
Tamu undangan semakin banyak berdatangan. Keluarga dekat dan tetangga Mama dan Mama mertua mereka juga pada datang.
"Ih selamat ya Nan, akhirnya kamu jadi juga nikah sama Refan walau sempat tertunda lima tahun. Tante gak nyangka lho berjodoh setelah menyandang status janda dan duda" ucap tetangga sebelah rumah Suci.
Kinan hanya tersenyum mendengar perkataan Tante Riska. Tetangga yang dulu mengatakan Refan tidak mau menikah dengannya karena Kinan jelek dan tidak pintar bersolek.
Teman - teman Kinan satu kantor jadi saling pandang.
"Gitu donk, Refan juga kualat gak tepati amanah Papanya. Makanya istrinya meninggal, kena karma" ujar Tante Riska.
"Astaghfirullah.. Tante umur seseorang itu sudah diterapkan oleh Allah dan semua itu rahasia Allah. Jadi tidak ada hubungannya dengan karma ataupun amanah. Begitu juga dengan jodoh, semua sudah di atur Allah. Jadi tolong Tante jangan di sangkut pautkan" protes Kinan, dia terlihat kesal.
"Maaf Kinan bukan begitu maksud Tante. Tante cuma mau bilang Refan itu seperti menjilat ludahnya sendiri. Dulu dia tidak mau menikah dengan kamu karena punya pacar dan menjaga dengan pacarnya itu tapi sekarang istrinya itu sudah meninggal baru dia mau menikah dengan kamu" sambung Tante Riska.
Ih mulut Tante Riska ini pengen banget aku cuci pakai sabun. Seenaknya ngomong di depan teman Kantor. Mereka pasti berpikiran macam - macam jadinya. Batin Kinan.
"Tante tidak baik membicarakan orang yang sudah meninggal. Tadi Tante cerita tentang Papanya Mas Refan kemudian istrinya Mas Refan. Mereka sudah tenang jadi lebih baik kita tidak membicarakan mereka ya.. Eh Tante sepertinya di cariin Mama itu" Kinan sengaja menunjuk ke arah Mamanya.
Tante Riska ini harus segera diamankan ini sebelum bicara kemana - mana. Bahaya.. Otak Kinan memberi pertanda, alarm di kepalanya sudah berbunyi.
"Eh Tante temuin Mama kamu dan Mama Refan dulu ya" ucap Tante Riska.
Tante Riska kemudian meninggalkan Kinan dan teman - temannya. Teman - teman kantor Kinan saling pandang, dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Nan, apa sih maksud Tante tadi? Kamu dan Refan dulu pernah mau menikah?" tanya teman Kinan.
Kinan menarik nafas panjang.
__ADS_1
"Dulu Papanya Mas Refan sempat berpesan sebelum beliau meninggal. Dia ingin melihat aku dan Mas Refan menikah. Tapi saat itu aku dan Mas Refan punya pilihan masing-masing dan kami sepakat untuk membatalkan perjodohan. Tapi seperti yang aku katakan tadi, jodoh itu di tangan Allah. Ternyata jodoh kami tertunda, setelah kami sama - sama menyandang status Janda dan Duda baru kami bisa menikah akhirnya" ungkap Kinan akhirnya.
Walau ada yang harus dia tutupi tapi semua dengan kebaikan rumah tangganya dengan Refan.
"Ternyata dunia itu sempit ya Nan. Mendengar kisah kamu ini aku jadi merinding. Bisa ya jodoh tertunda" sambut teman Kinan.
Kinan membalasnya dengan senyuman.
"Eh Nan, sudah sore. Kami pamit ya pulang. Sekali lagi semoga pernikahan kamu dan suami barokah ya" ucap teman - teman Kinan.
Kinan berpelukan dengan teman - temannya, setelah mereka pamit pulang Kinan mencari Naila. Ternyata dia sedang di gendong oleh seorang ibu - ibu yang seumuran dengan Mamanya.
"Permisi Tante... boleh aku gendong Naila" pinta Kina hati - hati.
Wanita itu melirik Kinan dengan tatapan yang tidak bersahabat.
"Ma.. maaf Tante. Tante ini Mamanya Renita ya" ucap Kinan takut - takut.
"Iya, kedatangan aku ke sini ingin memastikan dan melihat siapa wanita pengganti putriku di rumah ini. Cih.. ternyata wanita seperti kamu yang Refan nikahi. Jauh banget sama putrimu yang cantik dan manja. Aku dengar banyak orang yang bisik - bisik kalau sebenarnya sebelum Refan menikah dengan Renita, kamu sudah di jodohkan oleh Papanya Refan. Dia memberikan amanah sebelum menikah agar Refan menikahi kamu. Tapi Refan menolaknya. Ya jelaslah dia nolak, anakku lebih cantik dari pada kamu" ucap wanita itu.
Astaghfirullah.. apalagi ini. Selesai satu masalah datang masalah baru. Mengapa Tante ini tidak senang dengan keberadaanku? Aku kan tidak merusak rumah tangga anaknya. Dan aku juga tidak mengganggu hidup mereka. Aku punya kehidupanku sendiri yang tak kalah bahagia dengan mereka.
Rasanya Kinan ingin pergi dari sini dan menangis sepuasnya.
"Dengar ya, aku tidak setuju kalau kematian putriku di katakan sebagai karma karena kamu batal menikah dengan Refan dulu. Refan sangat mencintai putriku, makanya dia berusaha sekuat tenaga melawan perjodohannya dengan kamu. Jadi jangan jadikan pernikahan kalian ini sebagai balas dendam kamu kepada cucuku. Sedikit saja aku dengar kamu menyakiti cucuku aku tidak akan segan - segan menghajar kamu" tegas wanita itu.
"Ya Allah Tante, aku tidak pernah berniat balas dendam kepada cucu Tante yang masih kecil ini. Aku murni mencintainya dan sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri" jawab Kinan.
__ADS_1
"Halaaaah itu alasan kamu saja. Bilang aja kamu memang sudah mengharapkan Refan dari dulu. Jangan - jangan kamu doain putriku meninggal agar Refan segera menjadi duda" tuduh Mama Renita.
"Astaghfirullah Tante.. aku tidak pernah melakukan apa yang Tante tuduhkan. Aku menjadi Mas Refan murni karena aku menyayangi Niala. Bukan karena Mas Refan" Bela Kinan.
Kinan tak sanggup lagi menahan air matanya yang akan jatuh di pipi. Kinan segera masuk ke kamar dan menangis.
Ya Allah kejam sekali tuduhan mantan mertuanya Mas Refan. Kalau dia ingin meminta pembagian waktu untuk mengasuh atau ingin bertemu dengan Naila cucunya, kan bisa dibicarakan dengan baik - baik. Aku juga tau kalau dia itu Omanya Naila. Aku tidak akan melarang mereka bertemu Naila. Tapi mengapa dia menuduh kalau aku mendoakan anaknya cepat meninggal.
Sementara di luar Refan sedang mencari - cari keberadaan Kinan karena banyak tamu yang ingin berpamitan dengan mereka. Refan mencari Kinan ke seluruh isi rumah.
"Ma.. Mama lihat Kinan gak?" tanya Refan pada Mama mertuanya.
"Tadi Mama lihat terakhir Kinan sedang mencari Naila. Eh tuh Naila lagi di gendong sama Omangya. Coba kamu tanya sama Mamanya Renita mungkin dia tau" jawab Mama Kinan.
Refan melirik ke arah Mamanya Renita yang sedang menggendong Naila. Kemudian dia segera menghampirinya.
"Ma, lihat Kinan gak?" tanya Refan pada Mama Renita.
"Lari ke kamar habis Mama semprot. Enak aja dia ngelarang Mama untuk bertemu dengan cucu Mama. Renita putri Mama satu - satunya. Dia meninggal hanya meninggalkan Naila. Naila adalah kenangan terakhir yang Mama miliki dan Renita" ucap Mama Renita dengan wajah sedih.
"Apa? Kinan melakukan itu Ma? Berani sekali dia seenaknya melarang Mama seperti itu? Aku akan buat perhitungan dengannya"...
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1