Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 266


__ADS_3

Seluruh anggota keluarga sudah naik ke dalam kapal pesiar. Mereka berkeliling kapal pesiar untuk melihat fasilitas apa saja yang ada di dalamnya.


"Waow... keren banget" ujar Bela.


"Ternyata kakak kamu tajir Bel" sambut Ela.


"Iya kenapa lama banget dia pulangnya ya.. kalau tidak kan aku bisa lebih cepat menikmati ini" sambung Bela.


"Huss... kalau kakak kamu cepat pulang belum tentu dia udah jadi muallaf" potong Rizal.


"Iya juga ya" balas Bela.


Mereka menaiki kapal pesiar Lamima Liveaboard yang melakukan perjalanan Private Trip Komodo.


Perjalanan di rencanakan akan berjalan selama tiga hari dua malam. Dengan destinasi perjalanan yang akan mereka lalui yaitu Pulau Komodo/Pulau Rinca,


Pulau Padar, Pulau Kelor, Pulau Sebayur, Pulau Kanawa, Pulau Kalong, Pink Beach (Long Beach), Pantai Menjerite, Manta Point dan Pasir Timbul/Takamakasar.


Sementara fasilitas yang mereka dapatkan di dalam kapal pesiar tersebut adalah makan selama sailing, snack, soft drinks dan juice, kru dan manajer kapal, dive instructor dan dive master, soal treatments, wifi, jet ski, paddle board, canoe, tenders, waker board, water ski, alat diving, life jacket, alat snorkeling, kamar mandi dan cabin, air mineral, tea dan kopi, antar jemput dari area Labuan Bajo ke Pelabuhan, Tour Guide, Dokumentasi (Gopro, Mirrorles & Drone), Asuransi Untuk Semua Aktifitas di Kapal (termasuk Scuba Diving) dan terakhir adalaha biaya tiket nasuk Taman Nasional Komodo (Pulau Komodo/Pulau Rinca) & Pulau Padar.


Banyak sekali fasilitas yang mereka dapatkan dalam perjalanan ini. Membuat semua orang senang mendengar penjelasan dari guide.


Ada dua kamar yang paling besar di dalam kapal pesiar ini. Yang pertama kamar pengantin untuk Bimo dan Reni dan yang kedua adalah kamar Refan dan Kinan karena mereka membawa semu anak - anak mereka. Apalagi si kembar yang baru berumur dua bulan butuh tempat yang nyaman.


Semua kini sudah masuk ke kamar mereka masing - masing. Mereka membawa koper mereka dan menyusun barang - barang yang mereka bawa.


Hari sudah semakin senja semua istirahat di kamar sambil menunggu waktu shalat maghrib.


"Sayang, anak - anak kita bagaimana keadaannya?" tanya Refan.


"Alhamdulillah mereka senang sekali sepertinya Mas, gak rewel dan tidurnya nyenyak sekali" jawab Kinan.


"Mereka sangat pengertian pada Papanya. Mungkin mereka tau yank kalau kita akan honeymoon kedua" ujar Refan.


"Mas ini ada - ada aja mereka kan masih bayi mana ngerti masalah begituan" sambut Kinan.


Refan memeluk tubuh istrinya dari belakang sambil memperhatikan kedua bayi kembar mereka sedang tidur dengan nyenyaknya di box bayi yang sengaja Bimo pesan untuk anak mereka.


"Mereka sangat menggemaskan" ujar Refan.


"Seperti siapa coba?" goda Kinan.


"Seperti Mamanya donk" jawab Refan.


"Seperti Papanya, ngeselin tapi ngegemesin" balas Kinan.


"Plus ngangenin kan?" tanya Refan.


"Ya gitu deh" jawab Kinan.

__ADS_1


Refan mencium pipi Kinan dengan lembut.


"Pangeran kita lagi dimana?" Refan menanyakan keberadaan Salman.


"Dia sama Mama Mas di kamar Mama bareng Jeta" jawab Kinan.


"Pemikiran anak - anak memang sangat sederhana, dengan cepatnya mereka bisa sangat akrab bermain. Padahal baru pertama kali bertemu dan mereka mengerti kalau mereka bersaudara dan saling menyayangi" ujar Refan.


"Yah begitulah dunia anak - anak Mas, jika tak suka langsung bertengkar saat itu juga eh dengan cepatnya mereka bisa berbaikan lagi tanpa ada perasaan sakit hati yang membekas dibenak mereka" sambung Kinan.


"Sudah adzan yank, shalat yuk" ajak Refan.


Refan dan Kinan segera bersiap untuk melaksanakan shalat maghrib di dalam kamar di kapal pesiar.


Setelah selesai mereka segera berkumpul di meja makan yang ada di dalam kapal. Seluruh keluarga sudah berkumpul di sana.



"Mana pengantin baru?" tanya Refan karena belum melihat kehadiran Bimo dan Reni di sana.


"Aku rasa mereka memilih menu belah duren lebih dulu" jawab Aril.


"Emangnya di sini ada durian Om?" tanya Jeta.


"Mampu* lo, ngomong gak pakai sensor" umpat Romi.


"Aku lupa kalau di Medan banyak Durian bro dan aku lupa kalau anak si Jelatong ini orang Medan" sambut Aril.


"Itu panggilan sayang kami untuk Mbak Jelita. Romi dipanggil Rombeng, Bagus si Kapur Bagus, Riko dibalik jadi Kori dan Refan dipanggil Panjul. Hanya Reni yang dipanggil setan kecil" ungkap Aril.


"Jadi Mas Aril dipanggil apa?" tanya Bela


"Airin" jawab Romi.


"Kenapa Airin?" tanya Ela.


"Karena waktu kuliah kami pernah buat drama dan Aril menjadi waria yang bernama Airin. Sejak itu Aril berubah nama jadi Airin" jawab Romi.


"Mas Aril jadi waria hahaha.. pasti seru itu" ujar Bela.


"Dia cantik banget Bel, kalian mah kalah sama Airin. Mulus dan bahenol" komentar Riko.


"Dia pakai sumpal dada dan bra ukuran gede, bokongnya di sumpal dengan bantal bayi jadi lebih berisi" ucap Romi.


"Coba kalau ada fotonya pasti lucu" ujar Bela.


"Ada.. ada.. nanti Mas cari di album kenangan di apartemen Mas masih ada kok" sambut Riko.


"Awas lu ya Kori.. aku kutuk jadi batu baru tau" ancam Aril.

__ADS_1


"Gak takut, kamu bukan emak aku" balas Riko.


Tak lama Bimo dan Reni muncul.


"Nah itu pengantin baru sudah keluar kamar" ujar Romi.


"Lama amat, perut kami sudah laper. Kalian sih enak, makan cinta udah kenyang. Apalagi nih setan kecil makan kembang udah cukup" protes Aril.


"Airiiiiin... " panggil Reni.


Sebelumnya Reni mendengar pembicaraan mereka saat keluar dari kamar mereka.


"Ayo semua silahkan makan.. mari kita nikmati hidangan koki kita malam ini" ajak Bimo.


Semua duduk si kursi mereka masing - masing dan siap untuk menyantap hidangan makan malam yang sengaja dipanggil Bimo dari hotelnya.


Dengan cekatan Reni menyiapkan hidangan makan malam untuk Bimo suaminya. Kini Reni sudah menjadi seorang istri sudah selayaknya dia melayani suaminya dengan sangat baik. Apalagi ini hari pertama mereka menikah.


Bimo tersenyum bahagia karena mendapatkan perlakuan istimewa dari istrinya. Mulai hari ini akan ada seseorang yang selalu ada disampingnya dan memperhatikan semua kebutuhannya.


"Terimakasih sayang... " ucap Bimo sambil tersenyum bahagia.


"Sama - sama Mas" sambut Reni dengan senyum terbaiknya.


"Uncle.. kata Om Aril Uncle sama Tante Reni belah durian ya dikamar?" tanya Jeta.


Sontak semua orang yang ada di meja makan melirik ke arah Aril. Wajah Aril langsung memerah karena malu. Aril menggaruk kepalanya yang tak gatal karena salah tingkah.


"Aku mau donk makan durian" sambung Jeta yang memang pecinta durian karena dia tinggal di Medan dan di sana mudah mendapatkan buah itu.


"Jetaaa.. di sini gak ada durian sayang. Mungkin kamu salah dengar tadi" potong Jelita.


"Nggak kok Ma, aku dengar jelas Om Aril bilang belah durian" ulang Jeta.


"Oooh itu peti pernikahan Uncle dan Tante Reni berbentuk durian jadi setelah selesai pesta mereka harus membukanya dan menghitung isinya" Tagor mengalihkan pembicaraan.


"Oh begitu ya Pa. Banyak donk uangnya Uncle sama Tante Reni? " tanya Jeta.


"Ya banyak donk makanya bisa bayar sewa kapal pesiar ini untuk kita jalan - jalan" jawab Tagor.


Fiuuuh... untung deh Tagor bisa meredakan pertanyaan putranya.


"Jeli anak kamu memang luar biasa ya pertanyaannya, buat aku panas dingin jadinya" ujar Bimo.


"Hahaha... hanya aku yang bisa menjinakkan mereka Bim" sambut Tagor sambil tertawa.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2