
"Apa? Riko Mas?" tanya Kinan terkejut.
"Iya Nan" jawab Refan.
"Kenapa Mas mencurigai Riko?" tanya Kinan penasaran.
"Saat aku bertemu dengan Riko malam pertama Naila opname. Kamu ingat aku beli nasi goreng kambing?" tanya Refan.
Kinan menganggukkan kepalanya.
"Aku bertemu Riko dan saat itu aku cerita kalau Naila sedang sakit dan di opname di Rumah Sakit. Aku lihat wajahnya sangat khawatir. Riko pria single, playboy lagi bisa seperti itu tanggapannya ketika mendengar Naila sakit? Aku jadi curiga kemudian tadi malam apa kamu gak perhatikan kalau Riko begitu memperhatikan Naila tidur. Dia bahkan mengelus kepala Naila" ungkap Refan.
"Mungkin Riko memang sayang sama anak - anak Mas? Dia kasihan melihat Naila di infus seperti itu" jawab Kinan.
"Entah mengapa aku mencurigainya. Aku juga ingat perkataan Bapak penjaga makam. Katanya tubuh dua pria itu seperti aku, hanya saja yang satu berkulit sedikit gelap sedangkan satu lagi persis seperti aku. Kamu lihat, tubuh dan kulit Riko seperti aku" ungkap Refan.
"Mas jangan suudzon dulu ah" cegah Kinan.
Dia sangat tidak ingin apa yang di curigai suaminya menjadi kenyataan. Pasti Refan akan sangat terpukul karena sahabatnya sendiri yang selingkuh dengan istrinya. Apalagi kalau sampai Naila terbukti anaknya Riko. Kinan tu dan bisa membayangkan hancurnya perasaan Refan.
"Aku tidak suudzon Nan, aku hanya curiga berdasarkan beberapa fakta dan aku akan membuktikannya" ujar Refan.
"Semoga dugaan kamu salah Mas. Aku berharap bukan dia orangnya" balas Kinan.
"Yaaah mudah - mudahan tebakan kamu benar" jawab Refan
Mobil melaju dengan kecepatan sedang dan kini mereka sudah sampai di rumah mereka. Tentu saja Salman sangat senang menyambut kedatangan Mama, Papa dan adiknya.
"Mamaaaa... Papaaaaa... Dedek Nailaaa.... " teriak Salman berlari mendekati Kinan dan Refan.
"Eh Kak Salmaaan" sambut Kinan sambil mencium puncak kepala Salman.
Mereka masuk ke dalam rumah. Bik Nah langsung menggendong Naila.
"Duh Bibik kangen banget sama Naila" ujar Bik Nah sambil terus mencium pipi Naila. Naila tampak tersenyum bahkan tertawa karena senang.
"Kak Salmannya baik budi gak Bik selama Mana dan Papa gak di rumah?" tanya Kinan pada Bik Nah.
"Baik budi Non. Kak Salman sangat baik budi" puji Bik Nah, kenyataannya Salman memang anak yang patuh dan penurut. Kinan mengajarnya untuk selalu hormat kepada orang yang lebih tua.
__ADS_1
Refan masuk ke dalam rumah sambil membawa koper mereka dan menyerahkannya kepada Bik Mar.
"Bik tolong di periksa ya, ada juga baju kotor. Tolong di cuci" perintah Refan.
"Baik Den" balas Bik Mar.
Kinan masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian di susul oleh Refan. Kinan mengambil pakaian Refan dari dalam lemari. Sudah tiga hari mereka tidak bisa santai di kamar seperti ini.
Refan segera mendekati Kinan dan memeluknya dari belakang.
"Aku kangen rumah" ujar Refan lembut.
Wajah Kinan bersemu merah.
Maaaas... jangan bilang Mas mau minta jatah di siang hari. Batin Kinan, jantungnya berdetak kencang.
Refan merasakan detak jantung Kinan yang berdetak lebih kencang, dia tersenyum dan mempererat pelukannya.
"Kamu takut ya aku minta jatah siang ini?" tanya Refan sambil tersenyum.
Lho Mas Refan kok bisa tau? tanya Kinan dalam hati.
