Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 122


__ADS_3

Keesokan harinya Suci dan Salman pergi ke Rumah Sakit untuk menjenguk Naila sekaligus mereka ingin melakukan perpisahan sebelum Naila pergi di bawa Reno dan Talita pindah ke luar kota.


Mereka janjian dengan Refan dan Kinan bertemu di Rumah Sakit. Suci dan Salman pergi diantar oleh Pak Ardianto Papanya Kinan.


"Adek Nailaa... " panggil Salman sambil mencium Naila penuh dengan kasih sayang.


"Kakak Salman" balas Kinan pura - pura menjadi Naila.


"Adek Naila kok sakit lagi? Pasti karena adek Naila gak mau makan kan? Kakak gak pernah lihat adek makan soalnya. Selalu minum susu aja" oceh Salman.


Refan tersenyum mendengar perkataan Salman.


"Adek Naila belum bisa makan sayang. Adeknya masih terlalu kecil, hanya bisa minum susu saja. Nanti kalau gigi adek sudah tumbuh baru dia bisa makan" jawab Refan.


"Ooo gitu ya Pa" balas Salman.


Suci mendekati Naila yang sedang di gendong Kinan.


"Naila anak baik budi.. cepat sembuh ya nak jangan sakit - sakit lagi. Sekarang kan Naila udah tinggal sama Opa dan Oma, jangan buat Opa dan Oma resah. Kasihan mereka sayang bingung gimana harus mengasuh kamu" ujar Suci.


Talita yang ada di dekat mereka langsung menggenggam tangan Suci.


"Ci... aku minta maaf ya atas semua perkataan dan sikapku selama ini kepada kamu. Aku juga minta maaf atas nama Naila kalau selama ini dia berbuat kasar pada kamu atau juga tidak memperhatikan kamu. Aku.. aku tidak tau harus berkata apa lagi pada kamu. Aku benar - benar malu di hadapan kamu karena telah gagal mendidik anak perempuanku menjadi anak yang solehah" ucap Talita kembali meneteskan air mata.


Suci sangat terkejut melihat dan mendengar perkataan Talita. Sungguh dia tidak menduga Talita akan melakukan semua ini kepadanya.


Tampaknya Talita memang sudah menyadari kesalahannya dan semua kesombongannya telah hilang.


"Sudah.. sudah Talita aku sudah memaafkan semuanya. Semua sudah berlalu. Kita tidak perlu membicarakannya lagi. Kita hanya perlu memikirkan masa depan. Bagaimana mereka bisa menjalani masa depan ini dengan baik kedepannya. Tidak mengulangi kesalahan lagi dalam hidup mereka" jawab Suci.


"Terimakasih Suci, terimakasih kamu mempunyai hati yang bersih dan tidak dendam atau menyalahkanku" sambut Talita.


Mereka saling berpelukan. Baru kali ini hubungan diantara mereka berjalan baik dan sayangnya itu terjadi setalah hubungan antara anak mereka berakhir dengan tidak baik.


"Aku dengar dari Refan dan Kinan kalian akan pindah dan membawa Naila ikut serta?" tanya Suci tulus.


"Iya" jawab Talita singkat.

__ADS_1


"Semoga Naila betah tinggal bersama kamu dan kuat ya. Kamu yang sabar ya.. aku sempat beberapa kali mengurus Naila setelah Renita meninggal. Sebenarnya Naila bukan anak yang rewel. Dia hanya menangis saat dia lapar, mengantuk atau popoknya kotor. Kalau dia sudah mulai mengisap tangannya itu artinya dia sudah haus" nasehat Suci.


"Iya Ci. Kini aku sudah semakin paham. Terimakasih ya.. " balas Talita.


"Sama - sama Ta.. Naila selamanya juga akan tetap menjadi cucu kita. Anak Refan" tegas Suci.


"Iya " ucap Talita.


"Adek Naila mau pergi kemana Oma?" tanya Salman.


"Adeknya mau Oma bawa pindah ke luar kota sayang" jawab Talita.


"Aku gak bisa ketemu sama adek lagi donk" ujar Salman sedih.


"InsyaAllah kalau Oma main ke kota ini, Oma akan kabari kalian dan kita bisa janjian ketemu kan" sambut Talita.


Salman menatap Naila dengan tatapan sedih. Dia meriah tangan Naila dengn penuh kasih sayang.


"Adek Naila baik budi ya sama Omanya, jangan suka nangis, apalagi sakit. Nanti kalau main ke sini jangan lupa kabari Kak Salman" ujar Salman.


Kinan mengelus rambut putranya lembut.


Salman menganggukkan kepalanya.


"Iya Ma, Salman sayang adek" jawab Salman.


"Kalau sayang adeknya di do'ain cepat sembuh ya" sambut Kinan.


"Iya Ma.. Ya Allah sembuhkanlah adek Naila agar dia cepat besar biar bisa main sama Kak Salman. Aamiin... " Salman mengusap kedua tangan ke wajahnya.


"Anak pinta" puji Refan.


"Kak Salmannya juga baik - baik ya di sini. Kalau Allah kasih kesempatan kita pasti akan bertemu lagi" ucap Reno.


"Iya Opa" jawab Salman.


"Ma.. Pa.. apa kalian ingin mengambil barang - barang Renita sebelum rumah itu dijual?" Refan menawarkan.

__ADS_1


Reno dan Talita saling pandang.


"Tidak ada Fan, kami tidak ingin mengambil apapun di rumah itu" tolak Reno.


"Nanti uang hasil penjualan rumah aku berikan ke Papa dan Mama atau langsung aku waqafkan ke yayasan panti asuhan?" tanya Refan lagi.


"Terserah kamu aja Fan. Tapi lebih baik kalau kamu saja yang mengurus itu semua" jawab Reno.


"Mobil Talita bagaimana Fan. Sejak Renita meninggal masih tinggal di rumah kami?" tanya Talita.


"Biar saja Ma, mobil itu untuk Naila saja. Itu kan mobil Mamanya" jawab Refan.


"Baiklah kalau begitu" sambut Talita.


"Kami pamit ya Suci. Setelah Naila benar - benar pulih kami akan segera bawa Naila ke luar kota. Ini jalan yang terbaik untuk kita semua. Agar kita semua bisa move on dari kehidupan lalu. Baik Refan dan Kinan atau Naila kini punya hidup masing - masing. Lebih baik kehadiran Naila tidak menggangu rumah tangga Refan yang baru bersama Kinan. Bagaimanapun Naila adalah anaknya Renita dan tidak ada hubungan darah dengan Refan. Hanya Naila yang kami miliki. Kami harap Suci dan keluarga mengerti" ungkap Reno.


"Saya mengerti Mas. Mungkin memang inilah jalan terbaik. Saya ikut saja apapun keputusan yang Mas ambil untuk Naila" sambut Suci.


"Walau mungkin ini berat untuk kita semua tapi kami yakin kita akan bisa melalui semua ini. Terlebih Naila, saat ini dia masih terlalu kecil. Mungkin ada plus minusnya. Plusnya dia akan segera melupakan Refan dan Naila dalam memorinya. Saat dia besar pasti dia akan lupa apa yang terjadi padanya saat dia masih kecil. Tapi untuk tahap awal dia pasti akan sangat kehilangan sosok Kinan dan Refan yang selama beberapa bulan ini hidup bersamanya mengasuhnya penuh kasih sayang. Beberapa bulan ini merekalah Papa dan Mama Kinan" ungkap Reno.


Talita kembali meneteskan air matanya.


"Sudah Talita, kamu jangan menangis lagi" ujar Suci memberi semangat.


"Aku sangat malu pada kalian.. benar - benar malu atas perbuatan putriku. Kamu gagal sebagai orang tua. Kami gagal mendidiknya menjadi wanita yang baik" ungkap Talita sedih.


"Lebih baik kita doakan Renita agar semua dosanya diampuni dan dia tenang di sana diberi tempat yang terbaik di sisi Allah SWT" sambut Suci.


"Terimakasih kalian tidak membenci Naila karena perbuatan Mamanya. Sebaliknya kalian menyayanginya dengan tulus" ucap Talita.


"Naila tidak salah Talita, justru kita harusnya kasihan kepadanya. Sekecil ini dia harus menjalani semua ini. Kehilangan Mamanya dan kenyataannya bahwa dia bukanlah anak Refan. Semoga kelak dia menjadi anak yang kuat. Bisa menghadapi kehidupan ini tanpa rasa malu dan semoga Allah selalu melindunginya di manapun dia berasa" uJd Suci.


"Aamiin... " sambut yang lain.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2