Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 27


__ADS_3

"Malam ini kami mau tidur bersama cucu - cucu kami ya. Jadi biar malam ini Salman dan Naila tidur bersama kami" ucap Suci.


"Tapi Ma nanti Naila terbangun malam hari kan jadi ngerepotin Mama" elak Kinan.


"Sebelum kalian menikah, Mama sering tidur di sini dan mengurus Naila. Mama sudah terbiasa" jawab Suci.


"Iya, lagian kan sejak kalian menikah gak pernah ada satu malam saja kalian tidak di ganggu oleh anak - anak" sambut Mama Kinan.


"Benar itu Dhis" jawab Suci.


"Tapi Ma" ucap Refan.


"Sudah gak ada tapi - tapian, nikmati aja kebersamaan kalian tanpa gangguan anak - anak. Anggap aja kalian sedang honeymoon" timpa Suci.


Refan dan Kinan saling lirik.


"Den, Non, Nyonya.. makanannya sudah siap" ucap Bik Mar.


"Eh iya Bik, yuk makan Ma.. " ajak Kinan.


Naila di gendong oleh Bik Nah, sedangkan yang lainnya sudah berkumpul di meja makan untuk makan malam.


Seperti biasa Kinan menyiapkan pring lengkap dengan makanan di dalamnya untuk Refan.


"Cukup Mas?" tanya Kinan.


"Cukup, nanti kalau kurang aku tambah" jawab Refan.


Interaksi mereka semua tak luput dari perhatian Suci kepada Refan dan Kinan. Dia tersenyum bahagia melihat anaknya berada di tangan wanita yang tepat.


Bertahun - tahun Refan menikah dengan Renita tak pernah sekalipun Suci melihat Renita meladeni suaminya di meja makan. Bahkan Refan yang sering menawari Renita makanan. Dan menawarkan ini itu pada Renita.


Suci pernah protes kepada Refan, agar bisa mendidik istrinya menjadi istri yang bisa merawat dan melayani suami tapi Refan selalu berkata kalau dia ikhlas punya istri seperti Renita.


Suci berkata bahwa jika begitu istrinya akan berdosa. Refan tetap membela dengan jawabannya. Kalau suami ridho istri tidak akan berdosa.


Akhirnya Suci pasrah dan tidak mempermasalahkannya lagi. Dia tidak mau terus - terusan ikut campur dalam rumah tangga anaknya.


Karena rumah tangga yang terlalu dicampuri oleh orang tuanya biasanya akan berjalan tidak baik. Akan membuat mereka tidak bersikap objektif pada pasangan masing-masing karena pengaruh peranan orang tua mereka.

__ADS_1


Oleh sebab itu, Suci yang mengalah dan menjaga jarak dalam urusan rumah tangga Refan. Bagaimana pun dia melihat putranya itu bahagia menikah dengan Renita jadi biarlah dia yang mengalah dan tetap mendoakan semoga rumah tangga putranya baik - baik saja.


Mereka mulai menyantap hidangan makan malam.


"Mmm.. enak sekali masakannya. Siapa yang masak ini? Bik Mar?" tanya Suci.


"Bukan Nya, Non Kinan yang masak" jawab Bik Mar.


Sejak kejadian minggu lalu, Bik Mar tidak pernah menutup - nutupi atau berbohong tentang masakan.


"Waah pinter masak kamu Nan, enak ini masakan kamu. Bisa gendut Refan kalau makan masakan kamu seperti ini setiap hari" komentar Suci.


"Ah Mama bisa aja. Mas Refan suka makan sedikit untuk tetap jaga badannya Ma" elak Kinan.


"Sayang Fan di lewatkan masakan enak begini. Makan aja yang banyak biar istri kamu lebih semangat masaknya. Kalau soal jaga badan kamu tinggal olahraga sudah beres. Kalau malas olahraga di luar ya olahraga di kamar aja, ajak Kinan" Ujar Suci sambil menyenggol tangan besannya.


"Uhuk... uhukk... " Refan terbatuk karena mendengar ucapan Mamanya.


"Minum Mas" Kinan memberikan gelas minuman untuk Refan minum.


Suci dan Dhisti, Mamanya Kinan saling lirik dan tersenyum. Sudah berhasil membuat kedua anak mereka malu karena perkataan mereka yang sengaja dibuat panas.


"Kalau masakan kamu enak begini, Mama bakalan sering ah.. nginap di sini" sambung Suci.


Aduuh gimana nih kalau Mama benar - benar melakukan apa yang dia katakan. Bisa - bisa ketahuan kalau kami pisah ranjang selama ini. Batin Kinan.


"Si.. silahkan saja Ma, pintu rumah selalu terbuka untuk Mama" jawab Kinan.


"Kalau kamu mau nginap di sini. Ajak - ajak aku ya Ci, aku kan mau juga ikutan. Lepas kangen sama cucu sekalian ketemu kami kita ngobrol panjang" sambut Mama Kinan.


"Pasti Dis, bila perlu mulai dari sekarang kita susun jadwal. Lagian biar mereka bisa sering - sering honeymoon berdua, tanpa gangguan Salman dan Naila. Siapa tau Naila bisa cepat dapat adek" ujar Suci.


"Uhuk.. uhuk... " kali ini Kinan yang batuk.


Refan melirik Kinan dan gantian dia yang memberikan Kinan minum.


Suci dan Dhisti kembali tersenyum. Bik Mar yang melihat kedua majikannya itu serba salah dikerjain orang tua mereka ikut tersenyum.


"Kinan dari dulu emang pinter masak Ci, sejak SMU dia rajin membantuku memasak di rumah. Sesekali dia bereksperimen untuk membuat masakan baru. Dulu Papanya selalu menggodanya dengan bertanya apa tujuan Kinan berjuang keras untuk belajar memasak? Dia menjawab dia ingin memberikan suaminya makan yang terenak di dunia biar suaminya semakin sayang padanya. Aku rasa apa yang di cita - cita Kinan sudah terkabul. Melihatnya kembali bersemangat memasak seperti ini membuatku bahagia. Refan pasti sayang kan sama Kinan karena punya istri yang pinter masak dan pasti betah di rumah?" tanya Dhisti.

__ADS_1


"Ehm.. ehm.. iya Ma" jawab Refan.


Sepertinya kami memang sengaja dikerjain oleh kedua Mama ini. Batin Refan.


Makan malam ini terasa sangat berat bagi Refan dan Kinan. Rasanya menghabiskan makanan yang ada di piring mereka sangat lama sekali habisnya.


Akhirnya selesai juga mereka makan malam bersama. Kinan menyiapkan kedua anaknya untuk tidur bersama dua Oma mereka.


Salman sudah berganti baju tidur dan siap naik keatas tempat tidur untuk tidur sedangkan Naila masih minum susu di dalam gendongan Kinan. Setelah selesai minum susu Kinan menyanyikan lagu shalawat sambil membuai Naila dalam pelukannya.


Tak lama Naila sudah terlelap dalam tidurnya. Suci dan Dhisti juga sudah bersiap - siap untuk tidur.


"Sudah Nan, kamu balik ke kamar gih. Anak - anak kan sudah tidur, kasihan Refan sudah lama menunggu kamu dari tadi di kamar" usir Mamanya sendiri.


"Ma, nanti kalau Naila bangun pampersnya di sini ya. Susunya juga sudah aku letakin di wadah ini jadi Mama tinggal kasih air hangat di dalam dodotnya" pesan Kinan.


"Iya.. iya.. kami sudah tau. Kami lebih berpengalaman dari pada kamu, gak perlu diajari lagi. Sudah sana balik ke kamar kamu" desai Dhisti.


"Iya Ma" jawab Kinan pasrah.


"Yang semangat ya Kinan, kasih kami cucu yang banyak" goda Suci.


Sontak wajah Kinan berubah jadi merah karena menahan malu.


"Aku ke kamar ya Ma, kalau ada apa - apa gedor aja pintunya. Jangan sungkan untuk bangunin kami" ucap Kinan.


"Iya.. tenang aja. Kan sudah Mama bilang, kami tidak akan mengganggu kamu malam ini" tegar Suci.


"Hehehe.. Iya Ma" jawab Kinan tersipu malu.


Kinan kini berjalan menuju kamarnya melewati pintu penghubung antara dua kamar itu. Begitu Kinan keluar, Suci langsung mengunci pintu itu dari dalam kamar mereka, agar Kinan tidak bisa masuk lagi ke kamar mereka.


Kini Kinan sudah berada di kamar Refan. Refan sedang sibuk memainkan laptopnya. Dia masih mengerjakan pekerjaan kantornya.


Kinan ragu untuk naik ke atas tempat tidur, tapi mau dimana lagi dia tidur malam ini. Dia mondar mandir berjalan di kamar Refan membuat Refan jadi memperhatikan tingkahnya.


"Ngapain kamu? Kalau mau tidur ya sudah naik ke tempat tidur. Ini malah mondar - mandir, pusing aku melihat kamu" ucap Refan.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2