"Aku hanya butuh ketenangan Nan, beberapa hari ini cukup membuat hidup dan hatiku tak karuan. Memeluk kamu seperti ini bisa membuat aku merasa sedikit lega. Setidaknya aku tidak sendirian menjalaninya semua. Ada kamu yang selalu menemaniku" ujar Refan.
Kruk.. kriuuuk....
"Mas ganti baju dulu yuk, setelah itu kita makan" ajak Kinan.
"Sepertinya cacing di perutku tidak bisa di ajak kompromi ya. Gak pengertian banget kalau aku lagi nyaman begini" ujar Refan dengan wajah pura - pura ngambek dan manja.
Kinan tersenyum lebar.
"Udahan ah, aku juga udah laper Mas. Lagian kasihan Salman udah berapa hari kita tinggal" sambut Kinan.
"Ya sudah... " Refan segera mengganti baju ya dengan pakaian santai di rumah. Begitu juga Kinan, dia membuka jilbabnya kemudian berganti pakaian di kamar mandi.
Setelah itu baru mereka keluar kamar untuk makan siang.
"Salmaaan makan yuk" ajak Kinan.
__ADS_1
"Oke Ma... " jawab Salman sambil berlari menuju ruang makan.
Kini mereka sudah duduk di depan meja makan. Kinan mengambilkan makanan Refan dan Salman. Mereka makan seperti biasanya sambil bercerita.
"Papa.. tadi pagi Omanya Naila datang ke sini" ujar Salman.
Kinan dan Refan saling pandang lalu mereka menatap wajah Bik Mar.
"Siapa yang datang Bik? Mama Talita?" tanya Refan.
"I.. iya Den. Nyonya Talita" jawab Bik Mar.
"Ngapain dia ke sini? Bukannya dia tau kalau kami ada di rumah sakit?" tanya Refan heran.
"Nyonya mau mmm.. anu, Nyonya mau memaksa masuk ke kamar Den Refan tapi kami cegah dengan alasan bahwa Den Refan tidak ada menghubungi kami. Awalnya Nyonya memaksa tapi saat saya hendak menghubungi Den Refan lewat telepon Nyonya tiba - tiba keluar dari rumah dan segera masuk ke mobilnya dan pergi" ungkap Bik Mar.
"Mas apa Bu Talita mau mencari sesuatu di kamar kita?" tanya Kinan.
Refan tampak sedang berpikir keras.
"Apa Mama mau mencari barang - barang Renita?" tanya Refan tiba - tiba.
Kinan dan Refan saling pandang.
"Bik kemarin barang - barang Renita di simpan dimana semua?" tanya Refan.
"Di gudang Den" jawab Bik Mar.
"Termasuk laptopnya?" tanya Refan lagi.
"Iya Den semuanya Bibik simpan di dalam kotak" jawab Bik Mar lagi.
"Nanti setelah makan tolong bantuin saya untuk buka barang - barang Renita lagi ya. Ada sesuatu yang ingin saya cari" pinta Refan.
"Baik Den" jawab Bik Mar cepat. Walau wajah Bik Mar terlihat bingung dengan apa yang sedang terjadi.
Sepertinya ada sesuatu yang terjadi mengapa Nyonya Talita datang ke rumah ini dan memaksa ingin masuk ke kamar Den Refan. Dan sekarang Den Refan juga tiba - tiba ingin mencari kembali barang - barang Non Renita. Ada apa dengan Non Renita? Tapi sepertinya Non Kinan tidak masalah dengan hal itu. Dia terlihat tenang dan tidak cemburu ketika Den Refan ingin mencari kembali barang - barang Non Renita. Semoga saja tidak terjadi hal yang buruk dalam rumah tangga mereka. Karena beberapa bulan ini hubungan mereka berdua terlihat lebih mesra dan bahagia. Den Refan kini terlihat lebih bahagia hidup dengan Non Kinan ketimbang dulu saat dia masih hidup dengan Non Renita. Wajah Den Refan juga terlihat sering berseri - seri ketika menatap wajah Non Kinan. Aku yakin kalau Den Refan kini sudah cinta pada Non Kinan. Batik Bik Mar.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG