Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 279


__ADS_3

Refan, Kinan, Bu Suci dan Salman sedang berada di meja makan menikmati sarapan pagi. Tiba - tiba ponsel Refan bergetar tanda pesan masuk.


Riko


Fan ada kabar baru tentang Arga. Anaknya Arga meninggal dunia


Refan


Innalillahi.. kamu serius?


Riko


Serius? Gimana kalau kita mulai beraksi


Refan


Beraksi bagaimana maksud kamu?


Riko


Waktu Renita meninggal dia takziah kerumah kamu dan bersikap biasa saja selayaknya dia seorang atasan Renita. Gimana kalau kali ini kita juga datang ke rumahnya untuk takziah?


Refan tampak sedang berpikir untuk menjawab ajakan Riko.


Refan


Boleh juga Ko, kita ketemu dikantorku ya, nanti kita takziah bareng?


Riko


Baiklah..aku langsung ke kantor kamu aja dari apartemen.


Refan


Aku tunggu. Aku juga akan segera berangkat ni.


Riko


Oke aku juga go..


Refan menutup ponselnya dan mempercepat makannya.


"Ada apa Mas kok buru - buru banget makannya?" tanya Kinan penasaran.


"Iya yank, Riko baru kabari aku kalau anaknya Arga meninggal dunia" jawab Refan.


"Innalillahi.. " sambut Kinan.

__ADS_1


"Arga? Bukannya itu nama Papanya Naila?" tanya Bu Suci penasaran.


"Iya Ma" jawab Refan singkat.


"Siapa yang meninggal? Anaknya Arga? Berarti saudaranya Naila?" tanya Bu Suci.


"Anaknya Arga dari istrinya Ma" ungkap Refan.


"Innalillahi.. " sambut Suci.


"Trus apa hubungannya dengan Mas? Kok makannya buru - buru gini?" tanya Kinan penasaran.


"Riko ngajak aku takziah ke rumahnya" jawab Refan.


"Mas.. kalian mau???" tanya Kinan khawatir.


"Kamu tenang saja sayang, kami hanya melayat aja ke rumahnya" potong Refan.


Refan menatap Salman yang sedang asik makan.


"Salman cepetan makannya sayang, kita segera berangkat" perintah Refan.


"Oke Pak" sahut Salman.


Setelah selesai sarapan Refan dan Salman pamitan kepada Kinan dan Bu Suci.


"Iya Mas hati - hati. Ingat ya Mas jangan yang aneh - aneh nanti di sana" sambut Kinan masih dengan nada khawatir.


Dia takut suaminya dan Riko merencanakan sesuatu di rumah Arga.


"Kamu tenang aja yank" balas Refan.


Refan dan Salman masuk ke dalam mobil kemudian melaju menuju sekolah Salman setelah itu baru Refan melanjutkan perjalanan menuju ke kantornya.


Sesampainya dia di kantor ternyata Riko sudah lebih dulu menunggu di ruang kerjanya.


"Gimana Bro, kita langsung berangkat?" tanya Refan.


"Boleh, kita lebih baik pergi sekarang. Aku takut presosnya cepat keburu anaknya di makamkan" jawab Riko.


"Ya sudah yuk kita berangkat" ajak Refan.


Riko dan Refan langsung berangkat menuju rumah Arga. Mereka mendapatkan informasi dimana alamat rumah Arga.


Sesampainya di sana, rumah Arga sudah ramai dipenuhi oleh orang - orang yang ingin melayat. Keluarga istri Arga adalah keluarga yang terpandang. Sehingga banyak sekali pelayat yang hendak mengucapkan belasungkawa.


Termasuk Riko dan Refan. Mereka berdiri antrian untuk bertemu dengan Arga dan mengucapkan kata - kata belasungkawa. Kini tiba giliran mereka bertatap muka langsung dengan Arga.

__ADS_1


"Akhirnya kamu tau kan bagaimana rasanya kehilangan orang yang paling kamu sayang? Aku harap kamu semakin sadar bahwa nyawa seseorang tidak bisa dinilai dengan uang. Dan kamu bisa menghargai nyawa manusia. Walau itu hanya nyawa seorang gadis kecil yang memiliki darah kamu yang juga mengalir di tubuhnya. Di satu sisi kamu kehilangan darah daging kamu. Disisi yang lain kamu menelantarkan darah daging kamu yang lain. Aku bukan Tuhan yang bisa memberikan hukuman kepada kamu. Tapi aku bisa melihat apa yang sedang kamu alami. Semoga kamu tabah ya menerima cobaan ini" ucap Refan dengan nada penekana kepada Arga.


Karena disana banyak sekali keluarga dan pelayat yang datang Arga tak bisa menjawab untuk membela diri. Dia takut Riko dan Refan ribut di rumahnya dan membongkarkan kenyataan yang sebenarnya bahwa Arga mempunyai anak diluar nikah.


Arga hanya diam saja menerima semua kata - kaya Refan.


"Aku harap istri kamu tidak kecewa ketika mengetahui sakitnya kehilangan buah hati. Seperti sedihnya nasib anak kandung kamu ketika kehilangan Ibunya saat melahirkannya kedunia ini, sementara papanya sama sekali tidak peduli dengan nasib dan dimana dia berada" sambung Riko.


Mereka menggenggam tangan Arga dengan sangat kuat, sehingga meninggalkan bekas ditelapak tangan Arga.


Kurang ajar kalian menyerang aku disaat sepet ini. Aku tidak bisa melindungi diri karena disini banyak keluarga istriku. Lihat saja, aku akan buat perhitungan pada kalian. Umpat Arga dalam hati.


Riko dan Refan bergerak menjauhi Arga, mereka mencari posisi tepat tak jauh dari Arga. Tempat duduk mereka sangat strategis tepat di depan kursi Arga.


Sehingga setiap Arga mengangkat kepalanya dia akan langsung bisa melihat wajah Riko dan Refan. Terasa tatapan Riko dan Refan penuh ancaman dan penekanan.


Arga benar - benar tertekan dengan suasana saat itu. Sehingga sulit sekali untuk konsentrasi.


"Lihat Fan, dia sangat grogi. Aku yakin dia sangat membenci kedatangan kita" ucap Riko.


"Tapi dia tidak bisa berbuat apapun di hadapan keluarga istrinya" sambut Refan.


"Hahaha.. aku sangat lega sekali Fan. Kamu tau saat Renita meninggal aku sempat menemuinya waktu dia takziah datang ke rumah kamu. Sikapnya sangat angkuh sekali malam itu. Seolah dia tidak melakukan apapun dengan Renita dan tidak ada rasa bersalah atau menyesal atas kematian Renita. Aku rasa saat ini dosanya sedang dibayar Fan" ujar Riko.


"Biarkan saja dia serba salah sendiri dengan apa yang telah dia lakukan selama ini" sambung Refan.


Arga tampak merangkul dan menggendong bayinya yang sudah meninggal di dadanya. Setelah itu Arga dan rombongan berangkat menuju pemakanan umum untuk memakamkan anak Arga yang sudah meninggal.


Riko dan Refan terus membayang - bayangi sampai di pemakaman. Arga berpikit kalau Riko dan Refan tidak ikut sampai ke makam sehingga dia bisa bernafas lega.


Tetapi ternyata dia salah. Riko dan Refan kembali berdiri tepat di hadapan Arga seperti sebuah ancaman bagi dirinya.


Sial.. mengapa mereka terus menghantuiku? Kemanapun aku pergi mereka selalu menatapku dengan tatapan menghukum. Membuat aku tidak bisa mengelak. Aku tidak ingin keluarga istriku mengetahui rahasia ini sebelum aku mencari jalan bagaimana caranya memberitahu istriku dan dia mau menerima anakku menjadi anak kami. Batin Arga.


Setelah anak Arga sudah selesai dimakamkan Riko dan Refan kembali menghampiri Arga untuk berpamitan.


"Bagaimana melihat darah daging kamu ditanam di bawah tanah? Apakah sakit? Lalu bagaimana dengan putri kamu yang lainnya yang tidak kamu akui bahkan tidak kamu pedulikan. Mungkin tangisannya lebih menyakitkan dari pada tangisan kamu saat ini" ujar Riko.


"Sampai kapanpun kamu tidak akan pernah bisa bertemu dengan putri kamu. Selama aku masih hidup aku adalah Papanya dan aku akan melindunginya dari orang tua tak bertanggung jawab seperti kamu. Dia tidak butuh kamu Ga, gapi yakinlah kelak kamu yang akan membutuhkan keberadaannya" tegas Refan.


Riko dan Refan berpamitan kepada Arga, setelah itu mereka pergi meninggalkan pemakaman dan masuk ke dalam mobil. Kemudian kembali ke kantor Refan.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2