Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 296


__ADS_3

Bimo dan Reni sudah sampai di rumah Refan dengan membawa koper.


"Kamu jadi tinggal di sini sementara?" tanya Bu Suci.


"Jadi Ma, Mas Bimo takut tinggalin aku sendirian. Bela dan Ela kan harus kerja. Kalau pagi aku masih mual - mual Ma" jawab Reni.


"Iya gak apa, disini aja. Mama jadi merasa lebih tenang kalau kamu disini" ujar Bu Suci.


"Mama aku titip Reni ya" ujar Bimo.


"Iya Bim. Kalian hati - hati di sana ya" balas Bu Suci.


Refan dan Kinan keluar dari kamar.


"Kalian langsung pergi Mas?" tanya Kinan.


"Iya, tiket sudah dipesan. Kalian baik - baik di sini ya" Refan mencium kening Kinan.


Kemudian Refan mencium anak - anaknya satu persatu.


"Papa pergi ya sayang, Kakak Salman jaga Mama dan adik - adik kamu ya sayang" ucap Refan sambil membelai lembut kepala Salman.


"Siap Bos" jawab Salman lantang membuat semua orang tersenyum melihatnya.


"Yuk Bim kita pergi" ajak Refan setelah mencium tangan Mamanya.


Saat Bimo melirik istrinya Reni segera menjauh.


"Maaf ya Mas aku bisa peluk kamu. Nanti aku mual. Mas hati - hati ya" pesan Reni.


"Kamu juga baik - baik ya selama Mas pergi. Jangan lupa minum vitamin dan susunya" jawab Bimo


Dengan tatapan nelangsa akhirnya Bimo membalikkan badannya dan meninggalkan Reni juga keluarga kecil Refan.


Mereka masuk ke dalam mobil dengan diantar supir mereka berangkat menuju Bandara dan terbang ke Labuhan Bajo.


Sesampainya di Labuhan Bajo Refan dan Bimo dijemput oleh pihak Hotel dan langsung dibawa ke Hotel berhubung hari sudah malam.


Keesokan paginya saat Bimo dan Refan sedang sarapan di Restoran Hotel.


"Fan pelakunya sudah ditangkap. Barusan aku dihubungi oleh rekan aku yang bekerja di kantor polisi di sini" ucap Bimo.


"Alhamdulillah syukurlah. Berarti setelah sarapan pagi ini kita langsung ke kantor polisi" sambut Refan.


Tiba - tiba ponsel Refan berdering, Refan melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


Pak Sitompul, ngapain dia menghubungiku di jam seperti ini, bukannya di Jakarta Masih sangat pagi? tanya Refan dalam hati.


Refan langsung mengangkat telepon dari pengacara Pak Reno di Jakarta.


"Halo Pak Sitompul" sapa Refan.

__ADS_1


"Halo Pak Refan, dari tadi malam saya hubungi Bapak baru ini diangkat. Apakah Bapak baik - baik saja?" tanya Pengacara.


"Alhamdulillah saya baik - baik saja. Saya saat ini memang sedang di luar kota, tepatnya di Labuhan Bajo" jawab Refan.


"Ada kabar apa Pak di sana?" tangan Pak Pengacara.


"Pelaku pengejaran Papa Reno sudah tertangkap tadi malam. Jadi rencananya pagi ini kami akan segera ke kantor polisi" ungkap Refan.


"Apa ini ada hubungannya dengan kabar yang ingin saya sampaikan kepada Bapak?" ujar Pengacara.


"Berita apa yang ingin anda sampaikan?" tanya Refan penasaran.


"Tiba- tiba saja Perusahaan yang dikelola Pak Arga Laksamana menarik investasinya di perusahaan Pak Reno kemarin" jawab Sang Pengacara.


Seeer... jantung Refan berdetak kencang.


"Ini sepertinya berkaitan dan sangat mencurigakan. Apakah penangkapan pelaku memang ada hubungannya dengan Arga Laksamana dan ponakannya Papa Reno? Dia mungkin takut tercium niat jahatnya dan buru - buru menarik investasinya dari perusahaan. Benar - benar gegabah.. Bukannya malah semakin kelihatan kalau dia bisa sangat kita curigai" sambut Refan.


Bimo ikut menyimak pembicaraan Refan dengan Pengacara Pak Reno.


"Tolong Bapak selidiki masalah ini selama saya ada di Labuhan Bajo. Ini benar - benar sangat mencurigakan" sambung Refan.


"Baik Pak Refan, saya akan terus menyelidiki masalah ini. Anda urus saja semua di sana saya yang bertugas di sini. Mudah - mudahan semuanya cepat selesai di sana jadi anda bisa secepatnya kembali ke Jakarta" balas Pengacara.


"Oke Pak Sitompul saya titip pantau Perusahaan selama saya tidak ada di Jakarta. Kalau begitu telepon saya tutup ya, saya mau segera pergi ke kantor polisi" ucap Refan.


"Baik Pak" jawab Pengacara.


Telepon terputus, Bimo menatap Refan dan menanti penjelasan dari Refan.


"Apa ada hubungannya dengan tertangkapnya pelaku?" tanya Bimo.


"Aku rasa ada hubungannya mereka waktu tepat bersamaan. Sebaiknya kita segera ke Kantor Polisi agar bisa segera tau siapa dalang semua ini" jawab Refan.


"Baik, ayo Fan kita segera berangkat" ajak Bimo.


Refan dan Bimo segera melangkah meninggalkan Hotel dan berangkat menunju kantor polisi. Disana mereka bertem dengan salah seorang pejabat kepolisian kenalan Bimo.


"Selamat pagi Pak Bimo" sapa seorang polisi.


"Pak Pak Septian. Apa kabar Anda" jawab Bimo.


"Baik Pak, silahkan duduk" sambut Polisi.


Polisi memberikan beberapa lembar foto. Di dalamnya terlihat gambar seorang pria.


"Apakah kalian mengenali wajah pria ini?" tanya pak Polisi.


Bimo dan Refan segera memandang foto yang ada di tangan mereka.


"Aku tidak mengenalnya" jawab Bimo.

__ADS_1


"Aku juga sama" sambut Refan.


"Pria ini memang asli orang Labuhan Bajo tapi siapa tau kalian mengenalnya. Dia adalah pelaku yang melakukan pengejaran pada keluarga Bapak Reno sehingga mengakibatkan Pak Reno dan istrinya kecelakaan dan meninggal dunia" ungkap Polisi.


"Apakah kita sudah bisa mengetahui apa motifnya?" tanya Refan tak sabar.


"Semua masih dalam penyelidikan Pak Refan, saya harap Anda bisa bersabar. Secepatnya kita akan mengetahui siapa dalang dari semua ini" jawab Pak Polisi.


"Saya harap motif dan dalangnya bisa segera diketahui karena ini menyangkut keselamatan anak saya dan juga keluarga saya yang lain. Karena masalah ini saya dan keluarga saya tidak nyaman untuk bepergian kemana - mana. Kami merasa seperti diikuti, dipantau dan merasa ketakutan dan hidup terancam" ungkap Refan.


"Iya Pak Refan kami sangat mengerti apa yang Bapak dan keluarga Bapak alami. Kami akan bergerak secepatnya untuk mengusut tuntas siapa dibelakang semua ini" jawab Pak Polisi.


Refan dan Bimo diam sesaat.


"Apa kalian ingin bertemu dengan pelaku?" tanya Pak Polisi.


"Apakah boleh?" Bimo balik bertanya.


"Boleh, tapi tolong jaga sikap kalian saat bersamanya. Kalian tidak boleh main hakim sendiri. Dia sedang dalam proses hukum jangan sampai kalian terbawa emosi" pesan Pak Polisi.


"Baik Pak" sahut Refan.


Pak Polisi berdiri dan berjalan ke luar ruangannya diikuti oleh Refan dan Bimo. Mereka masuk kedalam ruangan yang terlihat seperti tahanan.


Refan dan Bimo menatap pria itu dengan tatapan tajam. Refan maju dan mendekati pria itu.


"Apa tujuan kamu mengejar Pak Reno Subrata hingga dia mengalami kecelakaan?" tanya Refan dengan suara penuh emosi.


Pria itu tetap tunduk dan terdiam.


"Apa hubungan kamu dengan Pak Reno Subrata? Apa kamu punya dendam? Jawab bangsaaa*" teriak Refan.


Bimo langsung menahan tubuh Refan yang semakin emosi setelah melihat pelaku secara langsung.


"Fan tahan Fan.. sabar. Kamu tidak bisa berbuat begini" pesan Bimo.


"Pak Reno itu orang baik, jadi tidak akan mungkin ada orang yang punya dendam pribadi padanya. Teganya kamu melakukan itu padanya, pada istrinya dan juga anakku" ucap Refan geram.


"Semuanya karena harta Pak.. " jawab Pria itu.


"Apa maksud kamu?" tanya Refan terkejut.


"Anda pasti tau apa arti ucapan saya? Kalau anda belum mengerti silahkan Anda cari tau sendiri apa yang saya katakan tadi" jawab pria itu.


Pria itu menjauh dari Refan dan Bimo dan duduk di lantai ruang tahanan.


"Sebaiknya kita keluar dari sini Fan, biarkan polisi yang melanjutkan penyelidikan ini" ajak Bimo.


Bimo dan Refan keluar dari ruangan dimana Polisi yang menemani mereka tadi sudah menunggu


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2