
Setelah selesai shalat subuh mereka duduk di sofa balkon sambil saling berpelukan menikmati matahari terbit.
"Nan kalau kita udah resmi pacaran bisa donk mulai sekarang aku panggil kamu sayang" ujar Refan.
Kinan mempererat pelukan Refan di perutnya.
"Boleh kan?" tanya Refan.
Kinan menganggukkan kepalanya.
"Boleh gaaak?" tanya Refan lagi.
"Iya Mas boleeeh" jawab Kinan.
"Naah kan jadi pacarannya lebih asik dan romantis" balas Refan sambil mencium wangi rambut Kinan.
"Hari ini rencananya kita mau kemana Mas?" tanya Kinan.
"Gak ada, di villa aja pacaran" jawab Refan.
"Maaas" Kinan mencubit paha Refan.
"Aaaww... sakit yank" teriak Refan.
Sontak wajah Kinan bersemu merah.
"Aku serius lho Mas" ujar Kinan.
"Aku juga serius" Refan memperkuat pelukannya
"Males ah.. kalau cuma mau di kamar aja ngapain jauh - jauh ke Bali" ujar Kinan cemberut.
Refan membalikan wajah Kinan dan tersenyum melihat wajah manyunnya Kinan.
"Ngambek" ucap Refan sambil mencubit hidung Kinan dengan mesra.
"Iiish... " desis Kinan masih cemberut.
"Setelah sarapan pagi di hotel kita jalan ya.. kamu maunya kemana hari ini?" tanya Refan.
"Terserah Mas aja, aku kan belum pernah ke sini. Kemana aja aku mau" jawab Kinan.
"Oke.. kita pergi ke ujung dunia" balas Refan nakal.
"Kok ke ujung dunia sih?" tanya Kinan bingung.
"Tadi katanya terserah aku? Kemana aja aku bawa kamu mau? Sekarang aku mau bawa kamu ke ujung dunia" jawab Refan sambil tersenyum nakal.
"Kita ini di Bali Maaaas... emangnya Bali itu ujung dunia? Terus emangnya dunia itu ada ujungnya? bumi kan bulat jadi gak ada istilah mentok" jawab Kinan kesal.
"Hahaha.... " Refan tertawa melihat wajah Kinan dan juga mendengar jawaban Kinan.
"Udah terang nih Mas, aku gak mau jemuran ah nanti kulitku makin hitam" ungkap Kinan.
"Gak apa - apa kan hitam asalkan manis" jawab Refan.
"Emang gula di bilang manis" ujar Kinan.
"Senyum kamu manis, penuh gula ditambahin teh lalu diaduk - aduk dihati aku" gombal Refan.
"Gombal" timpa Kinan.
__ADS_1
"Hahahaha... garing ya. Habis aku gak bisa gombal sih" Refan menggaruk - garuk kepalanya yang tak gatal.
"Yuk Mas kita siap - siap sarapan baru setelah itu kita jalan - jalan" ajak Kinan.
Kinan bangun dari duduknya lalu menarik Refan dan mengajaknya ke kamar untuk bersiap - siap. Refan mengikuti istrinya sambil tetap memeluk istrinya dari belakang.
"Ya ampuun.. bayinya gede bangeet" goda Kinan.
"Kamu yaaaa...." Refan menggelitiki pinggang istrinya.
Kinan langsung berlari menjauhi Refan. Refan mengejar Kinan dan terjadilah adegan film India. Mereka saling berkejar - kejaran di dalam kamar hingga keduanya lemas dengan nafas yang masih menderu.
"Aku nyerah Maaas... dan lapar" ungkap Kinan.
Refan menarik tubuh istrinya.
"Yuk kita bersiap - siap" ajak Refan.
Mereka kemudian bersiap- siap untuk sarapan pagi dan kemudian berangkat jalan - jalan keliling kota Bali. Refan benar - benar memanjakan Kinan saat ini. Dengan senang hati dia membawa kemanapun Kinan mau.
*******
Sudah tiga hari mereka berada di Bali untuk honeymoon yang tertunda membuat keduanya semakin dekat baik jiwa ataupun raga mereka. Keduanya benar - benar menikmati waktu kebersamaan mereka.
Sore itu Kinan dan Refan berjalan - jalan di pinggiran Pantai Kuta sambil menikmati matahari terbenam. Mereka saling bergandengan tangan di sepanjang pinggiran pantai.
Kinan melihat ada penjual kelapa muda di pinggir pantai.
"Mas, aku pengen minum kelapa muda itu?" Kinan menunjuk ke arah penjual kelapa muda.
"Yuk... " jawab Kinan
Mereka berjalan menuju penjual kelapa muda.
"Baik Mas" jawab penjual kelapa muda.
Tak lama kemudian pesanan mereka datang, Refan dan Kinan minum ditepi pantai.
"Mas aku kok pengen makan bakso ya" tiba - tiba Kinan membayangkan semangkok bakso yang pedas.
"Mmmm... pakai cabe yang banyak pasti enak. Uuh tiba - tiba pengen banget.. " Ujar Kinan.
Refan tersenyum melihat wajah Kinan yang mupeng.
"Pengen banget ya.. Nanti malam kita cari ya.. udah hampir maghrib kita shalat dulu baru kita cari apa yang kamu mau" sambut Refan.
"Tapi pengennya sekaraaang" rengek Kinan dengan wajah manyun.
Refan semakin tersenyum melihat wajah Kinan seperti itu. Tiba - tiba saja istrinya b
erubah seperti anak kecil yang merengek minta dibeliin es krim.
"Trus shalat maghribnya gimana?" tanya Refan.
"Dijamak aja ya, aku udah pengen banget Mas" pinta Kinan.
Refan menarik nafas panjang. Saatnya menyenangkan istri.
"Baiklah yuk kita cari bakso yang kamu mau" ajak Refan.
Refan membayar es kelapa muda mereka kemudian berjalan bergandengan tangan mencari Restoran yang menjual bakso.
__ADS_1
Tapi belum sampai mereka menemukan penjual bakso tiba - tiba Kinan berhenti dan menahan tangan Refan.
"Mas udahan yuk, aku capek jalan" ujar Kinan.
"Lho tapi kan baksonya belum dapat yank" jawab Refan.
"Aku udah gak pengen lagi" balas Kinan.
"Serius? Tapi tadi kamu pengen banget lho yank, kok bisa tiba - tiba gak jadi gitu?" tanya Refan bingung.
"Namannya aku udah gak mau Maaas" tiba - tiba wajah Kinan berubah menjadi sedih dan air matanya menetes dari sudut matanya.
Membuat Refan menjadi panik dan bingung mengapa tiba - tiba istrinya jadi cengeng seperti ini.
"Yank jangan nangis.. jadi kamu maunya apa?" bujuk Refan.
"Aku mau pulang aja, aku capek" jawab Kinan
"Ya sudah kalau begitu kita pulang ke Villa ya" ajak Refan.
"Tapi aku capeeek" Kinan masih menangis.
Duh mengapa tiba - tiba Kinan seperti ini? Tiba - tiba berubah seperti anak kecil seperti ini merengek dan menangis.
"Villanya udah dekat yank" ujar Refan masih berusaha membujuk.
"Tapi aku capek" jawab Kinan lagi.
"Trus maunya gimana? Kita naik taxi?" tanya Refan.
Kinan menggelengkan kepalanya.
"Kalau kamu gak mau jadi gimana donk kita pulang ke Villa? jalan gak mau, naik taxi gak mau. Maunya apa yaaank?" tanya Refan dengan penuh kesabaran.
"Aku pengennya di gendong" jawab Kinan sambil tertunduk malu.
Sontak Refan terkejut mendengar jawaban Kinan.
"Di gendong?" tanya Refan tak percaya.
"Iya" Kinan menganggukkan kepalanya.
Waduh... gimana cara menggendong Kinan? kalau berjalan sambil menggendong lumayan juga tuh remuknya. Batin Refan.
Refan menarik nafas panjang.
"Ya sudah yuk aku gendong. Mau gendong dimana? Depan atau belakanh?" tanya Refan masih sabar.
"Belakang aja ya" Jawab Kinan dengan gembira. Tiba - tiba saja wajahnya terlihat ceria membuat Refan tak tega menolaknya.
"Oke.. kalau begitu kamu naik, yuk cepetan sebenar lagi adzan maghrib" perintah Refan.
Refan berdiri di depan Kinan dan sedikit menunduk agar memudahkan Kinan untuk naik ke punggung Refan.
Dengan gembira Kinan langsung tersenyum cerah. Kemudian meningkatkan tangannya ke leher Refan dan kemudian mulai naik ke atas punggung Kinan.
Huuh untung kamu ringan Nan jadi enteng aku bawa kamu sampai Villa. Refan mulai berjalan sedangkan Kinan memeluknya di belakang dalam gendongan Refan.
Senja itu jadi terasa lebih indah dinikmati bersama orang yang mereka cintai.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG