
Bimo sudah sampai di tempat yang sudah dia rencanakan untuk bertemu denganmu Refan berdua saja. Bimo juga sudah mengirimkan lokasi tersebut kepada Refan.
Refan sedang dalam perjalanan menuju tempat pertemuan mereka. Bimo sudah duduk dengan tenang sambil menyusun ribuan kata - kata yang akan dia sampaikan kepada Refan untuk meminta izin dan restu Refan menikahi Reni.
Nanti setelah bicara dengan Refan, baru Bimo menyuruh Bapak dan Ibunya datang ke Jakarta untuk melamar Reni secara resmi. Begitulah rencana Bimo saat ini.
Tak lama kemudian Refan sudah sampai di lokasi dan masuk ke dalam sebuah
Cafe dimana Bimo sudah menunggunya.
"Maaf Bim udah lama menunggu ya" ucap Refan pertama kali.
"Ah nggak kok Fan, santai saja" jawab Bimo.
Refan duduk tepat di depan Bimo, kemudian pelayan datang memberikan buku daftar menu.
"Pesan kopi dan makanan ringan saja" pinta Refan.
"Oke, kopi dua dan waffle atau roti bakar saja ya" sambut Bimo.
"Terserah kamu saja" balas Refan.
Pelayan mencatat pesanan mereka kemudian segera berlalu dari hadapan Bimo dan Refan.
"Rokok Fan" Bimo meletakkan sebungkus rokok di atas meja.
"Sejak ada si kembar aku janji kepada Kinan untuk tidak merokok lagi. Sebaiknya kamu juga mulai mengurangi merokok. Aku sudah merasakan manfaatnya. Pernafasanku terasa lebih nyaman" nasehat Refan.
Bimo tersenyum tipis.
"Yah mungkin nanti kalau aku sudah menikah lagi aku akan memikirkannya" sambut Bimo.
"Ada apa kamu mengajak aku bertemu hanya berdua saja, tumben gak seperti biasanya? Apa ada sesuatu yang penting?" pancing Refan.
Walau dia sudah tau maksud dan tujuan Bimo mengajaknya bertemu setelah tadi siang Refan bertemu dengan Reni di kantor.
"Ya ada sesuatu yang penting Fan, tentang masa depan aku dan Reni. Aku mencintai Reni dan begitu juga Reni. Kami saling mencintai dan tadi siang aku sudah melamarnya. Jadi tujuan aku mengajak kamu bertemu disini adalah untuk meminta izin dan restu kamu" ungkap Bimo.
"Apa kamu serius dengan kata - kata kamu Bim. Kita sama - sama tau Bim, kita berdua pernah sama - sama menyandang status duda. Kalau kamu menikah dengan Reni, ini akan menjadi pernikahan kamu ke dua. Aku juga pernah menjalaninya? Di awal pernikahan aku banyak melukai Kinan karena aku masih mencintai almarhumah istriku. Aku tidak mau Reni tersakiti seperti Kinan dulu. Dia berbeda dengan Kinan. Kinan wanita yang kuat dan dewasa ditambah lagi pernikahan aku dan Kinan juga adalah pernikahan ke dua bagi Kinan. Tapi tidak dengan Reni. Ketika dia menikah dengan kamu itu adalah pernikahan pertamanya. Kamu tau lah bagaimana pernikahan pertama. Dia pasti berharap dicintai tulus dan mendapatkan perhatian penuh tanpa bayang - bayang masa lalu kamu" ungkap Refan.
Bimo mengerti keraguan Refan, dulu ini juga salah satu alasan Bimo sehingga dia lama mengungkapkan perasaannya kepada Reni.
__ADS_1
Bimo menarik nafasnya panjang.
"Sebenarnya sudah lama aku tertarik pada Reni, Bapak dan Ibu juga sudah tau dan mereka menyetujuinya. Bahkan mereka yang mendukung aku untuk segera melamar Reni tapi pada saat itu hatiku masih bimbang Fan. Ditambah lagi saat itu masalah aku dengan almarhumah keluarga istriku dulu belum selesai. Aku tak ingin membahayakan keselamatan Reni. Takut mantan mertuaku salah sangka dan berpikiran lebih buruk lagi sehingga mereka membenci Reni dan ingin berbuat jahat padanya. Aku tidak mau hal itu terjadi Fan. Seiring berjalannya waktu permasalahan hukum dengan mereka sudah hampir selesai, hanya tinggal menunggu putusan pengadilan. Aku diberi peringatan keras dengan munculnya Gery diantara aku dan Reni. Dia datang seperti mengancam hubungan kami. Karena sepertinya dia juga punya perhatian khusus kepada Reni. Aku memikirkannya berhari - hari Fan, memastikan bagaimana perasaanku yang sesungguhnya terhadap Reni dan almarhumah istriku. Aku sudah memikirkannya dan memutuskan, berakhirnya kasus hukum keluargaku dengan mereka makan berakhir semua hubunganku dengan almarhumah istriku. Aku sudah mengubur semua kenangan kami karena semua kenangan itu membuat aku jauh dari Allah. Seperti kata Ustadz saat kita pengajian. Untuk apa terus menerus mengingat dosa masa lalu. Aku sudah melepaskan masa laluku Fan dan InsyaAllah siap untuk menatap masa depan. Aku butuh seseorang yang akan menjadi pendamping hidupku yang akan selalu mengingatkanku untuk tetap berada di jalan Allah. Dan itu semua ada di dalam diri Reni. Karena itu aku beranikan diri untuk melamarnya tadi siang" ungkap Bimo.
Refan menatap kedalam mata Bimo untuk mencari jawaban yang sesungguhnya dan Refan menemukan keseriusan dan kesungguhan dari tatapan Bimo.
Refan menarik nafas dalam..
"Aku hanya memiliki seorang adik Bim, dan karena Papaku sudah meninggal tanggung jawab beliau jatuh kepadaku. Aku hanya ingin adikku bahagia dan tidak terluka" balas Refan.
"Aku mengerti Fan, aku juga punya seorang adik perempuan. Aku juga ingin adikku bahagia. Oleh sebab itu aku tidak akan menyakiti adik kamu. Aku serius mencintai Reni Fan. Dan mungkin kamu tau, aku tidak pernah setengah - setengah mencintai seseorang. Aku akan melakukan apapun untuk Reni" ucap Bimo meyakinkan.
"Aku tidak meminta kamu hanya membahagiakan Reni Bim, kalau kalian menikah kamu adalah suami. Kamu adalah pemimpin dan imam dalam rumah tangga kamu. Aku ingin kamu juga membimbing Reni menjadi istri yang baik, istri solehah" pinta Refan.
Suara Refan melunak. Bimo sudah mendapatkan restu Refan.
"Iya Fan, InsyaAllah aku akan menjadi imam yang baik untuk Reni. Aku juga sedang proses memperbaiki diri. Aku akan menjadi suami yang baik untuk Reni kelak" jawab Bimo.
"Baiklah kalau begitu aku sudah memberikan restuku pada kalian. Kabari Bapak dan Ibu dan datanglah ke rumahku. Nanti aku yang akan sampaikan ke Mama dan kasih Mama pengertian. InsyaAllah Mama juga bisa mengerti dan menyetujui pilihan Reni" sambut Refan.
"Terimakasih Fan, aku akan kabari Bapak dan Ibu secepatnya. Lagian mereka kan belum pernah lihat si kembar. Kemarin Bapak dan Ibu bilang memang mau ke Jakarta dalam waktu dekat ini" balas Bimo.
*****
Sementara di kantor Bela. Reni turun dari mobil dan masuk ke dalam perusahaan Aril sambil menenteng kotak handphone terbaru miliknya yang baru saja dibelikan Bimo untuknya.
Reni berjalan menuju lantai paling atas dimana ruangan Bela dan Aril berada. Tak lama kemudian Reni sudah sampai di lantai paling atas dan segera menghampiri Bela.
"Hai kakak ipaaaaar" sapa Bela kesenangan. Bela segera menyambut kedatangan Reni dengan pelukan. Reni membalas pelukan Bela.
"Terimakasih ya Bel, kamu sudah membantu Mas Bimo untuk mempersiapkan tempat untuk dia melamarku" balas Reni.
"Dengan senang hati Ren, aku senang sekali kalau kalian akhirnya bersatu. Sudah lama aku berharap begitu tapi kalian masih sama - sama malu. Alhamdulillah kemarin Mas Bimo jujur kepadaku tentang perasaannya, ya sudah sekalian aku bantu dan aku desak dia untuk segera melamar kamu. Kamu tau, aku takutin dia kalau Gery menyukai kamu biar dia terbakar api cemburu. Dan rencanaku berhasil dia langsung minta bantuanku untuk melamar kamu hahaha... Mas Bimo.. Mas Bimo" sambut Bela senang.
"Lihat ini... aku sudah dilamar" Reni menunjukkan jari manisnya kepada Bela.
"Aaaaw... senangnya" Bela langsung memeluk Reni dengan sangat bahagia.
Aril keluar dari ruangannya karena mendengar suara keributan dari luar ruangannya.
"Aku kira ada apa ribut - ribut. Rupanya si setan kecil yang datang. Ngapain kamu ke sini?" tanya Aril.
__ADS_1
"Mau jemput Bela pulang" jawab Reni.
"Tumben kamu yang jemput, Bimo mana?" tanya Aril penasaran.
"Mas Bimo lahgi ketemuan sama Mas Refan" jawab Reni.
"Ngapain mereka ketemuan berdua aja, gak ajak - ajak aku" tanya Aril makin bingung.
"Mau tau aja" balas Reni.
Aril melihat Reni memegang bungkusan yang bergambarkan ponsel terbaru.
"Hei setan kecil kamu sudah beli handphone terbaru? Kalau begitu ngapain minta lagi padaku?" tanya Aril ingin protes.
"Habis Mas Aril cuma janji - janji mulu tapi gak pernah ditepati. Jangan percaya Bel sama Mas Aril. Dia cuma obral janji" jawab Reni sambil melirik ke arah Bela.
"Enak aja aku cuma belum sempat untuk membelikannya. Trus siapa yang beliin kamu handphone itu?" tanya Aril penasaran.
"Mas Bimo. Mas Bimo suruh aku minta mentahnya saja sama Mas, Mas Romi dan Mas Riko" jawab Reni.
"Bimo belikan kamu ponsel?" tanya Aril bingung.
"Iya Mas, bukan hanya handphone tapi ini juga" jawab Bela.
Bela mengangkat jari manis Reni yang berisikan cincin lamaran dari Bimo dan menunjukkannya kepada Aril.
"Kamu dikasih cincin juga sama Bimo?" tanya Aril semakin bingung.
"Ren, yuk kita pulang yuk... Bisa lama nih urusannya. Kita kan mau jemput Ela lagi dan mau nagih traktiran kamu" Bela langsung mematikan komputernya dan mengambil tas kerja..
"Bos kami pulang duluan ya" ujar Bela sambil menarik lengan Reni menjauhi Aril.
"Hei tunggu dulu jangan pergi. Woii setan kecil kamu kok dibeliin cincin sama Bimo, kamu di lamar?" teriak Aril.
Bela dan Reni sudah masuk ke dalam lift.
.
.
BERSAMBUNGAN
__ADS_1