Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 40


__ADS_3

"Ada apa dengan kamu? Mengapa malam ini kamu bersikap seperti ini?" tanya Refan penasaran.


Kinan terdiam dan sedang berfikir keras apakah dia harus jujur. Sebenarnya bukan sifat Kinan suka memendam perasaan tapi kalau dia jujur saat ini dia takut Refan saya sangka. Dia takut Refan merasa bahkan Kinan berharap ingin sekali di cintai.


Walau pada kenyataannya setiap istri pasti ingin sekali di cintai dengan tulus oleh suaminya. Hanya saja saat ini Kinan juga tidak bisa memastikan kalau dia juga sudah mencintai suaminya.


Tapi setidaknya tidak bisakah Refan berpura - pura di depan orang lain kalau rumah tangga mereka baik - baik saja? Tidak bisakah Refan menghargainya di depan orang lain sebagai istrinya bukan sebagai pengasuh Naila.


Sakit sekali rasanya hati Kinan jika Refan hanya menganggapnya seperti itu. Tapi bagaimana caranya membuat Refan menyadari kesalahannya. Mungkin sementara dia harus pergi dari Refan sementara waktu untuk melihat apakah dia berarti dalam hidup Refan atau hanya memang dianggap sebagai seorang pengasih Naila.


Kinan teringat perintah dinas dari kantornya keluar kota selama sepekan. Awalnya Kinan menolak dinas tersebut karena berat meninggalkan keluarganya. Walau atasannya masih memberi Kinan waktu berfikir sampai esok hari.


Mungkin ini ide yang bagus untuk Refan menyadari keberadaan Kinan di rumahnya. Apakah sebagai istri atau sebagai pengasuh Naila. Tidak ada salahnya mencoba, siapa tau dia beruntung.


"Bersikap bagaimana Mas?" tanya Kinan.


"Kamu tidak banyak bicara, biasanya kamu akan bercerita tentang anak - anak atau yang lainnya" jawab Refan.


"Aku lagi banyak pikiran Mas" ucap Kinan.


"Tentang?" desak Refan.


"Masalah kantor" jawab Kinan.


"Ada masalah apa, siapa tau aku bisa bantu?" tanya Refan lagi.


"Lusa aku di tugaskan ke luar kota selama satu minggu, besok aku harus memberikan jawaban kepada atasanku" ungkap Kinan.


"Apakah penting? Dan apakah keberadaan kamu sangat di butuhkan di sana?" tanya Refan.


Dulu saat bersama Renita mereka selalu berkomitmen untuk saling mendukung pekerjaan masing - masing. Tidak akan menghalangi karir Renita. Oleh sebab itu dulu Renita juga sering meninggalkan Refan tugas ke luar kota.


Rasanya kalau dia melarang Kinan kali ini dia sangat kejam. Menghalangi karir istrinya untuk lebih maju di kantornya.


"Kantor mengutus tim untuk ikut pelatihan di luar kota dan aku di tugaskan sebagai ketua timnya kali ini. Aku belum bisa memberikan jawaban karena aku harus meminta izin kamu dulu dan besok limit waktunya" ungkap Kinan.

__ADS_1


Refan terkejut, satu lagi perbedaan Kinan dengan Renita. Renita tidak pernah meminta izin kepada Refan. Renita selalu memutuskan sendiri apa yang dia inginkan dan memaksa Refan untuk menyetujuinya. Tak jarang Renita hanya memberi pengumuman kalau besok dia akan pergi ke luar kota tanpa meminta izin Refan lebih dulu.


Tapi Kinan berbeda, dia terlihat sangat berat untuk meninggalkan suami dan anak - anak. Dan untuk meminta izin saja Kinan sampai berfikir dengan keras. Sampai - sampai Kinan menjadi lebih pendiam dan dingin. Apakah sepenting itu izin darinya bagi Kinan?


"Kalau kamu keberatan aku bisa kok menolaknya" ujar Kinan.


"Tidak.. aku kan belum bilang aku keberatan? Aku hanya sedang berfikir" jawab Refan.


Tuh kan benar, ternyata izin aku sangat penting bagi Kinan, buktinya dia ingin menolak perintah dinas dari kantornya. Batin Refan.


"Jadi maksud Mas aku dikasih izin?" tanya Kinan tak percaya.


Dia fikir Refan akan melarangnya karena fungsinya di rumah ini adalah sebagai pengasuh Naila. Tapi ternyata....


"Aku tidak akan menghalangi pekerjaan kamu" jawab Refan.


"Anak - anak bagaimana?" tanya Kinan.


"Nanti aku bisa hubungi Mama dan minta Mama menginap di sini selama kamu pergi" jawab Refan.


"Aku rasa tidak, Mama kan dibantu sama Bik Nah dan Bik Mar" balas Refan.


"Baiklah kalau begitu, besok aku akan jumpai atasan aku di kantor dan aku akan katakan kalau aku bisa ikut dinas ke luar kota" sambut Kinan.


"Ya sudah kalau begitu kita istirahat sekarang, aku sudah ngantuk" ujar Refan.


"Terimakasih Mas" Kinan tersenyum tulus, kedua matanya terlihat sangat senang.


Lagi - lagi Refan melihat perubahan wajah Kinan.


Apakah memang sepenting itu restuku sampai kamu bisa tersenyum begitu ketika mendapatkan izin dariku? Lalu hanya sebuah izin kamu mengucapkan terimakasih padaku? Tanya Refan dalam hati.


Refan memejamkan matanya dan sebentar saja dia sudah terlelap sementara Kinan masih menatap wajah suaminya.


Maaf Mas kalau kepergianku kali ini membuatku sangat senang. Bukan karena aku bahagia meninggalkan suami dan anak - anakku tapi karena aku ingin memberikan kamu waktu untuk berfikir ulang apakah aku ini sangat berarti dalam hidup kamu. Dan ku harap dengan kepergianku sepekan ini bisa membuat kamu lebih menghargai keberadaan aku Mas. Aku bukan hanya pengasuh dari anakmu. Tapi aku adalah istri kamu. Walau kita belum bisa saling mencintai tapi setidaknya berawal dari saling membutuhkan dulu Mas. Setelah itu kamu akan merasa kehilangan aku kalau aku jauh dari kamu dan setelah itu tumbuh perasaan di hati kamu. Aku tidak ingin mengemis cinta padamu karena aku juga belum bisa memberikan cintaku pada kamu tapi setidaknya saat ini aku mengakui kamu sebagai suamiku. Berbuat yang terbaik demi kamu, kamu adalah imam aku saat ini. Ucap Kinan dalam hati.

__ADS_1


Esok harinya Kinan menemui atasannya dan menyampaikan kalau dia berubah fikiran. Dia sudah mengantongi izin dari suaminya untuk dinas ke luar kota selama satu minggu.


Kinan juga sudah menghubungi mertuanya, rupanya Refan lebih dahulu menghubungi Suci dan meminta Suci untuk menginap di rumah mereka mulai esok harinya sampai seminggu ke depan.


Lagi - lagi dengan alasan bekal sebelum Kinan pergi sepekan Refan meminta jatahnya. Kinan heran apakah memang suaminya ini sangat kuat di atas ranjang atau bagaimana. Sudah dua minggu mereka melakukannya hampir setiap malam. Dan dua minggu ini memang belum jadwalnya Kinan datang bulan jadi tidak ada alasan Kinan untuk menolak ajakan suaminya.


Seperti malam ini, lagi - lagi Refan memintanya. Padahal Kinan ingin istirahat karena besok akan pergi ke luar kota. Tapi sudahlah, toh besok selama dalam perjalanan dia bisa istirahat tidur.


Keesokan paginya, Suci sudah tiba di rumah Refan pagi hari sekali. Dia sempat sarapan bersama dengan Refan dan Kinan. Tentu saja makan masakan Kinan.


"Kamu memang pinter banget masak ya Nan. Masakan kamu kali ini juga enak. Nanti kalau kamu pergi seminggu kasihan tuh suami kamu kecarian masakan kamu" sindir Suci.


"Ah Mama, kan ada Mama. Mas Refan pasti paling suka sama masakan Mama dari pada masakan aku" elak Kinan.


Refan hanya diam dan tidak menanggapi pembicaraan dua wanita yang ada di dekatnya.


"Kamu pergi naik apa Nan?" tanya Suci.


"Aku bareng Mas Refan Ma, diantar sampai bandara" jawab Kinan.


"Iya bagus itu, kalau istri mau pergi jauh dan lama emang harus seperti itu. Suami harus mengantar sampai ke tempat keberangkatan istrinya" balas Suci.


Kinan hanya tersenyum menanggapi ucapan mertuanya. Tiga puluh menit kemudian mereka berangkat dari rumah. Sebelum pergi Kinan terlebih dahulu pamitan kepada anak - anaknya. Kinan tak henti - hentinya menciumi pipi Naila dan juga Salman. Rasanya sangat berat sekali meninggalkan mereka walau hanya sepekan.


Refan mengantar Kinan sampai Bandara. Setelah sampai dia membawa tas Kinan dan berjalan bersama Kinan sampai ke tempat para anggota tim Kinan.


Saat berpamitan hendak pergi, Kinan mencium tangan Refan dengan takjim. Seketika hal sederhana seperti itu membuat Refan merasa terpana dan terkejut. Dia tidak menyangka Kinan akan berbuat seperti itu di hadapan teman - temannya. Refan merasa sangat di hargai.


"Mas aku pergi ya, titip anak - anak" ucap Kinan sebagai kata perpisahan.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2