panas euy... " sambut Aril.
Musik kembali berbunyi.. Kini giliran Reni yang harus berjalan ke depan dengan membawa bola di atas sendok. Bola Anita ternyata sudah jatuh, Jelita jalannya lama sekali. Kinan mulai menyusul Reni yang berjelan dengan sangat pelan.
__ADS_1
"Ayo yank... kalahkan Reni" sorak Refan.
"Ayo Maaaa cepaaaat" teriak Salman.
"Ayo sayang buruan sedikit lagi" ucap Bimo kepada Reni.
"Jelitaaaa aku padamu... " teriak Tagor.
Semua tertawa mendengar perkataan Tagor dengan logat Medannya. Akhirnya Permainan dimenangkan oleh Reni karena di detik - detik terakhir bola Kinan jatuh.
Bimo lansung memeluk Reni dan mengangkat tubuhnya karena sangat senang.
"Panaaaas" teriak Aril.
"Iri bilang Bos" sindir Romi.
"Halaaah kamu juga sama" potong Bagus.
"Kasihan banget ya kalian malam ini. Kalau kami sih sampai kamar bisa langsung gas, tapi kaliaaan... " ujar Refan.
"Laga pedang Fan bertiga" goda Bagus.
"Asem lo" protes Riko.
"Hahaha... " Bimo tertawa melihat wajah cemberut Aril, Romi dan Riko.
"Eh bukan kalian saja, tuh dua anak muda itu juga" sahut Tagor melirik ke arah Rizal dan Gery.
Kedua pria itu menggaruk kepala mereka yang tak gatal karena salah tingkah.
"Sekarang permaian yang kedua, ayo para pria siap - siap" perintah kru kapal.
"Lah kami berdua pria Mas" protes Rizal.
"Ih aku gak mau" elak Rizal.
"Apalagi aku" bantah Gery.
"Tapi harus ada yang ngalah" ujar Bela.
"Udah kalian hompimpa aja" pesan Ela.
Dua pria itu saling lirik dan mulai menjalankan perintah Ela.
"Alhamdulillah aku yang menang" teriak Rizal.
"Terima nasib kamu Ger" ledek Reni.
"Mau aku pinjamin selendang?" Goda Jelita.
"Makasih Mbak" tolek Gery.
Akhirnya Gery berdiri di sisi para wanita. Permainan di mulai, Aril, Romi, Riko dan Rizal berjalan perlahan sambil membawa bola dalam sendok mereka.
Di tengah jalan musik berhenti, bola Rizal langsung jatuh.
"Ah parah lo" umpat Gery
"Sorry bro" jawab Rizal.
Tinggal Aril, Riko dan Romi yang bergoyang alami karena goyangan kapal.
__ADS_1
"Tarik mang" teriak Bagus.
"Aril lebih mirip pendekar mabuk" ejek Refan.
"Eits jangan sampai terjadi kejadian Bimo dan Reni ya, mereka tadi saling pegang karena sudah halal. Kalian bertiga belum jadi gak boleh sentuh - sentuh" pesan Galuh.
Duh padahal aku tadi udah mau modus pura - pura mau jatuh trus pegang tangan Bela, gagal deh. Batin Aril.
Musik berbunyi lagi dan mereka berjalan sampai ke para wanita yang sedang menunggu kedatangan mereka.
Riko melirik ke arah Dini dan mengedipkan matanya memberi ide. Dini menunduk sedikit agar bola Riko bisa turun ke sendok Reni.
Beda cerita dengan Aril. Saat Aril ingin mentransfer bola musik berhenti. Aril dan Bela saling pandang sesaat.
Ya Tuhaaan... kamu cantik sekali malam ini Bel. Andai kamu memberi lampu kuning atas hubungan kita malam ini juga udah aku lamar kamu di hadapan Bapak dan Ibu. Batin Aril.
Romi posisinya juga sama sendok mereka sudah bersentuhan saat musik berhenti. Mereka hanya bisa saling tatap.
Dosa gak ya kalau aku pura - pura jatuh ke arah Cishela? Ya jelas dosalah. Ada apa dengan otakku. Batin Romi.
Musik kembali berbunyi, bola Aril jatuh saat ingin mentransfer ke sendok Bela.
"Yah jatuh Mas" ucap Bela.
"Iya jatuh, hatiku juga sudah jatuh pada kamu" sambut Aril.
"Apa Mas?" tanya Bela kurang jelas.
"Bolanya jatuh" jawab Aril sambil terus menatap wajah Bela.
"Ehm.. ehm.." sindir Bimo.
Seketika Aril sadar dan mundur untuk menjaga jarak dengan Bela. Kini tinggal Dini dan Ela. Ela yang merupakan atlit bela diri dengan mudah bisa menjaga keseimbangan sehingga dia berjalan dengan penuh percaya diri menyusul Dini yang sudah berjalan di depan.
Musik berhenti Ela dan Dini harus diam tapi ombak diluar sedikit lebih tinggi sehingga mereka bergoyang - goyang dengan sendirinya.
Tak lama musik berbunyi lagi Dini langsung tancap gas berjalan sampai finish.
"Kita menang" teriak Riko.
"Yaaah kalah Cis.. " ujar Romi.
"Cis..? Siapa Cis?" tanya Reni.
"Tu si Ela. Namanya kan Cishela" jawab Bela.
"Hahaha ada - ada aja si Rombeng. Cis.. Cis.. aku kira mancis" ujar Reni tertawa.
Akhirnya permainan berakhir, karena ini hanyalah acara untuk menghilangkan rasa bosan. Para orang tua menyuruh Bimo dan Reni segera masuk ke kamar mereka. Dengan alasan harus istirahat karena sudah capek dengan acara pernikahan mereka seharian ini.
Bimo menarik lembut tangan istrinya.
"Kita ke kamar yuk yank" ajak Bimo.
"Tapi Mas yang lain masih rame disini" jawab Reni.
"Kamu gak dengar tadi Bapak udah kasih kode buat kita. Dia udah pengen banget tambah cucu lagi, biar ada saingan Salman" ujar Bimo.
Wajah Reni langsung bersemu merah karena malu.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG