Pernikahan Ke 2

Pernikahan Ke 2
Bab 183


__ADS_3

Keesokan harinya semua sudah berkumpul di meja makan untuk menikmati hidangan sarapan pagi bersama.


Seperti ucapan Aril kemarin. Pagi - pagi sekali Aril sudah sampai di rumah Refan untuk ikut serta sarapan pagi bersama.


"Selamat pagi semua" sapa Aril penuh semangat. Tak lupa dia melirik ke arah Bela berada.


"Eh Nak Aril sudah datang. Mari duduk sini" ucap Pak Akarsana.


"Hehe iya Pak, terimakasih" jawab Aril.


Aril duduk di dekat tempat duduk Pak Akarsana.


"Yank kamu sudah siapkan alat makan untuk Aril kan?" tanya Refan.


"Sudah Mas. Bik tolong tambahkan alat makan untuk Mas Aril" perintah Kinan pada asisten rumah tangganya.


"Gimana Fan, jam berapa dan dimana ketemuan sama Bimo?" tanya Aril.


"Tadi malam aku sudah kabari Bimo mengenai pertemuan dia dengan Salman hari ini. Nanti ketemuannya jam sebelas di Restoran XXX" jawab Refan.


Aril yang saat itu sedang duduk berdekatan dengan Salman langsung menatap Salman.


"Hai boy... kamu sudah siap bertemu dengan Pakde kamu?" tanya Aril.


"Sudah Om. Kata Mama orang yang mirip dengan Papa Bima itu adalah saudara kembarnya Papa Bima. Namanya Bimo" jawab Salman.


"Bagus, anak pintar. Kamu senang akan bertemu dengannya?" selidik Aril.


"Senang sekali Om. Aku sangat senang bisa melihat wajah Papa Bima lagi, walau kata Mama dia bukan Papa Bima" balas Salman.


Aril mengacak gemas rambut Salman. Pak Akarsana memperhatikan sikap Aril yang kelihatannya sangat dekat dan suka dengan anak - anak.


"Nak Aril sudah menikah?" tanya Pak Akarsana.


Weiss.. ada apa nih Bapak Calon mertua tanya - tanya soal itu. Mau jodohin aku sama anak gadis kamu? tanya Aril dalam hati.


"Saya belum menikah Pak, masih single. Lebih tepatnya sedang mencari pendamping hidup yang serius mau menikah" jawab Aril panjang.


"Ehm.. gak sejelas itu juga jawabnya" sindir Refan.


"Namanya usaha ya kan Pak, siapa tau Bapak punya calon yang bisa dikenalkan dengan saya dan siapa tau juga cocok dan berjodoh" sambut Aril semangat.


"Hahaha.. benar kamu Nak Aril. Nanti Bapak akan carikan calon buat kamu" jawab Pak Akarsana.

__ADS_1


Mendengar jawaban Pak Akarsana, Aril merasa sangat senang dan bersemangat.


Sesekali dia juga melirik ke arah Bela yang sedang asik menikmati sarapan paginya.


"Jadi jam berapa berangkatnya?" tanya Pak Ardianto.


"Jam sembilan Pak, setelah selesai sarapan kita pergi. Masih bisa santai sedikit" jawab Refan.


"Baiklah" sambut Pak Akarsana.


"Jadi nanti Bapak sama Ibu dan Bela bisa berangkat bareng Aril ya, naik mobilnya. Nanti saya, Kinan dan Salman satu mobil. Rencananya aku, Kinan dan Salman turun duluan dan lebih dulu bertemu dengan Bimo. Bapak dan Ibu tunggu di mobil saja dulu setelah kira - kira setengah jam kami bertemu Bimo baru Bapak dan Ibu turun" ujar Refan.


"Sebaiknya kamu menunggu di mobil saja dulu Bel, nanti lihat kondisi. Kalau memang hasilnya baik baru kamu dan Nak Aril turun tapi kalau tidak kamu bisa menjaga Salman dan Kinan di mobil. Biar kami para lelaki di tambah Ibu kamu yang bertemu Bimo" sambut Pak Akarsana.


"Iya Pak" jawab Bela.


Yeees... aku punya kesempatan berduaan dengan Bela walau suasananya lagi genting. Batin Aril bersorak.


Mereka akhirnya selesai makan dan bersiap - siap hendak pergi. Pertemuan mereka kali ini harus tetap waspada karena mereka belum tau apa motif Bimo muncul dan membawa berita kematian Bima.


Bapak Akarsana saja selaku orang tua kandung Bimo tidak bisa menjamin anaknya tidak akan berbuat jahat, bagaimana Refan dan keluarga kecilnya bisa dengan tenang bertemu dengan Bimo.


Mobil mulai berjalan menuju lokasi yang telah di tentukan. Sesuai rencana semula di mobil pertama ada Refan, Kinan dan Salman. Sedangkan mobil kedua ada Aril, Bapak, Ibu Akarsana dan Bela.


Refan memimpin di depan, jarak mobil mereka kira - kira tak lepas dari pandangan. Jantung Kinan berdetak dengan kencang.


"Mas apakah kita akan baik - baik saja?" tanya Kinan.


"Tenang sayang, feelingku mengatakan semua baik - baik saja. Mungkin Bimo memeng ingin bertemu dengan Salman karena Salman adalah ponakannya hanya saja kita harus tetap waspada. Kalau cerita Bimo benar, aku takut ada orang dari pihak keluarga almarhum istrinya yang mengikuti dia sehingga mencelakakan kita. Kalau Bimo nya sendiri aku tidak begitu khawatir. Kalau dia memang berniat jahat pada kita dia sudah bisa melakukannya sejak awal gak perlu pakai izin dan permisi. Dulu dia punya banyak kesempatan untuk menculik Salman atau kamu saat kita masih lengah tapi dia tidak melakukannya. Sebenarnya kalau dulu dia lakukan itu orang tidak akan curiga karena orang mengira dia adalah Bima yang masih hidup. Tapi dia memilih muncul di hadapan kita secara baik - baik kan" jawab Refan mencoba menenangkan Kinan.


Benar kata Mas Refan, kalau dulu kami di culik itu bisa saja terjadi. Dia hanya pura - pura bersikap seperti Mas Bima tentu orang tidak akan curiga. Batin Kinan.


Kinan sedikit bisa bernafas. Setidaknya dia tidak mau berburuk sangka terhadap saudara kembar suaminya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang sampai di depan parkiran Restoran XXX. Refan, Kinan dan Salman langsung turun dan berjalan masuk ke dalam mobil. Sedangkan mobil Refan tetap menunggu di parkiran.


Refan dan keluarga kecilnya berjalan menuju meja yang sudah Refan pesan sebelumnya. Kemudian mereka duduk dengan pikiran gusar.


Salman duduk ditengah - tengah Kinan dan Refan. Kinan terus memperhatikan wajah dan sikap anaknya. Tapi ternyata Salman tidak menunjukkan tanda - tanda bahwa dia takut.


Mungkin karena Salman masih terlalu kecil sehingga dia tidak mengetahui masalah yang sangat besar sedang mengintai keluarga kecil mereka.


Tak lama ponsel Refan berbunyi. Refan meraih ponselnya. Kinan langsung menatap ke arah Refan.

__ADS_1


"Bimo" ucap Refan.


Kinan tampak semakin tegang.


"Ya Bim... " ucap Refan saat menerima telepon.


"Saya sudah sampai di Restoran XXX. Kalian dimana?" tanya Bimo.


"Kami sudah duduk di dalam. Kamu masuk saja dan tanya sama para pelayan meja atas nama Refan" perintah Refan.


"Baik, kalau begitu saya akan segera masuk" jawab Bimo.


Bimo segera memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil Aril. Suatu hal yang tidak disengaja. Semua terjadi begitu saja, ketepatan yang sangat luar biasa.


Saat itu Aril, Bapak, Ibu Akarsana dan Bela sedang menunggu intruksi dari Refan.


Ponsel Aril berbunyi dan Aril langsung menerima telepon.


"Ril Bimo sudah sampai di Restoran. Coba kamu perhatikan dia keluar dari mobil yang mana" perintah Refan.


"Baik, aku akan lihat sekeliling. Apakah ada pria yang baru keluar dari mobil yang mirip dengan Bima" jawab Aril.


Untung saja kaca mobil Aril gelap sehingga dari luar tidak akan bisa melihat siapa saja yang ada di dalam mobil.


"Bagaimana Ril?" tanya Pak Akarsana tegang.


"Kata Refan, Bimo sudah sampai di Restoran dan akan masuk ke dalam. Saya disuruh perhatikan Bimo keluar dari mobil yang mana Pak" jawab Aril.


"Baik Ril, mari kita perhatikan secara bersama - sama" jawab Pak Akarsana.


Bimo keluar dari mobilnya dan berdiri tepat di sisi samping Bapak Akarsana.


"Astaghfirullah... ya Allah Paaaaak... disamping kamu Pak. Itu dia Paaaaak" ucap Bu Akarsana pelan dan terdengar sedih.


Rasa rindunya selama sepuluh tahun ini dengan anak sulungnya kini terbayar. Akhirnya dia bisa kembali bertemu dengan putranya.


"Bimo.... "


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2