Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 79


__ADS_3

Mendekati subuh Kinan dan Refan terbangun karena suara tangisan Naila. Kinan langsung turun dari tempat tidur dan menghampiri Naila.


"Ya Allah Mas, badan naila panas sekali" ujar Kinan.


Refan langsung turun dan mendekat kemudian memeriksa tubuh Naila.


"Kamu kenapa sayang? Tadi malam masih baik - baik saja" tanya Refan panik.


Kinan langsung memberikan Naila kepada Refan dan segera mengambil botol obat Naila. Setelah itu Kinan memberikan Naila obat. Kinan juga mengompres kepala Naila.


Tapi Naila tak juga berhenti menangis.


"Sayang cup.. cup... sabar ya nak. Sudah mama kompres sebentar lagi Naila sembuh ya" bujuk Kinan lembut.


Refan memperhatikan sikap Kinan yang sangat lembut kepada Naila. Kinan memang benar - benar menyayangi putrinya seperti anaknya sendiri.


Adzan subuh terdengar sayup - sayup.


"Mas shalat duluan gih biar aku gendong Naila. Nanti setelah itu kita gantian jaga Naila" perintah Kinan.


"Iya" jawab Refan.


Refan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih - bersih dan berwudhu. Setelah itu dia keluar kamar mandi dan shalat di kamar.


Saat Kinan dengan repotnya hendak membentang sajadah sambil menggendong Naila, Refan mencegahnya.


"Biar aku saja Nan, kamu gendong Naila saja. Aku bisa sendiri" ujar Refan.


Refan memakai sarung dan baju shalatnya setelah itu membentang sajadahnya. Kemudian Refan memulai shalat.


Tak lama kemudian gantian Refan yang menggendong Naila dan Kinan yang bersiap mau shalat subuh.


Setelah keduanya sama - sama sudah selesai shalat mereka berdua menemani Naila yang kini sudah tertidur di atas tempat tidur mereka. Kinan memindahkan Naila ke atas tempat tidur agar lebih mudah mengurusnya.


"Mas, hari ini aku izin saja di kantor. Aku gak tenang kalau harus meninggalkan Naila sakit seperti ini" ujar Kinan.


"Ya sudah kalau begitu kamu di rumah aja dan tolong jaga Naila. Kalau ada apa - apa jangan lupa kabari aku" jawab Refan.


"Iya Mas, sekarang Naila kan sudah tenang tidur. Tolong kamu jagain dia ya. Aku mau siapkan sarapan pagi kita" Pinta Kinan.


"Iya. Sebentar lagi aku juga mau mandi" balas Refan.


Kinan bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.


"Tumben Non Kinan belum mandi, biasanya keluar kamar Non sudah mandi lebih dulu?" tanya Bik Mar penasaran.

__ADS_1


"Sebelum subuh Naila tadi nangis Bik, badannya panas. Jadi aku dan Mas Refan gantian jagainnya" jawab Kinan.


"Lho kok bisa demam? Jangan - jangan dia kecapean saat di rumah Almh. Non Renita Non" tanya Bik Mar.


"Huss.. jangan bilang gitu Bik nanti Mas Refan marah" jawab Kinan.


"Sekarang udah gimana keadaannya?" tanya Bik Mar lagi.


"Udah aku kasih obat demam tadi, dia tidur lagi di kamar. Dijagain sama Mas Refan" balas Kinan.


"Lho Non Kinan ngapain keluar, di kamar aja jagain Naila. Biar Bibik yang masak" protes Bik Mar.


"Udah gak apa Bik, Naila juga sudah tenang kok. Biar aku saja yang masak. Cuma sebentar kok masak nasi goreng aja" ujar Kinan.


Kinan segera menyiapkan bahan masakannya di bantu sama Bik Mar. Tak lama kemudian dia sudah siap memasak sarapan dan kembali ke kamarnya.


Sesampainya di kamar Kinan melihat Refan juga ikut tidur kembali di samping Naila. Kinan perlahan membangunkan Refan.


"Mas... Mas... sudah semakin siang lho. Mandi sana gih, biar kita sarapan" perintah Kinan.


Refan terbangun dan langsung memeriksa tubuh Naila.


"Masih hangat badannya tapi tidak begitu panas lagi" ujar Refan.


"Iya, biar aku siapkan susunya ya. Mas mandi dulu sama. Pakaian Mas sudah aku siapkan di sana" Ucap Kinan sambil menunjuk ke arah pakaian Refan.


Kinan sedang memberikan Naila susu saat Refan bersiap - siap ke kantor. Saat hendak menemani Refan ke meja makan Kinan menggendong Naila. Dia tidak tega meninggalkan Naila di kamar sendirian karena saat ini Naila sedang sakit


Sesampainya di ruang makan, Kinan menitipkan Naila pada Bik Nah.


"Lho kok kepala Naila di kompres Non?" tanya Bik Nah.


"Iya Bik dari subuh badan Naila panas banget" jawab Kinan.


Kinan mengambilkan makanan untuk Refan kemudian untuk Salman.


"Adek sakit ya Ma? Sakit apa?" tanya Salman.


"Iya sayang, adek Nailanya lagi demam" jawab Kinan lembut.


"Kata Bibik karena adek kecapean di rumah Omanya" oceh Salman.


Bik Mar dan Bik Nah saling lirik, sedangkan Refan langsung menatap ke arah Bik Nah.


"Kemarin waktu di rumah Mama Naila Bibik pegang terus?" tanya Refan.

__ADS_1


Bik Nah langsung terdiam dan menunduk.


"Maaf Den bibik gak bisa jaga Naila full karena Naila di over sana sini sama keluarga almh. Non Renita. Dan Naila juga dibawa ke kamar Nyonya jadi bibik gak bisa masuk. Paling kalau sudah waktunya Naila minum susu, bibik hanya bisa kasi botol susunya kepada Nyonya" jawab Bik Nah takut.


Refan tampak sedang menahan amarahnya.


"Mungkin Mamanya almh. Renita sangat kangen Mas sama Naila. Gak apa - apa itu cuma kecapean. Nanti dia tidur dan minum susu teratur dan minum obat pasti akan sembuh" ucap Kinan menenangkan.


Refan kembali melanjutkan sarapannya. Setelah selesai sarapan Kinan mengantarkan Refan yang akan berangkat kerja ke depan rumah. Seperti biasa Kinan mencium tangan suaminya dan kini Refan juga sudah terbiasa untuk mencium kening istrinya.


"Jangan lupa Nan kalau ada apa - apa kabari aku ya" ujar Refan.


"Iya Mas. Akan aku kabari terus kamu perkembangan tubuh Naila. Mudah - mudahan siang ini panas Naila sudah turun" balas Kinan.


Refan segera masuk ke mobilnya dan berjalan bergerak menuju kantornya. Kinan segera kembali masuk ke dalam rumah.


"Nok Kinan gak ke kantor hari ini?" tanya Bik Mar.


"Nggak Bik, aku izin karena Naila lagi sakit" jawab Kinan.


Kinan menghampiri Bik Nah dan hendak mengambil Naila dari gendongan Bik Nah.


"Gimana Bik badan Naila?" tanya Kinan.


"Masih terasa hangat Non" jawab Bik Nah.


"Tolong ambilkan baju Naila yang tipis Bik, kita ganti aja bajunya. Kasihan yang ini sudah basah. Salman main sendiri dulu ya sayang, Nama sama Bibik mau jagain adek Naila dulu" ujar Kinan pada putranya.


"Iya Ma" jawab Salman.


Kinan dan Bik Nah masuk ke kamar untuk mengganti baju Naila. Sampai siang tubuh Naila tetap hangat bahkan semakin panas. Dia juga rewel dan terus menangis.


Minum susu juga hanya sedikit membuat tubuh Naila semakin lemah. Kinan semakin takut terjadi sesuatu dengan Naila. Kinan segera mengecek suhu tubuh Naila ternyata panasnya tinggi sekali.


Dia segera meraih ponselnya dan menghubungi Refan. Kinan takut kalau terjadi sesuatu dengan Naila Refan akan marah padanya.


"Assalamu'alaikum Mas" ucap Kinan.


"Wa'alaikumsalam. Ya Nan, ada apa?" tanya Refan langsung.


"Mas Naila tubuhnya panas sekali, aku takut kalau semakin panas dia bisa kejang Mas. Selain itu dia juga semakin lemas, rewel dan gak mau minum susu. Sepertinya kita harus membawa Naila ke rumah sakit Mas. Aku takut terjadi sesuatu dengan Naila" lapor Kinan.


"Ya sudah Nan, kamu siapkan semuanya ya, aku akan menjemput kalian di rumah" jawab Refan.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2