
"Golongan darahku O, sedangkan Renita A. Mengapa Naila bergolongan darah AB?" tanya Refan.
Kinan langsung mendekati suaminya karena penasaran.
"Ah masak seperti itu Mas? Apakah pihak Rumah Sakit salah memeriksanya?" tanya Kinan..
"Gak mungkin rumah sakit sebesar ini bisa sampai salah. Mereka pasti sudah memeriksanya dengan hati - hati dan hasilnya pasti sangat akurat" bantah Suci.
"Apa Naila ketukar?" tanya Talita.
"Tidak.. Naila gak mungkin tertukar. Lihatlah wajahnya mirip sekali dengan Renita. Aku juga bisa pastikan saat Naila lahir dia benar - benar di jaga dan diberi tanda dengan baik. Tidak akan mungkin tertukar" jawab Refan.
"Jadi kalau begitu, jangan - jangan Naila bukaaan" ujar Suci.
"Bukan apa Suci? Kamu jangan sembarangan tuduh. Anakku adalah wanita baik - baik dan terhormat. Tidak mungkin dia melakukan sesuatu seperti itu" bantah Talita dengan emosi.
"Mama... tolong kalian diam. Kalau kalian terus bertengkar seperti itu lebih baik kalian pulang saja" usir Refan.
Suci dan Talita terdiam, kelihatannya saat ini Refan memang sedang panik melihat hasil pemeriksaan darah Naila.
"Mas lebih baik ditanyakan ulang hasilnya, siapa tau memang ada kesalahan dari pihak Rumah Sakit" saran Kinan.
Refan menatap wajah Kinan dalam. Terlihat Kinan memang ingin memberikan saran. Tidak ada maksud atau tujuan untuk mengejek Refan.
"Baik, kalau begitu aku akan tanyakan kebagian administrasi" sambut Refan.
Refan segera keluar dari ruangannya sementara Suci dan Talita saling pandang dan keduanya ikut keluar menyusul Refan. Mereka sangat penasaran dengan hasil darah Naila.
Kini tinggal Kinan dan Renita di ruangan berdua menjaga Naila.
"Kalau seandainya Naila bukan anaknya Mas Refan, Mbak Renita keterlaluan. Berarti selama ini dia sering keluar kota bukan untuk urusan tugas tapi untuk selingkuh" oceh Reni.
"Huss... gak boleh buruk sangka Ren. Belum tentu itu yang terjadi. Siapa tau pihak rumah sakit yang salah memeriksa golongan darah Naila" sambut Kinan.
Kinan menatap Naila yang masih tidur dengan nyenyak. Dengan penuh kasih sayang Kinan membelai kepala Naila. Naila masih sangat kecil untuk menghadapi semua masalah hidup ini jika perkataan Reni tadi benar.
Ya Tuhan.. bayi mungil ini tidak berdosa. Semoga apa yang Reni khawatirkan tidak benar. Batin Kinan.
__ADS_1
Kinan tidak berani membayangkan apa yang aka terjadi dengan Refan dan Naila kedepannya jika memang Naila bukan anak kandungnya Refan.
Apakah Refan bisa menerimanya atau tidak? Kinan sudah jatuh hati pada bayi mungil itu dan dia sangat menyayanginya. Tak peduli dia anak siapa, Kinan tidak mempermasalahkannya.
Sementara di ruang administrasi Refan mengungkapkan hasil pemeriksaan darah putrinya.
"Saya mau bertanya mengenai hasil pemeriksaan darah putri saya" ucap Refan kepada bagian administrasi.
"Ada yang bisa kami bantu Pak?" tanya petugas Rumah Sakit.
"Bagini, di kertas ini tertera kalau golongan darah putri saya AB. Apakah terjadi kesalahan dalam pemeriksaan darah putri saya?" tanya Refan.
"Maaf Pak, kalau soal itu kami bisa pastikan tidak ada terjadi kesalahan dalam pemeriksaan karena kami bisa menjamian petugas yang bersangkutan melakukan tugasnya dengan benar dan terpercaya. Jadi tidak akan terjadi kesalahan seperti yang Bapak khawatir kan" jawab petugas itu.
"Masalahnya saya bergolongan darah O sedangkan almarhumah istri saya bergolongan darah A. Bagaimana bisa putri saya bergolongan darah AB?" tanya Refan.
Pegawai administrasi tersebut terdiam. Kalau seperti ini dia memang tidak bisa memastikan dimana letak kesalahannya.
"Kami bisa pastikan kalau pihak Rumah Sakit tidak melakukan kesalahan. Tapi kalau Bapak menyangsikannya, mohon izin kami akan melakukan pemeriksaan ulang terhadap darah putri Bapak" pinta petugas dengan sangat sopan.
"Maaf Pak tidak ada cara lainnya lagi untuk memastikannya. Kami akan berusaha tidak membuat putri Bapak kesakitan" jawab petugas.
Refan tampak sedang berpikir.
"Tidak apa Fan, mereka kan sudah sangat profesional. Mama yakin mereka bisa mengambil darah Naila dengan sangat baik. Biar semua jelas dan kita tidak terus berburuk sangka" ujar Suci.
Sedangkan Talita dari tadi dia tidak banyak berbicara. Mengingat bagaimana kedekatan Renita dulu pada bosnya membuat Talita merasa hal itu bisa saja terjadi.
Tapi ya Tuhaaan.. mengapa setelah kamu pergi Mama jadi menanggung malu atas kesalahan kamu. Ah.. tidak.. tidak.. kamu kan sangat menyayangi suami kamu Refan, kamu kan selalu bilang tidak bisa hidup tanpa Refan. Mana mungkin kamu melakukan perbuatan itu. Batin Talita.
Refan menarik nafasnya panjang.
"Ya sudah lakukan pemeriksaan darah sekali lagi kepada putri saya" perintah Refan.
"Maaf Pak, apakah dengan mengambil sample darah bisa sekalian untuk melakukan tes DNA?" tanya Suci.
Talita menatap wajah Suci tak percaya. Dia benar - benar tidak menyangka Suci dengan sangat cepat mencurigai putrinya mengkhianati Refan.
__ADS_1
"Maaa.... " potong Refan.
"Mama hanya berjaga - jaga. Kalau memang pemeriksaan yang kedua hasilnya juga sama tidak ada salahnya kan kalau kita melanjutkan tes DNA. Semua kemungkinan bisa saja terjadi Fan. Misalnya, bisa saja Naila ketukar saat dia lahir" ujar Suci.
Sebenarnya bukan itu yang ingin dia katakan. Suci ingin sekali mengatakan kalau siapa tau Renita selingkuh dibelakang kamu. Tapi dia tidak tega mengatakan hal itu kepada putranya, pasti hati putranya sangat hancur.
Sesekali Suci melirik ke arah Talita, walau saat ini Talita tidak banyak bicara tapi wajah angkuhnya tidak berkurang sedikitpun. Membuat Suci semakin geram melihat wanita yang ada di sampingnya itu.
Suci ingin melihat bagaimana wajah wanita angkuh itu ketika mengetahui kalau Naila memang bukan anak Refan. Apakah wanita itu tetap angkuh seperti sekarang ini.
Putri yang dia bangga - banggakan, cantik, pintar dan kesayangan bosnya itu ternyata selingkuh dibelakang suaminya yang tak lain adalah putranya Suci.
Atau jangan.. jangan.. Naila itu anak Renita dan bosnya? Batin Suci berkata.
Astaghfirullah... aku tidak boleh suudzon. Sebelum semuanya jelas apa hasilnya, Suci akan berusaha menjaga kata - katanya di depan Refan.
Suci sangat tau apa yang saat ini sedang dirasakan Refan. Pasti Refan sangat khawatir dengan hasil pemeriksaan darah Naila. Bagaimanapun Refan sudah sangat menyayangi bayi itu. Kalau seandainya Naila bukan anak Refan. Apa yang akan Refan lakukan?
"Bisa Bu" jawab petugas itu.
"Kalau begitu lakukan pemeriksaan ulang pada cucu saya, agar semuanya jelas dan tidak ada lagi pikiran buruk atau dugaan tak beralasan. Kami tidak ingin terjadi perpecahan dalam keluarga kami, apalagi terjadi perang antara dua keluarga" Ujar Suci.
"Lakukan seperti yang saya minta, tes darah putri saya saja dulu. Setelah itu baru dipikirkan soal yang lain. Apakah untuk tes golongan darah memakan waktu yang lama?" tanya Refan.
"Tidak Pak, tidak memakan waktu yang lama" jawab petugas.
"Kalau begitu lakukanlah secepatnya" perintah Refan.
"Baik Pak. Petugas kami akan segera melakukan pemeriksaan darah ulang kepada putri Bapak. Sebentar lagi petugas kami akan datang ke kamar rawat inap untuk mengambil sample darah. Bapak dan Ibu bisa menunggunya di sana" balas petugas.
"Baik kalau begitu kami akan menunggu di ruangan rawat inap" jawab Refan.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1